alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4d842e349d0f2d64193101/lorong-kampus

Lorong Kampus

Lorong Kampus


"Lil anter gue ke toilet yuk?"

Aku menghampiri Ulil sahabat karibku di ruang kampusnya, Ulil yang sedang asik mendengarkan musik dari laptopnya dengan mengenakan headset rupanya tidak mendengar teriakanku.

"Lil.. "

Aku menempuk bahu Ulil, perempuan berbadan tinggi dan sedikit gemuk dengan pipinya yang chubby seketika langsung menatapku dengan tatapan kurang berkenan.

"Apaan sih Nis? Bikin kaget aja lo!"

Ulil terlihat kesal karena aku telah mengagetkannya.

"Gue minta anter ke toilet, udah kebelet nih!"

Aku memasang wajah memelas ke arah Ulil.

"Ya ampun, ini siang kali Nis, ngapain juga ke toilet minta anter sama gue."

Ulil kembali menatapku aneh, wajahnya terlihat jutek sekali.

"Gue takut Lil, lo tau sendirikan toilet kampus adanya di ujung lorong gitu!"

Aku kembali membujuk Ulil agar mau mengantarkan aku ke toilet kampus sebentar saja.

"Takut kenapa sih? Gue kalau ke toilet sendirian gak ada apa-apa kok!"

Ulil kembali memasang headsetnya dan memutar lagu All I ask dari Adele, mataku tertuju pada laptop Ulil yang masih menyala.

"Lil tolong gue, gue udah gak tahan banget nih!"

Aku kembali menepuk bahu Ulil dan Ulil kembali menatapku dengan tatapan jengkel.

"Nisrina, Lo tuh emang dari dulu penakut banget ya?"

Ulil berdiri, dan berjalan terlebih dahulu ke toilet yang berada di lorong kampus.

"Tungguin gue dong Lil, Lo jalan cepet banget sih?"

Aku mengejar langkah Ulil, Ulil semakin mempercepat langkahnya.

"Buruan gue mau ada kelas lagi Nis, dosennya galak nih!"

Setelah tiba di toilet aku segera masuk ke dalam bilik toilet, sementara Ulil menunggu di luar bilik toilet sambil sesekali berkaca di cermin dan bersenandung lagu All I ask Adele.

"Nis, udah belum? Buruan dong, gue masih ada kelas nih!"

Ulil berteriak, aku yang sedang buang air besar berkata sambil meringis.

"Sabar Lil, sumpah deh perut gue mules banget , gue tadi beli rujak bebeg, gue lupa belum makan nasi dari pagi, gak sempet sarapan gue!"

Aku memegang perutku dan menahan rasa sakit.

"Jadi lo Pup? Pantes banget baunya sampe ke sini!"

Aku bisa membayangkan pasti Ulil langsung menutup hidungnya, Pup aku sedikit encer sepertinya aku bener-bener sakit perut, melilit sekali.

"Gue tinggal ya? Kuliah gue udah mau mulai nih!"

Seperti biasa Ulil selalu tidak sabaran, aku segera menekan tombol push pada closet.

"Udah kok, bentar Lil please jangan tinggalin gue!"

Sebenarnya aku masih ingin buang air besar, tapi mau gimana lagi Ulil rasanya sedikit keberatan jika harus menunggu aku lebih lama lagi.

"Makanya lain kali itu jajan yang pasti-pasti aja, udah tau belum makan nasi segala jajan rujak!"

Suara Ulil terdengar menggerutu, bukannya kasih aku minyak kayu putih malah ngomelin aku.

"Kayanya gue langsung balik aja deh Lil, asli perut gue bener-bener sakit banget!"

Aku memutuskan untuk ijin dari kelas berikutnya, seperti biasa Ulil berjalan dengan sangat cepat, aku kembali mengejar langkah kaki Ulil, entah mengapa aku sangat tidak menyukai berjalan di lorong kampus ini.

"Lil tunggu dong, lo biasa banget kalau jalan cepet-cepet deh!"

Aku berteriak ke arah Ulil yang sudah hampir mendekati pintu kelas kampusnya, Ulil memang terkenal pintar di kampus ini, dia tidak pernah absen mengikuti semua mata kuliah, mungkin karena itu juga dia berjalan tergesa-gesa, aku yang beda kelas dengan Ulil langsung menuju kelasku mengambil tas dan segera pulang menuju rumah.

"Lil makasih ya udah temenin gue ke toilet!"

Aku berteriak ke arah Ulil yang sudah memasuki pintu kelas, Ulil hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

"Mbak Nisrina bukan?"

Bapak ojol sudah menantiku, ketika aku keluar dari gerbang kampus.

"Iya Pak, tolong bawa motornya agak ngebut sedikit ya pak? Perut saya mules!"

