alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Berita Dunia Hiburan /
Kenapa Doa Kita Tidak Dikabulkan Allah SWT?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4e3bb468cc953adb6cb66b/kenapa-doa-kita-tidak-dikabulkan-allah-swt

Kenapa Doa Kita Tidak Dikabulkan Allah SWT?

Kenapa Doa Kita Tidak Dikabulkan Allah SWT?


Pernahkah kalian berpikir kenapa sih AllahSWT tidak mengabulkan doa kita, padahal sudah mengucapkan kumpulan doa sehati hari agama islam untuk anak pendek lengkap dengan bersungguh-sungguh dan niat yang tulus?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala ditanya tentang orang yang menjadi bahwa doanya lama (atau tidak segera) dikabulkan. Dia berkata, “Sungguh saya sudah berdoa kepada Allah Ta’ala, namun Allah Ta’ala tidak mengabulkannya.”

Penjelasan beliau:

Segala puji bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Aku bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan kawan dekat beliau seluruhnya. Aku menghendaki kepada Allah Ta’ala untukku dan untuk saudara-saudaraku sesama kaum muslimin untuk mendapatkan hidayah taufik supaya aqidah, ucapan dan amal menjadi lurus (shahih).

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِن الذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنمَ دَاخِرِينَ


“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam kondisi hina dina.” (QS. Ghafir [40]: 60)

Orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala, namun tidak dikabulkan, dia pun menjadi rancu (bertanya-tanya) memandang realita yang dia dapatkan disaat dikaitkan bersama dengan janji dalam ayat tersebut. Allah Ta’ala sudah berjanji dalam ayat tersebut bahwa siapa saja yang berdoa kepada-Nya, niscaya akan Allah Ta’ala kabulkan. Dan Allah Ta’ala tidak dulu menyelisihi janji-Nya.

Syarat pertama
Ikhlas kepada Allah Ta’ala, yakni seseorang memurnikan niatnya dalam berdoa untuk menghadap Allah Ta’ala, bersama dengan hati yang khusyuk, jujur dalam bersandar kepada-Nya. Dia mengilmui bahwa Allah Ta’ala berkuasa untuk mengabulkan doanya dan dia terlalu menghendaki supaya doanya dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Syarat ke dua
Seseorang menjadi disaat berdoa bahwa dia berada dalam kondisi mendesak untuk dikabulkannya doa tersebut, apalagi dalam kondisi paling darurat. Dan Allah Ta’ala saja cuma satu yang bisa mengabulkan doa orang-orang yang dalam kondisi terdesak (kesulitan) disaat berdoa kepada-Nya dan yang menyingkirkan kesusahan.

Adapun orang-orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala, namun dia menjadi tidak perlu Allah Ta’ala dan tidak menjadi dalam kondisi mendesak, (misalnya) dia berdoa sekedar karena tradisi (adat) semata atau untuk coba-coba (siapa jelas dikabulkan), maka doa semacam ini tidaklah layak untuk dikabulkan.

Syarat ketiga
Dia jauhi makanan haram. Karena sesungguhnya makanan haram adalah penghalang pada doa seorang hamba bersama dengan pengkabulan doa. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits yang valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau bersabda,

إِن اللهَ طَيبٌ لَا يَقْبَلُ إِلا طَيبًا، وَإِن اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: يَا أَيهَا الرسُلُ كُلُوا مِنَ الطيبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِني بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ [المؤمنون: 51] وَقَالَ: يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ [البقرة: 172] ثُم ذَكَرَ الرجُلَ يُطِيلُ السفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُد يَدَيْهِ إِلَى السمَاءِ، يَا رَب، يَا رَب، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟


“Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidaklah terima jika yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin sebagaimana perintah kepada para Rasul, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di pada rizki yang baik-baik yang kami memberikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika terlalu kepada-Nya anda menyembah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 172)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang melaksanakan perjalanan jauh, rambutnya kusut (acak-acakan) dan berdebu, dia menengadahkan ke dua tangannya ke atas (sambil mengatakan), “Ya Rabb, Ya Rabb”, namun makanannya berasal dari yang haram, pakaiannya berasal dari yang haram, dan tumbuh dari yang haram. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bagaimana bisa saja doanya tersebut dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai terlalu kecilnya bisa saja doa orang tersebut dikabulkan. Padahal orang tersebut sudah menempuh sebab-sebab dzahir yang amat mungkin doanya untuk dikabulkan, yaitu:

