alexa-tracking
Kategori
Kategori
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d51723dc0cad769754a63ce/dayalde

DAYALDE

DAYALDE
Selamat membaca, gue senang kalian menyempatkan diri buat singgah pada karya tulis sederhana gue ini. Lain kali gue menyarankan untuk menyeduh segelas kopi dan membeli sekantung gorengan dengan cabai di dalamnya. Agar nyaman saat membaca tulisan gue yang tentu menurut gue masih sangat amat berantakan. Hehe.

TIDAK BUTUH PERATURAN KHUSUS UNTUK MEMBACA

Gue hanya ingin minta tolong kepada para pembaca sekalian untuk share tulisan gue sebanyak-banyaknya, dan beri gue kritik serta komentar yang membangun apabila tulisan gue dirasa layak untuk kawan-kawan baca di sini. Satu hal yang perlu di perhatikan dari cerita yang gue tulis di sini, cerita gue 100% Fiksi, apabila ada kesamaan nama, tempat, atau hal lain yang mengganggu, mohon maklum, itu semua hanya demi mendukung emosi yang terbangun dalam cerita ini. Terakhir, terima kasih untuk segala bentuk apresiasi yang nanti mungkin tercipta pada waktu yang akan datang. Gue beruntung karena bisa memiliki pembaca seperti kawan-kawan semua, gue senang, gue ceria, gue bahagia.

Jangan menunggu lama, mari membaca bersama.

INDEX

Prologue
Dayalde #1 - Terpesona
Dayalde #2 - Canggung
Dayalde #3 - Terbakar Asmara
Dayalde #4 - Bangkit
Dayalde #5 - Pengakuan
Dayalde #6 - Senandung Asmara
Dayalde #7 - Bimo
Dayalde #8 - Serpihan Rasa
Dayalde #9 - Keputusan Awal
Dayalde #10 - Keputusan Akhir
Dayalde #11 - Benci
Dayalde #12 - Menjauh
Dayalde #13 - Pergi
Dayalde #14 - Berpisah
Dayalde #15 - Dayalde

Hanya akan ada 15 Part yang bakal gue tulis di sini, semuanya kurang lebih sebanyak hampir 150 halaman kertas A4, gue tidak akan menuliskannya secara langsung, gue akan menuliskannya secara bertahap, mungkin bisa satu hari sekal, mungkin juga bisa satu minggu sekali, tergantung otak gue bisa mikir buat nulis atau nggak, maklum, gue hanya seorang pengangguran yang tidak memiliki kegiatan di rumah. Serius. Karenanya gue ingin mengabdikan hobi gue ini menjadi sebuah karya pertama yang nantinya di harapkan akan menjadi sebuah semangat untuk gue melangkah maju ke depan. Teruntuk kamu para pembaca sekalian, segala hormat dan doa gue haturkan, semoga kita dapat bersama menjalin sebuah ikat tali pertemanan yang baik, nantinya. Aammin.

So, Enjoyed!

======================================================================

P R O L O G U E

Banyak orang bilang ke gue buat sadar dengan kondisi gue sekarang, iya, kondisi di mana gue hanyalah seorang anak pungut dari keluarga bangsawan. Orang tua kandung gue meninggal saat umur gue 3 Tahun, kemudian tetangga depan rumah gue mengadopsi gue sebagai anak putra satu-satunya di keluarga mereka, sekaligus anak paling bungsu. Gue di adopsi oleh keluarga Natadiningrat, bangsawan Jawa, dari keraton Solo, Jawa Tengah. Sedang gue sejatinya merupakan darah keturunan Sunda, karena kedua orang tua kandung gue berasal dari Kuningan, Jawa Barat.

