alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / ... / SINDOnews.com /
Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4fc6d0e83c720d8c0b0c13/polemik-rokok-dan-tembakau-dinilai-masih-menjadi-persoalan-yang-kompleks

Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks

Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks

SEMARANG - Polemik rokok dan tembakau masih menjadi persoalan yang kompleks dan kontroversial. Hal itu memunculkan ruang gerakan pro dan kontra. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menangani permasalahan tembakau dan rokok hingga saat ini dinilai belum memenuhi unsur keadilan.

Pasalnya, meski produk tembakau-rokok asli Indonesia memberikan kontribusi besar kepada pemerintah, namun konsumen rokok cenderung menjadi pihak yang dirugikan. Bahkan terdiskriminasi.

"Keadilan harus ditegakkan. Jangan sampai kebencian atau ketidak-sukaan terhadap suatu kaum atau komunitas menjadikan kita berbuat tidak adil. Termasuk kepada konsumen rokok," kata Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Khafid Sirotudin.

Baca Juga:

Khafid mengemukakan pandangannya dalam Focus Discussion Group 'Mencari Keadilan Bagi Konsumen Rokok' yang digelar Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI) bekerjasama dengan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, dan Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jawa Tengah di Gedung Antonius Fakultas Hukum Unika Soegijapranata Semarang, Sabtu (10/08).

Khafid mengatakan, apapun harus diakui, bahwa rokok-tembakau memberikan kontribusi besar bagi negara ini. Khafid menyebut Rp 150-an triliun lebih tembakau-rokok memberi pemasukan kepada negara.

"Nilai tersebut jauh lebih besar daripada kontribusi lain. Tetapi yang kembali ke konsumen atau ke daerah hanya kurang lebih dua persen. Artinya, yang 98 persen ke mana? Tentu ini butuh keadilan dan transparansi. Konsumen rokok ini sudah jatuh tertimpa tangga, diinjak-injak sekalian," katanya.

Parahnya, lanjut Khafid, telah terjadi "stigma" negatif bahwa merokok menjadi sebuah "kejahatan". "Seakan-akan merokok sebagai sebuah kejahatan. Udah kena pajak double, kena 10 persen di industrinya, 10 PPN penjualannya, dan lain-lain. Setelah itu masih dibatasi dengan regulasi yang tidak adil," katanya.

Lebih lanjut, menurut dia, seharusnya pemerintah memberikan hak konsumen rokok secara adil dan bijaksana. Hal sederhana misalnya dalam hal penyediaan fasilitas smoking area yang layak.

Meski demikian, ia juga mewanti-wanti agar para perokok juga tidak boleh sakarepe dewe (seenaknya sendiri). Tidak buang sampah sembarangan dan seterusnya.

"Pemerintah daerah, pemerintah pusat, semua harus adil. Negara harus hadir. Karena ini menyangkut produk nusantara khususnya tembakau dan cengkeh yang telah eksis dua ratus tahun silam," katanya.

Menurut dia, rokok dan narkoba menjadi masalah "stigmatisasi". Tembakau-rokok di Indonesia ini tidak sekadar "food", tapi juga culture. Di Amerika, tembakau termasuk "food and drugs", aturannya sama.

"Yang nggak boleh apa? Penyalahgunaannya. Jadi, penyalahgunaan rokok itu yang nggak boleh. Penyalahgunaan narkotika itu yang nggak boleh. Karena, realitasnya narkotika dibutuhkan dalam dunia kesehatan. Bius itu dari narkotika. Itu masalah (stigma)," katanya.

Khafid juga menyoroti regulasi yang diterapkan pemerintah saat ini masih jauh dari asas keadilan. Misalnya, Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Misalnya di Eropa, perokok boleh merokok di semua tempat, kecuali yang dilarang. Di Singapura, perokok tidak boleh merokok di semua tempat kecuali tempat yang boleh.

"Tapi, kalau di Indonesia tidak jelas aturannya. Seharusnya di Indonesia, merokoklah yang baik dan tepat pada tempatnya. Ayo wujudkan Indonesia yang sehat, bangsa yang kuat," imbuhnya.

Sebenarnya, masih kata Khafid, hanya ada dua negara di dunia yang memiliki ketahanan pangan terbaik. "Pertama, Indonesia. Dua, China (Tiongkok). Tapi kalau dari sisi tanaman berkasiat obat, nomor satu Indonesia. Kedua Brasil. Ada kurang lebih 40.000 jenis tanaman obat, 30.000 ada di Indonesia. Sekarang dirusak seperti adanya program minyak sawitisasi dan seterusnya," pungkasnya.


Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/14...eks-1565507875

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks

- Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks Tradisi Perburuan Paus di Lembata

- Polemik Rokok dan Tembakau Dinilai Masih Menjadi Persoalan yang Kompleks Tidak Terbukti Radikalisme, Pemuda Jambi yang Ditangkap Densus Dibebaskan

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di