alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d50ff90018e0d1deb27427f/teka-teki-perdu-teduh-berdarah

Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah

Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
KLONTANG.. KLONTANG.. GEDUBRAK..

Zul, aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa bidang Kepramukaan pagi itu sudah membuat kegaduhan di sebuah ruangan berukuran 5 x 5 meter di kampusnya. Dia tersandung toples alumunium bekas wafer yang mungkin akan dipergunakan lagi nanti untuk menyimpan sesuatu. Di ruangan "semi-kecil" itu juga masih tercecer barang-barang lainnya yang akan dibawa oleh anggota UKM Kepramukaan itu untuk penjelajahan di bukit Telagawaringin nanti siang. Kondisi itu pun diperparah dengan diadakannya briefing kegiatan semalam di ruangan UKM tersebut. Sehingga, empat mahasiswa lainnya memutuskan untuk "menabung tidur" di ruang UKM untuk perjalanan melelahkan nanti.

"Wagelaseh ini, berisik seperti itu dan mereka masih molor." Gumam Zul sendirian.
Zul melanjutkan langkahnya dengan lebih hati-hati agar tidak membangunkan yang lainnya. Ia hanya hendak menuju ke musholla untuk melaksanakan salat shubuh, beberapa anggota perempuan yang ternyata juga bermalam di ruang UKM Jurnalis sudah bergegas turun dari lantai 3 untuk menuju musholla yang ada di lantai 2 gedung pusat UKM.

"Li, nginep sini juga kemarin?" tanya Zul kepada Lia yang merupakan anggota kepramukaan juga.
"Lah iya, disuruh gitu sih sama kak Nia, ya udah sih ya, daripada telat juga"
"Ooh, begitu"
"Hehe, okelah, duluan ya?"

Rona merah di pipi Lia sangat memukau, dipadu dengan senyuman dan gigi gingsulnya yang manis membuat Zul terpaku beberapa saat. Suara hentakan keras pun menyadarkannya yang ternyata itu adalah Rizal yang masih "separuh" karena bangun tidur tersandung kaki papan mading, sehingga papan mading itu roboh membuat suara hentakan yang keras.

"Astaga dragoon, ngapain wae sih?" Zul mengurungkan niatnya untuk turun tangga, menegakkan kembali papan mading sambil menahan cekikikannya.
"Ett daah, siapa sih taruh papan sembarangan gitu?" Ujar Rizal yang sudah sepenuhnya terbangun karena suara hentakan papan tadi.
"Yee, papan diem disalahin, ayo salat, sudah iqomah tuh!"
"Duluan wes, aku mau ke toilet dulu, hehe. Piis"
"Oalah, Otong, yaudah sana gih!"

Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
Senyumnya mempesona

Matahari bersinar terang, langit biru cerah, dan di beberapa sisi awan memayungi dengan anggunnya. Daun-daun beterbangan tersapu angin menambah indah suasana pemberangkatan UKM Kepramukaan ini. Menjelang pukul 10 siang, para anggota yang akan mengikuti penjelajahan kepramukaan pun sudah siap dan menunggu truk yang akan mengantar mereka ke jalan masuk bukit Telagawaringin.

"Tumbenan cerah yo Is, biasanya hujan terus, ini sejak kemarin cerah." Ujar Bintang kepada Ismanto si rambut gondrong gimbal.
"Mungkin, langit ini menyambut kegiatan kita dengan suka cita, tanpa luka di pelupuk temaram ketika ingatanku terbenam menyambut datangnya di penghujung masa." Is malah berpuisi.
"Yee, sok nyastra kamu Is."
"Aku hanyalah insan yang diperbudak sastra, namun aku bahagia dengannya." Is menjawab dengan logat khas pujangganya diiringi tertawanya yang mirip Alm. Mbah Surip.
"Ah hiya hiya hiya, anak sastra kok ikut pramuka?"
"Loh, justru itu, karena alam ingin membisikkan gagasannya kepadaku, lewat pramuka."
"Bodo ah." Bintang sewot, kesal karena telah memulai percakapan dengan Is.

Transportasi yang akan digunakan menuju bukit pun datang, Sebuah Truk berwarna kuning yang mungkin sehari-hari digunakan untuk mengangkut kayu. Para peserta perempuan naik terlebih dahulu, ada 5 peserta perempuan dan satu di antaranya adalah senior kami, kak Nia. sementara di kelompok laki-laki yang jumlah pesertanya 6 orang didampingi oleh kak Rendra yang juga senior di UKM Kepramukaan ini.

Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
Naik Truk menuju Tempat Perkemahan

Truk yang ditumpangi berjalan melintasi perkampungan terakhir ketika waktu menunjukkan pukul 12 siang. Rizal melihat bapak paruh baya penjaga pos terakhir dari atas truk. Penjaga pos tersebut menatap serius dirinya. Bingung karena saling memandang, Rizal hanya melempar senyum yang mengisyaratkan "permisi". Namun, dari jauh, terlihat bapak tersebut menggeleng pelan dengan tatapannya yang seakan menyiratkan kesedihan. Rizal semakin cemas, tapi dia simpan saja sendiri kejadian itu, mungkin hanya firasatnya saja.

