alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Kisah Singkat Penghayatan(ku) mengenai Idul Adha(Kisah nabi Alloh Ibrahim dan Ismail)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4f9a5e8012ae42291a8203/kisah-singkat-penghayatanku-mengenai-idul-adhakisah-nabi-alloh-ibrahim-dan-ismail

Kisah Singkat Penghayatan(ku) mengenai Idul Adha(Kisah nabi Alloh Ibrahim dan Ismail)

Keinginan untuk menuliskan kisah ini membuncah di hati dan pikiran penulis setelah selesai melaksanakan sholat Idul Adha, tidak tertahankan. Selesai sholat, penulis langsung menuju kos, makan dan langsung menuju depan monitor laptop, menulis kisah ini dari sepagi itu hingga kurang lebih pukul 11 selesailah kisah ini ditulis.

Penulis bukanlah orang yang biasa menulis, malah ini adalah kisah yang pertama kali penulis tulis. Kalau membaca sih sering, dan sedang tertarik belajar mengenai menerjemahkan sebuah novel.

Dan juga, penulis bukanlah orang yang paham betul mengenai apa yang terjadi pada Nabi Alloh, keadaan keluarga, suasana kota, dsb yang ada dalam cerita. Apa yang tertulis hanyalah imajinasi yang ada di kepala penulis dengan membayangkan dan mengkhayati bagaimana emosi, ekspresi, keadaan serta perasaan yang dirasakan Nabi Alloh dan keluarganya.

Kisah ini hanyalah fiktif belaka yg terinspirasi dari kisah Nabi Alloh Ibrahim dan Ismail saat kejadian yang mendasari Idul Qurban.

Segala tempat, kejadian, percakapan, tokoh, ekspresi, pergolakan batin hanyalah imajinasi penulis semata guna mengkhayati kejadian tersebut.


Part 1

Pasir terbentang sepanjang mata memandang. Matahari terik tergantung di langit gurun. Panasnya cuaca gurun membakar pasir orange, menciptakan fatamorgana di kejauhan. Seterik dan sepanas ini, terlihat dua sosok manusia di tengah-tengahnya. Tidak, dia yang melihatnya.

Salah satu dari dua orang tersebut berdiri dengan kelewang terhunus, sedangkan lainnya duduk seperti bersujud, namun kepalanya terangkat sedikit.

Dia melihat ke wajah orang yang terduduk tersebut. Terkesiap. Wajah itu, dia begitu mengenalinya. Itu adalah wajah anak yang sangat disayanginya. Ismail.

Dia[1] mendongakkan kepalanya melihat ke arah orang yang berdiri dengan kelewang terhunus. Matahari begitu terik sehingga membuat matanya silau, tidak kelihatan.

Orang tersebut mengangkat kelewangnya tinggi-tinggi. Ismail hanya berdiam diri dalam duduk, menggumamkan sesuatu dengan wajah yang tenang dan pasrah.

"Apa yang kau akan lakukan pada anakku! Hei, hentikan semua ini!" Teriaknya, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dan dia pun tidak bisa menggerakkan badannya.

Orang tersebut menggumamkan sesuatu sebelum menyabetkan dengan cepat kelewang di tangannya ke arah Ismail.

TIDAAAK!! Teriaknya.

Leher Ismail tertebas, darah muncrat dari tubuhnya yang tanpa kepala. Kepala Ismail terlempar jauh, terdorong oleh muncratan darah. Tubuhnya jatuh berdebam, kehilangan gaya tolak terhadap gravitasi yang menariknya.

ANAKKU ISMAIL, ANAKKU ISMAIL! Jeritnya histeris.

Berlinang air mata dengan penuh amarah dia mendongakkan lagi kepalanya, ke wajah orang yang memenggal anaknya.

Dia tercekat. Tersedak. Membelalakkan mata tak percaya. Itu adalah wajahnya. Dia memenggal anaknya sendiri.


Part 2

Malam yang sunyi di kota yang dikelilingi oleh pasir dan gurun, kota yang baru saja menggeliat setelah mukjizat Alloh turun ke bumi kota ini. Mukjizat yang sampai beratus tahun ke depan akan selalu di kenang dan didatangi oleh bermiliar miliar orang dari seluruh penjuru dunia. Kota itu bernama Mekah.

