alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Life Fiction: The Missing Page
4.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4ecae9af7e9377a7537f69/life-fiction-the-missing-page

Life Fiction: The Missing Page

Spoiler for Buka dulu gan:


Life Fiction: The Missing Page


Spoiler for ACT I - Prolog:
profile-picture
profile-picture
bhezooke2 dan imbone memberi reputasi
Diubah oleh fachreal5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Diubah oleh fachreal5

ACT II

Satu setengah jam sebelum keberangkatan.

Liam melemparkan kunci mobilnya dengan asal ke meja kerjanya sementara Eva hanya mengernyitkan dahi sebelum kembali fokus pada tagihan bulanan kantor yang harus mereka bayar.

"Jika ada telepon jangan kau angkat" seru Liam sembari mengacungkan telunjuk jarinya ke atas untuk memberi peringatan kepada rekan kerja yang berada dalam satu ruangan kecil kantor. Di ruangan itu yang tersisa hanya Eva.

"Bagaimana jika si penelpon adalah calon klien?" tanya Eva, ia menarik nafas berat emosinya mulai naik.

"Dan bagaimana jika si penelpon adalah vendor atau mantan karyawan yang menagih uang tunjangan" balas Liam tanpa memandang Eva karena ia sedang sibuk mencabut kabel line telepon yang berada di mejanya.

"Gotcha!" Liam kegirangan seperti anak kecil yang menemukan mainannya. Eva membuka kacamata lalu mengeluarkan sebungkus rokok putih dan membakarnya.

"Hei hei. Sejak kapan kau merokok" tanya Liam keheranan.

"Sejak rekan kerjaku semakin hari menunjukan ketidakwarasannya" jawab Eva santai sembari menghembuskan asap rokok ke langit-langit.

"Maksudmu aku?" tanya Liam polos, Eva mengangguk.

Pertemuan Liam dan Eva berawal dari sebuah seminar bertema sains dan psikologi di kampus mereka. Keduanya tidak pernah sekelas dan berbeda fakultas. Liam mengambil studi Fisika sedangkan Eva studi Psikologi. Jika saja Liam tidak sengaja menjatuhkan risoles dari konsumsi seminar yang Eva ingin makan, besar kemungkinan keduanya tidak berbicara dan memulai pembahasan tentang seminar yang masih mengganjal di pikiran mereka.

Jadi, time travel apakah terjadi karena fisik manusia yang menjelajah waktu atau memang benar manusia dapat reinkarnasi dan bersemayam pada tubuh yang baru di masa yang akan datang?

Terkadang mereka masih suka membahas hal itu dikala suntuk hanya saja sampai sekarang keduanya masih belum menemukan jawaban.

Baik Liam dan Eva memiliki mimpi dan gairah yang besar terhadap dunia sains dan psikologi hingga akhirnya menciptakan sebuah mesin yang dapat memasuki alam bawah sadar seseorang yang telah mendekati ajal dan mewujudkan harapan yang belum terlaksana dari orang itu dengan tujuan agar orang tersebut dapat meninggalkan dunia tanpa menyisakan penyesalan. Tentu ide mereka terdengar konyol dan hanya menjadi cemoohan terlebih ketika mereka nekat membangun perusahaan berbasis mesin penemuan mereka yang masih menjadi bahan tertawaan.

Mesin mereka mereka diberi nama LIFE yang kemudian menjelma menjadi cikal bakal nama perusahaan Life Corporation. Life mengambil nama dari Wiliam Ferdinand dan Eva Octavia dimana saat nama tersebut diputuskan terjadi perdebatan yang disebabkan oleh rasa keberatan Eva karena Life hanya mengambil satu abjad dari inisial namanya sedangkan Liam mendapatkan jatah tiga.

"Bagaimana kabar mantan istrimu?" tanya Eva yang kemudian melemparkan bungkus rokoknya ke Liam.

"Anakku sehat. Dia berhasil masuk sekolah dasar negeri yang aku kehendaki" jawab Liam, ia mulai membakar rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

"Istrimu?" tegas Eva lagi namun Liam hanya memberikan gestur tangan untuk tidak menanyanya lebih lanjut.

"Apa kabar tunanganmu?" balas Liam, Eva mengalihkan pandangannya ke jendela dan enggan menjawabnya. Liam tersenyum jahat lalu tertawa melihat raut wajah rekannya.

