alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Diklat Kok Jalan-jalan Ke Alam Ghaib
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d514c22a7276843440a630a/diklat-kok-jalan-jalan-ke-alam-ghaib

Diklat Kok Jalan-jalan Ke Alam Ghaib

Kisah Remaja

Diklat Kok Jalan-jalan Ke Alam Ghaib


Ada ragu menyelinap dalam dada
Namun aku harus melawannya
Ini baru langkah awal,
Jika aku menyerah, lantas akan kau sebut apa diriku ini.
Calon anggota yang gagal?


Hanya satu cahaya lampu yang menjadi penuntunku, satu persatu batu nisan kulewati. Bibirku basah, tak henti mengucap salam dan amit(permisi), baru setengah jalan dan kini aku tepat berada di samping keranda yang tersimpan rapi di tengah area pemakaman. Aku menarik nafas panjang, ku tengok belakang, belum ada peserta lain yang menyusul. Apa mereka akan benar-benar membiarkanku sendiri hingga garis finish? Sial ...!

Kembali kulangkahkan kaki, masih tersisa setengah area pemakaman yang harus kutaklukkan, meski sudah agak tenang, namun rasa was-was masih menyudutkanku dalam ketidakberdayaan.

***

Satu jam sebelum sesi ini, aku sudah dibuat senam jantung, bagaimana tidak kami harus menerjemahkan sandi morse yang tersebar di seluruh area makam, dengan petunjuk makam yang diterangi cahaya lilin.

Ah ... Diklat penempuhan "pita kuning", sebagai lambang kami diterima sebagai anggota pramuka, yang nantinya akan diganti badge setelah semua rangkaian diklat usai dan kami bisa menyelesaikannya dengan baik.

Satu persatu dari kami, masuk ke area pemakaman, mencari makam yang diterangi cahaya lilin, dan menyisir makam itu sampai akhirnya kami menemukan selembar kertas yang di dalamnya rangkaian sandi morse yang berisi petunjuk selanjutnya.

***


Akhirnya, aku sampai di ujung makam, di sana ada sebuah pohon beringin yang kalau dilihat dari ukurannya, pohon itu berumur ratusan tahun.

Ada seorang kakak panitia yang sudah menunggu di sana, melihat wajah pucatku ia segera menyodorkan sebotol air mineral, dan berhasil menambah energi, yang sedari tadi terkuras karena rasa takut yang luar biasa.

Ia tersenyum, kemudian memintaku duduk dengan kaki selonjor di bawah pohon beringin, akar yang menjuntai serta daunnya yang lebat, membuatku kembali merinding saat tak sengaja melihat ke atas. Seperti ada sosok yang melambai, memintaku ikut bersamanya.

Segera kupalingkan wajah, membaca ayat kursi, demi berusaha mengusir sosok itu dari pikiran, namun tetap saja ia membelaiku lewat sapuan angin yang berhembus pelan.

Seperti mengetahui apa yang sedang terjadi, kak Uky mengajakku sedikit menjauh dari pohon itu. Kulihat beberapa kali dia juga menoleh ke arah yang sama di mana aku melihat sosok kuntilanak yang berusaha menggapaiku.

Setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi padaku.

***


Seperti sedang bertamu ke sebuah istana, di sana sudah terhidang berbagai macam makanan lezat, air liur spontan menetes, karena aroma hidangan itu telah merasuk ke dalam hidungku.

Segera aku dipersilahkan duduk di salah satu kursi meja makan, mengambil secentong nasi dan beberapa lauk. Kuucapkan bismillah, dan segera menyuapkan nasi beserta lauk itu ke dalam mulut. Belum juga menempel di bibir, seseorang menepuk pundakku, saat ku menoleh, ternyata ibu ada di sini juga.

"Ayo ndang moleh, ojo dolan mrene," ucap ibu sembari menarik tangan kiriku.

Aku tersadar, semua berucap syukur ... Dan sampai keesokan paginya, aku tetap dalam ketidaktahuanku. Sampai akhirnya diklatpun usai. Dan aku resmi menjadi anggota pramuka penegak di SMA tempat aku menimba ilmu.

***


Kita selalu hidup berdampingan dengan makhluq ghaib, jadi sebisa mungkin jangan biarkan pikiran kosong. Teruslah berdzikir, jangan biarkan mereka menguasaimu seperti yang mereka lakukan padaku, alina syibil maula, pelajar kelas sepuluh sebuah sekolah menengah atas negeri, disebuah kota terpencil di ujung pulau jawa.

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di