Namun banyak orang tidak tahu, bahwa semua cerita “klise” yang banyak mereka tonton dari layar kaca terhadap seorang anak pungut seperti gue adalah palsu. Karena nyatanya gue tumbuh besar menjadi seorang anak bungsu yang tidak dibeda-bedakan, baik dalam keluarga di rumah gue, atau keluarga besar dari Ayah dan Bunda gue. Gue bersyukur karena mereka bisa menganggap gue sebagai anak putra harapan mereka satu-satunya, mereka ingin gue tumbuh besar menjadi seorang anak yang berhasil, tanpa memperdulikan status gue sebagai seorang anak pungut. Atau katakanlah dengan sopan sebagai anak angkat dari keluarga bangsawan Natadiningrat.

Sejak kecil, nama gue adalah Rahmat Setyo. Setelah menjadi anak angkat dari keluarga Natadiningrat, nama gue berubah menjadi Rahmat Setyo Natadiningrat. Ayah gue bernama Putra Abdi Jaya Natadiningrat, sedang Bunda gue bernama Endang Kasih Natadiningrat. Gue merupakan anak keempat dari 4 bersaudara, kakak gue semuanya cewek. Pertama ada Faradiba Putri Natadiningrat, sudah berkeluarga, suaminya asal Sunda, Kang Dede, begitu biasanya gue memanggil. Kedua ada Kencana Putri Natadiningrat, masih single, kuliah di ITB semester 4. Ketiga ada Gracelia Putri Natadiningrat, masih single, satu sekolah sama gue, kelas XII. Begitulah mereka, keluarga kecil gue saat ini, dan gue bersyukur punya mereka di hidup gue, gak kebayang aja kalo mereka tidak ada untuk gue, bisa mati mampus gue hidup sebatang kara di dunia yang terlalu luas ini.

Saat ini gue bersekolah di salah satu SMA swasta yang ada di Lembang, Bandung. SMA Bosca namanya, gak ngerti sih kenapa di namain gitu sama yang punya Yayasan. Kebetulan di sekolah, Bunda menjabat sebagai Kepala Sekolah, sedang Ayah menjabat sebagai Ketua Yayasan. Iya, keluarga gue memang sudah turun temurun menjalani bisnis di dunia pendidikan. Karenanya, walaupun gue bandel gak ketolong, namun tetap memiliki sikap dan tata krama yang baik. Beruntung banget kan hidup gue? Sayangnya semua kehidupan gue yang mulus ini hanya terwujud di dalam sebuah lembaran kertas yang padat dengan huruf.

Berawal dari kisah manis gue di atas, gue akan menceritakan lebih banyak tentang kehidupan gue di masa depan, sebuah kehidupan yang bakal gue tempuh dengan penuh rasa suka dan duka. Tanpa ada sedikitpun yang gue buang, semuanya akan gue tulis di sini.

Cerita ini akan gue beri judul: Aldebaran

Nanti juga kamu paham kenapa gue memberi judul tersebut pada tulisan ini, jadi, daripada kamu capek baca prologue, mending ikut gue buat terjun ke bawah sana yuk? Berangkat!

Baca lanjutannya; Dayalde #1 - Terpesona

profile-picture
profile-picture
profile-picture
paru2kusetengah dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh infoanaksultan
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Dayalde #1 – Terpesona

“Ngeng.. Ngeng… Minggir woy, Pedrosa mau lewat!” Teriak Bimo pada sekumpulan murid yang sedang berjalan memasuki gerbang. Bimo begitu berisik pagi ini, sesekali ia berdiri diantara step belakang sepeda yang sedang gue setir, saking berisiknya, Bimo sukses membuat mereka yang menepi menatap tajam kami dari kejauhan. Bompi – nama sepeda kesayangan gue – sudah melewati gerbang sekolah, hanya tinggal menyebrangi lapangan basket untuk bisa menuju parkiran, namun perjalanan Bompi menuju parkiran tidak semulus rencana gue sebagai supirnya. “Eits.. Eitss… Awas Mat, awas! Di depan ada Ibu-Ibu!”, hampir saja gue dan Bimo menabrak Ibu Kepala Sekolah, yang bukan lain adalah Ibu gue sendiri. Ibu angkat gue lebih tepatnya.

