alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Problem Minoritas di Indonesia Tak Hanya Berhenti di Etnis Tionghoa
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4c20fc65b24d3e6136879c/problem-minoritas-di-indonesia-tak-hanya-berhenti-di-etnis-tionghoa

Problem Minoritas di Indonesia Tak Hanya Berhenti di Etnis Tionghoa

Problem Minoritas di Indonesia Tak Hanya Berhenti di Etnis Tionghoa

Poin Utama Minoritas
Poin utama:
Dua puluh satu tahun pasca reformasi, minoritas Tionghoa di Indonesia masih menerima sentimen negatif
Sentimen anti-Tionghoa yang berkobar selama Pilkada DKI menunjukkan bagaimana persepsi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia tak banyak berubah
Kelompok mayoritas Indonesia, disebut Sidney Jones, tak ingin memahami prinsip dasar kesetaraan hak politik dalam demokrasi

Sebanyak 36 persen Muslim Indonesia di tahun 2018 beranggapan bahwa minoritas Tionghoa hanya peduli terhadap sesama etnisnya. Tiga puluh tiga persen dari kelompok yang sama juga percaya bahwa budaya Tionghoa tak sejalan dengan budaya yang ada di Indonesia.
Ada juga yang beranggapan kalau minoritas Tionghoa masih setia terhadap negara leluhurnya, yakni China. Jumlah kelompok ini mencapai 32 persen.
Sementara 35 persen lainnya menganggap minoritas etnis Tionghoa berkarakter serakah dan ambisius.

Stigma-stigma yang diangkat dalam buku Contentious Belonging: The Place of Minorities in Indonesia itulah yang dirasakan Komang Arianti (38), warga Jakarta berdarah Bali-Tionghoa, sebagai penyebab bullying atau perisakan yang dialaminya selama ini.
Berayahkan pria Bali asli, Komang kecil yang tinggal di Surabaya tak pernah merasa bahwa ia berbeda dari teman-temannya. Sampai pada suatu masa di bangku sekolah dasar, sebuah kejadian mengusik jati dirinya.
"Waktu kelas 5 atau 6 gitu, pulang sekolah jalan kaki lalu ada tukang becak lewat...dia berhenti terus ngatain 'Cina silit! Cina jancuk!'"
Komang awalnya mengaku bingung diolok-olok dengan sebutan kasar itu.
"Karena saya tahunya saya Bali, pribumi, cuma kulitnya kuning."
"Tapi sejak itu jadi ngobrol dengan teman keturunan Tionghoa lainnya, terus baru tahu kalau ada nama Cina dan mesti urus SBKRI segala."
Ia-pun lantas menginterogasi sang ibu, mempertanyakan asal-usulnya.
"Saya tanya ibu, 'jadi aku ini apa, pribumi atau keturunan? kalau ditanya di sekolah atau urus-urus surat aku mesti jawab apa?'," ceritanya kepada ABC.
Kejadian itu nyata berimbas besar terhadap kepercayaan diri Komang. Ia menuturkan dirinya mengalami krisis identitas.
"Sejak kejadian itu, saya main sepeda dari jam 2 sampe Maghrib supaya kulit jadi hitam biar enggak dikatain Cina lagi."
"Saya bingung mengindentifikasi diri saya itu sebagai apa."
Problem Minoritas di Indonesia Tak Hanya Berhenti di Etnis Tionghoa
Komang mengaku pertama menerima perisakan atau bullying saat duduk di bangku sekolah dasar.


