alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d52405568cc9511e73eca1e/depresion-man

Depresion man



The Last

Pertama, dari kecil memang selalu dijejali oleh pertengkaran di rumah dengan oknum yg selalu sama, yaitu orang tua. Benar benar sejak kecil, botak, belum bisa jalan hampir setiap hari selalu dihadapkan dengan teriakan-teriakan mereka berdua. Sampai akhirnya saat aku kelas 6 SD mereka memutuskan bercerai, dengan korban mental yg paling utama, anak. Ya.. aku yg mulai saat itu sadar bahwa kedepannya aku harus bisa berjuang sendiri, harus bermental baja dalam menghadapi semua tantangan.

Sampai akhirnya masing-masing dari mereka menemukan pasangannya sendiri satu sama lain, dan pada saat pernikahan masing-masing dari mereka berlangsung, satupun tidak ada yang aku hadiri. Karena memang masih sakit rasanya, satu satunya pondasi dalam menghadapi semua ujian kedepannya sudah hancur lebur. Tapi aku tidak mengambil pusing atas semua itu, aku laki laki.. ya meskipun usiaku pada saat itu masih sangat belia. Aku sudah dicerca dengan berbagai masalah yang seharusnya aku belum pantas dapatkan. Akhirnya aku pun kuat dengan sendirinya karena memang keadaan yang mengharuskan.

Pada saat itu, aku memilih ikut dengan Ibu ku dan Ayah Tiriku, kehidupan masih normal, bahkan benar-benar termanjakan. Soal materi aku tak pernah yang namanya kekurangan. Tapi ternyata dipernikahan kedua sang Ibu, gagal juga. Saat itu aku berada di kelas 2 SMP dan harus pindah sekolah. Oh iya, pada saat itu aku ada di Pekalongan, kota kecil penuh "semangat". Aku pindah ke Ponorogo, kota kelahiranku sendiri.

Selama sekolah di sana semuanya menjadi berubah drastis, hidup susah, penuh tekanan dari keluarga besar dan lain sebagainya yang aku sendiripun tak kuat untuk menulisnya. Tapi hal yang paling aku syukuri pada saat itu aku mempunyai teman teman baru yang sangat support denganku.

Pada saat pertama masuk sekolah baru, seperti layaknya sekolah lain, perkenalan ke semua teman baru di kelas baru. Pada saat itu, aku langsung tertuju pada wanita yang persis ada di depanku. Dia duduk di bangku paling depan tepat di depanku berdiri. Terlihat sekali dia wanita yang tegas, punya pendirian.

Sama halnya dengan anak SMP pada umumnya, mengalami masa PUBERTAS haha. Pertama kali jatuh cinta. Tapi aku sama sekali tidak pernah mengungkapkan, ya.. hanya sebatas memandang dan memendam. Karena tahu ternyata dia sudah punya pacar pada saat itu, dan pacarnya adalah orang "bengal" di sekolah baru ku itu. Alhasil hanya bisa memendam sampai akhirnya kita semua lulus.

Pada saat itu, aku pindah kota lagi, karena memang Ibu yang merupakan single parent terlalu berat menanggung sekolah dan biaya hidup, ada adikku. Aku pun pindah ke Ambarawa, tinggal dengan nenek dari Ayah kandungku.

Singkat cerita saja, di sana aku benar benar bisa meluapkan segala emosi, perasaan dan bisa berontak dari semua rasa yg terkurung selama bertahun-tahun atas semua hukuman yg terjadi dihidupku ini. Di sana pun aku terkenal nakal, tak punya aturan, pergi nongkrong bersama teman-teman di sana tak kenal waktu, di sekolah pun sampai semua guru, teman dan seluruh penghuninya sampai mengenaliku kalau aku ini "bedebah". Tapi pada saat itu, se liar liar nya aku. Tak pernah sedikitpun yang namanya "menodai wanita". Nakalku nakal berkelas haha.

Semua cerita suram di SMA pun habis karena berjalannya waktu. Aku lulus dengan selamat. Aku kembali lagi ke Ponorogo, tidak tahu tujuan dan hanya luntang-lantung di rumah. Hanya menjadi beban orang tua lagi.

Iseng iseng aku pun menghubungi wanita yang dulu pernah ku taksir sebelumnya, ya.. cinta pertamaku pada saat SMP, cinta pertamaku selama hidup di duniaku yang penuh "darah". Aku pun menghubungi dia, ya kita hanya ngobrol lewat pesan singkat, bercanda, ngegombali ini itu. Tapi aku pun tidak sepenuhnya bilang bahwa dia benar-benar cinta pertamaku. Sampai akhirnya aku iseng bicara "Eh, kalau aku sama kamu jadi beneran gimana ya? Haha lucu kali". Tanggapannya cukup sedikit memberi semangat, ya walaupun aku tahu dia hanya sekedar membalas ala kadarnya, dia menjawab "kerja dulu, cari uang dulu, cari sesuap nasi sendiri dulu, baru mikir cinta". Aku pun merasa tertantang dengan tanggapannya yang sejujurnya dia pun tak terlalu memikirnya.

