alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Angkasa dan Bulan di Bumi Perkemahan
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d51ed33e83c72059618997c/angkasa-dan-bulan-di-bumi-perkemahan

Angkasa dan Bulan di Bumi Perkemahan


    Angkasa dan Bulan di Bumi Perkemahan
sumber: KaskusKreator

Angkasa dan Bulan di Bumi Perkemahan

 

“Kamu Tuh Kaya Sandi Rumput, Susah Ditebak”

 

“Serius lo suka sama cowok galak itu?”Dita terlihat melongo tak percaya. Ia bahkan hampir tersedak kuah bakso pedasnya saking tak bisa menerima informasi yang baru saja masuk telinganya.


“Serius lah. Emang ada yang salah? Ganteng kan?”Dengan santai, Bulan menjawab sambil memilin sedotan jus mangga di hadapannya.


“Ya, ganteng sih ganteng. Tapi lo gak tau dia dijulukin apa sama anak-anak? Ice Prince, Si wajah datar, deuh gak ada bagus-bagusnya.”Dita kembali menyuapkan sebutir bakso beserta kuahnya, berusaha menuntaskan makannya secepat yang ia mampu. 


“Bagus kok di mata dan telinga gue. Malah kesannya cool, misterius gitu gak sih?”Bukannya mempertimbangkan, Bulan justru senyam-senyum sendiri seolah kehilangan kewarasannya.


“Wah bener-bener ya.”Dita hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi sahabatnya yang dilanda kasmaran ini. “Ah gue punya ide!”


“Duh apaan sih lo ngagetin aja.”Bulan terkejut saat Dita tiba-tiba bersuara keras sambil menepuk pundaknya.


“Lo kan suka sama si ketua galak itu. Gue tantang lo ikutan Pramuka. Pengen tau gue, lo kuat apa nggak. Lagian gak rugi juga buat lo kan? Malah bakal sering-sering punya momen sama ketuanya. Siapa tau dia tertarik sama lo karena dia pikir lo juga suka kegiatan Pramuka kaya doi. Gimana?”Dita mengangkat alisnya berusaha memprovokasi Bulan untuk langsung menerima tantangannya.


“Deal!”Tanpa pikir panjang, Bulan si anak mami itu menyanggupi tantangan tanpa tahu akan seperti apa masa depan takdirnya. 


*****

Sebagai anggota baru Pramuka, Bulan diharuskan mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Kegiatan itu diadakan di sebuah bumi perkemahan kawasan Bogor. Ini akan menjadi pengalaman pertama dalam seumur hidupnya pergi jauh dari rumah, menginap, di tengah hutan pula. Mendapat izin untuk kegiatan yang satu ini nyatanya bukan hal mudah baginya. 


Hari itu pun tiba juga. Semua anggota baru diperintahkan untuk membangun tenda bersama kelompoknya masing-masing. Bulan dan Dita tentu saja ada di kelompok yang sama bersama dengan 4 anggota lainnya. Sesuai ketentuan, mereka menamai kelompoknya dengan nama tokoh pewayangan. Mereka menamai kelompoknya Srikandi.


Dita sebenarnya tidak ada niatan untuk ikut Pramuka. Tapi tak bisa disangkal kalau ia juga khawatir dengan Bulan. Jika terjadi apa-apa dengan anak ini, Dita juga pasti akan sangat merasa bersalah karena ide untuk ikut Pramuka datang darinya. Jadi, sebagai bentuk tanggung jawabnya, ia harus memastikan tak akan terjadi apa pun pada Bulan.


Angkasa dan Bulan di Bumi Perkemahan


Setelah tenda selesai dibangun, semua kelompok diharuskan menjalankan tugas yang telah dibagikan sebelumnya. Dalam tiap kelompok dipecah menjadi kelompok kecil lagi. Tadinya Dita ingin melakukan tugas bersama Bulan, sekalian untuk mengawasi gadis manja itu. Tapi, kelompoknya sudah sepakat untuk menentukan pembagian tugas dengan undian. Hasil undian mengharuskan Dita membantu persiapan memasak, sedangkan Bulan mencari ranting. Sesuai kesepakatan pula, tak ada yang boleh menukar tugasnya. 


