alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
4.67 stars - based on 12 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4f820a2f568d0e702f9781/agnostik-di-indonesia-menentang-suara-mayoritas-di-negeri-religius

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Pandangan miring terhadap agnostik di Indonesia dilanggengkan oleh negara yang tidak mengenal keyakinan di luar enam agama resmi


Pada Mei lalu, seorang kolega ingin menggali cerita orang pindah agama dan menerima pesan langsung dari 20-an orang yang tidak ia kenal sebelumnya ke akun Twitter-nya. Mereka mengisahkan perjalanan spiritual dari Islam pindah ke Hindu, Kristen ke Islam, Islam ke Buddha, maupun Buddha ke Katolik. Tetapi, yang mengejutkan adalah kebanyakan yang lain dari mereka mengaku sebagai agnostik: meyakini konsep Tuhan tapi tidak mempercayai agama.

Dari narasumber yang mengaku agnostik itu saya ingin tahu kisah proses-proses mereka dari yang percaya agama hingga ke titik itu karena, terutama dalam konteks Indonesia, mereka menentang suara mayoritas penduduk di negeri ini yang menilai agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan negara ini memiliki kementerian agama dan mengatur rumah ibadah, meliburkan hari kerja saat hari raya keagamaan. Pendeknya, mereka tumbuh di lingkungan keluarga dan negara yang religius.

Dua dari mereka, yang saya samarkan namanya, membagikan kisahnya menjadi agnostik.


Perjalanan Spiritual yang Tabu

Saya berbincang dengan Max, pegawai negeri sipil berusia 26 tahun, yang lahir dan besar di Jakarta. Ia dibesarkan sebagai muslim dari keluarga kelas menengah yang orangtuanya bekerja juga sebagai PNS dan “Papa-Mama bukan orang yang salat lima waktu, bukan tipikal yang strict ketika bicara agama” tetapi, empat tahun terakhir, tabiat itu berubah.

Orangtua Max menjadi lebih religius. Mulai mengingatkannya salat. Semula Max tidak terlalu memperhatikan perubahan itu sampai orangtuanya ikut pengajian dan sering mengadakannya di rumah.

Yang tidak diketahui orangtua Max, anaknya sudah lama tak percaya agama.


Sejak umur 10 tahun, Max mempertanyakan konsep Tuhan: Bagaimana bentuknya? Dari mana Ia tercipta? Mengapa harus disembah?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah dilontarkan kepada orangtuanya tapi tiada jawaban yang membuatnya puas.

“Papa bilang, ‘Suruh tanya guru agama.’ Mama lebih aneh lagi, dia bilang, ‘Pantang untuk bertanya tentang hal-hal begitu. Tuhan itu harus diimani, jangan dipertanyakan, nanti bisa gila.’”

Penasaran, Mak-yang-masih-bocah memberanikan diri bertanya kepada guru agamanya.

“Tapi, jawaban yang sebetulnya enggak terlalu menjawab: Allah itu satu, tidak laki-laki, juga bukan perempuan, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Kenapa harus disembah? Agar kita selalu ingat dan bersyukur karena diberi hidup,” Mak mengingat ucapan guru agamanya di sekolah.

Jawaban itu membuat Max makin penasaran tapi juga makin tak terpuaskan. Ia mulai mencari tahu tentang sejarah Islam, lalu merembet pada agama-agama besar di Indonesia, hingga ateisme dan agnostisme. Memasuki kelas 3 SMP, kepercayaannya terhadap agama terkikis. Ia bahkan tak percaya pada konsep Tuhan tapi akhirnya meyakini ada energi besar di semesta yang memang tak kasatmata.

Di Indonesia, menjadi agnostik bisa berbuntut perkara riskan: kamu tetap harus mengisi kolom agama di KTP meski teman-teman dekat kamu tahu kamu tak beragama. Jika ngotot mengosongkannya, kamu mungkin kesulitan melamar pekerjaan, menikah, atau mengakses layanan publik, apalagi menjadi PNS. Baru-baru ini hukum di Indonesia membolehkan penghayat kepercayaan mengosongkan kolom agama—perihal yang pernah jadi basis diskriminasi terhadap mereka.