"Masih melankolis hah? Seharusnya dulu kau pacari saja aku dibanding kau pacari Gayson, umm sorry maksudku Greyson si gay bajingan itu hahaha" hardiknya, ia tertawa sampai terbatuk-batuk. Eva menatapnya tajam, mulutnya sudah gatal untuk melemparkan balasan.

"Ya, aku menikah denganmu lalu cerai karena kau tidak perkasa di ranjang seperti yang sering kau gembor-gemborkan" balas Eva. Pernyataannya sontak membuat pria tengil yang berada di seberang mejanya terdiam lalu Liam hisap rokoknya dalam-dalam dan kembali terbatuk-batuk karena asap rokoknya tertelan.

"Hei aku mendengar kata ranjang" sambut Ervan yang secara spontan masuk ke dalam ruangan. Ia adalah satu-satunya karyawan yang tersisa, bertugas sebagai sopir van Life Corp dan waktunya lebih banyak dihabiskan di pantry untuk menyemil makanan.

Liam dan Eva menatapnya sebal namun Ervan tidak peduli dan malah menuju meja Liam untuk mengambil rokok.

"Pagi yang mendung seperti ini memang paling enak merokok dan ahhh yaaa. Ada yang mau kubuatkan kopi?" tawarnya namun Liam dan Eva tidak berkata sepatah kata.

"Umm oke, kalau begitu aku buat untuk diriku sendiri" ucapnya

"Sudah cek kolesterol Ervan? Badanmu yang tambun ini pasti sudah menjadi sarang penyakit" ucap Eva, Ervan tersenyum kecil lalu menggulung kemeja lengan pendeknya.

"Kau lihat otot-ototku Eva? Aku rutin latihan push up setiap pagi sekarang" jawab nya pede, Eva menggeleng karena yang ia lihat hanyalah gumpalan lemak.

"Oh iyah. Sehabis buat kopi kau boleh pulang" seru Liam, Ervan melihatnya dengan keheranan.

"Kenapa? Apakah kau yakin hari ini tidak ada pekerjaan Liam? Ya mungkin aku tidak lulus dari bangku perkuliahan namun aku pernah membaca buku. Disana dituliskan bahwa pikiran positif akan membawa hal-hal yang positif. Kau selalu berpikiran negatif semenjak si David, kakak keparatmu gencar menghancurkan bisnismu melalui kacung-kacung medianya" Ujarnya mencoba menyemangati.

Liam menurunkan pandangannya ke bawah meja sementara Eva kembali melihat ke arah luar jendela sembari memainkan puntung rokoknya. Ervan masih berdiri menantikan sebuah jawaban dari kedua bosnya sembari menahan senyum yang ia paksakan.

"Jadi apakah hari ini akan ada pekerjaan?" tanya Ervan yang senyumnya semakin terlihat dipaksakan.

Diubah oleh fachreal5

ACT III

Suara EKG menggema ke setiap sudut kamar. Disana hanya ada seorang wanita paruh baya, seorang dokter dan seorang pria tua koma yang tengah menunggu detik-detik terakhir hidupnya. Wanita itu kembali menggenggam telapak tangan suaminya yang terhitung sudah lebih sebulan terbaring tak berdaya. Air matanya kembali menetes dan membasahi telapak tangan suaminya.

"Jika kesempatan ia untuk siuman memang sangat tipis. Silahkan cabut semua alat bantunya, dok" ucap wanita tersebut lirih "Akhiri penderitaan suamiku" tambahnya.

Segera ia hampiri wanita tua yang rapuh itu kemudian ia sentuh lembut bahunya.

"Maaf nyonya. Saya tidak akan melakukan hal itu. Tuan Rudi adalah orang baik, saya ingin beliau pergi dengan tenang terlebih melakukan hal itu sama saja saya melakukan pembunuhan" jawabnya, wanita tua itu mengangguk lalu menyeka air matanya.

"Sebelumnya maaf jika lancang. Saya ingin bertanya, apakah selama hidup tuan Rudi memiliki sebuah penyesalan atau mungkin sebuah hutang?" tanya dokter itu sungkan kemudian wanita tua tersebut beranjak dari kursi disebelah ranjang suaminya.