“Astagfirullahaladzim, Rahmat! Bimo! Jangan ngebut-ngebut naik sepedanya!” Bu Endang, begitu biasanya gua memanggil jika di sekolah, sedang di rumah gue biasa memanggilnya dengan sebutan, Bunda.

“Maap Bunda! Abang salah!” Teriak gue yang tetap melanjutkan perjalanan menuju parkiran. Abang, begitu Bunda memanggil jika gue sedang di rumah. Namun ketika di sekolah Bunda biasa manggil gue dengan sebutan…

…“Mamat! Setelah parkir bantuin Ibu siapin sound system untuk Upacara bersama kawan OSIS lainnya!”. Ya, begitulah Bunda. Adil dalam bertindak, sopan dalam bersikap.

Setiap pagi, ketika gue dan Bimo berangkat bareng naik si Bompi, ia selalu bertanya pada gue, dan yang menyebalkan adalah, – “Mat, kenapa ya sekolah kita tuh kalo masih pagi gini sepi mulu, anak lain pada kemana ya?” – pertanyaan Bimo tuh gak pernah berubah, selalu begitu. “Lah, dikira gue cenanyang yang bisa tau anak lain ada dimana? Beruntung temen gue dari orok lu bim, kalo bukan udah gue jedotin ke tembok itu jidad!” Gerutu gue kesal, sementara Bimo hanya terkekeh atas kebodohannya sendiri.

Bimo itu sakti, pake banget. Dia selalu tahu apa yang gue ingin, apa yang gue rasain, dan apa yang gue sesalin. Kalo Bimo seorang cewek, sudah jelas, gue tidak akan pernah ingin berdekatan dengan dia. Alasannya sederhana, karena kesaktian dia itu hanya sebatas hoki semata. Kelebihan dia hanya satu, yaitu kebodohannya sendiri.

Setelah memarkir dan menggembok Bompi dengan tingkat keamanan paling tinggi, gue dan Bimo berjalan menuju tempat dimana Bunda berada. Namun tiba-tiba langkah gue terhenti di tengah lapangan, kaki gue kaku, jantung gue bedetak, sangat cepat, “seperti genderang mau perang…”, lagi-lagi dia datang, dengan wajah manis pucatnya, dengan cardigan merahnya, dengan rambut yang tergerai begitu indahnya. Dia ada di sana, diantara para murid yang mengelilingi Bunda, dia mematung begitu linglung tanpa mengerti apa tugas yang harus ia kerjakan sebenarnya. Kemudian dia terduduk di atas teras memanjang yang menempel pada tembok pembatas antara koridor dan taman kecil di sampingnya.

Tatap mata kami saling bertemu, gue melihat sorot matanya begitu indah memandang ke arah tempat gue beridiri saat ini, dia tersenyum, namun tatapannya tidak berbalas, karena seorang Rahmat Setyo Natadiningrat yang berumur 16 tahun ini hanya terbengong memandangi cewek itu secara terang-terangan, tanpa senyum, tatapan gue datar, sangat datar, membuat dia malah menoleh ke sisi yang lain, ke sisi Bunda berdiri.

Deg! Jantung gue berhenti, sepertinya gue tertusuk panah asmara.

“Huft..” Ternyata gue masih butuh waktu untuk bisa membuat seorang cewek sempurna seperti dia merasakan hangatnya cinta yang gue punya. Atau katakanlah gue sangat bodoh dalam urusan cinta. Iya, gue bodoh, tapi gue juga suka sama dia sejak awal gue tau dia ada di sekolah ini, satu kelas dengan Bimo. Dia di X IPA 2, gue di X IPA 1. Dan hal yang menyebalkan lainnya dari Bimo adalah; ia tidak ingin memberitahu gue nama cewek itu. “Biar kamu usaha, masa dari dulu saya mulu yang usaha buat dapetin nama cewek yang kamu suka? Cik atuh mikir Mat, mikir.. Mana ada cewek yang mau kenalan sama kamu kalo kamu sendiri gak berani kenalan sama mereka.” Begitu katanya.

