alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Indonesia Update /
Denni Purbasari Ingatkan Peran Intelektual dalam Kemerdekaan Indonesia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5280d988b3cb1ca5145b05/denni-purbasari-ingatkan-peran-intelektual-dalam-kemerdekaan-indonesia

Denni Purbasari Ingatkan Peran Intelektual dalam Kemerdekaan Indonesia

Denni Purbasari Ingatkan Peran Intelektual dalam Kemerdekaan Indonesia

JPP, YOGYAKARTA - Menjadi narasumber dalam Program Persiapan Keberangkatan (PK) bagi penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) angkatan ke-145 di University Hotel, Yogyakarta, Kamis (8/8/2019) lalu, Deputi III Kantor Staf Presiden (KSP) Denni Puspa Purbasari mengingatkan kembali peran intelektual dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Ketika mayoritas rakyat Indonesia tidak bersekolah, Bung Karno adalah lulusan Technise Hoge School Bandung, tahun 1926. Bung Hatta, alumni Nederland Handelshogeschool (sekarang Erasmus University Rotterdam) di tahun 1932. Sedangkan Bung Sjahrir, jebolan Universiteit van Amsterdam, Leiden University, tahun 1931.

“Para pendiri Republik itu adalah orang-orang tercerdas Indonesia, yang melampaui zamannya,” tutur Denni, yang membidangi kajian dan pengelolaan isu-isu ekonomi strategis di KSP.

Menolak Hidup Nyaman

Meskipun Soekarno, Hatta, dan Sjahrir bisa saja bekerja untuk kepentingan Hindia Belanda, namun mereka menolak hidup nyaman. “Mereka memilih jalan perjuangan, meskipun itu membawa mereka ke penjara atau pengasingan,” ungkap Denni.

Berkaca dari apa yang dilakukan oleh para pendiri bangsa, Denni kemudian mengajak peserta PK untuk merefleksikan diri. Penerima beasiswa LPDP untuk program S2 rata-rata telah mengenyam 16 tahun pendidikan dan akan menempuh 1-2 tahun lagi. Sedangkan untuk S3, telah menempuh pendidikan selama 18 tahun, dan akan menambah 3-5 tahun lagi. Padahal, saat ini rata-rata lama pendidikan orang Indonesia tidak lebih dari 9 tahun, atau setingkat SMP.

Berpijak dari statistik ini, mantan asisten staf khusus Wakil Presiden Boediono ini mengatakan bahwa peserta PK adalah kaum elit Republik Indonesia saat ini. “Bukan elit dalam arti material, namun intelektualitas,” ujar Denni.

Melihat perkembangan kehidupan berbangsa, ada tanggung jawab sejarah yang harus dipikul oleh kaum tercerdas Republik saat ini. Yaitu, menjadi penerang atau pelita masyarakat, dengan berbekal pengetahuan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Karena, dalam era informasi seperti sekarang--bagi rakyat yang sederhana pendidikannya--sulit membedakan antara noise dan voice. Kaum intelektual tidak boleh diam, hidup nyaman, tiarap, dan membiarkan ruang publik diambil oleh orang yang tidak memiliki legitimasi keilmuan. “Ingat film Spiderman, with great power comes great responsibility,” ujar Denni di depan 128 peserta yang akan melanjutkan studi di dalam negeri, maupun luar negeri.

Tidak Mengutuk Keadaan

Denni, yang juga akademisi Universitas Gadjah Mada itu mengajak agar kita tidak mengutuk keadaan dan mengeluh. “Banyak orang fasih memaparkan masalah atau tantangan, namun miskin solusi. Intelektual semestinya lebih memikirkan solusi. Karena mengeluh saja tidak akan mengubah keadaan,” ujarnya.

Membagi pengalamannya mengikuti aneka pelatihan kepemimpinan dari Harvard, Lee Kuan Yeuw, maupun Oxford, mantan Ketua Permias Colorado ini menyampaikan pentingnya platform of influence dan tim untuk membuat perubahan. “Keilmuan atau kepakaran itu sendiri sudah kekuatan. Tinggal action-nya apa,” ucap Denni.

Untuk menggugah semangat peserta yang sebagian besar dari Indonesia Timur, Denni menceritakan latar belakang keluarga dan jatuh-bangunnya ketika studi. “Kedua orang tua saya lulusan SMA sederajat, dan berprofesi sebagai wiraswasta. Saya bukan anak orang kaya,” jelas Denni.

Namun, berbekal prestasi belajar, Denni diterima di UGM tanpa tes. Studi di UGM pun dituntaskan kurang dari empat tahun dengan IPK 3,82. Penggemar Pramoedya Ananta Toer ini pun meraih predikat sebagai lulusan tercepat dan terbaik.

Selesai dari UGM, Denni kemudian mendapatkan beasiswa Fulbright untuk studi master di University of Illinois at Urbana Champaign. “Saya belum pernah keluar negeri sebelumnya. Tiga belas orang penerima lainnya sudah pernah,” kenang perempuan kelahiran Semarang ini.

Gelar master diselesaikan Denni dalam waktu satu tahun dengan IPK 3,92. Namun penggemar museum ini merasa belum cukup. Denni melanjutkan studi doktoral ke University of Colorado at Boulder. Diantara 18 siswa, Denni satu-satunya dari Indonesia.

Diawali dengan nilai ujian midterm yang jelek, pengurus PP ISEI ini pun kemudian mengubah strategi belajar: menghabiskan 14 jam per hari termasuk Sabtu-Minggu untuk belajar, mengurangi tidur, memahami semua materi 2 minggu sebelum ujian, dan menghabiskan 2 minggu terakhir hanya untuk latihan soal-soal.

Gelar PhD pun akhirnya diraih setelah enam tahun. Denni menjadi lulusan ketiga di angkatannya dengan IPK 3,78 plus mendapatkan beberapa penghargaan dari University of Colorado. “Kuncinya know your passion, ubah cara belajar, dan stay focused,” pungkas Denni. (ksp/nbh)


Sumber : https://jpp.go.id/humaniora/pendidik...kaan-indonesia

---

Kumpulan Berita Terkait HUMANIORA :

- Denni Purbasari Ingatkan Peran Intelektual dalam Kemerdekaan Indonesia Lima Pilar Transformasi Ekonomi Untuk Indonesia Maju

- Denni Purbasari Ingatkan Peran Intelektual dalam Kemerdekaan Indonesia Kemenko Polhukam Apresiasi Indeks Demokrasi Indonesia di Jatim Meningkat

- Denni Purbasari Ingatkan Peran Intelektual dalam Kemerdekaan Indonesia Upaya Kongkret Kepemimpinan Diplomasi Kemanusiaan Indonesia di Kawasan

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di