Setelah sampai di pertigaan, mereka semua turun, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Selama perjalanan mereka sangat semangat sehingga lelah tidak dirasakan. Di samping kanan dan kiri jalan setapak pun pemandangannya sangat memanjakan. Perdu-perdu teduh, ilalang, dan juga pohon beringin tua yang sangat besar. Pohon tersebut menjulurkan sulur-sulurnya hingga hampir menyentuh tanah sehingga menyerupai sebuah tirai.





Perjalanan pun selesai di sebuah bukit yang ditandai oleh sebuah telaga dan sebuah pohon beringin, tempat UKM Kepramukaan ini akan bermalam untuk satu malam saja di tanah terbuka ini. Tempat yang dipilih pun cukup indah dengan adanya sebuah telaga menyerupai danau dan udara yang sejuk. Di dekat telaga terdapat sebuah bilik dari kayu yang mungkin dipergunakan untuk mencuci atau mandi, namun tempat tersebut berada di daerah yang menurun sehingga tidak nampak dari tempat para anggota mendirikan tenda.

Semua berjalan lancar, tanpa ada hambatan, sampai pada saat persiapan akan kembali ke kampus, mendung mulai menggelayut. Angin yang berhembus juga terasa lebih dingin, mungkin akan turun hujan, Semuanya pun bergegas untuk berkemas dan melakukan perjalanan pulang. Tetapi, setelah membersihkan tempat tersebut, semuanya terkejut. Is menghilang.

Sempat panik beberapa saat, akhirnya kak Rendra memutuskan agar Ujang dan Rizal untuk pergi terlebih dahulu bersama kelompok perempuan. Kak Rendra juga berpesan agar meninggalkan tanda dan menceritakan hal ini kepada sopir truk agar menunggu di pertigaan tempat awal mereka melakukan perjalanan. Setelah beberapa saat berdebat, akhirnya kelompok perempuan pun setuju. Rizal, Ujang, dan kelompok perempuan pergi terlebih dahulu. Tinggalah hanya Bintang, Zul, dan kak Rendra mencari Is yang hilang entah ke mana. Padahal, barang-barang milik Is mulai dari buku, ransel, sarung, baju ganti, dan barang lainnya bisa ditemukan.

Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
Pencarian di hutan
Ujang, Rizal, dan kelompok perempuan telah sampai di pertigaan tempat mulai dan menceritakan apa yang terjadi kepada sopir truk dan keneknya. Sesuai keputusan sopir truk, Ujang, Rizal, dan kelompok perempuan diminta untuk menunggu di pos terakhir pemukiman dikarenakan sepertinya akan turun hujan. Sementara itu, Pak Sopir dan keneknya ini akan kembali lagi untuk menunggu empat orang yang tertinggal.

"Is.. Is.. Ismanto, di mana kamu?" teriak kak Rendra
"kak, sudah dicari di mana-mana tapi enggak ada, gimana ini?" ujar Zul mulai putus asa.
"Iya kak, saya juga sudah mulai capek, mendungnya juga sudah semakin gelap." Bintang setuju
Mereka duduk, diam mengumpulkan tenaga, lalu bangkit bersamaan ketika mendengar suara yang mereka kenal.

"Mas..Mas Rendra!" Pak sopir truk diikuti keneknya yang lari di belakangnya terengah-engah.
"Ada apa pak?"
"Itu mas, anggota mas, ada yang berambut gimbal kan? dan itu yang hilang kan?"
"Iya Pak, Is namanya, Bapak ketemu sama dia?" Tanya kak Rendra dengan antusias.
Pak sopir dan keneknya hanya mengangguk. Segera Bintang, dan Zul menggotong tasnya dan mengikuti sopir, kenek, dan kak Rendra menuju ke sebuah semak dan berhenti di depan perdu. 

"Innalillahi wa innailaihi raji'un, kok bisa?" Kak Rendra tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kami tadi iseng cari-cari, terus kok ada kertas yang disobek-sobek dan kelihatannya sengaja ditinggalkan, karena kertas itu ditindih batu ketika kami menemukan badannya menggantung di situ."
"Ya Allah, Is!" Bintang berteriak tidak  percaya. Baru saja ia bercanda kemarin dengan Is, dan sekarang ia melihat Is tak bernyawa, penuh lebam.
"Di sini ada penjahat dan semacamnya pak?" Zul bertanya kepada kenek truk.
"Hampir gak ada mas e, karena yang jaga pos pemukiman terakhir di sini orang sakti katanya, dan setelah maghrib, gak ada orang berani lewat sini karena gelap sekali."

