alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Bersemi Dalam Persami
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4f72f6c8208449ec314e38/cinta-bersemi-dalam-persami

Cinta Bersemi Dalam Persami

Cinta Bersemi Dalam Persami
Siang itu, Ketua kelas memberitahukan kepada seluruh anggota kelas bahwa akan diadakan Perkemahan Sabtu-Minggu (PERSAMI) dua pekan dari sekarang. Diharapkan, untuk seluruh anggota kelas mengikutinya karena untuk penilaian, dan tidak dibolehkan izin kecuali mendesak ataupun sakit dengan surat dokter.

Beberapa siswa tampak bahagia, namun beberapa lagi tampak murung. Mungkin hanya aku saja yang merasa biasa saja, tidak murung ataupun bahagia, kalau kata orang sih muka lempeng gitu.

“Pekan depan akan ditentukan kelompoknya, jadi jangan lupa untuk berangkat pada pertemuan Jumat nanti” ucap Ketua Kelas dengan nada lumayan keras meskipun tanpa microphone penembus dosa.

Satu pekan pun terlewati sudah, aku satu kelompok dengan Fariz, Abdul, Yoseph dan juga Ridwan. Seperti sebuah takdir yang tak terpisahkan, kami berlima yang memang berkawan di sekolah mendapatkan jatah satu tenda. Jadi tidak akan membosankan nantinya.

Selebaran yang berisi daftar apa saja yang harus dibawa nanti saat PERSAMI membuat semua siswa maupun siswi mulai sibuk membagi tugas, begitupun dengan kami berlima. Aku menawarkan diri membawa tikar dan juga pasak, dua komponen yang memang sudah tersedia di rumah.

Hari H pun tiba, semua siswa dan siswi sudah siap menggunakan seragam pramuka lengkap dengan berbagai atribut melekat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dengan sempoyongan, aku meletakan barang bawaan yang ternyata cukup berat ini.

Mata yang sebelumnya melihat ke arah beberapa barang yang sudah ada ditempat tiba-tiba terfokus menyorot ke arah depan, sosok perempuan memanggil “Mas, disini ya meletakan barangnya ?” ujar perempuan yang belum sempat aku melihat wajahnya dan hanya melihat rok panjang berwarna coklat.

“Iya mbak, taruh aja di kelompoknya biar mudah ditemukan” ujarku sambil mencoba melihat wajah perempuan dihadapanku, “Bidadari” ucapku dalam hati setelah melihat wajah perempuan cantik yang dibalut dengan jilbab coklat dengan perkataannya yang lembut dan juga sopan.

Cinta Bersemi Dalam Persami

Setelah mengucapkan terima kasih, perempuan tersebut pergi selangkah demi selangkah menuju ke kelompoknya. Bodohnya diri ini membiarkannya pergi tanpa tahu namanya, tiba-tiba...

“Woy, cepettan dong...yang lain sudah baris tuh” tepukan mendarat dipundakku disusul dengan suara agak kesal yang ternyata dari Ridwan.

Tidak terasa, waktu makan malam pun tiba. Semua siswa-siswi berbaris di antrean makanan, namun aku tidak melihat sosoknya, mataku terus menembus area-area di sekolahan. Namun tidak juga aku melihatnya, apa jangan-jangan dia sakit dan pulang ?.

Saat sebungkus makanan sudah ada ditangan, pandanganku tetap mencoba mencari keberadaannya. Dan tampak dari kejauhan sang Bidadari sedang berjalan melewati lorong yang akhirnya aku tahu kalau dia melaksanakan solat terlebih dahulu, Bidadari Surga beneran.

Acara seru untuk melewati malam pun digelar, salah satunya adalah Api Unggun dengan beberapa pertunjukan dari masing-masing kelompok. Dan kelompokku mendapatkan jatah untuk membacakan puisi dengan tema bebas.

Jatuh cinta membawa ide yang gemilang dalam diriku untuk membuat puisi tentang perempuan bidadari tersebut, aku pun dengan senang hati menjadi wakil kelompok untuk membawakan puisi.

