alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d527dfda7276839de38ba38/sejarah-enam-kampung-kuno-yang-jadi-tonggak-peradaban-samarinda

Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 

Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 

Samarinda, IDN Times - Delapan ratus tahun lalu, sejarah peradaban kuno Kota Tepian, sebutan Samarinda, telah dimulai jauh sebelum kota yang dibelah Sungai Mahakam ini resmi "lahir" pada 21 Januari 1668.

Seperti apa ya sejarah dan kisah Kota Samarinda sebelum jadi ibu kota Kalimantan Timur? Simak kisahnya di bawah ini.

 


1. Enam kampung yang jadi tonggak peradaban Samarinda
Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 
Dalam buku Samarinda Tempo Doeloe (2017), sejarawan Samarinda, Muhammad Sarip membahas fondasi awal warga Kota Tepian. “Jadi, warga asli Samarinda sudah ada sebelum kedatangan warga Bugis Wajo dari Sulawesi Selatan yang kemudian mendiami Sungai Karang Mumus,” ungkap dia.

Sarip pun menjelaskan lebih lanjut, pada abad ke-13 Masehi atau sekitar tahun 1200-an, terdapat enam kampung yang menjadi tonggak peradaban di Samarinda. Hingga sekarang, kawasan tersebut tak banyak berubah nama.

Pertama, Pulau Atas, kedua yaitu Karang Asam, kemudian Karamumus (Karangmumus), selanjutnya Luah Bakung atau Loa Bakung, lalu Sembuyutan alias Sambutan, dan yang terakhir Mangkupelas (Mangkupalas).

“Dari penelusuran peta Google, hanya satu wilayah yang berada di Samarinda Seberang atau sisi selatan Sungai Mahakam, yakni Mangkupalas. Sisanya sebagian besar berada di kawasan sembiran sungai atau bagian utara Mahakam,” terang Muhammad Sarip saat dijumpai IDN Times di kantornya, RV Pustaka Horizon.


2. Disebutkan dalam disertasi CA Mees asal Universitas Groningen, Belanda
Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 
Enam kampung tersebut tercatat dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara. Naskah kuno itu selesai ditulis pada Rabiul Awal 1265 Hijriyah atau 24 Februari 1849.

Sementara yang menulis kajian historiografi, ialah Khatib Muhammad Tahir. Dia merupakan juru tulis di Kesultanan Kutai Kartanegara. Sahifah tersebut ditulis dalam aksara Jawi kuno (Arab-Melayu). 

Kisah itu kemudian dialih aksara ke dalam bahasa latin, lantas dikutip ke dalam buku De Kroniek Van Koetai Tekstuitgave Met Toelichting karya Constantinus Alting Mees. Naskah tersebut terbit pada 24 Januari 1935. Topik ini diajukan C.A. Mees demi meraih gelar doktor bidang sastra dan filasafat Universitas Groningen, Belanda. Pada halaman 134 disebutkan, “Maka berdatanganlah oerang oendangan jang tiga belas benoea itoe masing-masing, maka soembalah orang-orang Poelau Atas dan Orang Karang Asam dan orang Karamoemoes dan orang Loeah Bakoeng dan orang Semboejoetan dan orang Mangkoepelas, itoelah banjaknya orang jang datang.”


3. Apakah Kutai Kartanegara bertalian dengan Kerajaan Singasari?
Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 
Sarip mengatakan, dikisahkan ketika calon raja pertama Kutai Kartanegara, Aji Batara Agung Dewa Sakti masih kanak-kanak, diadakan ritual tijak (menginjak) tanah untuk Putri Karang Melanu di Negeri Jahitan Layar (Kutai Lama), daerah di hilir Sungai Mahakam atau arah tenggara Samarinda.

Tatkala acara itu berlangsung, datanglah penduduk dari enam kampung wilayah yang sekarang disebut Samarinda, yakni Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karangmumus), Luah Bakung atau Loa Bakung, lalu Sembuyutan alias Sambutan, dan Mangkupelas (Mangkupalas).

Masih menurut Sarip, D. Adham dalam buku "Salasilah Kutai (Tenggarong: Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara)" terbitan 1979 menyebutkan, warga keenam negeri itu hadir bukan sebagai undangan, melainkan datang atas inisiatif sendiri setelah mendengar kabar keramaian di Jahitan Layar. Lantas, bagaimana mereka mengetahui tahun terjadinya peristiwa tersebut?

“Sederhana saja, Kesultanan Kutai Kartanegara berdiri pada abad ke-13, saat Raja Singasari periode 1268-1292, Kartanegara, mengunjungi Kerajaan Kutai Martapura guna mengantisipasi serangan dari pasukan Mongol. Nah, saat itu satu bangsawan singgah kemudian menetap di Jahitan Layar, lalu mempersunting gadis di sana,” sebutnya.

“Dari situlah cikal bakal Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang terkenal Aji Batara Agung Dewa Sakti.”  Hikayat Kerajaan Kutai Kartanegara itu ditulis Sarip dalam bukunya "Dari Jahitan Layar Sampai Tepian Pandan" (2018).


4. Suku Melanti jadi warga pertama Kota Tepian
Sejarah Enam Kampung Kuno yang Jadi Tonggak Peradaban Samarinda 
Dia menambahkan, sayangnya kala itu tak disebutkan secara rinci mengenai suku yang mendiami enam kampung tersebut. Namun berdasarkan kurun waktunya, bisa diambil kesimpulan mereka bukan berasal dari warga Bugis Wajo, Sulawesi Selatan.

Warga Bugis Wajo eksodus ke Karangmumus, Samarinda pada akhir abad ke-17 atau tahun 1600 atau awal abad ke-18. Interpretasi lebih rasional ialah, komunitas keenam kampung tersebut berasal dari suku Melanti (Kutai Kuno) karena kedekatan dengan Kutai Lama, atau Kutai Martapura dengan rajanya yang masyhur, Mulawarman. Melanti berasal dari ras melayu muda yang biasa disebut deutro melayu.

“Mengenai ketiadaan bukti fisik atau jejak sejarah peradaban tersebut, tak menafikan fakta atau petunjuk sebelumnya,” pungkas dia.


Sumber : https://www.idntimes.com/life/inspir...mpaign=network

---

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di