alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
NKRI & Pancasila Enzo Meragukan, Yenny Wahid Siap Membina
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4f7cab349d0f7fcd735430/nkri-amp-pancasila-enzo-meragukan-yenny-wahid-siap-membina

NKRI & Pancasila Enzo Meragukan, Yenny Wahid Siap Membina

Jakarta - ZANNUBA Ariffah Chafsoh yang akrab disapa Yenny Wahid, berharap Enzo Zenz Allie yang sedang menjalani pendidikan di Akademi Militer (Akmil), tidak terbukti terlibat kegiatan radikal.

Namun jika memang terkonfirmasi pernah bersinggungan dengan organisasi radikal, putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu meminta Enzo sebaiknya dirangkul.

Karena, kata Yenny Wahid, kadang anak-anak muda ikut gerakan tertentu hanya karena sedang melakukan eksplorasi identitas.

"Lebih baik mereka dirangkul dan dikenalkan dengan berbagai perspektif, sehingga bisa lebih bijak dalam memilih afiliasi ideologi," ujar Yenny Wahid kepada Tribunnews.com, Kamis (8/8/2019).

Jadi yang pertama harus dilakukan, kata Yenny Wahid, melakukan assessment untuk melihat sejauh mana kedalaman keterlibatannya.

"Kalau memang pernah melakukan tindakan kriminal, ya harus ditindak," tegas Yenny Wahid.

Tapi, lanjut dia, kalau hanya bersimpati, maka kemungkinan masih bisa dibina.

Untuk itu, Yenny Wahid menyatakan kesiapannya untuk membina Enzo.

"Kami siap membina Enzo untuk memperkokoh keyakinannya akan ideologi Pancasila, kalau memang dibutuhkan," ucap Yenny Wahid.

Apalagi, Enzo berlatar belakang blasteran Prancis.

Yenny Wahid sendiri sering berurusan dengan Prancis, karena saat ini menjabat anggota steering commite Forum Perdamaian Prancis (Paris Peace Forum).

Forum ini diinisiasi oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"Jadi saya bisa menjelaskan banyak hal sesuai dengan latar belakangnya," jelas Yenny Wahid.

Sebelumnya, Taruna Akademi Militer (Akmil) TNI Enzo Zenz Allie menjadi terkenal, setelah diwawancarai oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam bahasa Prancis.

Kini nama Enzo kembali diperbincangkan, karena ‎fotonya yang sedang memegang bendera bertuliskan Tauhid.

Bendera itu diketahui identik dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah.

Bahkan, banyak yang menyebut baik Enzo maupun ibundanya adalah simpatisan HTI serta pendukung khilafah.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menuturkan, jika Enzo terindikasi simpatisan HTI, maka dia tidak akan segan-segan memecat Enzo dari Taruna Akmil.

"Kalau benar (HTI) saya suruh berhentiin. Makanya dicek dulu. Kalau dia benar-benar khilafah ya nggak ada urusan," tegas Ryamizard Ryacudu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Ryamizard Ryacudu menjelaskan, siapa pun anggota TNI yang terindikasi pendukung khilafah, pemerintah tidak akan tinggal diam.

Dia menyatakan bakal mencopot siapa pun anggota TNI maupun Taruna Akmil, yang terindikasi terpapar simpatisan HTI ataupun pendukung khilafah.

"Enggak ada urusan. Saya cari-cari dari Sabang sampai Merauke. Mau cari itu ada di depan mata saya, copot saja," imbuhnya.

Dengan tegas, pensiunan jenderal bintang empat ini menyebut jika ada tentara yang mendukung khilafah, adalah penghianat.

"Pecat saja. Orang mendukung Pancasila kok. Itu namanya penghianat," ucapnya.

Ryamizard Ryacudu menambahkan, perlu ada penelitian khusus untuk mengecek apakah calon tentara atau tentara terindikasi radikal, HTI, ataupun paham khilafah.

Sehari sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan Enzo telah memenuhi syarat untuk menjadi Taruna Akmil di Magelang.

Hadi Tjahjanto juga menyebut Enzo adalah sah WNI yang telah lolos syarat tes baik fisik maupun psikologi.

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, video Taruna Akademi Militer (Akmil) Enzo Zenz Allie diwawancara Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, beredar viral.