Setelah melepas ikatan yang ada di leher Is, dan menutupinya dengan kain seadanya, mereka menggotongnya ke truk untuk kembali ke pemukiman terakhir. Di perjalanan sambil, Zul mencoba menerka apa isi tulisan dari Is Tersebut

Quote:



"Apa ya maksudnya kira-kira?" Bintang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Sesuatu yang perlu jawaban, pertanyaan dong, pertanyaan rahasia gitu maksudnya?" kak Rendra mencoba menerka.
"Sebentar kak, apa jangan-jangan yang dimaksud ini adalah sandi?" Zul berargumen
"Sandi? sesuatu yang perlu jawaban dan bersifat rahasia, masuk sih sandi. terus apa selanjutnya?"
"Dimulai dari angka 6? sandi, angka enam. enam. hmm" Zul berfikir lagi.
"Emang ada ya sandi yang menggunakan angka Zul?" Bintang kepo lagi.
"Eh, ada dong Tang, sandi kimia, sandi jam juga menggunakan angka." Ujar kak Rendra yang semakin tertarik untuk menyelidiki maksud tulisan Is.
"Sandi Angka, Sandi jam, tapi hanya perkiraan sih, maksudku, aku sudah tidak melihat Is sejak jam 6 tadi kak" Ujar Zul
"Lah, iya juga ya, tadi beberapa kegiatan penutup dia tidak ikut. Zul, coba gunakan patokan jam 6 untuk menyusun sandi jam buat mengartikan angka-angka yang di baris selanjutnya." Pinta kak Rendra
"K-O-T-A-K. Kotak kak arti sandi ini, eh tapi apa maksudnya?"
Bintang yang baru saja akrab dengan Is, ingat sesuatu. Dirinya pernah ditunjukkan sebuah kotak hitam seperti wadah arloji yang digunakan Is untuk menyimpan cincin batu akik. Ia segera bergegas membuka tas Is dan mengeluarkan kotak yang dimaksudkan. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berhias batu akik berwarna merah mengkilat.

Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
Kotak cincin akik


"Apa sih maksud Is? ini kan cuma cincin akik biasa?" Bintang bertanya-tanya.
"tak pernah keluar, suatu saat kau harus membukanya?"  kak Rendra kini menggumam
"Lah, ada kertas lagi ini di bawah bantalan kotak ini Tang, coba ambil"
"Ini? setruk belanjaan Is ini mah." Bintang memeriksa secarik kertas panjang di dalam kotak tersebut.
"Hei, tunggu dulu, itu ada gambar di belakangnya." Ujar Zul.

Sebelum melihat gambar itu, ada tulisan kecil di atasnya yang berbunyi.

Quote:


Teka-Teki Perdu Teduh Berdarah
Sandi Kotak


"Ini jelas sandi kotak kan Zul?"
"He'em, bacanya 'Rizal' dan yang bawah 'Ujang'. Lah, kan anggota kita juga ini?"
"Apa ada hubungannya dengan dua orang anak itu? bilah taring tajam ini bisa diartikan sebagai senjata tajam atau pisau ya?" kak Rendra memprediksi.
"Kak, masa dua orang ini pelakunya?" Bintang mulai berani menyimpulkan
"Hus, tidak boleh asal tuduh."
"Kak, tapi, yang ditulis di utara dan selatan, kalau berdasarkan mata angin di peta, bukannya mata angin utara ada di atas, dan mata angin selatan di bawah?" Zul mulai serius wajahnya
"Iya betul, Zul, ada apa?"
Zul seketika tegang, matanya mengkilat karena air matanya berusaha dibendung bercampur amarah. Zul langsung menunjukkan kertas setruk itu ke kak Rendra dan Bintang.
"Rizal memergoki percobaan pembunuhan yang mungkin dilakukan oleh Ujang kepada Is, dan pastinya Ujang tidak membiarkan hal itu terjadi karena Rizal sudah mengetahui hal sebenarnya. Is menghilang jam 6, di saat bersamaan, Ujang juga sedang pergi katanya mau ke telaga. Jangan-jangan?"
"Berarti Rizal dan kelompok perempuan dalam bahaya dong kak?" Bintang seketika panik
"Tenang dulu, kita sebentar lagi sampai di pos, dan bertemu dengan mereka."

Truk mereka tiba di pos, mereka bertiga bergegas turun. Mereka mendapati kelompok personel perempuan masih lengkap, namun tanpa Rizal dan Ujang.
"Ni, Rizal dan Ujang anggota saya ke mana?" tanya kak Rendra kepada kak Nia.
"Tadi Ujangnya pamit katanya mau ke toilet, terus si Rizalnya diminta nganter, gimana Is? ketemu?"
kak Rendra langsung bermuka masam, sambil mengisyaratkan Zul dan Bintang untuk menepikan tas yang digunakan untuk menyangga tubuh Is.

seluruh kelompok perempuan pun histeris, tak percaya. Ada yang mulai menangis, ada yang memalingkan wajahnya, dan ada yang menutupi wajahnya. 

"Sekarang yang paling penting ke mana Ujang dan Rizal?"
"Aku gak tau, Ndra, mereka ke arah sana." Kak Nia menunjuk ke daerah sebelah pos yang masih didominasi dengan tumbuhan Perdu yang teduh, dan pohon-pohon besar. Kak Rendra, sopir truk, dan keneknya bergegas menuju daerah tersebut. Berselang sekitar setengah jam, kak Rendra kembali bersama sopir dan kenek seraya berkata.

"Zul, Bintang, sepertinya kita sudah terlambat sepersekian detik."


END


Spoiler for Sumber Gambar::

profile-picture
ashiap920 memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di