alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4e34bdc820840bd0425a04/pengembangan-kemitraan-dalam-peningkatan-potensi-perempuan-penghayat-kepercayaan

Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan

Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME

Selasa, 6 Agustus 2019 21:31



 



Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan

TRIBUN BALI/NOVIANA WINDRI



Peserta kegiatan "Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa" 



Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dirjen Kebudayaan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi menggelar kegiatan bertajuk "Pengembangan Kemitraan dalam Peningkatan Potensi Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa".

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum menjelaskan, kegiatan yang dilatarbelakangi dari potensi dan kompetensi yang dimiliki penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dinilai belum tergali dengan optimal.

Sejalan dengan perlakuan dan persepsi "negatif" yang ada di masyarakat tentang penghayat kepercayaan Tuhan YME.

Sehingga para penganut penghayat kurang memiliki cukup akses terhadap masyarakat luas terkait pengembangan potensinya.

"Saat ini, sudah seharusnya para perempuan penghayat itu tampil ke depan. Dalam arti, mereka bisa menjadi sosok yang penting dalam segala hal. Keberadaan penghayat juga ada peran serta para kaum perempuannya," jelasnya.

Kegiatan ini merupakan langkah pengoptimalisasi pengembangan potensi dan kompetensi yang dimiliki penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Dengan tujuan memfasilitasi potensi-potensi yang ada dalam diri penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dengan cara menghubungkan potensi tersebut dengan komunitas lain di luar komunitas penghayat.

"Kami punya kewajiban untuk memberdayakan mereka. Kita beri penguatan ekonomi, sosial, dan budaya. Di sinilah perempuan penghayat ditantang untuk berkiprah mengatasi regenerasi yang ada di organisasi," tambahnya.

Lebih lanjut, pihaknya mengatakan bahwa peran perempuan penghayat juga sangat tinggi dan mempunyai pengaruh besar terutama dalam hal regenerasi organisasi penghayat.

"Kami berharap dengan kegiatan ini dapat meningkatkan peran serta perempuan penghayat kepercayaan Tuhan YME dan dapat berperan sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan berkelanjutan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," pungkasnya.

Sementara, Kelapa Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana menilai kegiatan tersebut merupakan langkah strategis mempersiapkan para penghayat dalam menghadapi perkembangan zaman.

Serta menumbuhkan jati diri guna menghindari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan zaman.

"Saya berharap tradisi yang diwariskan oleh para leluhur jangan sampai terkikis. Untuk para peserta diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk menambahkan wawasan pengetahuan dan dapat dijadikan wadah untuk bertukar pikiran serta pengalaman diantara peserta,"

Kegiatan yang digelar ketiga kalinya ini berlangsung mulai Selasa-Jumat (6-9/8/2019) di Golden Tulip Sunset Road, Kuta, Selasa (6/8/2019).

Dengan narasumber diantaranya Dra. Christriyati Ariani, M.Hum (Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi), Dr. Marlinda Irwanti Poernomo, SE, M.Si (Anggota Komisi X DPR RI), Dra. Sri Hartini, M.Si (Sekretaris Dirjen Kebudayaan), Dian Jennie (Ketua Puan Hayati Pusat), Dr. Abdul Latif Bustami (akademisi).

Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM), Putu Sri Wahyu Ekaningsih (Branch Manager PT. Bank Danamon Indonesia, TBK), dan Putu Sri Wahyu Ekaningsih (Branch Manager PT. Bank Danamon).

Diikuti oleh 110 peserta dari 90 organisasi penghayat dari provinsi Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Barat.

Sebelumnya, kegiatan dilaksanakan di Surabaya pada tahun 2016 dan Semarang pada tahun 2017. (*)

https://bali.tribunnews.com/2019/08/...n-yme?page=all

Baguslah, sudah mulai sadar bangsa ini
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Seharusnya kinerja orang tidak berkaitan dengan kepercayaannya.
Tapi... ini Indonesia, dengan kaum indonnya....
“Ketika anak-anak kami lahir seolah-olah perkimpoian kami dianggap liar, otomatis dalam akte kelahiran itu hanya tercantum anak dari seorang perempuan. Bahkan dalam akte kelahiran, kalaupun ada nama bapak, itu tercantum redaksinya adalah diatas pengakuan akta anak. Jadi bapak biologis itu harus menandatangani surat pernyataan, bahwa itu bukan anak aslinya tapi anak angkat” beber Dewi Kanti, seorang penganut Sunda Wiwitan dalam Debat TvOne tanggal 9 Desember 2013.

Menurutnya, yang terpenting bukanlah pengakuan sebagai agama, melainkan perlindungan hak-hak mereka sebagai warga negara, dalam hal ini melestarikan ajaran leluhurnya. Yang dipertanyakan adalah mengapa para penghayat tidak bisa memunculkan identitas mereka dalam KTP.

Dewi memang kurang sependapat mengenai pengosongan kolom agama bagi para penghayat. Menurutnya, ketika kolom agama diberi tanda “-“ akan memberikan stigma memberikan kesan “tidak bertuhan” kepada mereka. Ditambah pemahaman kebanyakan masyarakat bahwa penganut kepercayaan tidak beragama. Stigma inilah yang memberi tekanan psikis sehingga para penghayat kesulitan menanamkan spiritualitas leluhur kepada anak-anak mereka. Padahal menurutnya, Sunda Wiwitan adalah tuntunan hidup yang bagi mereka adalah Agama.

Dewi menambahkan, di Indonesia ada banyak Agama lokal yang sudah ada sebelum negara ini ada. “Agama ini bukanlah Agama yang baru muncul dan harus didaftar. Agama ini atau keyakinan kami ada sebelum republik ini ada. Jadi untuk apa mendaftar ulang?” tambah Dewi.

https://www.kompasiana.com/kaptenkan...-rumah-sendiri

#dewikanti #sundawiwitan #cigugur #kuningan #penghayatkepercayaan #kolomagama #ktp #tolakpenjajahanbudaya #gerakannasionalbudayanusantara
Indonesia.go.id

1. Sudah berlangsung setahun terakhir

Kepala Dispermadescapil Jateng, Sugeng Riyanto mengungkapkan, dari data yang dihimpun oleh dinas setahun terakhir atau sejak diterbitkannya Permendagri Nomor 118 Tahun 2018 tentang blangko keluarga dan pencatatan sipil, jumlah warga penghayat yang sudah mengantongi e-KTP saat ini sebanyak 911 orang.

"Jumlah keseluruhan penghayat yang sudah ber-KTP elektronik di wilayah kami saat ini ada sekitar 911 orang. Lalu yang sudah mengurus perubahan kartu keluarganya sebanyak 425 orang. Mungkin dia Islam atau Kristen, maka berimbas pada KK yang harus berubah. Aturannya seperti pada umumnya yaitu ketika e-KTP dirubah maka KK-nya juga harus dirubah," kata Sugeng saat berbincang dengan IDN Times, Selasa (20/8).

https://jateng.idntimes.com/news/jat...ebarannya/full

#penghayatkepercayaan #penganutkepercayaan #kolomagama #ktp #islamktp #indonesiamayoritasislam #gerakannasionalbudayanusantara #tolakpenjajahanbudaya


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di