Pada saat itu aku langsung bergegas entah bagaimana caranya aku harus bisa cari uang banyak. Rejeki memang tidak salah tempat. Ada tawaran pekerjaan di Koperasi, dengan gaji pada saat itu ya lumayanlah kalau untuk anak se usiaku. Aku pun masuk. Aku pindah ke Jogja untuk bekerja dengan niat bisa menepati kalimatnya tersebut.

Aku pindah ke Jogja, kita pun makin sering komunikasi, sampai akhirnya aku mengungkapkan semua perasaan yang benar benar ku pendam selama bertahun-tahun. Kita dekat, sangat dekat, saling mengingatkan, saling sapa, saling support. Saat libur kerja pun aku sering pulang ke Ponorogo untuk sekedar makan bareng, atau nonton film horor kesukaannya walaupun hanya sehari saja, Jogja Ponorogo pun seperti sangat dekat dan tak pernah merasa lelah sedikitpun. Ya karena lelahku selama bekerja seminggu, hilang seketika aku melihatnya yang hanya bisa berduaan selama satu hari saja. Aku merasa baru dilahirkan di dunia baru yang di dunia sebelumnya penuh nanah dan derita, dia memberi harapan ke depan untuk bisa melupakan semua derita di masalaluku dan menyusun hidup baru dengan tantangan baru.

Sampai akhirnya aku pun pacaran dengan dia, selama satu bulan dua bulan serasa baik baik saja. Sampai masalah datang bertubi-tubi dihubungan kita, aku sering sekali pulang ke Ponorogo hanya untuk meminta dia membuka blokir semua akses komunikasi. Masalahnya hanya ada di salah paham. Intinya saja, aku tak bisa menuliskan secara detail. Inginku tidak dipenuhi dan inginnya tidak kupenuhi. Cekcok sangat sering terjadi, dia memutuskan aku, dan aku selalu memohon untuk mempertahankan hubungan ini, begitu terus selama berbulan bulan bahkan sampai satu tahun kurang lebih. Dia tidak suka aku bekerja di Koperasi tadi, alasan pertama karena jarak dan aku yang selalu tidak punya waktu. Ya karena di perusahaan tempatku bekerja itu, aku setiap harinya dituntut untuk bangun jam 6 pagi, meeting, dan mulai bekerja sampai larut malam.

Akhirnya aku memilih untuk pindah Koperasi yang sedikit lebih ringan dalam hal pekerjaan. Satu minggu dua minggu kita baik baik saja, sampai akhirnya aku baru sadar bahwa kehidupan di kantor baru ku sungguh sangat liar, kehidupan malam, dan selalu hanya senang senang duniawi saja yg dipentingkan. Di sini lah awal mula semua derita yang akan terjadi berikutnya. Kitapun sering cekcok karena salah paham. Honestly, aku sering berbohong tentang hal yg aku tidak lakukan, hanya untuk mendapatkan "cemburunya". My bad. Tapi ternyata justru itu yang menjadi cambuk untuk diriku sendiri dihubungan ini. Ditambah masalah pekerjaan pun aku sedang kalut, total aku bekerja di Koperasi di dua perusahaan sudah habis puluhan juta. Hal yg dulu aku sering lakukan, masih ku lakukan juga. Bahkan seperti rutinitas.. jauh jauh dari Jogja ke Ponorogo hanya untuk "bicara dan memohon". Dia selalu bilang, bahwa jarak sangat berpengaruh. Kalau dekat meskipun jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, pasti rasanya beda, akan lebih adem.

Singkat cerita saja, dengan keadaan aku rugi puluhan juta, motorku sampai disita oleh leasing, keadaan keluarga juga makin tak karuan, harta sepeserpun juga tak punya. Aku memilih memenuhi keinginannya. Ya... Aku pulang, mendekatkan jarakku dengannya, niatku berusaha mencari pekerjaan normal.