“Lo bisa kan? Hati-hati ya. Jangan jauh-jauh, cari aja sekitar lokasi kemah ini.”Dita tampak begitu khawatir. “Lo juga jangan jauh-jauh dari Bulan ya.” Dita juga berpesan pada Nanda yang terpilih untuk melakukan tugas bersama Bulan.


“Iya, tenang aja. Si Bulan udah gede juga kok.”Nanda justru tampak santai.

“Iya apaan sih lo? Gue bisa kok, malu-maluin lo ah.”Bulan sepertinya salah paham dengan kekhawatiran Dita. Terlihat wajah gadis itu sedikit merengut.


Setelah Dita puas memberikan wejangannya, mereka pun mulai berpencar untuk tugas masing-masing. Mereka tak pernah tahu bahwa akan terjadi sebuah tragedi yang cukup menggemparkan hampir semua orang. Ya, BULAN MENGHILANG!


*****

“Kok bisa sih? Emang kamu gak bareng sama temen kamu itu? Kan sudah saya bilang jangan pernah jalan sedirian. Minimal berdua, bareng sama teman satu kelompok.” Angkasa tak bisa menahan ledakan amarahnya. Ia tak habis pikir kenapa hal buruk ini bisa terjadi saat dirinyalah yang bertanggung jawab sebagai ketua. 


“Maaf kak, emang aku yang salah. Tadi aku keasyikan ngobrol sama anggota kelompok lain, gak merhatiin Bulan pergi kemana.”Nanda berusaha menjelaskan dengan suaranya yang bergetar. Tampak jelas gadis itu berusaha keras menahan tangisnya.


“Bagus kalo kamu sadar. Yaudah, sekarang saya dan kakak lain bakal cari Bulan. Anggota baru jangan ada yang kemana-mana. Tetap di tenda masing-masing!”Kini amarah cowok itu mulai mereda, lalu berganti dengan sikap yang tegas. 


Semua anggota baru berseru kompak menyetujui, hanya Dita yang kemudian mengangangkat tangannya tinggi-tinggi. “Kak, saya ingin ikut mencari.”


Tak ada jawaban dari Angkasa, pria itu hanya menatap tajam ke arah Dita, menatap gadis itu dari kepala hingga ujung kaki. Dita tahu apa yang ada dipikiran cowok yang terkenal galak ini. Cowok ini pasti sedang bertanya-tanya siapa Dita dan kenapa Dita berani menentang perintahnya.


“Oh iya, saya Dita, sahabatnya Bulan. Ibu Bulan sudah menitipkan anaknya pada saya. Kalau ada hal buruk terjadi sama Bulan, saya juga ikut bertanggung jawab. Jadi, izinkan saya ikut tim pencarian.”Dita menjelaskan dengan apa adanya.


Angkasa tampaknya paham dan menerima penjelasan tersebut. Dita diizinkan untuk ikut tim pencarian, tapi ia harus terus bersama Ferdy, wakilnya. Dita tak membantah. Ia pikir memang itulah yang terbaik. Lagipula, ia tak mengenal wilayah ini dengan baik. Daripada dirinya ikut hilang dan makin merepotkan, jadi ia tak keberatan dengan saran itu.


Sesuai kesepakatan, yang mencari hanya anggota penegak laki-laki dan bukan para anggota baru. Sedangkan anggota senior perempuan ditugaskan menjaga para anggota baru yang tidak ikut pencarian. Karena jumlah tim pencari yang tahu lokasi tidak terlalu banyak sementara hari sudah mulai gelap, Angkasa menyarankan untuk mereka berpencar. Semuanya berjalan sendiri, kecuali Ferdy dan Dita tentunya.


Pencarian pun dimulai….