Tak lama kemudian, netizen membongkar media sosial Enzo Zenz Allie dan ibunya, yang diduga terpapar paham organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen Sisriadi lantas menjelaskan ketatnya tahapan proses seleksi yang sudah dilalui Enzo, sehingga dinyatakan lolos sebagai Taruna Akmil.

Sisriadi menjelaskan, proses seleksi taruna Akademi Militer dilakukan bertingkat.

Mulai dari tingkat seleksi administrasinya di daerah di Kodim, lalu di tingkat Korem atau Kodam tempat digelarnya pengujian.

Sisriadi menjelaskan, ada sejumlah tes yang harus dilalui Enzo dan taruna lainnya, sehingga dapat lulus sebagai Taruna Akmil.

"Pertama administrasi. Mulai dari umur dia tidak boleh kurang dari 18 tahun, dan tidak boleh lebih dari 24 tahun."

"Lalu harus ada surat keterangan dokter yang menyatakan dia sehat. Itu harus lengkap dulu suratnya."

"Kemudian ada tes jasmani, ada tes psikologi, ada tes akademis. Kemudian yang paling penting tes mental ideologi," kata Sisriadi ketika dihubungi Tribunnews.com, Rabu (7/8/2019).

Sisriadi menjelaskan, tes mental ideologi dilakukan karena TNI tidak ingin kemasukan orang-orang yang berideologi selain Pancasila.

Khusus untuk tes mental ideologi, ia menjelaskan ada dua tes yang harus dilalui oleh Enzo dan taruna lainnya.

"Khusus untuk tes mental ideologi, cara menyeleksinya pertama dilakukan secara tertulis."

"Mereka menjawab puluhan pertanyaan secara tertulis."

"Setelah menjawab secara tertulis, maka di hari itu juga atau paling lambat besoknya akan langsung dilakukan tes wawancara untuk pendalaman."

"Jadi dia akan ditanya apa yang dia tulis, dan ada juga daftar pertanyaan dari yang tidak tertulis."

"Untuk meyakinkan kalau si calon ini benar-benar Pancasilais. Tidak memiliki ideologi selain Pancasila," tegas Sisriadi.

Ia pun menjelaskan, setiap Taruna harus menghadapi tiga orang penguji dalam tahapan tersebut.

"Dan yang menguji tidak hanya satu orang. Satu calon menghadapi tiga penguji sekaligus."

"Jadi kalau dia berbohong akan ketahuan oleh tiga penguji itu."

"Jadi wawancara dengan tiga orang itu biasanya bisa sampai dua jam. Kalau ada yang nyeleneh-nyeleneh bisa lebih lama itu."

"Apalagi kalau wajah dan fisiknya agak berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan, bisa lebih lama pendalamannya," jelas Sisriadi.

Sisriadi mengatakan, tidak ada sistem yang sempurna.

Namun, jika sudah dinyatakan lolos seperti Enzo, maka artinya setiap Taruna telah memenuhi semua persyaratan.

"Kalau sudah dinyatakan lolos seperti Enzo, maka sudah memenuhi persyaratan."

"Sekarang dia sudah belajar dan berlatih di Magelang."

"Sudah diisolasi, tidak bisa berhubungan dengan siapa pun kecuali dengan pelatihnya," terang Sisriadi.

Sisriadi menegaskan, selama proses pendidikan dan latihan, seluruh Taruna akan tetap diberikan materi mengenai ideologi Pancasila.

Namun, menurutnya yang belum banyak diketahui masyarakat adalah para Taruna tersebut akan menjalani tes mengenai mental ideologi yang sama, untuk menguji ideologi mereka.

"Tentu ada. Tapi selain itu, ada informasi lain yang tidak banyak diketahui masyarakat. Kami juga punya prosedur."

"Jadi selama dia dididik sampai lulus atau menjelang lulus, itu masih kita dalami juga."

"Orang-orang yang ideologinya non Pancasila pasti ketahuan, karena setiap tahun ada tes yang sama," ucap Sisriadi.

Selain itu, pihak TNI juga akan melakukan pendalaman mengenai ideologi tersebut melalui Babinsa, Koramil, dan BAIS TNI terhadap keluarga Taruna.

"Di luar juga tetap dilakukan pendalaman oleh Babinsa, Koramil, BAIS terhadap orang tuanya, bapaknya, ibunya kau masih ada."

"Kakaknya, adiknya, pamannya. Pendalaman itu sampai empat tahun," beber Sisriadi.

