alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Inspirasi /
Cukup itu Bukan Jumlah Harta Jasmani, Melainkan Kekayaan Rohani
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d50f1218012ae1f120510ad/cukup-itu-bukan-jumlah-harta-jasmani-melainkan-kekayaan-rohani

Cukup itu Bukan Jumlah Harta Jasmani, Melainkan Kekayaan Rohani

Kata cukup mudah dikatakan, tetapi ternyata tidak mudah dilakukan. Cukup itu bukan soal akal, melainkan soal budi. Bukan karena perhitungan intelektual, melainkan karena kepekaan sosial. Bukan jumlah harta jasmani, melainkan kekayaan rohani.

Itu sebabnya tidak usah heran melihat orang yang kita rasa semestinya “kaya” karena dilihat dari hartanya termasuk golongan 1 persen dari top elite. Tetapi ternyata masih merasa kurang sehingga mencari cara lain menambah pundi—pundi 'kecukupan'nya. Bahkan, semakin menjadi ketika melihat teman selingkungannya semakin punya. Akibatnya, suap dan manipulasi menjadi strategi agar bisa bertahan di level puncak. Keberanian membeli orang semakin membara yang mengakibatkan kolusi semakin menggila.

Cukup itu Bukan Jumlah Harta Jasmani, Melainkan Kekayaan Rohani

Coba lihat, ada lima ketua umum partai yang terjebak pada sindrom ketidakcukupan ini. Apa pun alasannya dan untuk apa tambahan kecukupan itu dialokasikan, menjadi bukti adagium bahwa uang itu air laut yang ganas, semakin diminum akan semakin haus. Paradoksnya, semakin tinggi posisi seseorang, semakin terbuka peluang melihat cara mendapatkan kelebihan itu. Hanya sekadar anggukan dan paraf, maka akan ada aliran baru untuk menambah pundi-pundi. Tentu tak dapat dimungkiri, ini seperti lingkaran setan, semakin tinggi posisi kebutuhan untuk menjaga reputasi dan mempertahankan kursi juga butuh dana yang tidak sedikit.

Sedih, marah, tak percaya, kalimat itu sering dibarengi elusan dada melihat orang yang seharusnya sudah berlebih dan bisa berbagi ternyata sebenarnya orang 'miskin' yang belum bisa berkata cukup sehingga masih ingin terus mengambil dengan cara yang tidak sepatutnya.

Berita baiknya adalah masih banyak orang yang justru bisa berkata cukup tatkala ia kurang. Mbak Pirang, pengusaha gudeg di Kota Gudeg, yang membuat banyak orang sadar bahwa kecukupan itu mudah. Warung gudegnya sangat sederhana di pinggir jalan, dapur dan rumahnya juga sederhana, tetapi ketika saya menikmati gudegnya di dapur tersebut, aroma dan rasanya sungguh menghentakkan air liur. Malam itu walaupun hujan deras, kami memaksakan diri mampir, makan di emperan terkena tampias hujan tidak membuat kami kecut hati. Yang lebih menarik lagi, ia tidak takut kami korupsi. Setelah meladeni kami. Ia pun berangkat untuk melayani pelanggan di warungnya. Nanti membayarnya berapa saja, Mbak Pirang akan percaya, bahkan ada account khusus buat yang sudah jadi member.

Bukan hanya Mbak Pirang, Mbah Ayam, pedagang makanan oseng-oseng mercon di terminal Yogyakarta juga lebih unik lagi. Dagangan laris tidak membuatnya berpikir untuk buka cabang atau franchise. Sekalipun ada yang sudah mengenalnya sejak ia mahasiswa 18 tahun lalu sudah berusaha meyakinkannya untuk ekspansi. Jawabannya sederhana, "saya sudah tua dan sudah cukup dengan yang ada." Bahkan, lanjutnya, ia mau mengajari cara membuat masakannya dengan resep rahasianya. Semua tuntas dikupas tanpa takut saya buat resto untuk menyainginya.

Cukup itu Bukan Jumlah Harta Jasmani, Melainkan Kekayaan Rohani

Ternyata kecukupan itu sederhana. Hati yang berlebih membuat arus kebutuhan untuk mengambil lebih jadi berkurang atau bahkan tidak ada. Itu sebabnya, teringat doa Salomo sebagai simbol raja yang kaya tetapi bijak, bahwa kaya dan miskin itu bukan jumlah kuantitatif terhadap orang lain, melainkan kualitas kualitatif buat diri sendiri. Begini doanya:

Quote:



Rupanya ratusan politisi, aparat, dan pengusaha yang terjaring KPK itu belum merasa kaya sehingga harus curang dan bohong. tetapi Mbak Pirang dan Mbah Ayam sudah sampai tahap cukup, tidak miskin dan tidak kaya, sehingga keduanya bisa menikmati hidup tanpa ngoyo dan grasa—grusu, tidur nyenyak, dan senyum bahagia.

Cukup itu ternyata masuk kategori kedalaman spiritual. Makin kenyang rohani kita, makin mudah merasa cukup. Dan kedalaman rohani itu tidak bisa dibalut hanya dengan baju dan aksesori bernuansa rohani, tetapi karakter nyata tatkala tak ada yang melihat.

Cukup itu Bukan Jumlah Harta Jasmani, Melainkan Kekayaan Rohani


Spoiler for Referensi:



Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di