Aku memakai helm berwarna hijau yang diberikan oleh Bapak Ojol.

***

"Nisrina ada Ulil nih.. "

Suara Bunda terdengar berteriak ke kamarku, aku yang hari ini memang tidak masuk kuliah dikarenakan lemas akibat buang-buang air kemarin, memutuskan untuk beristirahat seharian di dalam kamar.

"Langsung ke kamarnya aja deh Lil, Nisrina masih lemes mungkin!"

Aku mendengar suara Bunda untuk menyuruh Ulil ke kamarku, sebenarnya aku sedikit kesal dengan sikap Ulil kemarin waktu aku minta temani ke toilet, jutek banget.

"Makasih tante, aku langsung ke kamar Nisrina ya!"

Terdengar suara langkah kaki Ulil mendekati kamar, dan tidak berapa lama terdengar suara pintu kamar di buka.

"Nis, jangan pura-pura tidur deh!"

Masih saja Ulil seenaknya mengejek aku.

"Siapa juga yang pura-pura tidur, gue lemes Lil!"

Aku menjawab ketus dan membalikkan badan ku membelakangi Ulil, Ulil duduk di pinggir kasur.

"Biasa aja dong jawabnya, jutek banget sih?"

Ulil menepuk pantatku sambil tertawa ringan, spontan saja aku langsung membalikkan badanku dan menatap wajah Ulil yang tidak merasa punya salah atas sikapnya yang nyebelin kemarin.

"Hah? Gak salah lo ngatain gue jutek? Ngaca dong yang jutek itu siapa? Tibang gue minta anter ke toilet kampus aja muka lo langsung nyolotin!"

Ulil terbangun dari ranjangku, aku masih meringis sesekali menahan perut yang masih terasa mulesnya.

"Oh jadi gegara itu lo kesel sama gue?"

Ulil menatap wajahku, aku membuang pandanganku ke luar jendela kamar.

"Maafin gue Nis, kemarin itu gue sebenarnya lagi bete, lagi kesel, lagi nyolot, ah pokoknya perasaan gue campur aduk deh!"

Ulil menarik kursi meja belajarku, dia duduk di kursi berwarna hijau dan wajahnya seketika terlihat murung.

"Tanya dong Nis, kenapa lo?"

Kali ini Ulil sepertinya terlihat caper padaku. Dasar gendut bisikku dalam hati.

"Kenapa emangnya?"

Akhirnya akupun melontarkan pertanyaan itu, meski aku sendiri sebel kalau ingat sikap Ulil kemarin, tapi aku tahu pada dasarnya Ulil itu sahabat yang baik dan setia kawan.

"Biasa Nis, Panji kenapa ya? Gue masih suka uring2an gak jelas gitu sama dia!"

Sudah aku tebak, pasti Panji yang membuat Ulil seperti ini, sebenarnya Aku Nisrina Damayanti, Ulil, Panji, Bagus, juga Bahtiar yang akrab di panggil Tiar adalah sahabatan, entah kenapa awal memasuki semester ke empat ini Ulil dan Panji malah sering jalan berdua dibanding bersama-sama kita, besar kemungkinan mereka sama-sama saling menyukai, sahabat jadi cinta begitulah kira-kira judul dari sebuah lagu.

"Masih aja lo baperan sama Panji?"

Aku bertanya singkat ke arah Ulil, Ulil sesekali memainkan rautan pensilku yang tergeletak di meja belajar, dia putar-putar gagang rautan itu.

"Lo, Bagus, juga Tiar pasti ngiranya gue pacaran sama Panji ya?"

Ulil berbicara dengan nada datar, tapi seperti mencari tahu pandangan kami terhadap hubungan mereka.

"Emangnya kenapa kalau lo sama Panji jadian? Sah-sah ajakan? Lo jomlo Panji juga jomlo, apalagi kita sahabatan setidaknya kita udah saling tahulah baik buruknya kita gimana!"

Kali ini aku berbicara serius ke arah Ulil, wajah Ulil mulai tampak berubah, Ulil tersenyum kearahku.

"Gimana ya Nis? Jujur sih gue juga sebenarnya suka sama Panji, tapi gue ngerasa Panji gak pernah bilang sesuatu ke gue, sikap dia juga biasa aja ke gue, sama aja seperti halnya lo bersikap sama gue, Bagus atau Tiar bersikap ke gue, gak ada yang spesial!"

Nada bicara Ulil mulai sedikit cepat, ada kegusaran dalam suaranya.

"Tapi tuh Nis yang bikin gue sewot sama Panji setiap kali gue deket sama cowok lain, dia nanya-nanya detail banget udah kaya bokap gue aja!"

"Contohnya kejadian seminggu yang lalu, gue pulang bareng sama Yoga anak hukum, masa Panji ke esokan harinya nyamperin gue, terus nanya-nanya gitu."