Cinta Bersemi Dalam Persami

“Senja membawanya datang kepadaku..
Angin mendorongnya mendekat kepadaku...
Bidadari itu hadir, entah darimana asalnya...
Cantik wajahnya tersirat dalam suaranya yang lembut...

“Wahai Bidadari, izinkan aku mengenalmu..
Cinta Bersemi Dalam Persami”...

Beberapa siswa-siswi memberikan tepuk tangan, begitu juga dengan guru pembimbing. Namun aku hanya ingin melihat sang Bidadari, aku menatapnya dan dia pun tersenyum sambil memberikan tepuk tangan.

Sampai malam ini, aku belum juga bisa mengenal namanya. Hati ini benar-benar galau berat, susah tidur membuatku keluar mencari angin sejenak, apalagi tidak ada larangan untuk keluar tenda sebelum jam 10 malam.

“Kenapa bro ? “ ujar Yoseph yang ternyata juga terlihat susah tidur.
“Gue galau Seph”.
“Loe sedang rindu dengan perempuan ?”.
“Bukan rindu, tapi jatuh cinta”.
“Lalu apa yang jadi masalah”.
“Besok Persami sudah berakhir, dan gue belum sempat berkenalan dengan dia”.
“Loe tahu tempat yang dia sering kunjungi ?”.
“Masjid Sekolah”.
“Besok subuh, gue sama loe tunggu dia di Masjid. Gue bakal temanni loe untuk berkenalan dengan dia”.
“Beneran loe ? emang subuh loe bisa bangun”.
“Demi temen, gue pasti bisa”.
“Thanks bro”.

Siasat pun sudah disetujui, tinggal meluncurkannya saja dan semoga Tuhan meridhoi siasat aku dan Yoseph. Adzan Subuh berkumandang, ternyata Yoseph benar-benar terbangun, aku dan dia kemudian menuju masjid.

Karena Yoseph bukan seorang Muslim, dirinya menungguku diluar masjid. Aku sebenarnya tidak tega, dia tampak menggigil karena mungkin tidak biasa keluar sepagi ini.

Setelah selesai melaksanakan solat subuh berjamaah, aku sejenak berdoa memohon kelancaran kepada Tuhan. Setelah menunggu sekitar tiga menit, sang bidadari pun keluar bersama satu teman dekatnya.

“Yaudah, ini kesempatan kita” ujar Yoseph sembari berdiri dan memberikan kode untuk mendatangi perempuan tersebut.

Perlahan langkah ini, sedikit berat memang rasanya. Tapi Yoseph terus memberikan support kepadaku, tibalah aku didepannya. Aku melihat dia dan begitupun sebaliknya.

“Aku boleh ngobrol sebentar ?” ujarku membuka obrolan.
“Boleh silahkan saja”.

“Kamu yang tadi malam membacakan puisi itu kan ?”.
“Iya benar, gimana menurutmu puisiku ?”.
“Bagus pakai banget, darimana kamu dapat ide puisi itu ?”.
“Dari pertama..”.
“Maksudnya ?”.
“Oh tidak papa kok, maksudnya dari melihat bintang saja”.
“Wih keren, melihat bintang bisa jadi puisi sekeren itu”.
“Jangan begitulah, aku jadi malu. Oh ya, nama kamu siapa ?”.
“Aku Dara, kalau kamu sendiri ?”.
“Aku Bagas”.

Obrolan kami pun terus berlanjut, dan tanpa melewatkan momen ini. Aku segera meminta WA Dara agar bisa mendekatinya, meskipun aku juga tidak mau terburu-buru.

PERSAMI tidak seperti yang digambarkan oleh kebanyakan orang, yakni ribet, capek dan tidak seru. Karena dalam PERSAMI kita bakal dibuatkan beberapa game yang seru dan menguji kekompakan, serta kemandirian kita hidup tanpa orang tua. Tidak lupa juga, kita bisa mendapatkan bonus kenalan teman baru.


Sumber cerita : Mas Bejo
SUMBER GAMBAR : Kaskus,Gamha, dan Twitter
Diubah oleh bej0corner
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di