Masalahnya, agnostik bukan kaum penghayat—sering disebut ‘agama lokal’—sehingga pengakuan seperti Max tidak dianggap oleh negara.

"Mungkin kalau dilihat dari perspektif muslim, saya bisa dbilang kaum munafik,”
kata Max dengan nada santai. “Tapi, saya memang masih memanfaatkan privilese-privilese sebagai bekas muslim itu.”

“Terbiasa jadi mayoritas bisa membuat orang-orang merasa superior. Merasa paling benar sendiri, tidak sensitif pada hal di luar hajatnya, keras kepala bukan main,” timbang Max.


“Sering kali cara logika berpikir mayoritas itu yang dipakai untuk pasang standar kepada kelompok yang suaranya lebih kecil, misalnya kepada orang-orang agnostik.”


Cerita lain dari orang yang menjadi agnostik dituturkan oleh Zaki, yang sampai kelas 5 SD tinggal di Aceh, satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Islam.

Pasca-tsunami 2004, dipindahkan orangtuanya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah, Zaki untuk kali pertama menghadapi perbedaan: bertemu teman-teman sebaya beragama selain Islam.

Perasaan Zaki saat itu semula agak jaga jarak, “kasarnya bahkan punya perasaan jijik,”
katanya. Lulus SMP, orangtuanya menarik kembali dia ke Aceh dengan alasan “takut pergaulan bebas di Jakarta.”

Pada 2011, Zaki kuliah di Bandung. Dari pergolakan batin mengenai konsep Tuhan dan agama yang mulai muncul saat di Jakarta, mengendap saat kembali ke Aceh, kini ia punya kesempatan longgar untuk kembali mengeksplorasi perjalanan spiritualnya.

Puncaknya saat ia umrah pada 2016. Keluarganya yang khawatir meyakini Mekkah akan mengembalikan Zaki ke jalan Islam. Diingatkan untuk pasrah—“Nanti semua dosa-dosaku bakal dibayar tunai. Jangan sombong. Jangan banyak bertanya. Jangan meragukan”—justru yang terjadi sebaliknya.

Di depan Kakbah, Zaki berdoa, “Ya Allah, kalau Kau benar-benar ada, hukum aku sekarang juga atas kesalahanku. Tapi, kalau apa yang selama ini kujalani enggak salah, biarkan aku pulang dengan aman dan tidak terjadi apa-apa.”

“Sampai aku balik, ternyata enggak terjadi apa-apa
. Ada yang bilang itu karena Tuhan sudah abai samaku. Tapi buatku sendiri itu jawaban dari apa yang aku rasain selama ini,” tambahnya.

Keluarga Zaki sangat religius. Abang tertuanya bahkan meyakni aliran Wahabi. “Mereka percaya bahwa mendengar musik itu perbuatan maksiat. Ponakan-ponakanku dilarang nonton dan dengerin musik. Bahkan aku ajak ke mal aja enggak boleh,” kata Zaki.


Zaki, kini menetap di Jakarta, tinggal satu rumah dengan keluarga abangnya. Kepada mereka, Zaki pelan-pelan berkata jujur tentang spiritualitasmenya. Ia tak lagi salat, berpuasa, dan menjalankan ritual Islam lainnya.

“Mereka tahu kok aku begini, tapi lebih ke denial. Kayanya mereka yakin ini tuh cuma fase, entar juga aku balik lagi,” kata Zaki, tertawa.

Namun, untuk saat ini, Zaki meyakini sudah susah melihat dirinya kelak kembali hijrah. Meski orang-orang di sekitarnya cenderung menyepelekan perjalanan spiritualnya, lambat laun Zaki mulai menerima hal itu.

“Dulu, apa yang mereka harapkan ke aku itu memang bikin stres. Tapi, aku sendiri lebih tenang setelah keluar dari agama,” katanya.

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Narasi ‘Tidak Bermoral’

Di lingkungan yang memandang agama sebagai faktor penting, orang yang mengaku ateis dan agnostik cenderung mendapatkan stigma klasik seperti tidak bermoral, bejat, tidak bertanggungjawab, antisosial, dan sebagainya.

Max memilih tidak terus terang kepada keluarganya. Pilihan Zaki dianggap keluarganya cuma gairah sesaat.