Ulil berdiri kemudian berjalan seakan dia menirukan gaya Panji yang menghampirinya.

"Lo kemarin pulang di anter siapa Lil?"

"Kenapa emangnya? Jawab gue ketus Nis.

"Gue kenal tuh anak hukum, yang pasti masih lebih keren guelah!"

"Apaan si lo Ji, gak jelas banget!" gue sewot dong Nis.

"Nah dari situ gue bete gegara si Panji beruang kutub itu, apa coba maksudnya dia ngomong dan nanya-nanya begitu? Gue mau balik sama siapa kek, ngapain juga dia keppo!"

Suara Ulil semakin terdengar gusar, entah mengapa dia begitu terlihat jengkel.

"Gue haus Nis, air lo gue minum ya? Mulut lo gak mengandung viruskan?"

Ulil menenggak air mineral yang masih tersisa setengah botol, seperti biasa dia kalau lagi badmood ngomongnya suka nyelekit, keselnya ke siapa nyolotnya ke siapa, Huh bikin gue ikutan badmood aja, mana perut masih sakit, mau buang angin takut Ulil makin ngamuk.

"Itu artinya Panji cemburu lihat lo pulang bareng cowok lain!"

Aku mengambil tisu yang berada di meja belajar, lalu mengelap pinggiran botol yang bekas di tenggak Ulil.

"Sorry Lil, gue lap dulu bekas mulut lo, takutnya gue ketularan nyinyir kek lo!"

Aku kembali mengejek Ulil yang sebelumnya telah mengejek aku dengan menanyakan aku ada virus gak dari mulut.

Syukurlah Bunda gak denger, kalau denger aku jamin si Ulil gendut ini pasti di ceramahin Bunda.

"Cemburu? Apa urusannya dia cemburu sama gue? Cowok gue bukan?"

Ulil yang masih berdiri sejak memperagakan gayanya Panji, kembali menarik kursi meja belajarku, dia kembali duduk dan memainkan rautan pensilku.

"Urusannya ya karena Panji suka sama lo, sayang sama lo, kalau dia gak punya perasaan itu ngapain juga dia harus cemburu sama lo, bedon lo ah!"

Aku tertawa puas karena berhasil mengatakan Ulil bedon alias bodoh, entah mengapa kali ini aku memang geli sendiri melihat wajah Ulil yang kesel gak jelas, belum lagi kalau ingat waktu dia selesai nganter aku ke toilet kampus, aku teriak makasih dia cuma ngangkat tangan kanannya, belagu bener!

"Gak tau ah Nis, pokoknya gue bete aja sama mahluk gak jelas yang bernama Panji Pratama Mahesa itu, nyesel banget gue bisa sahabatan sama orang kaya gitu!"
Aku semakin tertawa terbahak-bahak mendengar Ulil menyebut nama lengkap Panji, kesel sih kesel tapi gak usah nyebut nama lengkapnya juga kali, gerutuku dalam hati.

"Kenapa lo ketawa? Ada yang lucu?"

Ulil kembali menatapku aneh, seketika aku menutup hidungku.

"Gue habis buang angin Lil, ke cium gak baunya yang super dahsyat?"

Ulil langsung berjalan ke luar pintu kamar sambil menutup hidungnya dan akupun tertawa kian terbahak.

***

Tiba di kampus aku melihat Panji, Bagus, sama Tiar duduk di halaman kampus tepat dibawah pohon ceri yang rindang, tapi aku tidak melihat Ulil sama sekali, Ulil ini sebenarnya nama panggilan di kampus, nama aslinya Alia Sabrina Irawan,  berhubung di kampus banyak yang panggilannya Lia maka kami memutuskan untuk memanggilnya Ulil, mau panggil Ali kan gak enak di denger, di panggil Sabrina ribet, di panggil Irawan itukan nama belakang Bokapnya Ulil, maka jadilah Alia Sabrina Irawan di panggil Ulil, dan panggilan ini cukup terkenal di kampus kami, karena Ulil memang aktif di berbagai kegiatan kampus, belum lagi kecerdasannya yang banyak dikagumi para dosen, gak heran kalau Ulil ini mahasiswi kesayangan dosen-dosen di kampus ini.

"Sudah enakkan Nis?"

Panji adalah orang yang pertama kali menyapaku.

"Mendinganlah Ji, asli deh kemarin itu gue lemes banget gegara buang-buang air terus!"

Aku mengambil botol dari dalam tas ranselku, cuaca mulai terasa panas.

"Jangan Makan rujak Nis, nanti moncrot lagi!"

Bagus berkata ke arahku, aku yang sedang minum air mineral menggelengkan kepala.