Di dalam sebuah rumah yang masih jarang di kota ini, rumah yang tidak begitu hebat namun sedikit lebih baik dibandingkan rumah di sekitarnya, hiduplah utusan Alloh beserta keluarganya. Utusan Alloh tersebut mendapatkan julukan Khalilullah, Kekasihnya Alloh. Ibrahim namanya.

Malam telah larut, sehingga kota itu diliputi oleh kesunyian dan kesyahduan. Memang sih hal itu lebih dikarenakan penduduk kota ini yang masih terlampau sedikit.

Mendadak dari rumah tersebut terdengar sebuah teriakan yang merobek kesunyian.

"ISMAIL!!"

Teriakan tersebut berasal dari Ibrahim yang mendadak terbangun, terduduk, hampir terloncat dari peraduannya sambil meneriakkan nama anaknya yang tercinta.

Istrinya Sarah yang tidur sebelahnya terbangun, kaget oleh teriakanya suaminya tersebut.

"Ya suamiku, ada apakah gerangan?" Sarah mendekap erat suami yang menggigil dan terlihat ketakutan tersebut.

"Ti-ti-tidak a-a-p-p-a-a-apa." kata Ibrahim terbata-bata. Berusaha tersenyum kepada istrinya yang cantik itu yang malah lebih mirip seperti seringai kuda. Hatinya sedang sangat kalut. Tidak percaya yang dia lihat dalam mimpinya. Apa sebenarnya makna mimpi tersebut?

Ibrahim menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya. Beristigfar. Meminta petunjuk kepada Tuhannya. Merenungkan apakah itu hanya mimpi atau wahyu dari Tuhannya? ataukah mimpi yang di masukan ke dalam pikirannya oleh setan?

Ibrahim terpekur lama. Berpikir keras mencari makna dari mimpinya tersebut.

Hingga tak terasa, malam pun semakin larut hingga semburat fajar terlihat di cakrawala.


Part 3

Pagi baru saja tiba, namun kesibukan di kota itu sudah mulai menggeliat. Para pedagang mulai menyiapkan karavannya melanjutkan perjalanan mereka berdagang ke negeri nun jauh disana. Ibu yang kerepotan membawa belanjaannya, anak-anak yang berlarian di antara kotak-kotak para pedagang, hingga para kuli yang mengambil air adalah pemandangan yang bisa terlihat di kota ini sepagi ini.

Wajah pemuda tersebut gagah, rupawan dan elok dipandang, menyejukkan siapa saja yang memandangnya. Dia berjalan dengan tegap, memasuki ruang keluarga di rumahnya. Melihat hanya terdapat satu sosok yang ada di ruangan tersebut, pemuda itu celingukan, mencari sesuatu

"Ibu Sarah, ayah dimana?"

"Di ruang munajatnya.[1]"

"Sepagi ini?" jawab Ismail

Sarah hanya mengangkat bahunya, menggeleng kepalanya sedikit. "Bukan hanya dari pagi ini, ayahmu berada disana dari tadi malam. Semalam dia mendadak terbangun, terdiam sejenak lalu pamit menuju ruang munajatnya, hingga pagi ini."

"Dari semalam?" kata Ismail.

Sarah lalu menceritakan mengenai apa yang terjadi semalam mengenai suaminya kepada anaknya itu. Malam itu ayahnya aneh, tidak bisa tertidur lagi dan berpikir keras mengenai sesuatu hal. Terlihat bergetar dan seperti akan menangis ketika nama Ismail disebutkan.

Ismail heran, cemas, tidak mengerti

"Apakah kau telah berbuat kesalahan yang besar nak?" tanya ibunya.

"Aku tidak tau Ibu, kemarin ayah masih bercengkrama riang denganku. Tapi aku tidak ingat, tidak bisa memastikan apakah aku melakukan salah atau tidak."

Hari itu dilewati oleh keluarga Ibrahim dengan seribu pertanyaan.


Part 4

"Alloh! Alloh!"

Ibrahim terbangun dari tidurnya. Dia tertidur di ruang munajatnya ketika larut dalam dzikirnya, meminta petunjuk dari Alloh. Keringat membasahi tubuhnya. Bibirnya bergetar hebat.

Ya Alloh, mimpi itu lagi. Tapi kali ini dia bisa sangat jelas mengingatnya. Wajahnya yang keras dingin. Wajah anaknya yang tenang dan syahdu sambil menggumamkan sesuatu.