Ahmad Syarif Syechbubakr, yang meneliti kaum diaspora Hadrami di Palembang, pernah mengulas pandangan miring orang Islam kepada mereka yang tak beragama dalam kolomnya di Tirto. Cantolan isunya sikap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern yang punya toleransi besar sekali setelah penembakan massal Masjid Al Noor, Christchurch.

Syechbubakr menulis: Indonesia memang tidak mengenal toleransi beragama yang dilakukan oleh orang tidak beragama. Ateisme dalam kacamata Islam konservatif di Indonesia lebih buruk ketimbang kafir, tidak juga mendapatkan tempat yang baik dalam Kristen dan Katolik.


Menurutnya, tak populernya toleransi tanpa agama di Indonesia setidaknya disebabkan oleh dua hal.

“Pertama, dominasi percakapan mengenai toleransi di Indonesia dipegang oleh tokoh dari tiga agama: Islam, Kristen dan Katolik. […] Kita menemukan toleransi dibicarakan di ruang publik dalam kaidah Alquran, Hadis, adab Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, Alkitab dan ajaran moralitas kasih Kristus—seakan-akan segala hal yang baik dan toleran adalah hak prerogatif agama monoteis.”

Dominasi ini, menurut Syechbubakr, mengakar kuat di dalam ideologi nasional Indonesia, yaitu Pancasila.

“Dari sini kita masuk ke masalah kedua, yaitu bagaimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa hanya memuat agenda agama-agama monoteis yang berpengaruh besar dalam perkembangan politik agama dan moralitas di Indonesia,” tulisnya.

Hal itu terlihat jelas dari perdebatan panjang apakah aliran kebatinan dianggap agama atau tidak, tambahnya. “Ini karena aliran kebatinan tidak memiliki konsep Tuhan yang tunggal, kerasulan dan kitab suci—kriteria yang disepakati oleh agama-agama monoteis.”

Menurut Syechbubakr, kebijakan negara kemudian mendukung dan mempromosikan masuknya agama sebagai faktor tunggal dari toleransi. Situasi ini didukung dengan konflik berdarah di mana Islam, Kristen, dan Katolik bahu-membahu bersama Orde Baru menghajar komunisme pada 1965. Sejak itu, komunisme selalu dicitrakan ateis, anti-agama, dan tidak bermoral.



Max, seorang agnostik dalam kisah ini, juga berkata kepada saya bahwa sejarah kelam Indonesia yang pernah bertindak keji terhadap kaum komunis berperan besar terhadap keberlangsungan hak-hak orang tak beragama di sini.

“Orang-orang saking candunya sama agama bisa jadi sangat bias,”
tambah Max.

Misalnya, ia pernah dijauhi beberapa teman kampus karena dianggap membawa pengaruh buruk. “Bahkan dulu pernah ada dosen yang sengaja manggil saya ke depan kelas untuk mempertanyakan pilihan iman saya. Tujuannya memang mau mengolok-olok.”

Di Indonesia, tak ada penelitian komprehensif yang dapat menggambarkan situasi yang dialami agnostik. Jumlahnya saja tidak ada yang mencatat resmi.

“Sebetulnya wajar karena agnostik biasanya memang tidak teroganisir seperti kelompok gereja atau muslim,” kata Max. “Keberadaannya saja masih dianggap ada dan tidak ada di sini. Nyaris seperti hantu.”

Max berkata, kalaupun kamu percaya ada orang agnostik di lingkunganmu, mungkin kamu lebih memilih menjauhinya.

https://tirto.id/agnostik-di-indones...-religius-efXk

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agih. dan 43 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 40
harusnya agnostik itu masuk aliran kepercayaan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nowbitool dan 8 lainnya memberi reputasi
Quote:


Atheis juga masuk aliran kepercayaan. Percaya tidak adanya Tuhan.