Pertama, mengangkat ke dua tangan ke atas, yakni menuju Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala berada di atas, istiwa’ di atas ‘arsy-Nya. Mengangkat ke dua tangan ke atas termasuk karena pengkabulan doa sebagaimana terdapat dalam hadits,

إِن اللهَ حَيِي كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي من عبده إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Allah Ta’ala malu kepada hamba-Nya yang mengangkat dua tangannya kepada-Nya, namun lagi dalam kondisi kosong (yaitu, tidak dikabulkan).” (HR. Tirmidzi no. 3556, Abu Dawud no. 1488, Ibnu Majah no. 3865)

Kedua, orang tersebut berdoa kepada Allah bersama dengan menyebut nama Allah “Ar-Rabb”, yakni bersama dengan memanggil “Ya Rabb, Ya Rabb”.

Tawassul kepada Allah Ta’ala bersama dengan (menyebut) nama Allah Ta’ala tersebut merupakan karena pengkabulan doa. Karena Rabb merupakan pencipta, raja, yang menyesuaikan seluruh urusan, dan pengaturan langit dan bumi berada di tangan-Nya.

Oleh karena itu, kami jumpai mayoritas lafadz doa yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah bersama dengan menggunakan nama Allah Ta’ala ini,

رَبنَا إِننَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبكُمْ فَآمَنا رَبنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفرْ عَنا سَيئَاتِنَا وَتَوَفنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ؛ رَبنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ؛ فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبهُمْ أَني لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفرَن عَنْهُمْ سَيئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنهُمْ جَناتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللهِ وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثوَابِ


“Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah anda kepada Tuhanmu”, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

Ya Rabb kami, berilah kami apa yang sudah Engkau janjikan kepada kami bersama dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di pada kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) lebih dari satu anda adalah turunan dari lebih dari satu yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 193-195).

Ketiga, orang tersebut melaksanakan safar (perjalanan jauh). Mayoritas kondisi orang yang sedang safar adalah karena pengkabulan doa. Hal ini karena orang yang sedang safar (misalnya bersama dengan pesawat, pent.) menjadi terlalu butuh Allah Ta’ala. Merasa terlalu butuhnya seorang hamba kepada-Nya disaat safar itu lebih besar daripada disaat sedang dalam kondisi tidak safar, terlebih di zaman dahulu.

“Rambutnya kusut acak-acakan dan berdebu”, seolah-olah dia tidak memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Karena keperluan yang lebih penting daripada itu adalah bersandar kepada Allah Ta’ala, dan berdoa kepada-Nya, apa pun kondisinya, baik dalam kondisi kusut dan berdebu, atau dalam dalam kondisi nyaman. Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sore hari disaat hari Arafah, membanggakan orang-orang yang wukuf di Arafah di depan malaikat. Allah Ta’ala berkata,

أتوني شعثا غبرا ضاحين من كل فج عميق


“Mereka mendatangiku dalam kondisi kusut, berdebu, berlangsung dari seluruh daerah yang jauh.”

Sebab-sebab pengkabulan doa ini tidaklah berfaidah sedikit pun disaat makanannya haram, pakaiannya haram dan dia pun tumbuh dari barang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَنى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟


“Bagaimana bisa saja doanya dikabulkan?”

Oleh karena itu, wahai saudaraku, hendaklah kalian melafalkan doa sehari hari kepada Allah Ta’ala, dalam tiap-tiap urusanmu, baik yang umum atau yang khusus, yang susah atau yang mudah. Jika tidak tersedia dalam doamu jika itu adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, maka itu sudah layak bagi seseorang untuk bersemangat di dalamnya. Wallahul muwaffiq.
Diubah oleh yukampus
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di