Ibrahim sedikit terisak, matanya menitikkan air mata. Ya Alloh, mengapa begitu berat baginya menerima bahwa ini adalah perintah yang benar-benar diturunkan oleh Alloh. Dia diharuskan untuk memenggal kepala anak yang sangat didamba-dambakannya sejak menikah puluhan tahun lalu.

Ibrahim kembali terpekur dalam sujudnya.

Memohon ampun kepada Alloh apabila dia telah melakukan kesalahan.
Memohon ampun kepada Alloh apabila dia telah melakukan dosa yang sangat berat, hingga Alloh menghukumnya dengan mengharuskan memenggal anaknya.
Memohon ampun apabila mungkin dia terlalu sayang kepada anaknya sehingga lalai atau lupa kepada Alloh atau tugasnya.

Ibrahim kembali larut dalam dzikir panjangnya.


Part 5

Hari ketiga Ibrahim mengurung diri di ruang munajatnya, ketika keluarganya mulai cemas, akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Istrinya Sarah dan Hajar serta anak kesayangannya Ismail langsung menghampirinya. Dengan perasaan sedikit lega namun raut wajah mereka menyisakan rasa cemas.

"Ayahku-"

"Aku mendapatkan wahyu dari Alloh," Ibrahim memotong pertanyaan anaknya. "Ismail, bersiaplah, ikut ayah menuju Mina." Dia memandang satu per satu wajah keluarganya dengan mata merah dan lelah. Istri-istri Ibrahim saling memandang. Ibrahim tak pernah terlihat seragu dan sebingung ini ketika mendapatkan wahyu dari Alloh. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, yaitu ketika datang perintah Alloh untuk meninggalkan istri dan anaknya tercinta di padang pasir nan tandus yang kini mereka tempati. Apakah yang akan terjadi pada suami dan anaknya yang tercinta kali ini? batin mereka cemas.

Ibrahim bergegas pergi menuju kamar tidurnya, bermaksud mengambil kelewang yg tergantung di dinding kamarnya. Menatap lamat-lamat, lama sekali melihat ke kelewangnya.

"Ayah, aku sudah siap."

Suara anaknya itu membangungkan dirinya dari lamunan pikirannya. Dengan cepat dia mengambil kelewangnya dan menempatkannya di pinggangnya. Bergegas keluar dari kamarnya.

Di samping pintu kamarnya terlihat Ismail bersiap dengan pakaian perjalanannya, terlihat siap menemani ayahnya kemanapun.

Ibrahim tercekat, emosi itu membuncah lagi di dadanya. Sambil menahan air mata yang akan tertumpah, Ibrahim menggelengkan kepalanya keras-keras.

"Ini adalah perintah Alloh," lirihnya pelan, meneguhkan hatinya.

"Ikuti aku anakku." kata Ibrahim pendek, bergegas berjalan keluar. Ismail mengikutinya.

Malam tadi, Ibrahim bermimpi hal yang sama dengan yang dia mimpikan seperti pada malam-malam sebelumnya. Namun kali dengan detail-detail yang sangat jelas terpatri di pikiran dan matanya. Detail wajahnya yang dengan kaku dan dingin menebas anaknya. Detail kelewangnya mengiris sesuatu dari gagangnya. Detail cipratan darah yang menyembur mengenai kakinya. Dan juga detail suara berdebam dan debu yang berterbangan menyambut tubuh anaknya yang tanpa kepala.

Ibrahim tercekat sejenak, lalu bersegera lagi berjalan menuju Mina di ikuti oleh anaknya.


Part 6

Ibrahim dan Ismail berjalan beriringan menuju Mina.

Selama perjalanan Ismail memperhatikannya ayahnya seperti menahan emosi yang membuncah di dadanya, sehingga tangganya yang memegang kelewang berkeringat dan mukanya tegang dingin.

Mereka berjalan menuju Mina, lalu berhenti di suatu lembah pasir.

Ibrahim memandang tajam ke anaknya. Terlihat berusaha mengatakan sesuatu.

Apa yang terjadi dengan ayahku ini, batin Ismail cemas.

"Wahai anakku, aku akan menayampaikan kepadamu wahyu yang Alloh berikan padaku."

Ismail terdiam. Mengangguk pelan. Menyimak.

