alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Tuhanlah Yang Mencari AKU
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d50f0f4f0bdb2659e23adf8/tuhanlah-yang--mencari-aku

Tuhanlah Yang Mencari AKU

Tuhanlah Yang Mencari AKU

Kau tidak akan pernah bisa menikmati keheningan, jika masih menyukai keramaian,

Kau tak akan pernah bisa diam, jika masih belum bisa menahan diri,

Pertanyaan yang kau lontarkan untuk dirimu sendiri, tidak akan pernah mungkin bisa dijawab oleh orang lain.

Orang lain bukanlah dirimu, matanya bukan matamu, hatinya berbeda dengan hatimu, rasanya tak sama dengan rasamu, mereka bukan jawaban.

Diamlah
Heninglah

Kau tak perlu cari tuhan kemana-mana
Kau tak perlu bertanya tentang tuhan pada siapapun.
Semakin kau bertanya, semakin kau temukan jawaban yg berbeda dengan yang kau inginkan.

Tenanglah,,
Tuhan yang akan menemukanmu.
😍😍😍
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tuhan tdk kemana2, Tuhan lebih dekat dr apapun, mkn cm ketutup dgn sesuatu (apapun)

org baru menyadari betapa berharganya sesuatu pd saat sdh tdk ada, atau pd titik nadir. macem org yg paling elu sayangi sakit, mkn elu bisa nangis takut kehilangan, meskipun pd saat sehat2 sj elu sll bikin sakit hati

Tuhan harus elu cari... cari kedalam lubuk hati terdalam elu..

emoticon-Cool
ENAM KEGAGALAN MENGENAL ALLAH/ MARIFAT

Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya As-Sa'adah menjelaskan tentang 6 aspek kegagalan manusia dalam mengenal Allah. Bahkan, menurutnya, meski pernyataan Al-Quran telah sangat jelas, namun masih banyak orang yang kerana kebodohannya akan Allah, melanggar batas-batas tersebut. Di antara beberapa penyebab kebodohan dan kegagalan mereka adalah :

Pertama,
ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan dan pemikiran, lantas menyimpulkan bahwa Allah tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri atau ada yang menyebutnya dari keabadian. Mereka bagaikan orang yang melihat tulisan indah kemudian menyatakan bahwa tulisan itu ada dengan sendirinya tanpa ditulis siapa pun, atau memang sudah ada begitu saja. Mereka yang berpola pikir seperti ini telah jauh tersesat sehingga penjelasan dan perdebatan dengan mereka takkan bermanfaat sedikit pun.

Kedua,
sejumlah orang yang, kerana tidak mengetahui sifat jiwa yang sebenarnya, menolak adanya akhirat, tempat manusia akan dimintai pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau disiksa. Mereka anggap diri mereka sendiri tak lebih baik dari haiwan atau sayuran, yang akan musnah begitu saja dan tidak akan dibangkitkan lagi.

Ketiga,
ada orang yang percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat, tetapi kepercayaannya itu lemah. Mereka berkata, “Allah itu Maha besar dan tidak bergantung kepada kita; tak penting bagi-Nya apakah kita beribadah atau tidak.” Pikiran mereka itu seperti orang sakit yang, saat dokter memberinya nasihat penyembuhan, berkata, "Yah, ku ikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu."

Memang tindakannya itu tidak berdampak apa-apa pada diri si dokter, tetapi pasti akan merosak dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit jasad yang tak terubati akan membunuh jasad, penyakit jiwa yang tak tersembuhkan pun akan menyebabkan penderitaan dimasa mendatang. Allah berfirman, “Orang yang akan diselamatkan hanyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”

Keempat,
kelompok orang kafir yang berkata, “Syariat mengajari kita untuk menahan amarah, syahwat, dan kemunafikan. Ini perintah yang musykil dilaksanakan, kerana manusia diciptakan dengan sifat-sifat seperti itu. Itu sama saja dengan menuntut yang hitam agar menjadi putih.”

Orang bodoh seperti mereka sepenuhnya tidak melihat kenyataan bahwa syariat tidak mengajari kita untuk memusnahkan nafsu -nafsu ini, tetapi untuk meletakkan mereka dalam batas-batasnya. Sehingga, dengan menghindari dosa-dosa besar, kita boleh mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lebih kecil. Bahkan, Nabi saw. bersabda, “Aku manusia sepertimu juga, dan aku marah seperti yang lain.” Dan dalam Alquran tertulis: “Allah mencintai orang yang menahan amarahnya.” (Q. 3: 134), bukan orang yang tidak punya amarah sama sekali.

Kelima,
kelompok orang yang menonjol-nonjolkan kemurahan Allah seraya mengabaikan keadilan-Nya, kemudian berkata, “Ya, apa pun yang kita kerjakan, Allah Maha Pemaaf.” Mereka tidak berpikir bahwa meskipun Allah maha mengampuni, jutaan manusia hancur secara menyedihkan kerana kelaparan dan penyakit. Sebenarnya mereka tahu bahwa siapa saja yang ingin umur panjang, kemakmuran, atau kepintaran tak boleh sekadar berkata, “Tuhan Maha Pemaaf,” tetapi mesti berusaha dengan keras.

Meski Al-Quran mengatakan: “Rezeki semua makhluk hidup datang dari Allah,” di sana tertulis pula: “Manusia tidak mendapatkan sesuatu kecuali dengan berusaha.” (Q. 53: 39)

Keenam,
kelompok orang yang mengaku telah mencapai suatu tingkat kesucian tertentu sehingga mereka tak lagi dipengaruhi dosa. Namun kenyataannya, saat orang lain memperlakukan salah seorang diantara mereka secara tidak hormat, ia akan mendendam selama bertahun-tahun. Dan jika salah seorang di antara mereka tidak mendapat sebutir makanan yang menurutnya telah menjadi haknya, seluruh dunia akan tampak gelap dan sempit baginya.

Bahkan, jika ada di antara mereka benar-benar boleh menaklukkan nafsunya, mereka tidak punya hak untuk membuat pengakuan semacam itu, mengingat para nabi ~ manusia paling mulia – pun selalu meratap mengakui dosa-dosa mereka. Sebagian kelompok ini bahkan begitu sombong sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari hal-hal yang halal.

[Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya As-Sa'adah]
"Bersembunyilah engkau makan Akan Kutemukan" sebaliknya kau tak dapat menemukanku. hehehe ^_^


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di