"Gak lah, kapok gue Gus, btw si Ulil kemana? Kok gak kelihatan dari tadi?"

Aku menatap Panji, Bagus, juga Tiar.

"Tau tuh Ulil, akhir-akhir ini dia susah kita ajak nongkrong bareng, kenapa ya?"

Suara Bahtiar terdengar bertanya tanya.

"Ulilkan emang gitu Yar, nanti juga dia bakal nyamperin kita sendiri!"

Aku melirik ke arah Tiar, Bagus terlihat tersenyum, sementara Panji memalingkan pandangannya.

"Gue ke kelas duluan ya, cuaca mulai panas nih!"

Panji berkata kepada kami semua, lalu dia berjalan ke ruang kelasnya di lantai 4, kami adalah mahasiswa di fakultas sastra, Ulil dan Panji di jurusan sastra inggris, sementara aku, Bagus dan Tiar di jurusan sastra jepang persahabatan kami dari SMA berlanjut hingga kuliah.

"Salam sama Ulil Ji, bilangin nanti pulangnya suruh tunggu gue di kantin Mbak Gendis.

Aku berteriak ke arah Panji yang sudah menaiki tangga ke lantai 4.

"Tumben banget si Ulil gak mau gabung sama kita-kita?"

Bisikku dalam hati, akupun berjalan menuju kelasku bersama Bagus dan Tiar yang terletak di lantai 3.

***

"Kak Ulil ya?"

Suara seorang mahasiswi cantik tiba-tiba menyapaku di toilet kampus.

"Iya betul, maaf kamu siapa?"

Aku mencuci tangan di wastafel sambil sesekali berkaca, mahasiswi cantik itu berdiri di pojok tembok kamar mandi.

"Ka Ulil deket ya sama ka Panji?"

Mahasiswi cantik itu bertanya yang membuat aku sedikit terperanjat.

"Hah? Panji ? Panji Pratama Mahesa?"

Aku memastikan nama Panji agar lebih jelas siapa yang di maksud gadis berambut pirang ini.

"Iya ka, Panji anak sastra inggris, kakak jugakan?"

Mahasiswi cantik berbadan putih, langsing dengan rambut sebahu itu kembali memastikan Panji yang dia maksudkan.

"Iya, kenapa memang?"

Aku kembali memandang gadis cantik itu, sepertinya dia mahasiswi yang baru masuk, aku belum pernah sebelumnya melihat gadis ini.

"Gak apa-apa ka, aku suka saja dengan gayanya ka Panji!"

Gadis itu terlihat tersipu malu dengan perkataannya sendiri.

"Oh jadi kamu suka sama Panji? Ngomong langsung aja, mau gue kasih No WAnya?

Aku kembali berkaca pada cermin yang berada di dinding toilet kampus, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku.

"Lil, gue cariin dari tadi, rupanya loe di sini?"

Suara Nisrina terdengar terengah-engah pasti dia lari lantaran takut melewati lorong toilet.

"Iya gue habis pipis, terus ketemu anak baru yang ternyata fansnya Panji!"

Aku memakai lipstik dan merapihkan kerudunganku yang sedikit berantakan.

"Anak baru siapa maksud lo?"

Suara Nisrina terdengar penasaran.

"Siapa nama lo? Perkenalkan dong, gue Ulil dan ini sahabat gue Nisrina, dia sahabatan juga kok sama Panji!"

Aku merapihkan semua peralatan make up dan memasukan kedalam tas.

"Lil, Lo ngomong sama siapa sih?"

Nisrina menghampiriku, tangannya mulai menggandeng tanganku dengan pegangan cukup kuat, dasar penakut.

"Gadis di sudut tembok itu Nis, rupanya naksir Panji!"

Aku menunjuk ke arah tempat dimana si gadis cantik itu berdiri.

"Loh kemana tuh cewek? Kok gak ada?"

Aku mencari-cari gadis berambut sebahu tadi ke seluruh bilik toilet.

"Lil, jangan bikin gue merinding dong, dari awal gue datang ke sini, lo emang udah sendirian!"

Seperti biasa Nisrina terus menggandeng tanganku dan mengikuti aku membuka satu persatu pintu kamar mandi yang berjumlah 8 pintu dan saling berhadapan, 4 pintu di sebelah kanan, 4 pintunya sebelah kiri.

"Serius Nis, tadi itu ada gadis usianya dibawah kita setahun, dia nanya ke gue apakah gue kenal sama Panji?"

Aku masih penasaran, dan kembali memastikan bahwa di dalam bilik toilet tidak ada orang satupun.

"Lo gak ngeliat pas lo masuk toilet ada cewek keluar gitu?"

Aku berkata pada Nisrina namun tak ada jawaban, tanganku sudah tidak terasa di gandeng, benar saja rupanya Nisrina langsung kabur terbirit-birit, dasar penakut!