*****



Angkasa dan Bulan di Bumi Perkemahan


Sudah hampir setengah jam Angkasa melakukan pencarian. Dirinya tak lupa berkabar melalui walkie talkiedengan semua anggota tim, baik tim pencari maupun tim yang menunggu di tenda. Belum ada kabar kalau gadis yang hilang itu ditemukan atau pun sudah kembali sendiri ke tenda. Angkasa menjadi semakin khawatir karena kini hari sudah benar-benar gelap dan gadis itu pasti tidak membawa alat penerangan.


“Kenapa sih gadis itu selalu merepotkan?”Angkasa mengeluh. Ia tahu persis siapa yang sedang dicarinya. Gadis itu sudah sebulan bergabung menjadi anggota Pramuka, namun tampaknya gadis itu tidak serius bergabung. Seperti ada tujuan lain yang entah apa itu.


“BULAN!”Angkasa berteriak memanggil nama gadis itu. 


Selama ini ia hanya menyebut gadis itu sebagai “si gadis gombal”, tanpa tahu nama yang sebenarnya. Ya, bukan tanpa alasan, gadis itu memang seringkali melemparkan gombalan untuk menggodanya. Tentu saja apa yang dilakukan gadis itu sangat mengganggunya, Angkasa juga kesal padanya. Tapi kalau sampai gadis itu tidak ditemukan, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Rombongan ini sudah menjadi tanggung jawabnya.


Baru saja ingin berteriak memanggil nama gadis itu lagi, Angkasa kemudian mendengar suara daun kering dan ranting yang terinjak. Sontak saja ia memasang sikap siaga. Ada banyak kemungkinan yang bisa muncul. Bisa saja itu hewan liar atau semacamnya. Namun setelah diselidiki lebih jauh, Angkasa yakin bahwa itu manusia.


“Bulan?”dengan ragu, Angkasa menyebut nama si gadis yang hilang. Syukurlah cowok itu bukan tipe yang percaya akan kehadiran makhluk halus. Kalau dirinya Ferdy, mungkin cowok itu sudah berlari menjauh mengira sosok bayangan ini adalah hantu seperti di film-film horor.


“Kak!”Gadis itu berlari ke arahnya, memeluknya dan menangis histeris. Pada kondisi normal, Angkasa mungkin akan mendorong gadis ini sejauh-jauhnya. Tapi kali ini ia bisa mengerti bagaimana takutnya Bulan sendirian di tempat antah berantah baginya tanpa penerangan pula. Jadi, ia biarkan gadis itu menangis sepuasnya.


“Udah, gak apa-apa kok.”Angkasa mencoba menenangkan Bulan dengan usapan lembut di punggung gadis itu. 


Beberapa menit lamanya Bulan berada dalam pelukan Angkasa. Saat gadis itu sadar dengan apa yang telah dilakukannya, cepat-cepat ia melepaskan diri dan menunduk meminta maaf.


“Ah maaf kak,”katanya sembari menyeka air mata dan mengatur napasnya yang sesenggukkan.


“Kamu gak apa-apa kan? Ada yang luka?”Angkasa mencoba memastikan kondisi Bulan. Saat gadis itu menggelengkan kepala sebagai jawaban, Angkasa pun menghela nafas lega.


Masih syok ya? Duduk dulu aja di sini. Minum?”Angkasa menyerahkan botol air minumnya yang tinggal berisi setengah.


Bulan menerima botol itu, meneguk isinya lalu duduk bersandar di batang pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Angkasa juga ikut duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang terasa di antara keduanya. Angkasa tak mau banyak bicara karena mengira Bulan masih syok, sementara Bulan tak tahu harus bicara apa dengan Angkasa, cowok yang selama ini disukainya.


“Hmm, kak. Aku minta maaf ya. Sebenarnya…. ”Baru saja Bulan berniat mengatakan sesuatu, Angkasa cepat-cepat memberi isyarat padanya untuk diam. Cowok itu kemudian sibuk dengan walkie talkie di tangannya.


“Sebentar, aku perlu kasih kabar yang lain kalau kamu udah ketemu.”Angkasa kemudian berbicara dengan anggota lainnya lewat walkie talkie. Mengabarkan bahwa Bulan sudah selamat bersamanya dan memerintahkan semua anggota untuk kembali ke tenda.


