alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Kutipan Cerpen Menari di Atas Pena
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4ca09fc9518b160779ae5d/kutipan-cerpen-menari-di-atas-pena

Menari di Atas Pena

Kutipan Cerpen Menari di Atas Pena
Kutipan Cerpen Menari di Atas Pena
Spoiler for KISAH KU BUKAN ORANG LAIN:

Quote:

Menari di Atas Pena
Dia seperti api yang memberi kehangatan, tanpa pamrih ia terus memeluk.
Menemani tanpa henti, dan terus menombak ku dengan kantuk.
Tanpanya, mungkin aku tak sanggup untuk pergi ke alam mimpi.
Hadirnya yang menjembatani semua itu, yang mengendus halus di pipi.

Pagi ia enggan untuk melepas diri.
Memikat bagai tangkai bunga dan duri.
Aku tak kuasa menahan banting, yang meronta untuk lari.
Karena ku tau, dia terus membisik sanubari.

Tidur. Tidur. Tidur. Tidur.

Kata itu yang selalu menjamah dalam kekosongan.
Pikiran ini terus memberontak melawan bayangan.
Tapi diri ini tak sanggup, yang membuatnya terlelap dalam kelam.
Kata ini mengucap sebagai pemisah, selamat malam.

Selimut. 

Kutipan Cerpen Menari di Atas Pena
Quote:


Pagi itu selimut enggan untuk memisahkan diri. Dia terus merangkul dengan erat. Membersamai kasur yang memikat. Tubuh ini menjadi lemah untuk bangun. Detik djarum jam sudah menunjuk ke arah pukul 6 pagi. Di waktu itu diri ini masih bermalas-malasan.  "Ini masih jam 6 pagi, masih terlalu pagi untuk bangun di hari minggu." Ujar lelaki yang bermalas-malasan di atas ranjang kasur miliknya. Hal yang paling menyebalkan di dunia ini hanya satu. "Dio antarin mamah ke pasar, mumpung kamu libur, dari pada bermalas-malasan." Teriakan keras dari seorang ibu yang berusia sudah hampir memasuki usai lanjut, 50 tahun. Tentu untuk menghadapi kicauan burung elang ini, harus dijawab dengan. "Bentar-bentar ngumpulin nyawa dulu." Mungkin itu, sedikit waktu untuk mengakhiri momen-momen yang enggan untuk ditinggalkan.

Seharusnya jauh dari keramaian, bahkan suara yang bising merusak tenang di rumah keong telinga ini. Pasar bukan waktu yang tepat untuk menyambut pagi. Harum bermacam-macam pelosok negeri. Hingga orang-orang yang beranjak ke sana-ke sini. Rasanya ingin sesegera mungkin untuk mengakhiri.

Penggil rupanya enggan untuk menjelajahi pasar seisinya. Ia lebih memilih untuk menunggu sang bunda di parkiran motor usai membelanjani barang-barang kebutuhannya. Penggil melamun sembari mengais-ngais imajinasi dalam pikirannya. Dari belakang, ada seorang yang menepuk pundaknya. Penggil tercengang untuk kali pertama melihatnya. Lelaki tua itu mengajak Penggil untuk berbincang dengannya.
"Kamu orang yang suka menulis yah?" Ujaran kali pertamanya yang dilontarkan oleh lelaki tua.
"Iyah, ini kalau mau membacanya." Ujarnya dengan menjulurkan tangan sembari memberi kertas yang ia genggam.
"Hanya satu yang menjadi pertanyaan, kamu harus menemukan tujuan dan inspirasimu di dalam tulisanmu." Ujar lelaki tua itu dan pergi meninggalkannya.

Terus menjadi bayang dalam benaknya. Apa yang telah diujarkan orang tadi memang menjadi bisikan. Menyayat memori begitu dalam, yang enggan untuk terkelupas. Sampai-sampai ia berani mendatangi mimpi.

Keesokan harinya, bayangan itu masih saja menjadi bisikan. Benaknya memuai banyak pertanyaan. Apakah hari ini harus mencari inspirasi untuk lugas dalam membenahi karya sendiri. Terus-menerus dirinya memikirkan itu tanpa henti. Hingga menjumpai pak Suryo yang sedang berdiri di pintu gerbang sekolah. "Bentar pak, jangan cerita dulu, saya piket kebersihan hari ini, jadi saya harus cepat-cepat datang ke kelas untuk bersih-bersih." Ujarnya sebelum pak Suryo mulai berujar, jika terlambat sedikit pun ia sudah mendengar dongeng yang akan diceritakan oleh pak Suryo. Mengingat dirinya telah menampakan rongga mulutnya untuk siap berujar.

Berjalan seraya memikirkan suatu yang membebani diri. Tanpa celoteh untuk hari ini, kepada semua orang yang dilintasi olehnya. Mereka yang memandang nampak ragu dan terkesan kepada perilakunya yang berlainan dari hari lalu. Hingga ia tak sengaja melihat seorang siswi, dengan jilbab segiempatnya dan ransel yang ia kenakan. Berjalan pelan dengan tebar pesona, sungguh mata dan hati menjadi sinkron untuk saling memikat pusat pandangan. Sampai-sampai ia tidak memperhatikan langkah kakinya. Brak. Iyah, dia terjatuh di selokan sekolah.

Quote:


Seragam putihnya seketika berubah warna. Layaknya kemampuan mimikri pada hewan Bunglon. Bajunya telah berkamuflase dengan warna air di selokan. Ia tidak nampak malu, terus memandang dengan kondisinya yang terjatuh di selokan.

Dalam benaknya tiba-tiba memunculkan sajak-sajak yang luar biasa. Berbeda dari setiap sajak yang ia keluarkan sebelumnya.
Inspirasi ku masih hidup, dia selalu berdendang di hadapan ku.
Tanpa sedikit rasa untuk menoleh dan menghindar.
Dia telah menjadi bagian di mana aku mulai bernafas panjang, yang selalu sejajar di sela-sela hati yang mulai memudar.
Untuk itu puisi ku selalu indah, mempesona bagi para hati yang mengetuk.

Menari di Atas Pena

Wattpad
Diubah oleh hanifpradana
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di