Aku berjalan ke luar dari kampus, entah mengapa aku merasa aneh kampus terlihat sangat sepi, akupun terus berjalan, ketika melewati ruangan depan auditorium aku melihat Nisrina sedang ngobrol dengan Bagus juga Tiar. Aku menghampiri mereka bertiga.

"Nis, gak sopan lo main ninggalin gue aja dari toilet, giliran lo minta anter ke toilet aja paling gak mau kalau gue tinggalin!"

Dengan sedikit rasa jengkel aku berkata pada Nisrina yang entah sedang membahas apa bersama Bagus dan Tiar.

"Toilet? Siapa yang ke Toilet?

Nisrina menatapku dengan tatapan anehnya. Begitu juga dengan Bagus dan Tiar.

***

[bersambung]
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan youmi.sr memberi reputasi
Diubah oleh PakDheBob
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Sore ini pukul 16.17 WIB, aku masih berada di kampus, sebagai salah satu mahasiswi yang aktif di berbagai kegiatan kampus aku suka kelelahan sendiri, bulan depan kampus aku akan mengadakan event pentas seni, dari drama musikal, pembacaan puisi, pantomim, juga musik, aku sebagai salah satu panitia event acara akhir-akhir ini selalu pulang malam, belum lagi waktuku sebagai guru private di salah satu tempat les bahasa inggris di daerah cinere, dari awal kuliah aku memang sudah membiayai kuliahku sendiri, maklum mamahku seorang single parent, dan adikku banyak, sekedar meringankan beban Mamah aku selalu mencari kerja tambahan apapun itu, yang penting halal.

"Lil, Mau balik bareng gak?"

Suara Panji terdengar menyapaku, aku yang sedang mengetik proposal untuk diajukan ke purek atau pembantu rektor buat event pentas seni di ruang kelas sastra inggris menatap wajah Panji dengan perasaan yang tidak karuan, hampir dua minggu aku tidak tegur sapa dengan dia, sengaja aku menghindar agar aku tidak terus-terusan baper sendiri, aku juga jadi malas nongkrong-nongkrong sama Nisrina, Bagus, juga Tiar, pokoknya sebisa mungkin aku menghindar jika ada Panji.

"Kerjaan gue masih banyak banget Ji, lo kalau mau balik duluan aja!"

Aku melanjutkan mengetik proposal pada laptopku.

"Lanjut besok aja kali Lil, bentar lagi magrib lo gak iseng apa di kampus sendirian?"

Panji menghampiriku, dia duduk tepat di sebelahku.

"Gaklah, ngapain harus takut sih? Eh lo jangan lupa alat sound system di tanyain, kalau bisa tawarlah harga sewanya jangan mahal-mahal Ji, anggaran kita minim nih!"

Panji yang aku minta untuk membantu mempersiapkan segala keperluan sound system buat acara pentas seni bulan depan tersenyum kearahku, sambil mengelus kepalaku dia berkata.

"Iya, gue usahain Lil, ya udah gue balik duluan ya?"

"Ho'oh.. Hati-hati Ji!"

Panji berjalan ke luar pintu, badannya yang tinggi besar dengan rambut kriwilnya berjalan tegap, aku terus menatap Panji berjalan keluar, entah mengapa aku selalu suka dengan parfum yang dia pakai.

"Oh iya Ji..!"

Aku spontan memanggil namanya, Panji yang sudah berada di luar pintu menoleh ke arahku, dan kembali menghampiriku meski tidak sampai di kursi tempatku duduk.

"Iya sayang, ada apa?"

Panji menjawab dengan gaya tengilnya, kadang suka kesel kalau dia bersikap seperti ini, wajar saja kalau anak-anak satu kampus mengira aku dan Panji pacaran, karena si Panji beruang kutub ini sok banget suka tebar pesona ke aku gitu, tapi aku senang bukan main kalau dia sudah panggil aku dengan sebutan sayang, meski sedikit genit Panji tidak pernah berkata sayang pada cewek-cewek di kampus ini.

"Lo kenal sama cewek rambutnya sebahu warnanya sedikit pirang, kulitnya putih bersih, badannya kecil tapi kurus gitu?"

Aku teringat dengan cewek yang pernah aku temui beberapa hari lalu di kamar mandi kampus.

"Namanya siapa? Cewek-cewek di kampus kan banyak yang kenal gue Lil!"

Seperti biasa jawaban Panji selalu bikin kesel.

"Gue gak sempet nanya namanya, yang pasti dia nanyain lo!"

Aku menjawab ketus, dan mengalihkan pandanganku ke laptop yang masih menyala.

"Nanya gimana?"

Akhirnya Panji menghampiriku, dan kembali duduk di sebelahku.