“Mat? Mat sadar apa Mat! Ish..” Bimo bingung, karena gue hanya mematung dalam sebuah pendirian yang buntung. “Harus apa gue Bim? Gue gak berani mendekat ke sana.” Gue berkata dalam hati, berharap Bimo dengar dan membawa gue menuju kelas saat itu juga. Namun salah orang tampaknya jika mengharapkan hal baik datang dari seorang Bimo. Bukannya menyelamatkan, tampaknya ia lebih senang melihat gue meninggal di tengah lapangan. Bimo dengan polosnya memanggil Bunda yang tengah sibuk cek sound.

“Bu Endang! Ibu! Tolong Bu! Rahmat udah berubah jadi Berhala!” Celetuk Bimo teriak-teriak dari tengah lapangan. Alhasil, Bunda yang sedang ribet malah dibuatnya jadi makin ribet, dasar Bimo, nyusahin mulu bisanya.

“Eh.. Siapa yang nyembah Berhala Bimo?!” Bunda kaget, sambil berlari kecil menghampiri gue dan Bimo. Sementara murid lain yang sudah mengetahui kebodohan Bimo yang gak beda jauh sama Spongebob itu hanya tertawa kecil, termasuk dia, cewek yang gue suka, dia malah sampai menutup tawanya dengan cardigan merah yang membalut lengannya.

“Emang ada yang nyembah Berhala di sekolah kita Bu?” Tanya Bimo heran dengan muka polos tanpa dosa. Atau Bego? Entahlah, pusing gue mikirin Bimo.

“Lho, tadi kan kamu yang bilang kalo Rahmat nyembah Berhala?! Emang bener?” Bunda makin cemas, dilihatnya baik-baik dari bawah ke atas, samping ke samping, gue tetap diam seribu bahasa. Anak bungsunya ini benar-benar kikuk.

“Ohh, bukan Bu! Maksud saya, ini si Rahmat daritadi diem mulu kayak Berhala, kayak patung maksudnya!” Bimo terkekeh, bukan main manusia satu ini, sahabatnya dari kecil di kata Berhala, tertawa pula ia dengan santainya, benar-benar minta di tenggelamkan di dasar samudera ini manusia.

“Ish.. Mamat, kenapa kamu teh malah bengong? Heh?!” Bunda bertanya, gue berduka, karena gue bener-bener ketularan bodohnya Bimo pagi itu. Gue masih bengong, gak ngerti gimana caranya buat sadar dari situasi seperti sekarang ini.

“Abang!” Bentaknya dalam keheningan, Bunda terkekeh setelahnya, karena ia tahu pandanganku masih lekat melirik ke depan. Ke arah cewek bercardigan merah. Bersyukur memang punya Bunda yang peka dengan segala macam rasa yang anaknya punya. Segeralah Bunda menepuk punggungku, keras-keras.

Bug! Aw! Sakit!

Alhamdulillah, akhirnya ada yang nyadarin gue juga.

“Udah puas belum terbang ke surganya? Kalo udah cepat bantuin teman-teman kamu itu nyiapin upacara, suara sound systemnya masih jelek! Ibu gak suka.” Senyum Bunda manis, gue fikir bakal baik-baik aja, namun ternyata sorot tajam tatap matanya berkata lain, alhasil gue dan Bimo berlari kecil menuju tempat sound system berada. Setelah beres mengutak-ngatik suara dari sound system tua itu, gue dan Bimo balik menuju kelas dengan lemas.

*****


Bel sekolah berbunyi 3 kali, pertanda gue harus segera pulang menjemput Bompi di parkiran. Sekolah gue hari ini biasa aja, gak ada yang bisa gue nikmatin, lebih ke arah membosankan tepatnya. Tadi pagi sudah di buat lemes karena ada tragedi gak terduga, kemudian saat jam istirahat pertama, gue urusan sama Meta dan Mita, gue rebutan PR Matematikanya Najwa sama mereka, jam istirahat kedua Bimo mampir ke kelas gue buat berulah, godain si Najwa, karena Bimo deket sama gue, akhirnya Najwa kira gue yang punya otak buat godain dia, padahal Bimo yang ngarep banget Najwa jadi pacarnya.