Perempuan mantan jurnalis ini masih mengalami perisakan terhadap identitasnya hingga baru-baru ini.
"Waktu itu saya pulang naik taksi ke rumah. Pas lagi bayar di pintu tol, taksi saya dihantam sebuah mobil, yang ternyata dikemudikan ibu-ibu."
"Setelah itu saya ikut turun sama sopir taksi untuk minta pertanggungjawaban si penabrak."
Terdorong rasa iba, ia berusaha menjadi penengah di antara penabrak dan sopir, yang keberatan atas jumlah uang ganti rugi.
"Eh si ibu-ibu malah ngamuk dan bilang ke saya 'dasar Cina...sudah sana duduk diam di dalam taksi, ngapain ikut campur?. Kere cuma bisanya naik taksi, minta-minta saya ganti rugi ke supir taksi ini. Sudah Cina diem aja!'," kisah Komang.
Dalam Contentious Belonging yang baru saja diluncurkan di Jakarta pekan lalu, sentimen negatif yang dialami Komang disebut bersumber dari kebencian zaman kolonialisme yang dibawa hingga masa kini.
Bahkan hingga kasus Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta.
Sebagian besar responden survei yang diungkap buku tersebut menyalahkan etnis Tionghoa sendiri atas ketidakmampuan mereka untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Indonesia.
Uniknya, studi yang diungkap buku editan akademisi Universitas Nasional Australia (ANU) -Greg Fealy dan Ronit Ricci -ini menunjukkan bahwa sebenarnya sebelum kasus penistaan agama yang melibatkan Ahok, survei menunjukkan tingkat intolerasi di Indonesia tengah menurun, dan justru meningkat setelah kasus itu muncul dan disusul dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 (Pilkada DKI).

Stigma yang sulit berubah
Problem Minoritas di Indonesia Tak Hanya Berhenti di Etnis Tionghoa
Contentious Belonging menceritakan perdebatan mayoritas-minoritas di Indonesia.
Dalam bab Anti-Chinese Sentiment: And the Return of the Pribumi discourse di buku itu, Charlotte Setijadi mengatakan setelah adanya kasus Ahok, sentimen anti-Tionghoa bisa cepat mereda dan secepat itu pula muncul.
Sentimen anti-Tionghoa yang berkobar selama Pilkada DKI menunjukkan bagaimana persepsi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia tak banyak berubah, terlepas dari reformasi dua dekade terakhir.
Warga keturunan Tionghoa, sebut Charlotte, masih menjadi kambing hitam jika terjadi ketidakstabilan politik dan ekonomi.
Konservatisme Islam yang meningkat dan ketimpangan sosial-ekonomi juga ditudingnya memperuncing jurang perbedaan antara etnis Tionghoa dan warga Indonesia lainnya, dan ini, sekali lagi, membuat minoritas Tionghoa kembali menjadi target kemarahan dan frustasi massa.

Persoalan minoritas lebih luas
Berbicara dalam peluncuran Contentious Belonging di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta (31/7/2019) pekan lalu, Burhanuddin Muhtadi, salah seorang penulis bab, mengatakan warga non-Muslim di Indonesia lebih toleran ketimbang mayoritas Muslim.
Di sisi lain, hasil survei yang dilakukan dari tahun 2010 hingga 2018 juga mengungkap fakta menarik mengenai Muslim Indonesia.
"Muslim Indonesia yang merasa mereka adalah mayoritas ternyata lebih tidak toleran dibanding Muslim yang merasa mereka sebagai minoritas," sebut Burhan.
Mengutip studi di tahun 2018, ia mengatakan bahwa bukan intoleransi yang menyulut mobilisasi Muslim dalam aksi unjuk rasa berjilid, tapi mobilisasi itulah yang justru memproduksi intoleransi.
Terlepas dari hal itu, persoalan minoritas di Indonesia nyatanya lebih luas dan kompleks.
Dalam bab Reflections on Contentious Belonging di buku yang sama, pakar terorisme Sidney Jones mengatakan konteks mayoritas-minoritas di Indonesia bisa berubah bergantung pada rezim politik yang berkuasa.
Problem Minoritas di Indonesia Tak Hanya Berhenti di Etnis Tionghoa
Peluncuran buku Contentious Belonging di gedung LIPI Jakarta (31/7/2019).