"Kali ini, Alloh menyampaikan wahyunya melalui mimpiku, anakku. Mimpi yang menghantuiku selama 3 hari ini. Di dalam mimpi itu aku melihat diriku menyembelih dirimu anakku. Dengan kelewangku ini-" lanjut Ibrahim

Ismail terdiam mendengarkan cerita bapaknya mengenai wahyu yang didapatkannya. Hanya suara Ibrahim dan angin yang berhembus yang terdengar.

"-Itulah wahyu yang akan aku lakukan sekarang, di tempat ini, terhadap dirimu, wahai anakku." Ibrahim mengakhiri perkataannya.

Ibrahim menatap anaknya. Ismail memejamkan mata, terlihat berusaha mencerna perkataan ayahnya tadi.

Hanya angin yang berhembus.

"A-"

"Lakukanlah ayahku." Ismail mendadak membuka matanya sebelum Ibrahim sempat berkata lagi.

"Wahai ayahku, apabila hal tersebut yang Alloh perintahkan, maka lakukanlah! Jangan ragu! Jangan risau! Semoga Alloh menerima penghambaan dan ketaatanku dan kau ayahku." kata Ismail mantap. Dengan sorot mata yg meneduhkan.

Ibrahim terdiam melihat perkataan dan sorot mata anak kesayangannya itu.

Hatinya terguncang. Ibrahim menutup matanya.

Ya Alloh anakku begitu mantapnya dan percaya kepadamu ya Alloh. Aku malu dengan semua emosi yang berkecamuk dalam 3 hari ini. Merasa tak pantas menyandang gelar nabi.

Ibrahim kembali membuka matanya, melihat wajah dan sorot mata anaknya itu.

"Sampaikan salam terakhirku pada para Ibu, ayahku sayang. Sampaikan bahwa anaknya ini menjumpai Alloh duluan dengan menjalankan perintahNYA." senyum penuh penerimaan tersungging di wajah Ismail.

Demi melihat ekspresi anaknya tersebut, beban di hati Ibrahim terangkat berganti dengan keteguhan yang disuntikan lewat ekpresi anaknya.

Ibrahim mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Membuka mata penuh kemantapan dan kerelaan.

"Baiklah kalau begitu anakku.".

Ismail menganggukan kepalanya, lalu bersujud menempelkan keningnya di atas lembah tersebut. Sejenak Ismail terlihat khusyuk dalam sujudnya. Ibrahim menunggu dengan sabar sambil menggumamkan kata "Alloh, Alloh, Alloh," berulang kali.

Tak berapa lama Ismail mengangkat kepalanya, namun masih tertunduk, sambil berkata "Aku siap ayah, Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Alloh. Tiada Tuhan selain Alloh.-" bibirnya tak henti-hentinya menggumamkan kata penghambaan.

Mendengar anaknya, Ibrahim melihat lamat-lamat ke anaknya. Menghitung kecepatan dan ketepatan tanganya untuk menebaskan kelewang ke leher Ismail. Tak berapa lama, Ibrahim mengangkat tinggi-tinggi kelewangnya, sambil mengumamkan doa "Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Dengan penuh kepasrahan dan penghambaan, Ibrahim menyabetkan kelewangnya ke leher Ismail.

Dia merasakan sebuah daging terpotong melalui pegangan kelewangnya. Dia tercekat, namun tak menghentikan sabetannya. Tak sanggup untuk melihat saat terakhir anaknya, Ibrahim memejamkan matanya, semakin menguatkan tebasannya. Akhirnya dia tak merasakan lagi tebasannya di dalam sebuah daging, yang artinya, anaknya telah terpenggal sempurna.

Tak sanggup menahan buncah perasaan di dadanya, Ibrahim melepaskan kelewang dari tangannya, duduk bersimpuh, menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Menangis kencang.

"Alloh, Alloh, Alloh..." sebutnya sambil menangis kencang. Tak memperdulikan cipratan darah yang menggenang di tanah yang membasahi celananya. Tak memperdulikan tangannya yang terciprat oleh darah, mengotori wajahnya.

Hatinya goncang. Hatinya pilu.

"Maafkan aku ya Alloh, Maafkanlah hambamu yang pilu ini ya Alloh, Maafkanlah hambamu ini yang ternyata masih belum bisa ikhlas secara sempurna menjalankan perintahmu Ya Alloh, Maafkan hambamu ini ya Alloh, yang ternyata masih manusia biasa yang masih bisa merasakan pedih dalam menjalankan perintahMU. Namun dengan kepasrahan dan keimananku ya Alloh, aku menjalankannya ya Alloh, Anakku menjalankannya ya Alloh... Alloh... Alloh... Maafkan aku ya Alloh..." serunya dalam hati.