"Setiap manusia pasti memiliki sebuah rasa penyesalan dalam hidupnya, ada yang mengikhlaskannya ada yang tidak namun jika menyangkut masalah hutang aku yakin suamiku tidak mempunyai hutang karena aku juga memegang salinan roda keuangan perusahaan" jawabnya.

"Maaf, maksudku bukan hutang dalam bentuk uang akan tetapi hutang janji kepada seseorang" imbuh dokter itu.

Wanita itu terdiam sesaat kini pandangan kedua matanya mengarah kepada wajah suaminya yang semakin pucat.

"Tunggu sebentar" ucapnya kepada sang dokter kemudian ia keluar kamar.

Ia kembali dengan membawa sebuah buku novel The Notebook karya Nicholas Sparks, warna cover bukunya mulai memudar begitupun dengan setiap lembaran halamannya yang mulai menguning. Ia serahkan buku tersebut kepada sang dokter dan membiarkan dokter itu membuka setiap halamannya.

"Beberapa kali aku mendapati pandangan Rudi terpaku pada buku ini. Pandangannya juga selalu berhenti pada suatu halaman dan apabila ia selesai membaca halaman tersebut segera ia tutup bukunya. Hanya saja aku tidak tahu halaman mana yang ia baca" ujarnya.

"Apakah nyonya pernah bertanya kepada tuan Rudi mengenai buku ini?" tanya dokter tersebut sembari memilah-milah halaman novel tersebut.

"Sering. Tapi jawaban yang aku temukan selalu sama. Hanya sekedar mengagumi gaya tulisan dan ide cerita katanya" jawab wanita itu, sang dokter menggeleng lalu menutup halaman buku. Beberapa saat ia termenung sebelum akhirnya teringat sesuatu dan segera merogoh dompet di sakunya.

"Nyonya. Bolehkan saya meminjam telepon yang ada di sana?" tanya dokter itu dengan senyum sumringah, wanita itu mengangguk walau sedikit penasaran apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Diubah oleh fachreal5

ACT IV

Bunyi telepon mengaum memecah kesunyian diantara mereka bertiga. Liam menghela nafas dan bersiap beranjak dari kursinya untuk mencabut telepon yang masih betah berpangku di meja Eva, sedangkan Eva sendiri hanya melirik telepon yang berbunyi nyaring tersebut tanpa ada gairah untuk meyambutnya.

Ervan menjatuhkan rokoknya dan sontak menahan badan Liam yang kurus kala ia ingin mencabut kabel telepon yang berdering tersebut. Spontan Eva berdiri dari kursinya dan menyandarkan tubuhnya di tembok namun pandangan matanya lebih tertarik untuk memperhatikan benda tersebut dibanding dua orang rekan bodohnya yang sedang bergulat satu sama lain.

"Lepaskan aku!" seru Liam namun Ervan justru semakin mengencangkan kuncian yang dia pelajari secara otodidak dari tayangan WWE.

Perusahaan sudah pailit Ervan. Kita sudah kehabisan uang untuk membayar hutang!" seru Liam, seketika Ervan melemaskan kunciannya. Liam terlepas dan segera ia betulkan kemejanya.

"Eva dari Life corp, ada yang bisa saya bantu?" ucap Eva yang tengah menjawab telepon, Liam menggeleng sedangkan Ervan tertunduk usai mendengar ucapan teman semasa kecilnya.

Raut wajah Eva terlihat cerah dan tanpa pikir panjang ia memberi sebuah kode kepada rekannya untuk tidak melanjutkan perilaku bodohnya. Tanpa sadar Liam dan Ervan mendekatkan telinganya ke telepon dan mencoba menguping pembicaraan Eva dengan sang penelpon. Sebuah senyum dan tawa mencuat dari bibir Eva yang tipis, kedua rekan yang berada di hadapannya saling melirik satu sama lain. Masih tidak tahu dengan siapa Eva bicara.

Telepon ditutup, sebuah senyum sumringah kembali ditampakkan dari bibir Eva.

"Ervan, segera panaskan mobil lalu kau Liam segeralah sisir rambut dan rapihkan kemejamu"

"Hari ini kita ada pekerjaan" ujar Eva namun Liam tidak terlalu sennag mendengarnya.

"Siapa yang menelpon?" tanya Liam curiga.