Saat sudah selesai memberi kabar, Angkasa segera menghampiri Bulan lagi. Cowok itu menyarankan agar mereka juga cepat kembali ke tenda. Namun kemudian Bulan menggenggam tangan Angkasa untuk menahannya.


“Tunggu kak, aku mau ngomong sesuatu.”Bulan menghentikan kalimatnya ketika Angkasa melemparkan tatapan keheranan padanya.


“Apa?”Tak seperti biasanya, ada kehangatan dalam nada suara Angkasa kali ini. Apa ia masih bersimpati pada Bulan?


“Aku mau minta maaf udah ngerepotin kakak dan teman-teman. Aku juga mau ngaku kalau aku gak benar-benar mau jadi anggota Pramuka.”Bulan menunduk dalam, siap untuk menerima teguran tajam dari mulut Angkasa.


“Iya, udah tau kok,”Angkasa menjawab santai. “meskipun aku juga gak tau alasan kamu ikut Pramuka itu sebenarnya mau ngapain.”


Bulan mengangkat wajahnya. Ada perasaan lega karena Angkasa ternyata tidak marah seperti  apa yang ia bayangkan. Namun, ini bukan berarti Angkasa tidak kesal atau semacamnya. Wajar kalau cowok itu kesal. Pramuka yang amat dicintainya hanya dijadikan mainan oleh gadis seperti Bulan.


“Aku ikut Pramuka karena pengen deket sama kakak. Aku suka sama kakak.” Pengakuan Bulan membuat Angkasa hanya bisa mematung dan menatap tak percaya pada Bulan.


“Apa? Bercanda ya?”Angkasa tertawa kaku. Ia ingin tak mempercayai itu, tapi Bulan tampak serius sekali.


“Emang ya, selain tanpa ekspresi, ternyata kakak juga gak peka. Emang selama ini aku gombalin kakak buat apa? Bercanda doang? Payah!”Bulan yang kesal kemudian berjalan meninggalkan Angkasa yang masih tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


“Hey! Tunggu! Emang kamu pikir mau kemana? Tau jalan?”Angkasa mengejar Bulan, menggandeng tangan gadis itu lalu berjalan bersama.


Bulan tidak mengerti apa yang baru saja dilakukan oleh Angkasa. Apa ini artinya cowok itu mulai membuka hati? Atau hanya bentuk simpatinya pada seorang gadis yang baru saja hilang di hutan sendirian? 


“Ini artinya apa?”Bulan mengangkat tangannya yang digenggam oleh Angkasa.

“Jangan diartikan apa-apa dulu. Coba lebih keras lagi.”Baru kali ini Bulan melihat Angkasa tersenyum sehangat itu padanya. Meskipun tak mengerti maksud di balik kalimat Angkasa, tapi sepertinya cowok itu memintanya untuk berusaha lebih lagi untuk menarik hatinya. Apa ini artinya ada kemajuan?


“Kamu tau? Kamu tuh kaya sandi rumput, susah ditebak.”Bulan kembali melancarkan aksi gombalnya.  


- SELESAI-


Quote:


profile-picture
profile-picture
breaker7 dan njan34 memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Diubah oleh kaniarf
Pertamax dulu emoticon-Hansip
profile-picture
kaniarf memberi reputasi
Quote:


Kirain udah gak jaman pertamax keduax emoticon-Ngakak
Nice short storynya gan..ditunggu story2 berikutnya.. emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
CoupleMaster dan 2 lainnya memberi reputasi
nice
profile-picture
kaniarf memberi reputasi
Quote:


Thankyou~
Mampir ke thread B-Log ane gan
Banyak link ke short story ane yang lain #promosi emoticon-Ngakak

Quote:


Thankyou~ emoticon-Big Grin
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Salam Pramuka...
profile-picture
kaniarf memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Quote:


Salam~
Salam kenal juga
emoticon-Belum Tidur
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
nice threadnya gan... bagi2 info lainnya yesss... inspiratif dan bagus storynya...
Quote:


Siuuup
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di