Kepiluan ini sungguh tak tertahankan baginya.


Part 7

Ibrahim masih tersedu terduduk menutup wajahnya dengan kedua tanggannya. Angin berdesir pelan, membelainya, seolah berusaha menenangkan utusan Alloh yang agung ini. Berusaha menenangkan hatinya yang pilu, membisikkan gemerisik pesan bahwa Alloh tidak akan menguji hambanya melebihi yang dia mampu.

Dan alam semesta pun meng-amin-i-nya, bahwa nabi Agung yang tengah tergugu ini adalah nabi yang pantas menyandang julukan Khalilullah, Kesayangannya Alloh. Rela melakukan apapun untuk Alloh, bahkan untuk hal-hal yang mungkin tak bisa masuk ke dalam nalar manusiawinya, sehingga Alloh menyayanginya.

Dan Alloh benar-benar menyayanginya.

"A-ayah..."

Sebuah suara terdengar sayup dari belakang Ibrahim.

Namun dia tidak mendengarnya.

"Ayah..." kata sebuah suara dibelakang Ibrahim. Menyentuh lembut pundaknyya.

Ibrahim terkesiap. Tangisnya terhenti seketika. Seketika dia menolehkan kepalanya ke belakang.

Dan terlihatlah suatu sosok yang sangat dikenalnya, disayanginya dan amat dicintainya. Anaknya Ismail berdiri dengan wajah terkejut melihat ke arahnya.

"A-ayah... Ayah... Ayah..." Tangis mengalir dari wajah orang yang amat disayanginya itu.

"I-ismail? Ismail? Ismail anakku?" Ibrahim tergagap, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Air matanya kembali meleleh. Namun kali ini adalah air mata kebahagian yang mengalir dari mata Ibrahim.

Ismail mendekap erat Ayahnya yang berlumuran darah, begitupun Ibrahim mendekapnya erat-erat menggumamkan kata "Maha suci Alloh, Maha suci Alloh, Maha suci Alloh,.."[3] berulang kali.

Beberapa lama, pasangan ayah dan anak tersebut larut dalam tangis haru, saling mendekap. Memuji tuhannya.

Setelah meluapkan keharuannya, mereka berdua berdiri, mengusap air mata, ingus[4] dan darah dari wajah mereka. Tertawa saling ledek[5] melihat betapa kotor dan berantakannya mereka berdua.

Lelah dengan segala emosi yang terjadi, mereka berdua mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan, tersenyum. Berdiri beriringan dan melihat ke arah tempat dimana Ismail akan di penggal tadi.

Terkejut bahwa sebagai ganti Ismail yang seharusnya terpenggal tadi, terlihatlah seekor domba yang gemuk tersembelih.

Mereka saling berpandangan, tersenyum dan semakin teguhlah hati mereka, percaya bahwa Alloh akan selalu menyayangi mahluknya yang patuh dan taat padanya.

Alam semesta mencatat kepasrahan dan ketaatan pasangan Ayah dan anak tersebut di dalam catatan sejarah yang kelak akan selalu di kenang dan dihormati pada hari ini yang di kenal sebagai Idul Adha / Qurban.

"Maha Suci Alloh yang selalu sayang dan menyayangi mahluknya yang sayang padanya."


~ TAMAT ~

Catatan Penulis

[1] bukan Ismail, 'orang' yang melihat Ismail
[2] tempat nabi bermunajat, berdoa kepada tuhannya
[3] atau "puji tuhan" dalam istilah lainnya
[4] apakah nabi tidak boleh keluar ingus?
[5] apakah hubungan nabi yang ayah dan anak ini harus selalu serius? tidak boleh saling ledek?

Idul Adha,
10 Zulhijah 1440,
11 Agustus 2019,
Jakarta,
Hanief.


Promosi
Kunjungi juga blog saya disini, cerita ini juga akan saya post di blog itu. emoticon-Big Grin
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Mohon maap ts, bisa diganti gak.
Nama Tuhan yang benar itu Allah, bukan Alloh.
Tercatat disegala kitab, pasti pake "a" bukan "o".


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di