"Dia nanya gue bener gak temen lo, ya gue jawab iya!"

Aku kembali mengetik proposal event, meski acara ini buat kelangsungan kampus tetap saja prosedurnya ribet sendiri, aku harus minta persetujuan tanda tangan beberapa purek bahkan rektor.

"Lo ketemu cewek itu di mana emang?"

Panji sepertinya mulai penasaran dengan cewek berambut sebahu itu.

"Waktu itu gue lagi di toilet, gak tau gimana ceritanya tau-tau tuh cewek ada di kamar toilet juga.

"Menurut lo, dia anak jurusan apa?"

Panji bertanya padaku, wajahnya terlihat serius.

"Gue sih belum pernah lihat sebelumnya, bisa jadi dia anak baru!"

"Maksud lo? Anak yang baru masuk kampus kita?"

Panji menggeser kursinya mendekat ke arahku.

"Iyalah.. Lo kenal gak?"

Aku mulai sebal dengan jawaban Panji yang terkesan menutupi sesuatu.

"Gue sih gak kenal, tapi kalau gue mau ke toilet cowok kayanya gue pernah lihat ciri-ciri cewek yang lo sebutin tadi Lil, dia memang suka berdiri di lorong arah mau ke toilet cewek deket tangga, tapi ngapain dia nanyain gue ya?"

Braaakkkk...

Terdengar suara pintu kelas tertutup dengan sangat kerasnya, aku dan Panji jelas saja kaget bukan kepalang.

"Duuhh Lo si Lil segala bahas yang kaya begini, jantung gue mau copot rasanya!"

Wajah Panji terlihat pucat, dia mengelus-ngelus dadanya.

"Dasar cowok penakut, angin kali Ji..! "

Aku juga sebenarnya kaget, hanya saja aku tidak ingin menunjukan rasa takut ini ke Panji.

"Udah mau magrib Lil, mending besok aja lo lanjutin ngetik proposalnya, balik yuk!"

Panji masih membujuk agar aku mau di anter balik, akupun segera mematikan laptopku, aku melihat jam digital pada layar laptop sudah menunjukan pukul 17.40 WIB.

"Gue ke toilet sebentar ya, lo mau nungguin kan?"

Aku memasukan laptop ke dalam tas laptop berwarna cokelat dengan motif not musik, pemberian
Panji setahun yang lalu ketika aku berulang tahun, sengaja dia pilih motif not musik karena Panji tau aku senang sekali mendengarkan musik.

"Masih ada aja nih tas dari gue Lil!"

Panji memegang tas laptopku, dia tersenyum senang karena tasnya masih aku pakai.

"Adalah, emangnya lo jaket yang gue beliin pas lo ultah mana pernah lo pakai!"

Aku berjalan ke luar pintu kelas, tiba-tiba aku merasa seperti ada angin yang berhembus.

"Ji, kenapa udara mendadak dingin begini ya?"

Aku masih berdiri depan pintu, rasanya aku enggan ke toilet tapi aku sudah kebelet pipis.

"Ah, lo Lil dari tadi ngomongnya ngaco aja sih? Apa perlu gue temenin nih?"

Suara Panji terdengar menggodaku, seketika aku merasa tersipu malu, rupanya Panji memang perhatian di balik sikapnya yang cuek.

"Gak usah lo tunggu sini aja, gue gak lama kok!"

Akupun berjalan ke lorong menuju toilet, lampu kampus sebagian menyala meski terlihat redup, setelah sampai di toilet aku segera masuk kedalam bilik salah satu toilet, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang sedang berada di bilik sebelah, seperti sedang menekan tombol push pada closet. Akupun berfikir mungkin masih ada anak fakultas lain yang masih belum pulang juga, aku keluar dari bilik toilet dan segera menyusul Panji yang masih menungguku di kelas.

Melewati lorong entah mengapa tiba-tiba bulu kudukku terasa meremang, udara kian dingin, aku mempercepat langkahku.

"Kok tumben banget sih.. Gue berasa iseng begini?"

Aku berkata dalam hati, dan semakin mempercepat langkahku.

"Ji.. Buruan balik yuk, sudah magrib nih.. "

Aku membuka pintu kelas, dan melihat Panji sedang berbincang dengan seorang gadis berambut sebahu yang aku temui di kamar mandi beberapa hari yang lalu.

"Eh Lil, panjang umur nih cewek, inikan cewek yang lo ceritain tadi! gak taunya nyamperin gue Lil!"

Panji mengenalkan aku dengan cewek berambut sebahu itu, wajahnya sangat putih, matanya sedikit sayu, dia tersenyum ke arahku.

"lo yang waktu itu temuin gue di toiletkan?"

Aku mengulurkan tanganku, untuk mengajaknya berjabat tangan, namun gadis itu hanya tersenyum.