Sisriadi menuturkan, meski telah lolos seleksi Taruna Akmil dan menjalani pendidikan dan latihan, hal itu tidak menjamin Taruna tersebut tidak akan dikeluarkan dari akademi.

Terlebih, jika dalam proses tersebut ideologi mereka berubah atau bukan Pancasila.

"Dulu teman saya juga ada yang dikeluarkan di tingkat empat karena ideologi."

"Walaupun ketahuannya sudah tingkat empat, negara sudah membiayai banyak, tidak masalah dikeluarkan. Yang penting tidak ada yang non Pancasilais," tegas Sisriadi.

Untuk itu, ia menilai terkait Enzo, pihaknya tidak terburu-buru mengambil sikap.

"Dalam hal ini, kita tidak boleh buru-buru. Kenapa? Bisa jadi dia Pancasilais, terus ada yang menyebar isu."

"Kalau dia tidak radikal, tapi banyak yang iri bisa saja kan? Kita harus hati-hati."

"Kita menggunakan intelijen manusia, intelijen teknologi kita gunakan. Intinya kami tidak buru-buru men-judge dia," papar Sisriadi.

Ia pun menegaskan, jika nantinya Enzo atau Taruna lainnya terbukti secara kuat memiliki ideologi selain Pancasila, maka pihaknya tidak ragu untuk mengeluarkan.

Sebaliknya, jika memang tidak terbukti, maka Enzo akan tetap melanjutkan proses belajarnya di Akademi Militer.

"Kalau dia betul radikal, pasti dikeluarkan. Tapi kita harus punya bukti kuat sekali."

"Itu semua berlaku tidak hanya untuk Enzo, tapi kepada seluruh taruna yang sedang belajar sekarang."

"Kita tetap mendalami. Kalau terbukti radikal kita keluarkan, kalau tidak terbukti dia lanjut," terang Sisriadi.

https://makassar.tribunnews.com/2019...g-siap-membina

Pecat atau Indonesia hancur!
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Nah, ini, ada kelanjutannya. Kalaupun jadinya dipecat, harus ada yang merangkulnya sebelum dia full speed lari ke HTI beneran.
Jangan biarkan anak garuda yang masih bingung identitas diri berubah menjadi kadal gurun beneran. (Soal pemecatan, itu biarlah pilihan TNI sendiri, tapi harus ada solusi kedepannya)

Oh, dan HTI harus pertanggungjawabkan nasibnya.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memang ormas semacam hti ini sasaran empuknya pemuda belasan ato 20 tahunan awal yg masih nyari jati diri
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan scorpiolama memberi reputasi
subannalloh emoticon-EEK!
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Balasan post lupineprince
Quote:



dipecat wajiblah
fans2 khilafah dan HTI harus diperlakukan sebagaimana dulu keluarga PKI diperlakukan .. tidak boleh masuk PNS, Polri dan TNI.

jika tidak, maka tidak ada efek jera bagi para fans khilafah. Mereka bisa menyusup kemana2 di seluruh sendi pemerintahan bangsa ini ..

Kenapa orang2 bisa terjebak sebagai fans khilafah, adalah salah satunya propaganda anti PKI yang berlebihan. Gak heran litsus jaman Soeharto yang sangat anti PKI akhirnya membuat para PNS, TNI dan Polri ada yagn sebagian condong ke Khilafah karena khilafah dianggap bersebrangan dengan PKI dan Komunis.

Maka saatnya, ekstreem kiri dan ekstreem kanan di 'persekusi' secara sosial, mereka harus bersama2 tidak boleh ada didalam pemerintahan, Polri dan TNI.

Dan harusnya pemerintah dan DPR buat UU dimana jika ada PNS, Polri dan TNI serta pejabat publik lainnya yagn dicurigai pro khilafah maka dapat diberhentikan.
ini akan membuat fans khilafah mundur teratur .. saat ini mereka masih bisa memamerkan taringnya .. jangan sampai kejadian pemberontakan 65 terulang oleh fans khilafah jika mereka menguasai pemerintahan, Polri dan TNI.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
hmmmmm...
tante yenny siap membina
lanjutkan.
emoticon-I Love Indonesia (S)
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan scorpiolama memberi reputasi
Ya syukurlah kalau putri Gus Dur siap membina Enzo
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan scorpiolama memberi reputasi
Balasan post theJizyah
@theJizyah setuju pake banget. Makanya kali ini gw setuju komnas HAM meminta presiden tidak setuju TNI terlibat pemberantasan teroris.

