alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Bisnis TV terseok digempur layanan streaming
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4fa2b6e83c7272ee1e3449/bisnis-tv-terseok-digempur-layanan-streaming

Bisnis TV terseok digempur layanan streaming

Bisnis TV terseok digempur layanan streaming
Ilustrasi gambar. Penonton menikmati layanan streaming.
Kabar tak sedap terdengar dari industri media dalam negeri pekan ini. PT Net Mediatama Televisi (NET.), perusahaan yang menaungi NET TV mengaku tengah mengalami kesulitan yang memaksa perusahaan melakukan efisiensi.

Awalnya pada Kamis (8/8/2019) tersiar kabar bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terjadi di stasiun TV yang mulai tayang secara resmi sejak 26 Mei 2013 tersebut. Gosip bakal ditutupnya media milik Grup Indika itupun merebak.

Tagar #NetTV sempat populer di Twitter, berisi ciutan warganet yang tak rela kehilangan stasiun TV yang tayangannya mereka anggap lebih berkualitas dibandingkan stasiun TV lainnya.

Sehari kemudian, Jumat (9/8), direksi NET. membantah kabar soal PHK massal tersebut, tetapi mengakui bahwa mereka tengah melakukan efisiensi. Salah satu caranya adalah menawarkan kepada seluruh karyawannya skema pengunduran diri. Pegawai diiming-imingi imbalan (benefit) lebih dari jumlah gaji yang biasa didapatkan sebulannya.

Chief Operating Officer Net Mediatama, Azuan Syahril, mengatakan penawaran itu baru mulai dilakukan bulan ini. Ia mengklaim mayoritas karyawan menyambut baik kebijakan tersebut, sejumlah pegawai pun sudah mulai memberikan surat pengunduran diri.

"Tapi ini sifatnya penawaran ya, bukan keputusan sepihak seperti kabar yang beredar. Kami tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Kalau karyawan tidak berminat mengundurkan diri, tidak masalah," ucap Azuan dilansir dari CNNIndonesia.com (10/8/2019).

Azuan tak menjelaskan rinci berapa imbalan dana yang diberikan kepada karyawan yang bersedia mengundurkan diri. Hal yang pasti, perhitungannya disesuaikan dengan masa kerja masing-masing pegawai. Efisiensi harus dilakukan agar perusahaan dapat bertahan di tengah kompetisi industri televisi saat ini.

"Industri televisi saingannya bukan hanya dengan televisi, tapi juga tapi juga sekarang ini muncul media alternatif. Itu kan juga menjadi salah satu yang membuat kompetisi semakin ketat," ujar Azuan.
Gempuran platform digital
Kejelian dan keseriusan mengelola bisnis pertelevisian dibutuhkan sangat ekstra di zaman ini. Industri ini berada dalam pusaran kompetisi ketat dengan layanan pengaliran konten atau biasa disebut streaming.

Kehadiran platform digital seperti YouTube, Netflix, HOOQ, hingga Instagram TV, secara drastis telah merebut kue TV konvensional.

Praktisi Bisnis yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, melihat bisnis pertelevisian sedang berat-beratnya menghadapi inovasi industri digital.

"Industri pertelevisian tengah memasuki fase yang sangat berat. Model bisnis televisi yang kita kenal tiba-tiba diadang oleh model baru," ujar Rhenald kepada Beritagar.id.

Industri pertelevisian yang dikenal selama ini merupakan sektor yang membutuhkan investasi besar dengan jumlah aset yang tidak main-main (heavy asset). Industri itu kini harus bersaing dengan model bisnis baru dengan konsep berbagi (sharing) yang memiliki sedikit asset (light asset).

Perkembangan ini dianggap sebagai peradaban kewirausahaan atau entrepreneurship anak-anak muda yang berbasis teknologi. Untuk membuat dampak besar dan ekonomi heboh tak lagi perlu modal besar, karena peradaban ini didukung oleh enam pilar: Artificial Intelligence (AI), Big Data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things (IoT), dan Cloud Computing.

Konten video online tak dimungkiri tengah menjadi tren yang digandrungi masa kini. Tua dan muda bisa berjam-jam seharian di depan layar hanya untuk memutar video-video favorit mereka. Barangkali, tontonan yang dicari tak kunjung muncul di saluran TV lokal.

Perkembangannya pun semakin terakselerasi dengan tumbuh suburnya gawai berfitur canggih. Seakan-akan, hiburan visual itu menyusut ke dalam tas atau bahkan saku kita. Faktor kemudahan itu pula yang ditengarai menjadi faktor pergeseran perilaku menonton masyarakat dari TV ke konten video berbasis internet yang juga biasa disebut video on demand (VOD).

Tahun 2017, lembaga riset Nielsen membuat riset mengenai perkembangan tersebut. Survei yang dilakukan di 11 kota besar di Indonesia itu bertujuan untuk mengukur tren penggunaan media visual di tengah masyarakat.

Secara umum, hasil survei itu menunjukkan bahwa pengguna TV konvensional masih lebih dominan dibanding pengguna media-media visual lainya, 96 persen responden masih menonton TV.

Namun, meledaknya revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), realitas virtual (virtual reality), dan berbagai kecanggihan yang kini tersedia dalam gawai nampaknya akan menjadi penantang terkuat hegemoni sang petahana (baca: TV).

Data di atas memang menyimpulkan bahwa TV konvensional belum ditinggalkan. Hanya saja, dengan maraknya konten video online yang dapat diakses dengan mudah menggunakan internet, membuat pengguna memiliki preferensi atau pilihan lebih luas dalam aktivitas menonton mereka.

Data lainnya dalam penelitian Nielsen juga menemukan bahwa khusus dalam aktivitas menonton video dan konten film, akses ke TV terestrial dan TV kabel masih menjadi pilihan utama dengan angka 77 persen, disusul 51 persen dari platform bebas akses seperti YouTube, Vimeo, dan sejenisnya.

Sementara itu, 28 persen responden memilih berlangganan konten video berbayar seperti Iflix dan HOOQ. Di Amerika Serikat, masyarakat yang telah berlangganan konten berbayar cenderung lebih sedikit menonton TV.

Perubahan demi perubahan itu kerap terjadi tanpa aba-aba. Bahkan, terkadang meleset dari perhitungan sebelumnya. Perubahan itu pun menggilas siapa saja yang terlena dengan kondisi dan cara-cara lama.
Bisnis TV terseok digempur layanan streaming


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...anan-streaming

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Bisnis TV terseok digempur layanan streaming BMKG catat gempa M 5,2 getarkan Enggano

- Bisnis TV terseok digempur layanan streaming Warga Pekanbaru salat Iduladha di tengah asap

- Bisnis TV terseok digempur layanan streaming Kebakaran di Pasar Kambing, 2 tewas dan 1 luka bakar

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di