"Yang pasti bukan wartawan sialan suruhan kakakmu atau penagih hutang" jawab Eva.

"Lalu?"

"Aku tadi berbicara dengan Daniel, dokter pribadi kepercayaan Rudi Branson" jawab Eva mantap, Liam terbelalak begitupun dengan Ervan.

"Rudi Branson si pengusahan transportasi dan dermawan yang terkenal itu" tanya Liam memastikan. Eva mengangguk. Liam merapikan rambut serta kemejanya kemudian menepuk pundak Ervan tergesa-gesa untuk memberi tanda.

"Cepat panaskan mobil" seru Liam

"Kau boleh cabut teleponnya sekarang" hardik Ervan sebelum bergegas, Eva terkekeh.

*****

"Pandangan perempuan itu seperti ingin memberi pesan" ucap Ervan.

"Entahlah" jawab Liam mengangkat bahu sementara Eva termenung untuk menafsirkan kehadiran perempuan misterius itu. Ia setuju dengan ucapan Ervan sebab ia juga bertukar pandang dengan perempuan itu.

Mereka kembali terperangah kala van berhenti di depan pagar kekar yang memisahkan antara mereka dan halaman rumah Rudi. Entah bermimpi apa sehingga ketiganya mendapatkan klien yang terkenal sangat kaya raya dan dapat memberika secercah harapan kepada mereka untuk membayar hutang perusahaan yang menggunung serta gaji para mantan karyawan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Sebelum keluar dari van Liam kembali membahas obrolan yang sempat mereka bahas sejak di perjalanan. Ervan sudah menunggak bayaran bulanan sekolah anaknya selama dua bulan dan jika pada bulan ketiga Ervan masih tidak sanggup untuk membayarnya maka mau tak mau anak perempuan semata wayangnya harus berhenti bersekolah.

"Kenapa kau tak mengatakan hal ini jauh-jauh hari Ervan" tanya Liam sungkan, mesin mobil masih menyala dan pintu masih terkunci dari dalam.

"Ini adalah masalah personalku. Lagipula aku tak mau menambah pikiran teman kecilku. Perusahaan sedang pailit bukan? Ada yang lebih penting untuk dibayarkan dibanding melunasi biaya sekolah anakku. Toh, itu juga sepenuhnya salahku yang tidak bisa mengatur keuangan" ujar Ervan menohok.

"Dalam empat bulan belakangan ini aku juga jarang melihat sampah botol plastik di tempat sampah kantor. Beberapa kali pula aku mendapatimu mengeluarkan kantong plastik besar ketika ingin pulang. Apakah kau memunguti sampah botol plastik itu?" tanya Liam dengan pandangan yang teduh. Ervan mengangguk pelan.

"Kenapa kau tak cari pekerjaan lain dan memilih tetap bertahan di perusahaan yang sedang sekarat ini?" Tanya Liam lagi serius.

"Zaman sekarang cari pekerjaan sangat susah kawan, terlebih untuk orang yang tidak lulus kuliah dan pernah terjerat narkoba"

"Lagipula impianku sudah raib karena ulahku sendiri dan sebagai gantinya aku ingin menjadi bagian dari mimpi orang yang menurutku berarti. Life corp bukankah buah impianmu sejak dulu? Dan juga impian Eva bukan?"

Liam mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan fokus kepada burung gereja yang sedang menari-nari di atas pagar gagah di hadapan mereka sebelum akhirnya terbang.

"Memangnya impianmu apa Ervan?" tanya Eva dari kursi belakang.

"Model" jawab Ervan singkat. Eva terbatuk sedangkan Liam segera mengembalikan pandangan matanya ke tubuh tambun sahabat kecilnya dari ujung kaki sampai ujung kepala lalu memincingkan mata. Liam menggeleng "Aku mau muntah, cepat buka pintunya" pinta Liam.

*****

Untuk pekerjaan hari ini Liam meminta Ervan untuk mengikuti mereka sampai dalam, bukan untuk membawa melainkan memang sudah lama Ervan ingin mengetahui bagaimana Life bekerja untuk klien mereka ditambah besar kemungkinan ini adalah hari terakhir mereka dapat bekerja pada perusahaan yang sama.

Ketiganya langsung disambut oleh dua orang pelayan perempuan ketika memasuki rumah sedangkan pelayan laki-lakinya berinisatif untuk mengangkut peralatan yang akan mereka gunakan.

