alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d524eb56cc64847b30e746f/haruskah-indonesia-quotimporquot-listrik-dan-menteri-juga

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?
Selamat datang di #AkalSehat Eps.1!


Pada Minggu (04/08/2019) lalu, musibah listrik padam atau yang dikenal dengan istilah Blackout melanda daerah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Secara sederhana, penyebabnya adalah kegagalan transfer energi sehingga menyebabkan gangguan (trip).

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?


Ada juga yang mengatakan kalau musibah itu disebabkan oleh pohon.

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Teori konspirasi lain mengatakan, kejadian itu disebabkan faktor politik terkait Dirut PLN yang baru menjabat selama 2 hari.

Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya, tapi bukan teori konspirasi namanya kalau tidak nyambung.

Entah, siapa yang benar. Terlepas dari itu, musibah padamnya listrik di sejumlah wilayah seolah semakin menunjukkan tabiat sejatinya negara ini yang mayoritas masih tidak jauh berbeda dengan seekor kerbau di sawah.

Ya, kerbau di sawah. Harus dipecut terlebih dahulu, baru kemudian mau berjalan untuk membajak sawah. Setiap hari harus diperlakukan cara yang sama. Kalau tidak? Anda sendiri tahu jawabannya.

Quote:


Musibah yang baru saja terjadi telah membuka paksa mata rakyat Indonesia bahwa PLN yang merupakan satu-satunya perusahaan (monopoli) yang diberikan kepercayaan oleh pemerintah untuk mengelola listrik di Indonesia memiliki manajemen yang buruk.

Terlebih lagi, PLN yang notabene BUMN ternyata sedang mengalami kerugian sebesar Rp 18 Triliun. Hal itu diketahui berdasarkan hasil laporan keuangannya pada tahun 2018 lalu.

Mantan menteri BUMN bapak Dahlan Iskan turut “menyindir” atas terjadinya musibah ini melalui tulisan di blognya yang berjudul, “Sengon 1 Triliun”

Berikut adalah kutipannya;

Quote:


Ada pula pernyataan lain terkait efesiensi yang dilakukan oleh PLN karena dituntut untuk meningkatkan laba.

Quote:


Siapa yang menyangka kalau “cara” yang dilakukannya itu justru menjadi bumerang bagi PLN sendiri.

Kejadian tersebut mengingatkan saya kembali akan drama mobil listrik yang dimulai sejak tahun 2012 sampai 2014 lalu. Sebuah panggung pertunjukan besar yang memperlihatkan kenaifan bahwa mobil listrik bukanlah industri yang berpotensi untuk dikomersialkan. Padahal minat dunia akan mobil listrik sangat menggila, dan baru segelintir pemain di dalamnya. Sebuah kesempatan besar bagi Indonesia yang selama ini hanya menjadi pemilik panggung, bisa mewujudkan mimpi untuk ikut serta menjadi pemain. Bahkan para bintangnya pun ikut ditarik kembali agar drama tersebut dapat disukai oleh banyak penonton. Alih-alih menjadi mega bintang di negeri sendiri, mereka malah diberikan peran bak hewan ternak pemakan rumput (kambing hitam).

Hal itu seolah semakin menunjukkan bahwa bangsa ini tidak hanya jauh dari kata siap dari segi infrastruktur maupun dalam pengelolaan sumber dayanya, tetapi dalam mewujudkannya pun masih dilakukan dengan setengah hati.

Selanjutnya, pada tahun 2014, muncul sebuah wacana agar BUMN di negara kita ini dipimpin oleh Warga Negara Asing (WNA). Posisi kepemimpinan yang dimaksudkan adalah Direktur Utama (Dirut). Usut punya usut, ternyata wacana tersebut dicetuskan oleh menteri BUMN, ibu Rini Soemarno, yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji. Mari kita doakan, semoga hajinya mabrur, diberkahi dan diberi kesehatan oleh Allah SWT. Amin.

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?


Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Ide itu muncul bukan tanpa alasan, melainkan agar BUMN Indonesia dapat berekspansi ke negara lain. Karena diperlukannya sosok yang paham betul akan situasi negara asalnya.

