alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Sepeda /
"Everything in Between" Perjalanan Panjang Diego Yanuar dan Marlies Fennema
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4e499a8012ae47c23f33af/quoteverything-in-betweenquot-perjalanan-panjang-diego-yanuar-dan-marlies-fennema

"Everything in Between" Perjalanan Panjang Diego Yanuar dan Marlies Fennema


Belanda—Indonesia bukan hal asing di telinga pasangan yang telah menjalin cinta beda negara selama kurang lebih 5 tahun lamanya, Diego Yanuar dan Marlies Fennema.

Dua tahun pertama Diego bahkan sering bolak-balik Belanda—Indonesia demi mengunjungi kekasih hatinya. Tidak jarang Marlies juga melakukan hal sama. Meski dua tahun berikutnya Diego memutuskan untuk tinggal di Belanda untuk melanjutkan pendidikannya di HAN University.

"Everything in Between" Perjalanan Panjang Diego Yanuar dan Marlies Fennema

Namun jarak yang terbentang antar keduanya cukup jadi penghalang untuk menggugurkan rindu. bahkan perjalanan dengan menggunakan burung besi nyatanya tidak membuat mereka puas hati.

Rupanya perjalanan menggunakan pesawat membuat Diego dan Marlies yang punya jiwa petualang sadar. Bahwa banyak hal yang mereka lalui tapi hanya bisa menunggu dan berdiam diri di dalamnya. Hingga suatu hari, Marlies berseloroh pada Diego, “Kenapa kita enggak sepedaan saia dari Belanda ke indonesia? Biar kelihatan semuanya"

Celotehan itu menjadi kenyataan. Diego dan Marlies mulai mempersiapkan semuanya, seperti rute, menabung selama 2 tahun, serta barang yang akan mereka bawa untuk menjelajah dunia. Tepat 2 April 2018, Diego dan Marlies membawa 'Everything ln Between" dalam kayuhan pertamanya. Perjalanan Diego dan Marlies dibagi menjadi tiga bagian. yakni The Smooth Road (Eropa) yang meliputi Belanda, Jerman, Ceko, Austria, Slovakia, Hungaria, Kroasia, Serbia, Romania, Bulgaria, dan Turki. Selanjutnya The Middle Earth (Central Asia) yang meliputi Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgyztan, Nepal, dan India, Terakhir The Homming Come (South East Asia) meliputi Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, dan tentunya Indonesia. Dari Belanda sampai Singapura itu satu daratan, jadi benar—benar bisa pakai sepeda semuanya.

Meskipun begitu. bukan hal mudah melewati tempat baru. budaya baru dengan berbagai macam etnis, suasana baru, makanan baru, hingga bahasa baru bagi Diego dan Marlies. Bahkan, setibanya di perbatasan Serbia dan Romania, Marlies sempat membuat kegaduhan kecil karena kejahilannya.

"Everything in Between" Perjalanan Panjang Diego Yanuar dan Marlies Fennema

Ketika itu polisi penjaga border melihat bendera Belanda berukuran kecil yang tersemat di tas Marlies lalu. 'Marlies sempat bercanda. Belanda kan identik dengan legal ganjanya. terus polisinya nanya ke Marlies. Lo bawa ganja enggak? Sambil bercanda, terus Marlies bilang, Enggak-enggak. Terus mereka tertawa Habis itu ditanya lagi, Bawa ganja enggak? Terus dijawab lagi. Bawa nih 10 kilo.”

Mendengar ungkapan Marlies, pihak kepolisian langsung bergerak dan melakukan pemeriksaan terhadap Marlies dan Diego selama satu Jam Namun mereka berhasil lolos. karena ucapan Marlies memang enggak bisa dibuktikan

Selang dua bulan, tibalah Diego dan Marlies di Turki. Jarak 3.000 km sudah mereka lalui. Di sana mereka dipaksa melihat Kapadokia, tempat wisata yang paling terkenal di Turki, dengan memperlihatkan balon udara di langit—langit Turki Namun rasanya tempat tersebut tidak cocok dengan mereka. Karena perjalanan yang Diego dan Marlies lalui bukan untuk rekreasi.

Akhirnya. tanpa berlama-Iama Diego dan MarlieS kembali mengayuh pedal sepedanya dan menemukan tempat indah untuk membuka tenda, dengan pemandangan gunung Erciyes sebagai pemanja mata. Namun tidak disangka di tengah ketenangannya, mendadak 400 kerbau datang menghampiri tenda mereka.

"Everything in Between" Perjalanan Panjang Diego Yanuar dan Marlies Fennema

Tanpa pikir panjang, Marlies yang ketakutan langsung menyelamatkan diri dan berlari ke bukit yang lebih tinggi karena takut mati. Namun Diego saat itu berpikir kerbau itu tidak akan tiba—tiba menyerang tanpa sebab, apalagi ada penggembalanya
 
Tentu masih banyak rintangan dan kejadian yang telah dilalui selama hamper satu tahun mereka mengayuh sepeda. Jatuh sakit saat perjalanan pun juga dirasakan Marlies. Apalagi perjuangan melalui Negara Tajikistan, yang 93 persen wilayahnya merupakan pegunungan. Jadi begitu masuk border, langsung naik- naik ke atas, titik paling tinggi di 4.655 meter, itu oksigennya sudah tipis banget, Cuma bisa nuntun sepeda 5 langkah berhenti, itu paling berat.

Nyatanya, bukan hal baru bagi keluarga melihat rekam jejak petualangan keduanya Memang tak jarang Marlies dan Diego bersinggungan dengan alam. Andien Aisyah. kakak kandung Diego sempat mengutarakan hal sama mengenai kondisi adiknya yang sedikit berbeda. "Diego unik dan antik. Romantis juga sih Tapi buatku. dia antik dari kecil Bukan antik aneh tapi berbeda dari yang lain. Dari kecil. Kalau bajunya belum rusak. Dia enggak akan beli baju. mungkin yang dia lakukan adalah menjahit Dia enggak senang memperlihatkan yang dia punya'

Yang menarik. ekspedisi yang Diego dan Marlies lalui bukan serta merta untuk kesenangan semata. Mereka juga mendedikasikan perjalanan panjangnya itu untuk menjalankan aksi galang dana dengan menggandeng crowdfunding Kitabisa. Mereka membawa pesan untuk mengharmonisasikan hubungan manusia, tumbuhan, dan hewan selama perjalanan.

"Everything in Between" Perjalanan Panjang Diego Yanuar dan Marlies Fennema

Kampanye "Everything in Between" terus berjalan. hingga 25 Maret 2019 kemarin telah berhasil mengumpulkan Rp 329.758.832. Rencananya, seratus persen dana yang terkumpul akan diberikan pada Yayasan Lestari Sayang Anak, Jakarta Animal Aid
Network, dan Kebun Kumara.


Spoiler for Referensi:





Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di