"Konglomerat ini benar-benar tahu cara memperlakukan tamu" ucap Ervan sembari menatapi lampu gantung dan langit-langit rumah yang megah.

"Ya, semakin kagum saja perasaanku kepada pria tua itu" sambut Liam, sesekali a berikan senyuman kepada seorang pelayan perempuan kala menatapnya dengan sungkan.

Sofia, sang istri dari tuan Rudi tak lama turun dari lantai atas untuk menyambut mereka diikuti oleh dokter Daniel yang sengaja berjalan tanpa ingin mendahului langkahnya. Sofia terlihat membawa novel di tangan kirinya dan kedua matanya masih terlihat sembab namun ia masih dapat menunjukkan senyum terbaik untuk menyambut tamu-tamunya.

"Selamat datang. Terima kasih sudah jauh-jauh datang kesini" ucap Sofia ramah lalu menyalami mereka bertiga.

"Lisa, tolong siapkan teh untuk tamu kita" instruksi Sofia kepada salah satu pelayan perempuan kemudian mempersilahkan para tamunya untuk ke ruangan yang sudah ia persiapkan.
Dengan lembut Lisa menuangkan teh kepada mereka berlima, kulit tangannya terlihat putih mulus menunjukkan betapa baiknya Rudi dan istrinya dalam memperlakukan para pelayan disini. Dari semua orang yang berada di ruangan hanya Liam yang memperhatikan cara Lisa menuangkan teh sampai selesai sebelum akhirnya Eva menyiku perutnya.

"Dasar laki-laki" keluh Eva.

"Silahkan diminum" ucap Sofia tersenyum.

Keheningan mulai tercipta diantara mereka, Ervan mulai mencolek-colek Liam sebagai pertanda untuk membicarakan mengenai biaya kepada calon kliennya. Liam memajukan punggungnya dan bersiap untuk berbicara.

"Ehm, mengenai biaya.."

"Untuk biayanya Anda cukup katakan saja kepada saya berapapun nominalnya" ujar Sofia memotong perkataan Liam.

"Sekarang tolong jelaskan kepada saya bagaimana cara kerjanya? Karena saya pernah membaca berita yang tidak enak didengar mengenai alat ini" Tanya Sofia, Liam dan Eva segera memajukan punggungnya dan mulai menjelaskan cara kerja mesinnya.

Cara kerja mesin Life mungkin dapat dibilang penemuan gila yang Liam dan Eva berhasil kembangkan. Sebab dengan mesin itu kesadaran seseorang dapat masuk ke alam bawah sadar orang yang sepenuhnya telah hilang kesadaran, jadi si pemakai mesin itu dapat mengubah kenangan buruk seseorang semasa hidup, rasa penyesalan, harapan yang belum terlaksana bahkan sebuah pesan yang tak sempat ia sampaikan. Walaupun semenjak awal Life dirilis tidak pernah ada klien yang siuman setelah mesin ini selesai digunakan. Maka oleh sebab itulah tabloid Corners besutan David pernah memberitakan bahwa Life tak ayal sebuah mesin untuk merenggut nyawa seseorang.

Sofia mengangguk usai mendengarkan penjelasan dari mereka berdua.

"Saya kenal mereka nyonya dan saya percaya bahwa keduanya adalah orang baik" ujar Daniel meyakinkan. Dengan perlahan Sofia taruh novel The Notebook milik suaminya di tengah meja dan mempersilahkan siapa saja untuk melihatnya.

"Novel ini adalah benda yang dulu sering suamiku bawa. Beberapa kali aku juga mendapati ia tengah membacanya di ruang baca namun perihal mengenai milik siapa novel ini dia tidak pernah menjawabnya"

"Boleh saya buka bukunya?" pinta Liam.

Sofia mengangguk "Silahkan"

Liam buka lembaran demi lembaran buku yang mulai menguning itu, Eva dan Ervan turut memperhatikan.

"Hey Liam sepertinya terdapat halaman yang hilang" seru Ervan ia meminta Liam untuk kembali membuka halaman-halaman sebelumnya secara perlahan. Daniel dan Sofia segera mendekat.