"Nama lo siapa? Dan mau lo apa?"

Aku memandang cewek itu dengan tatapan sinis.

"Lil, gak usah jutek deh, namanya Cindy dia juga kuliah di sini di jurusan yang sama kaya kita, Cindy tadi bilang justru dia itu menyukai dan kagum sama lo, karena lo itu pintar di kampus ini, banyak temen, di sayang dosen-dosen, begitu tadi Cindy cerita ke gue pas lo ke toilet!"

Panji berbicara panjang lebar dengan perasaan antusias. Biasa kalau ada cewek cantik dikit, Panji suka over dan tebar pesona.

"Diam Ji, lo mundur deket gue sini!"

Aku menyuruh Panji untuk menjauh dari cewek yang mengaku bernama Cindy itu.

"Ya ampun Lil, begitu aja cemburu sih!"

Panji tertawa kecil seakan mengira aku cemburu pada cewek berambut sebahu itu.

"Gue bilang lo ke sini, lo ngerti gak?"

Aku sedikit membentak Panji yang ngeyel.

Braaaakkkk...

Kembali suara pintu tertutup dengan sangat kerasnya.

"Waduh, kok perasaan gue jadi gak enak begini Lil!"

Panji menghampiriku yang masih berdiri di depan kelas tepat di depan papan tulis, Cindy duduk dibarisan ke tiga dari sebelah kananku.

"Lo lihat kebawah kursi itu Ji?"

Aku menyuruh Panji untuk menundukan kepalanya, Cindy masih duduk terdiam.

"Lil.. Ka.. Ka.. Ka.. Ka.. Ka.. "

Suara Panji mulai terbata-bata, badannya gemetar aku segera mengambil botol minum yang masih ada di tas ranselku dan memberikan pada Panji dan menyuruh dia untuk minum dan mencoba tenang.

"Kakinya ngambang, dia bukan mahasiswi di sini Ji!"

Wajah Panji semakin terlihat pucat, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, udara yang tadinya terasa dingin seketika menjadi panas.

"Kamu siapa dan mau kamu apa Cindy? Kalau ada yang mau kamu ceritakan, ceritakanlah!"

Aku mencoba berkata lembut pada Cindy, Cindy masih diam duduk di kursi, sementara Panji terlihat kepingin pingsan maka aku mengambil kursi dan menyuruh Panji untuk duduk, Panji duduk membelakangi Cindy kali ini dia lebih senang menghadap ke papan tulis. Sementara aku sendiri mencoba untuk tetap tenang, aku tahu ada sesuatu yang ingin Cindy sampaikan. Aku mengambil HPku dan mencoba merekamnya. Ketika aku merekam terlihat dengan jelas wajah Cindy yang asli, mukanya hancur sebelah, tapi sebelahnya lagi masih utuh dan terlihat sangat cantik seperti yang aku lihat di awal aku bertemu, tanganku sedikit gemetar.

"Tidak usah sungkan, ceritakanlah jika ada yang ingin kamu ceritakan, aku akan mendengarkan, maaf kalau sebelumnya sikapku sedikit kurang ramah padamu.."

Aku terus berusaha mengajak Cindy berdialog, Cindy masih terdiam sampai pada akhirnya..

"Gak tau kenapa, dari awal aku melihat kak Ulil, aku senang saja dengan kakak, aku tahu kakak orang yang baik meski terkadang gaya bicara kakak terkesan judes, tapi aku suka dengan pribadi kakak, dan yang aku kagumi kakak sangat cerdas, kakak bersyukur diberikan kepintaran di atas rata-rata, seandainya saja aku bisa seperti kakak, sayang aku tidak seperti itu.

Cindy terdiam sesaat..

"Skripsi yang aku kerjakan selalu di tolak, sehingga aku tidak pernah lulus dari kampus ini, aku sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nyatanya aku tetap tidak berhasil, padahal aku hanya ingin cepat lulus agar bisa mendapatkan kerja, aku ingin meringankan beban Ayah.

Cindy kembali terdiam, keadaan semakin hening.

"Orang tuaku bercerai ketika aku masih duduk di bangku SMP, adik-adikku masih kecil, sementara Ayah hanyalah seorang kuli bangunan, karna itulah aku kuliah di kampus ini dengan biaya yang cukup terjangkau, aku juga harus bekerja setiap kali pulang kuliah di salah satu kafe tidak jauh dari kampus ini, aku frustasi karena skripsiku yang selalu di tolak, akupun bunuh diri loncat dari lantai 4 tepatnya di tangga lorong yang menuju toilet itu. Aku tidak ingin mengecewakan Ayah"

Wajah Cindy terlihat murung, ada luka yang mendalam, entah karena perceraian orang tuanya atau karena dia tidak bisa membahagiakan Ayahnya dan juga adik-adiknya.