Aku pulang dengan keadaan yang tak karuan, hanya untuk memenuhi keinginannya, keluargapun tak pernah kupertimbangkan, hanya karena rasaku yang sudah terlalu dalam dengannya. Dalam keadaan seperti ini, dia selalu support aku pada awalnya, hubungan kita membaik, ya ada masalah satu dua tapi tak begitu berat, sampai akhirnya kita menemukan alur hubungan kita. Dia bisa menjadi yang kuinginkan dan aku bisa menjadi apa yang dia inginkan. Sampai tiba harinya, keadaan baik baik saja, kita saling berkirim pesan singkat, dalam hitungan menit dia berubah derastis. Dia mengingat kesalahanku yg sebenarnya aku tak melakukan. Dia kekeh dengan apa yang dia pikirkan saat itu tentang keburukanku dan dia tidak bisa menerimanya dengan alasan aku tidak bilang dari awal. Padahal memang akupun tidak melakukannya. Sampai tiba disaat pertengkaran itu, aku menuruti apa yg dia ingin dengar. Aku mengakui kesalahan yang tidak aku lakukan. Aku terpaksa, karena dia selalu keken dengan itu. Tapi hasil yang di dapat ternyata berbeda, dia bilang "semuanya telat!". Singkat saja dia langsung memblock semua akses komunikasi, dia benar benar menutup hatinya untukku. Iya, untuk aku saja.. yang selama ini selalu berjuang mempertahankan hubungan ini bagaimanapun caranya.

Pada saat seperti itu semua semangat menjadi luluh, semua harapan menjadi hancur, langit yang terang tanpa awan pun seketika berubah menjadi kelam. Dunia ku kembali hancur bahkan rasanya melebihi beban di dunia ku sebelumnya. Dia cinta pertamaku pada saat itu, dia harapanku, dia semangatku satu satunya disaat seisi semesta menolakku, rasa yang kutanam sudah terlalu dalam dan dia menutup hatinya sangat rapat. Hancur seketika hidupku, aku pun tak tahu kenapa rasaku bisa sedalam ini. Sekali lagi dia benar benar menutup rapat hatinya setelah semua yang telah terjadi selama ini. Rasanya mati. Disaat ada harapan bisa membangun hubungan lebih baik dengan keadaan yg sederhana, disaat kita menemukan alur dihubungan kita yang selama ini penuh drama dan pertengkaran, dia tiba-tiba meruntuhkan semua pondasi yang bangun susah payah dalam hidupku.

Intinya hancur. Rugi sekian puluh juta, karir pekerjaan sudah terlanjur aku buang, keluarga berantakan dan satu satunya harapan, semangat, cinta pertamaku, cinta sejatiku pun pergi begitu saja layaknya indah cahaya senja yg berganti dengan malam yg sangat pekat. "Hidupku" pergi meninggalkanku begitu saja. Dengan alasan aku menutupi tentang masalaluku yang aku pun tidak melakukannya.

Dengan masalalu yang begitu kelam, penuh darah. Sampai akhirnya aku seperti menemukan hidup baru, yang sekarang justru hancurnya melebihi dari "dunia" manapun yang pernah kuhuni. Tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapi keadaan seberat ini selain mengakhiri hidup sendiri.

Sudah lengkap sekarang hukuman yg diberikan Tuhan. Rugi, tak punya pekerjaan, melamar pekerjaan baru pun tidak diterima, suasana rumah bahkan bagai neraka, tak punya harta sedikitpun, lalu ditinggal oleh "dunia baruku yang penuh harapan". Sampah... Mungkin kata singkat itu yang pas untuk menggambarkan hidupku saat ini.

Saat aku memutuskan pulang, aku hanya ingin memenuhi keinginan tersiratmu, tapi setelah aku melepas semuanya hanya untukmu, hatimu berubah sekeras batu. Semua sia sia, semua sirna, seperti hilangnya senja.. yang selama ini aku tatap penuh harapan untuk melangkah kedepan dan penuh harapan. Aku sudah terlanjur menggantungkan duniaku kepadamu, tolong kembalikan semangatku. Semua semangat, semua dorongan, semua harapan yg diberikan orang lain hanya mentah saja saat aku membaca kalimat perpisahanmu yang memang sangat menyayat.




Aku hanya ingin kembali Nin, kembali ke alur yang sudah kita temukan, menutup semua huru-hara yang sudah kita lakukan, harapanku semangatku untuk hidup hanya ada pada dirimu yang sekarang pintunya sudah tertutup rapat. Hilangkan semua prasangkamu Nin, tolong aku. Jadi penopangku kembali. Aku hanya ingin kamu, itu saja. Tak ada satupun hal di semesta ini yang dapat membuatku bangkit, selain kamu. Tak tahu rasanya harus menahkodai semua ombak ini sendiri dipekatnya malam ini, tolong terbitlah kembali Nin. Atau aku harus memilih tenggelam?
profile-picture
Faqih1730 memberi reputasi
Diubah oleh rufus209
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di