Sblm kasus enzo ini jelas, karena ga ada jaminan nanti TNI malah membunuh org yang membenci dan musuh khilafah.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Quote:


susah emoticon-Cool


keluarga PKI gampang diketahui gampang dibatasi, secara pergerakan sangat mudah diatasi...,

masa iya pro PKI rela ke masjid ato menjalankan ibadah yg laen tepat waktu, ato yg non muslim rutin ke gereja ikut misa ato khotbah pendeta/pastor

sangat berbeda dgn keluarga DI/TII v2.0 aka khilafah ini... sangat susah, krn bagai siluman bisa berubah apa saja
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Balasan post theJizyah
Quote:


pandangan yang sangat bagus.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
mari perlakukan HTI layaknya PKI.

bikin tap MPR anggota dan saudara2 HTI wajib diasingkan
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan wongtukul memberi reputasi
Balasan post Reikouki
@Reikouki kalau khusus untuk pelibatan TNI, itu gak perlu dilihat kayak hitam dan putih .. kalau kita lihat di US aja, Marinir bisa kok langsung diperintahkan oleh Presiden untuk hal2 tertentu .. anggap aja kasus kelompok teroris di Poso atau GPK di Papua, polisi gak terlatih untuk itu bray emoticon-Big Grin polisi harus dikembalikan sebagai penjaga ketertiban emoticon-Big Grin dan keamanan emoticon-Big Grin

di Indonesia ini masih terlalu rancu kewenangan polisi dan tidak ada pembagian yagn jelas emoticon-Big Grin mana mungkin polisi bisa handle smua permasalahan dari pelanggaran lalu lintas ke terorisme yagn pake bom, dan itu di SELURUH INDONESIA emoticon-Big Grin

ini dimulai dari salah kaprahnya otak orang2 Indonesia, kalau mnurut gw, polisi itu tidak boleh cuma 1 institusi seperti sekarang, kewenangangan KAPOLRI udah kayak presiden aja bisa handle dari sabang sampai merauke, dari tilang kendaraan, kasus pembunuhan, demo massa sampe kasus terorisme emoticon-Big Grin

menurut gw penegak hukum di Indonesia harus dibagi jadi beberapa :

1. Polisi di kabupatan dan kota harus dibawah Bupati dan WALIKOTA, jadi polres2 itu berada dibawah pemda dan bertugas lebih banyak untuk KETERTIBAN, misalnya untuk polisi lalu lintas, memastikan ketertiban di wilayah2 mereka masing2 dll .. kalau di luar negri itu, tetanggamu ribut masang musik keras2 sampe mengganggu tetangga2 lain .. itu dilaporkan ke polisi .. bukan ke RT dan RW emoticon-Big Grin nah polisi inilah yang mengingatkan ..

disamping itu juga supaya pemda gak habis2kan duit punya Satpol PP, DLLAJR yagn gak jelas kerjanya apa emoticon-Big Grin dan satu lagi supaya pemda bisa menentukan sendiri berapa jumlah polisi yang dibutuhkan oleh daerahnya supaya aman emoticon-Big Grin

dan polisi2 ini bisa juga handle masalah2 kriminal kayak copet, pembunuhan dll ..

2. Polisi di tingkat Provinsi
kalau menurut gw Brimob, atau SWAT atau pasukan cadangan sebaiknya di level Provinsi .. tapi jika ada pemda yang APBD nya mampu punya pasukan Brimob sendiri, ya silahkan saja .. emoticon-Big Grin

3. Polisi Nasional (semacam Biro Investigasi /FBI) nya di US
kalau menurut gw, ini bisa dijadikan gabungan antara BNN, BNPT dan KPK, gak perlu harus dipimpin jendral polisi, tpai bisa juga orang2 sipil misalnya ex. jaksa, atau ex. hakim, atau orang2 yang dikenal berintegritas emoticon-Big Grin

dan polisi nasional ini juga bisa bantu handle permasalahan2 yagn gak bisa dilaksanakan oleh polisi di kabupaten dan kota. Dan Polisi nasional bisa diintegrasikan infrastrukturnya dnegna polisi di tingkat provinsi .. jadi Polisi Nasional jika dibentuk sudah punya jaringan yagn luas di seluruh propinsi yagn bisa juga ikut aktif membantu polisi2 di kabupaten/kota

4. Kementrian Keamanan Dalam Negri
ini yagn belum ada di Indoensia. Seharusnya badan2 kayak Coast Guard, Border Patrol, Polisi Hutan, BIN, BASARNAS dll bisa masuk ke dalam sini .. supaya ada kementrian yagn membawahinya ..