"Semenjak kematianku, kampus ini menutup rapat kasusku, ada sebagian yang bilang kalau aku hanyalah tumbal dari berdirinya kampus ini, karena memang saat itu aku merupakan salah satu mahasiswi yang mendaftar di kampus ini ketika pertama kali kampus ini di resmikan, kampus ini dulu tidak terlalu luas bangunannya, saat ini semakin megah saja.."

Cindy mulai menatapku, aku mencoba menenangkan diriku.

"Aku selalu mencari seseorang yang bisa aku ajak bercerita, dan aku mengetahui kak Ulil adalah orang yang tepat, karena diantara sekian banyak mahasiswa di kampus ini, hanya kak Ulil yang tidak merasa takut jika pergi ke toilet, bahkan kak Ulil suka berlama-lama di toilet, bersenandung riang, aku merasa di temani, ternyata aku tidak sendiri, masih ada kak Ulil!"

Cindy tersenyum ke arahku, senyumnya terlihat bahagia meski aku melihat ada tetesan darah segar yang keluar dari mulutnya.

"Sekarang mau kamu apa?"

Aku berkata pada Cindy, HP yang aku pegang untuk merekam sudah mulai lowbet, tapi aku berusaha untuk terus merekamnya, kamera HP sesekali aku arahkan ke Panji, dia duduk dengan badan membungkuk dan menutup telinganya, sepertinya Panji enggan mendengarkan percakapan aku dengan Cindy.

"Aku hanya ingin kak Ulil tetap menjadi temanku, meski aku tahu di kampus ini temen kak Ulil sangat banyak, tapi perkenankan aku untuk menjadi bagian dari teman kak Ulil!"

Cindy kembali menatapku, matanya yang sayu terlihat meneteskan air mata.

"Kamu boleh menjadi temanku, tapi dengan syarat kamu jangan pernah lagi mengganggu mahasiswa di sini! Gimana?"

Aku tersenyum dan kembali menatap Cindy, kali ini justru Cindy yang menundukan pandangannya.

"Aku janji, dan kakak juga harus berjanji jangan menyebarkan pertemuan kita ini di kampus, aku tahu kakak sudah merekamnya, dan aku tidak ingin video itu tersebar!"

Cindy tersenyum, dan akupun tersenyum serta mengagukkan kepalaku tanda aku menyetujui perjanjian yang telah kita sepakati bersama.

"Oh iya ka, aku tahu kak Ulil sayang banget sama ka Panji, begitu juga dengan ka Panji dia sangat mencintai kakak, hanya saja kak Panji terlalu egois, dia tidak ada keberanian mengatakan itu pada kakak, laki-laki pengecut memang seperti itu kak!"

Cindy kembali tersenyum, darah segar dari mulutnya masih terus menetes membasahi bajunya.

Dia mengenakan kaos berwarna putih di balut dengan overalls berbahan jeans, pakaian itu terlihat sangat pas dibadannya yang kecil mungil dengan kulit putih pucatnya.

"Sembarangan siapa bilang gue pengecut, gue bukannya pengecut tapi memang belum waktunya gue mengatakan ini ke Ulil, gak perlu gue ungkapkan Ulil pasti tau gimana sayangnya gue ke dia!"

Tiba-tiba Panji membalikkan badannya, dan berteriak ke arah Cindy, sayangnya Cindy sudah pamit pergi padaku, aku tersenyum menatap wajah Panji yang terlihat salah tingkah.

"Balik yuk Ji, gak berasa udah mau isya, masalah pertemuan kita sama Cindy lo janji harus keep ya!"

Aku berbisik pada Panji, Panji hanya menganggukan kepalanya, diapun menggandeng tanganku, bukan karena dia ingin bergandengan tapi karena Panji masih gemeteran.

"Lil, jadi selama ini lo bisa ngelihat dan komunikasi dengan mahluk astral?"

Panji kembali berbisik ke arahku, aku hanya tersenyum, aku dan Panji berjalan menuju lift, seketika aku melihat Cindy di ujung lorong melambaikan tangannya ke arahku, akupun membalasnya. Cindy berdiri di lorong itu, pasti dia merasa sepi.



Pamulang, 8 Agustus 2019

Penulis : YoumiSr

NB : gw mendapat persetujuan dari penulis untuk posting di Kaskus ..... penulis belum punya ID Kaskus .....
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan youmi.sr memberi reputasi
Photo profilnya leh uga emoticon-Betty (S)
Salam kiri buluk emoticon-Frown
profile-picture
eghy memberi reputasi
kereeennn ceritanya gan, pasti penulis nya juga keren 😂😂
Diubah oleh youmi.sr
udahan nech..


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di