Quote:


Kemudian, pada Januari 2017, wacana BUMN dipimpin oleh WNA kembali muncul. Kali ini, mendapat dukungan sejumlah pihak termasuk sang bapak Presiden Jokowi. Bahkan sang Presiden menginginkan agar kursi CEO perusahaan BUMN diisi oleh orang asing.

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?



Quote:


Tentu pernyataan sang presiden menuai polemik dari berbagai kalangan, karena dianggap telah meremehkan kemampuan SDM bangsa sendiri.

Quote:


Meski masih berupa sekedar wacana, tetapi sudah terlanjur menimbulkan persepsi bahwa politik kebijakannya pro asing.


Di sisi lain, wacana itu juga dimaksudkan untuk meminimalkan pengaruh intervensi dari luar, seperti kepentingan politik.

Terakhir, kembali muncul wacana pro asing yang terjadi belum lama ini, yakni wacana rektor yang dipimpin oleh orang asing.

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?

Gagasan ini sebenarnya sudah pernah mencuat pada tahun 2014 silam, yang dicetuskan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristekdikti, sering disebut juga sebagai Kemenristekdikti), bapak Mohamad Nasir.

Haruskah Indonesia "Impor" Listrik dan Menteri Juga?
Alasannya, karena perguruan tinggi di Indonesia tidak pernah tembus peringkat 200 terbaik dunia.

Hal itu berdasarkan hasil dari 3 parameter peringkat perguruan tinggi se-dunia yang digunakan oleh Kemenristekdikti, diantaranya QS World University Rank, Time Higher Education (THE) dan Shanghai Jiao Tong University (SJTU).


Quote:


Wacana tersebut dianggap sebagai jalan pintas bagi pemerintah yang tidak mampu memaksimalkan potensi bangsa dengan baik, tetapi hanya mampu memberikan perintah demi mendongkrak karisma di mata publik.

Quote:


Terlebih lagi bukan hanya bahasa yang menjadi kendala dalam persoalan wacana tersebut, tetapi juga sebenarnya terletak di masalah kepentingan politik dunia pendidikan perguruan tinggi di negeri ini yang terus-menerus hingga menjadi "budaya" yang ikut dilestarikan. Alih-alih memperbaiki birokrasi yang ada, justru pemerintah dinilai lepas tangan.

Quote:


Semua kejadian dan pernyataan di atas, tidak hanya membuka mata saya, tetapi juga pikiran yang selama ini dibelengguh oleh kalimat-kalimat puitis yang tidak logis hingga membuat saya yang kritis menjadi tidak mengerti dan bertanya kepada diri sendiri, haruskah Indonesia "impor" listrik atau bahkan menteri juga?


Artikel ini telah dipublikasikan juga di halaman Facebook penulis dengan judul yang sama

profile-picture
kudanil.la memberi reputasi
Diubah oleh myusuffin
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
mantab lah klo listrik impor, pasti kwalitasnya bagus and murah, jd semuanya mending impor aja.. kan orang indo suka barang2 impor.
Lihat 1 balasan
Balasan post anasforever
Quote:


rajin kampanyein cintai produk dalam negeri, tapi ternyata dosennya pun ingin impor juga ganemoticon-Cool

agak aneh sih menurut pendapat ane yak kalo misalkan jajaran atas harus diganti dengan negara asing. ternyata mindset kalo negara asing sudah pasti lebih baik udah terlanjur melekat banget yak di otak kita. padahal banyak kok putra putri bangsa yang sudah menimba ilmu dan pasti lebih bisa menata manajemen dengan baik krn udah lebih tau seluk beluk manusia manusia Indonesia.
Lihat 1 balasan
Balasan post kudanil.la
Quote:


Iya, emang banyak kok putra-putri bangsa yang ga kalah hebatnya. Sayangnya, mereka cenderung takut akan akhir kisah mobil listrik yang mencari kambing hitam. Disisi lain, pemerintah juga cenderung setengah hati dalam memberikan dukungan.


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di