alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d51106b6df23132cf25819d/djadjang-nurdjaman-dan-kutukan-panjang-musim-kedua

Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua

Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua

Jakarta, IDN Times - Tak bisa dipungkiri, Djadjang Nurdjaman (pelatih yang pernah menangani Persib Bandung, PSMS Medan, dan Persebaya) bisa dibilang sebagai orang paling sukses di sepakbola Tanah Air.

Ia memiliki rekor bagus dengan membawa tim yang dibelanya menjadi juara saat menjadi pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala.

Sebagaimana diketahui, Djadjang berhasil mengantarkan Persib menjadi kampiun sebagai pemain di kompetisi sepakbola paling elite di Indonesia (perserikatan 1986), lalu sukses membawa Persib jadi juara sebagai asisten pelatih (Liga Indonesia 1994/1995), dan bisa mempersembahkan gelar sebagai pelatih (Liga Super indonesia 2014).

Tetapi tak dinyana, perjalanan Djanur sebagai pelatih justru dihantui sebuah kutukan. Ia memiliki tren kurang baik saat menangani tim di musim keduanya. Mirisnya, kutukan tersebut didapat pasca-Djadjang dianggap berhasil membawa timnya tampil impresif dalam kompetisi.

Teranyar, hal ini bisa dilihat dari aksinya bersama Persebaya dalam dua musim terakhir.


1. Musim lalu Djanur sempat membawa Persebaya meraih pretasi 'lumayan'
Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua
Djanur, begitu ia kerap disapa, memulai kiprahnya bersama Persebaya, dengan cukup baik. Walau sempat diragukan oleh Bonek, suporter Persebaya, di awal kedatangannya, ia langsung menjawab kepercayaan dengan menyulap tim jadi tampil konsisten. Buktinya, di akhir musim, ia mampu membawa Persebaya finish di posisi lima.

Atas prestasinya, manajemen Persebaya langsung menghadiahi Djanur dengan kontrak anyar. Memasuki musim baru, ia diberi keleluasaan dalam membangun tim. Beberapa pemain kenamaan pun diboyong Djanur ke Kota Pahlawan seperti Amido Balde, Damian Lizio, hingga Hansamu Yama Pranata.

Hanya saja, tren negatif kerap menghantui Persebaya. Ia acap kali gagal mempersembahkan kemenangan bagi Bonek. Tak pelak, perkara itu membuat dirinya tersudut.


2. Memberikan kesan baik, Djanur gagal saat menangani Persebaya di tahun kedua
Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua
Puncaknya, pelatih asal Majalengka tersebut resmi dicopot dari kursi pelatih Persebaya Surabaya usai tim yang diramunya tampil imbang 2-2 melawan Madura United dalam lanjutan kompetisi Shopee Liga 1 pekan ke-13 di Stadion Bung Tomo, Sabtu (10/8).

Sebetulnya, jika menengok klasemen Liga 1 hingga pekan ke-13 ini, posisi Persebaya tak bisa dibilang jeblok. Sebab, mereka berada di posisi ketujuh dengan raihan 18 poin hasil dari empat kali menang, enam imbang, dan tiga kalah. Hal itu sedikit wajar jika melihat materi pemain dan persaingan musim ini begitu ketat.

Nasi sudah menjadi bubur, publik Kota Pahlawan dan manajemen Persebaya sudah hilang kesabaran. Pelatih berusia 60 tahun itu pun harus kembali merasakan tren serupa kala menangani dua tim Perserikatan lain di liga Indonesia.


3. Dibantu marquee player, Djanur gagal bawa Persib berprestasi
Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua
Pengalaman pahit pertama dirasakan Djanur saat kembali menangani Persib pada kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 (tiga tahun setelah membawa Persib juara di ISL 2014).

Jadi suksesor Dejan Antonic, ia mampu mengantarkan Maung Bandung menyelesaikan kompetisi di peringkat lima. Tak pelak, hal itu mengingatkan Bobotoh , suporter Persib, pada romantisme lamanya ketika Djanur mampu membawa Persib memutus puasa gelar.

Dibebankan target tinggi untuk kembali membawa Persib juara di musim selanjutnya (Liga 1 2017), Djanur dibekali pemain kenamaan dunia oleh manajemen seperti, Micahel Essien (Chelsea) dan Carlton Cole (West Ham). Namun, hal itu ternyata tak jadi jaminan Persib tampil lebih baik.

Pangeran Biru di bawah komando Djanur justru harus terseok di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air. Hal itu membuat posisinya goyah. Desakan dari Bobotoh kepada manajemen untuk segera melakukan perubahan membuat Djanur memutuskan untuk mundur pada 15 Juli 2017 usai Persib kalah di tangan Mitra Kukar 2-1.

Selama menangani Persib di Liga 1 2017, Djanur hanya mampu membawa Persib lima kali meraih kemenangan, lima seri, dan lima kalah. Ia harus menanggalkan jabatannya sebagai pelatih tim di tengah kompetisi, saat posisi Persib masih berkutat di papan bawah, atau tepatnya di peringkat 13 saat memasuki pekan ke-15.


4. Kegagalan di tahun kedua pun dirasakan Djanur saat menangani PSMS Medan
Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua
Usai rehat sejenak dari ingar-bingar kompetisi sepakbola Tanah Air, Djanur memutuskan untuk 'turun kelas' dengan melatih PSMS Medan yang kala itu tengah berjuang di babak 16 besar kompetisi kasta kedua.

Ia kembali mampu menunjukkan magi dengan membuat performa PSMS terus menjadi jadi tim yang cukup solid selama babak 16 besar Liga 2.

Dengan skuat seadanya dan diisi pemain lokal, ia berhasil membawa PSMS jadi runner up Liga 2. Sekaligus, membawa PSMS berhasil meraih satu tiket promosi ke Liga 1.

Namun, kutukan Djanur di tahun kedua kembali terulang. Eks pemain jebolan klub Galatama, Mercu Buana Medan itu, tak mampu mengangkat prestasi Frets Butuan dan kolega pada debut PSMS di Liga 1. Alih-alih jadi tim kuda hitam, mereka malah menempati posisi juru kunci dengan poin 15 dari lima belas penampilannya.

Akibatnya, manajemen PSMS kala itu geram sehingga harus mendepak pelatih yang memiliki peran sebagai gelandang selama bermain itu dari kursi pelatih klub kebanggaan Sumatera Utara tersebut pada 12 Juli tahun lalu.


5. Kutukan tahun kedua tak akan membuat status Djanur sebagai pelatih sukses hilang
Djadjang Nurdjaman dan Kutukan Panjang Musim Kedua
Total, tiga kali sudah Djanur gagal menangani tim usai memberikan prestasi di tahun pertamanya. Akan tetapi, hal itu tak akan menghapus prestasi yang pernah dirainya bersama klub-klub yang pernah dibelanya. Ia tetaplah salah satu arsitek lokal yang bisa memberikan prestasi tertinggi bagi klub.

Walau berbekal catatan kurang baik bersama Persebaya, PSMS, dan Persib di tahun keduanya, sosok Djanur kemungkinan tetap jadi lakon yang memiliki magnet bagi tim-tim lain di Liga 1.


Sumber : https://www.idntimes.com/sport/socce...mpaign=network

---

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di