"Stop. Lihat, ada halaman yang terlewat disini. Seharusnya sehabis 155 itu adalah 156 dan 157 bukan 157. Sobekannya rapih sekali" ujarnya, seketika Liam merasa bangga mengajak sahabatnya ke tempat ini dibanding menyuruhnya agar menjaga van.

"Kerja bagus Ervan" ucap Eva tersenyum.

Liam menyerahkan buku tersebut kepada Sofia, ia terlihat kebingungan termasuk semua orang yang berada di dalam ruangan.

"Kau baru mengetahui tentang ini nyonya?" tanya Daniel.

"Ya, aku baru tahu. Aku memang tidak pernah membaca novel ini sampai habis" jawab Sofia kemudian membolak balik halaman dan menyentuh bagian kecil sisa kertas bekas sobeknnya.

"Kalau begitu mari kita ke atas. Suamiku pasti tidak bisa berlama-lama menunggu lagi" ucap Sofia cemas.

Ketiganya terhenyak kala melihat sosok orang yang mempunyai andil dalam pembangunan transportasi kota dan seorang dermawan pemilik sebuah yayasan yatim piatu sekarang sedang terbaring tak berdaya di kasurnya lengkap dengan selang-selang yang terhubung dengan tubuhnya.

Tubuhnya semakin kurus dari hari ke hari begitupun warna wajahnya yang semakin pucat. Jika saja media yang sering meliputnya melihat beliau sekarang mungkin mereka tidak akan percaya sebab semua tubuh bugar nya sudah direnggut oleh kanker paru stadium empat yang menggerogoti tubuhnya. Mereka semua sadar bahwa pria tua yang sedang disana tidak bisa berlama-lama lagi dan sedang menunggu mereka untuk menguak sebuah rahasia yang tak pernah ia ungkap semasa hidupnya.

"Maaf tuan" ucap Liam kala ia memasangkan kabel motorik di kepalanya. Setelahnya ia duduk di kursi Life dan membiarkan Eva menghubungkan kabel-kabel motorik ke kepalanya agar dapat memasuki alam bawah sadar Rudi.

"Kau siap Liam?" tanya Eva dari meja yang terdapat tiga buah monitor. Satu monitor untuk memantau gelombang otak serta detak jantung Rudi, satu monitor untuk memantau Liam, sedangkan satu monitor yang di tempatkan di tengah adalah sebagai penyampai pesan ketika Liam sedang berada di alam bawah sadar orang lain.

"Oke, aku siap" jawab Liam mantap kemudian ia pejamkan matanya.

"Memasuki alam bawah sadar dalam hitungan satu...dua....ti....ga" Eva menekan tombol enter pada keyboardnya, kesadaran Liam mulai hilang sepenuhnya.
profile-picture
imbone memberi reputasi
Diubah oleh fachreal5

ACT V

Senyum tipis menyumbul dari bibir Liam kala mendapati pemandangan menyejukkan di ujung kamar. Disana ia mendapati Rudi tua yang masih terlihat sehat sedang merebahkan selimut ke tubuh wanita yang paling dicintainya, Sofia. Gelang elektrik yang melingkar di lengan kirinya seketika bergetar menandakan bahwa Eva ingin memastikan bahwa Liam sukses memasuki alam bawah sadar kliennya.

Tanpa pikir panjang segera ia tekan tombol kecil yang berada di permukaan gelang untuk memberitahukan Eva "Aku sudah di dalam"

Eva sedikit menyenderkan bahunya pada kursi sementara semua orang yang berada di ruangan sibuk memperhatikan layar monitor yang nampak mengetik dengan sendirinya.

"Jadi rekanmu sudah di dalam alam bawah sadar suamiku?" tanya Sofia cemas.

"Ya sudah. Namun saya tidak tahu apa yang sedang Liam lihat, karena salah satu akses untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sana adalah tulisan pada layar monitor ini" jawab Eva,

"Syukurlah" ucap Sofia, perlahan ia mulai memahami cara kerjanya.

"Apa yang kau lihat?" tanya Eva melalui mic yang terhubung di komputernya.

"Aku melihat tuan Rudi sedang memakaikan selimut ke nyonya Sofia"

"............ ia terlihat bahagia"

"Tetaplah fokus ke layar monitor. Aku akan terus kabari perkembangannya" pinta Liam lalu ia sudahi komunikasinya.