Selamat idul adha bagi yang menjalankan emoticon-Salaman

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kristiyan.3gp dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Balasan post ahlulgaib
Quote:


atheis ga masuk pancasila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan 6 lainnya memberi reputasi
Pada saat libur aku berkunjung ke rumah Tante Mirna. Kemudian tante mirna menggandengku menuju kamar. cerita selanjutnya cari sendiri di sumber2 berita yang terpercaya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fufufafa dan 18 lainnya memberi reputasi
Balasan post kaum.milenial
Quote:


namun ironisnya golongan kiri bersama golongan kanan bersama membuat pancasila

bahkan golongan kiri ini(disamarkan menjadi "kaum pemuda" di buku sejarah kita) lah yg menculik dam memaksa sukarno memproklamasikan kemerdekaan indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sweetjulia dan 12 lainnya memberi reputasi
yakini keyakinan masing2
yg penting jangan maksain ke orang lain
itu saja intinya
urusan tar masuk sorga, neraka atau ke tempat laen
itu mah resiko masing2 aja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
stygiant dan 17 lainnya memberi reputasi
astajim emoticon-Kagets
profile-picture
profile-picture
profile-picture
galuhsuda dan 4 lainnya memberi reputasi
walau gw bukan agnostik tapi gw setuju agnostik harusnya dapat tempat di indonesia
karena indonesia itu ketuhanan yg maha esa
bukan keagamaan

yg sok agamis skrg lebih nyembah agama ketimbang tuhan
bahkan dirinya dianggap menerima wahyu dari tuhan
yang pantes melakukan apapun atas nama tuhan

emoticon-DP emoticon-DP emoticon-DP
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agih. dan 29 lainnya memberi reputasi
percaya ada tuhan. Tapi kaga pernah ketempat ibadah!!! Hanya sekali datang atau dengan frekwensi yg kecil. ( hanya hati beaat agama aja baru datang )
Apakah itu golongan agnostik????
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
dulu nya ane kira agnostik tuh genre/aliran musik kek metal gtu emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan 5 lainnya memberi reputasi
Bukannya agnos cuma dikit ya?
Lebih banyak penganut penghayat kepercayaanemoticon-Ultah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ushirota
Jadi atheis itu susah dan melelahkan..

Tapi kalo berhasil lulus ujiannya.. Kita akan menjadi semakin kuat, mandiri, independen dan tahan banting..

Percayalah ama gue... emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bayukuya1988 dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Lagi beken nih berita klub baru. Tinggal lihat nih klub big six jawab apa (Tapi dah ketebak).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post WM777
Quote:


tergantung apakah ia msh percaya ritual keagamaan nggak dan msh percaya tuhannya nggak



kalau tidak percaya ritual keagamaan tp msh percaya tuhannya ya bisa digolongkan agnostik

kalau tidak percaya dua dua nya,tp kadang msh ikut2an sekadar sosialisasi dan budaya ya atheis

tp kalau msh percaya keduanya tp males ya artinya islam/kristen/ klub big six lainnya yg sekadar agama ktp aja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh beritapalestina
Semoga klub ini segera masuk ke kompetisi tertinggi.Klub asli lokal dah promosi dan meramaikan bursa transfer pula.Ayo klub Agnostik tempatmu bukan di kasta kedua tempatmu dikasta tertinggi bersama seven magnificientemoticon-Ultah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Hiraa dan 17 lainnya memberi reputasi
Hm... Agnostik percaya konsep tuhan tapi tidak percaya agama. Ini saya.

Saya agnostik. Dan saya juga kejawen. Ingat kejawen itu sebenarnya bukan agama melainkan cara pandang/perilaku hidup. Karena kejawen tidak punya aturan khusus. Hanya berpegang teguh pada olah rasa(kalau tidak mau disakiti ya jangan menyakiti)

Cmiiw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agih. dan 22 lainnya memberi reputasi
Ane agnostik tapi tetep ikut solat ied, soal kepercayaan mah masing2 diri aja, yg penting tidak merusak hubungan sesama makhluk dan alam aja..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
stygiant dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Dimasa depan agnostic akan berapa di puncak klasemen....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
.Orenji. dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Balasan post DENBAGUS88
Quote:


seiring semakin maju nya sains dan tingkat pendidikan manusia dibumi ini ,maka agama akan semakin memudar
profile-picture
profile-picture
profile-picture
momo3003 dan 5 lainnya memberi reputasi
setidak'a sdh percaya & yakin bahwa TUHAN itu ada,

tinggal 1 langkah selanjutnya....
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan kakekane.cell memberi reputasi
Halaman 1 dari 40


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di