=========

5. Satuan khusus di bawah Presiden
kalau menurut gw wajar saja jika ada satuan khusus dibawah presiden yang bisa diperintahkan sewaktu2 .. dan gak perlu dedicated untuk teroris saja .. nah mereka bisa ditugaskan membantu misalnya utnuk penanganan kelompok teroris di POSO, dll .. yang memang tidak bisa dihandle langsung oleh polri .. polri gak pernah dipersiapkan untuk bertempur di hutan .. polri itu penegak hukum, bukan tentara emoticon-Big Grin

kalau loe mau tangkap teroris sesuai standarnya polisi, dan membiarkan hanya polisi yang handle kelompok teroris kayak di POSO, maka sampai lebaran kuda juga gak akan dapat tuh emoticon-Big Grin karena polisi dilatih untuk menangkap perampok, pembunuh, dll .. bukan untuk tempur emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
pki aja sudah 54 tahun masih dikejar2.

ini masih ada yang membina, enak betul, padahal sama2 ormas terlarang emoticon-Busa
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Emaknya si enzo dibina sekalian bu emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan scorpiolama memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Lucu amat ya,
Harusnya bagus dong, orang yg terindikasi HTI masuk ke TNI.

Jangankan baru terindikasi, yg udah jadi HTI pun kalo ikut pendidikan TNI pasti langsung cinta tanah air, bahkan cinta tanah air dalam makna harfiah (bener2 makan tanah & minum air comberan).

Jadi, kalo sampe ini anak dikeluarkan dari pendidikan TNI, sungguh suatu hal yg keliru dan kekanak2an.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post baiquni.banksat
Quote:


Sayangnya beda

HTI saat ini statuanya adalah organisasinya aja yg dibubarkan

Sementara PKI ga cuma organisasinya yg dibubarkan, tp juga fahamnya yg dilarang.
Dan aparat membaca itu termasuk simbol-simbolnya, dan pembahasan2 publik yg mengarah ke faham komunis juga ditindak.

Lha kalo HTI, itu krn berlindung di balik ketiak agama mayoritas, ajarannya ga dilarang.
Hanya organisasinya yg dibubarkan.

Makanya pentolan2 HTI ga ditangkapi.

Lha kalo mau HTI di PKI kan, maka harus isul ke presiden n DPR utk dibuatin aturan yg lebih tinggi. Yaitu UU atau dibuat TAP MPR nya skalian.

Saat ini isi/bunyi Perpres soal HTI masih sbatas pembubaran organisasinya aja.

Jd mreka msh bebas

profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Balasan post dinhogiloba
Quote:


emak nya dah kartu mati gan

gr gr didikan emaknya nih

makan tuh radikalisme agama


ane sih yakin enzo masih bisa di bina..
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan scorpiolama memberi reputasi
Ane setuju harus dibina, kasih penataran P4 kayak zaman ane SMP dulu, tapi harus lebih mendalam dan lebih lama, mudah2an bisa "lurus" lagi tuh anak...emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Macam yg udah NKRI dan Pancasila kali tuh nenek-nenek
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan agusdwikarna memberi reputasi
tni udah ada kasus ideologi yg beda dr pancasila, ini bukan kasus pertama.

"Contoh dulu orang-orang yang masuk taruna ada yang terindikasi ideologi komunis dari PKI dari keturunannya itu nanti akan ketahuan setelah sekian lama. Terhadap mereka ada catatan-catatannya dan harus diapakan," lanjutnya. - moeldoko

https://m.detik.com/news/berita-jawa...a-terbukti-hti

yg jelas tni punya metode dan cara sendiri.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Balasan post tujuh.tahun
Quote:


Masuk tni wajib bela pancasila..., kalo belum terima pancasila.., mau masuk tni ???.., berarti ada maksud tertentu. N sudah tepat dikeluarin n kasih ke nu dulu....

Btw tni singkatan dari tentara nasional INDONESIA...
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan scorpiolama memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di