Rudi keluar menuju balkon dari satu pintu lain yang berada di dalam kamarnya kemudian ia termenung berdiri termenung memperhatikan bulan yang wajahnya tengah tertutup bayangan hitam setengahnya. Sesekali ia terbatuk berat lalu setelah batuknya mereda ia alihkan pandangan matanya kepada sebuah meja bundar yang berada di balkon dimana di atas meja itu terdapat novel yang sudah Liam lihat sebelumnya.

Liam mendekat kala Rudi membuka lembar demi lembar dengan perlahan sebelum akhirnya berhenti pada satu halaman yang urutannya sudah tiada. Liam menghela nafas sekaligus berpikir keras mengenai rahasia apa yang sedang pria tua ini sembunyikan dari novel lusuh yang berada di tangannya.

"Kita belum mengucapkan salam perpisahan dengan baik. Apakah yang tersiksa seperti ini hanya aku, Marina" ucap Rudi menahan lirih serta batuk yang tak berkesudahannya.

Segera ia hubungi Eva dan memintanya untuk bertanya kepada Sofia perihal siapakah sosok Marina yang namanya barusan disebutkan oleh Rudi.

"Nyonya, apakah kau pernah mendengar tuan Rudi menyebut nama Marina?" tanya Eva, dahi Sofia mengernyit kemudian ia topang dagu dengan sebelah tangannya.

"Aku tak pernah mendengar nama Marina baik dari mulutnya ataupun para kerabatnya" jawab Sofia keheranan.

"Apakah mungkin jika Marina yang ia maksud adalah sebuah pantai?" tanya Ervan yang sudah kembali dari obrolannya dengan Daniel perihal kondisi kesehatan kliennya.

"Aku rasa tidak. Rudi tidak menyukai pantai karena dari pengakuannya waktu kecil nyawanya hampir terenggut oleh gulungan ombak dan almarhum ayahnya membenarkan hal itu"

"Atau mungkin sebuah kode" ucap Ervan lagi.

"Entahlah, aku tidak ingin berspekulasi" jawab Sofia, Eva mengangguk lalu memberitahu Liam untuk melanjutkan penjelajahannya.

Langkah kaki Rudi menuntun Liam kepada suatu ruang yang dipenuhi rak buku dan beberapa miniatur kereta api. Ia masukkan bukunya ke dalam rak dengan hati-hati lalu ia penuhi pandangannya kepada setiap sudut ruang yang sepi kemudian duduk termenung sampai akhirnya ia pergi.

Di ruangan ini hanya ada Liam, susunan buku yang disusun rapi dan kumpulan benda mati yang memberikan efek sunyi. Ia dekati rak buku di mana novel yang sering dibawanya ditaruh kemudian mencoba untuk memegangnya.

"Ahhhh.. Sial!" gerutu Liam kala telapak tangannya menembus buku itu. Ia tidak bisa memegangnya.

"Tanganku menembus buku itu" ucap Liam kepada Eva.

"Coba kau cari benda lain di sekitar tuan Rudi sekarang" pinta Eva. Liam mengiyakan dan segera ia coba buka pintu ruangan.

"Sigh. Pintu terkunci, aku terjebak di ruangan ini" gerutu Liam lagi.

"Kata nyonya Sofia ruang perpustakaan adalah ruangan yang tidak penah terkunci. Jadi sudah pasti pintu itu terkunci karena mental block dan dengan begitu memoarnya ada di sekitar ruang itu" jawab Eva.

Kedua mata Liam segera menelisik seluruh benda yang berada di ruangan. Satu persatu buku ia sentuh namun tidak ada memoar pada kumpulan buku yang ada di sana. Ia senderkan tubuhnya ke rak sembari mengatur ritme nafasnya. Ia pincingkan matanya kala melihat miniatur kereta klasik yang sedari tadi berdiri kokoh yang ditempatkan pada meja besar di tengah ruangan, perlahan ia mendekatkan langkahnya kepada benda tersebut lalu menyentuhnya.

"Ketemu!" seru Liam kegirangan kala benda itu mengeluarkan sebuah getaran ketika bersentuhan dengan telapak tangannya. Segera Liam tekan tombol lain yang berada di gelangnya dan mulai memasuki dimensi lain dari alam bawah sadar Rudi.

To be continued.
kentang euy


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di