“Oh Tuhan, mengapa hidup gue se drama ini..” kata gue dalam hati sambil menghela nafas dalam-dalam.
Bimo gak ikut ke parkiran buat balik naik si Bompi bareng gue hari ini, katanya sih mau coba deketin Najwa. Bodo amatlah, gue gak peduli. Otak gue udah teriak-teriak minta pulang, sedang mulut gue udah mulai gelar stand diantara lidah yang memanjang, mereka sibuk jualan tiket masuk untuk konser berikutnya di dalam perut gue yang sudah bergejolak minta di isi ulang sama masakannya Mpok Engkom.

“Unch.. Bompiku… Maap ya nunggu lama, Abang baru balik sekolah soalnya.” Gue ngobrol sendiri di parkiran, iya, maksudnya gue ngobrol sama Bompi, sepeda kesayangan gue. Sedang asyik mesra-mesraan sama Bompi buat pulang bareng, ternyata daritadi ada yang merhatiin gue, jaraknya gak jauh, atau bisa dibilang persis di belakang gue, agak ke kanan sedikit, menyerong gitu, dia nyaksiin kemesraan gue sama Bompi, saat gue lagi ngobrol sama Bompi, saat gue ngelus-ngelus badan Bompi, dan juga saat gue membuka gembok Bompi yang begitu ribetnya, iya, dia melihat semua kegiatan gue sama Bompi di parkiran.

Tanpa banyak omong, gue menegur seseorang yang daritadi bikin gue malu sendiri, sebenernya gue gak malu, sih. Cuma mungkin orang lain belum bisa ngerti aja gimana sayangnya gue sama Bompi, hal tersebut yang mendorong gue buat malu, iya, malu sekaligus takut di katain gila.

“Lu ngapain berdiri di belakang gue mulu sih? Kalo mau gue anterin balik ya ngomong kan bi…” Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodohnya Rahmat, iya gue tau gue bodoh. Bodoh karena gak tau kalo ternyata yang di belakang gue itu Bunda! “Mau dong dianterin Bompi, sampai rumah ya Bang!” Jawab Bunda dengan manjanya menirukan suara anak cewek seumuran gue. Otomatis tangan gue reflek mencium tangan Bunda, atau nama bekennya cium tangan di daerah gue adalah, salim.

“Dikira siapa, taunya Ibu-Ibu, haish, gajadi ngajakin pulang bareng Bompi deh inimah..” Gerutu gue kesal sambil terkekeh.

“Jadi gamau pulang bareng Bunda nih? Mang Eman udah nungguin di depan tuh, biar si Bompi nanti tiduran di atas mobil.” Ajak Bunda pada anak bungsunya ini.

“Apaan sih Bun, Abang udah gede, mau pulang sendiri aja, nanti kita ketemu di rumah, gapapa ya Bun? Siapa tau Abang ketemu jodoh di jalan kan?” Jawab gue sambil terkekeh. Bunda mengangguk, pertanda ia setuju, kemudian gue dan Bunda berpisah di parkiran.

*****
profile-picture
profile-picture
adhie.bayou dan Rapunzel.icious memberi reputasi
Diubah oleh infoanaksultan
Reserved 2
Reserved 3
Reserved 4
Reserved 5
Reserved 6
Reserved 7
Reserved 8
Reserved 9
Reserved 10
Reserved 11
Reserved 12
Reserved 13
Reserved 14
Reserved 15
Ane reserved di mari dah. Gasuka kopi, barusan bacanya sambil minum air putih aja biar sehat.

Jadi, agan menerima kritikan kah untuk novel ini?
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
emoticon-2 Jempol coba ikut mantengin dl.....
DAYALDE
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di