Ia bahkan merujuk istilah mayoritas kepada kelompok aktivis yang secara publik mengadopsi sikap politik bahwa mereka mewakili mayoritas dan bahwa pandangan mereka seharusnya dibenarkan.
Sidney mencontohkan sikap Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di era 90an yang mengusung konsep 'demokrasi proporsional' di mana pembagian kerja dalam pemerintahan seharusnya berdasarkan agama, menurut proporsi jumlah pemeluk agama dalam populasi.
Ia juga mengangkat gerakan 212 yang menuntut agar kelompok mayoritas-lah yang seharusnya memimpin di Indonesia.
Bagi Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) Jakarta ini, kelompok mayoritas Indonesia tak ingin memahami bahwa prinsip dasar demokrasi sebenarnya adalah kesetaraan politik dan keadilan bagi semua, yang artinya kesetaraan hak bagi siapa saja terlepas dari ras, agama, etnis ataupun orientasi seksual mereka.


https://www.tempo.co/abc/4535/proble...tnis-tionghoa

ITULAH DAMPAK KEBERAGAMAN SUKU

Diubah oleh nevertalk
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Ayolah jgn ada lg kata minoritas n mayoritas,kita semua bersaudara tak peduli suku,ras,agama..
Hidup indonesia .. emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
raafirastania26 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Hanya negara2 yang masyarakatnya homogen kayak Jepang dan Korea yang tidak mengalami masalah semacam ini. Tapi di jaman globalisasi sekarang lintas negara semakin kabur. Orang bisa tinggal dimanapun mereka mau. Seandainya Indonesia gak ada orang cina pun...antara sesama suku pribumi juga pasti bermasalah.
profile-picture
OnePlusSix memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Indonesia banyak suku, banyak agama, banyak ras. Minoritas disini banyak

Tapi yg suka mewek, doyan play victim. Songong merasa dirinya genetik unggul, indonesia bapak tiri. Sebari rasis dan provokator terhadap sesama minoritas dan mayoritas. D one n only..
profile-picture
profile-picture
theJizyah dan jamie76 memberi reputasi
IMHO bukan dampak keberagaman suku.. Lebih dampak ke kemakmuran hidup dan level pendidikan. Jelas yg kaya2 dan terjamin idupnya, ga begitu peduli (tidak cemburu) pada perbedaan etnis.

Orang susah cenderung menyalahkan orang. Org yg berbeda (beda agama/etnis/asal usul) lebih enak dijadikan bantalan. Cokin banyak jd korban rasisme jg karena, selain keliatan berbeda, biasanya tingkat ekonominya lebih baik. Semakin melebarkan perbedaan.

Di indonesia ga bgt banyak yahudi. Coba liat yahudi di eropa jaman dulu ketika kesejahteraan dan jaminan sosial belum ada.. Habis mereka.. Ga cuma hitler.. dari jaman romawi, bahkan babylonia dah begitu..

Berkat hitler, sekarang yahudi naik kehormatannya. Bukan berarti anti-semit hilang.. Sekarang mulai diskriminasi kecil2 pd pengungsi timur tengah.. sama2 keluarga shem.. Beda versi..

Tapi jelas terlihat.. kesejahteraan jadi alasan utama kebencian...
profile-picture
adrianfuzagame memberi reputasi
Diubah oleh sibuk.nyaleg
Lihat 1 balasan
Quote:


jelas banget

Quote:


percaya atau engga ini bukan masalah suku

coba aja cipiters ke bali sana, ga akan dicina-cinain sama pribumi sana

malah cipiters kelas menengah waktu kerusuhan 98 yang ga bisa keluar negeri banyak yang exodus ke bali

dan 20 tahun kemudian sentimen aseng ga berkembang disana tuh

bener ga? emoticon-Maaf Agan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bukan.Arab dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Bhinneka Tunggal Ika itu cuma pajangan ternyata, untuk banyak orang di negeri ini. And people ask why ane benci orang indon, meski ane cinta bumi pertiwi negeri ini.
(Then again, I hate people almost equally anyway)

Ane akan tetap bertahan, dengan semboyan itu. Berbagai negara juga menerapkannya (bahkan USA sekalipun). Entah kenapa, negeri kita ini malah ingin meniru ketimtengan yang malah sering merasa paling gede, ras paling arogan, di saat dunia ini tengah mereformasi masyarakatnya di berbagai negara untuk saling menerima sebagai sesama setara.

(Seriously, Arabs. Bahkan dari Jepang pun ane dengar cuma jeleknya doang.
Ada cerita komplen orang Jepang yang belajar jadi guru Inggris bersama orang berbagai ras, termasuk orang Arab. Topiknya waktu itu soal kesetaraan ras, dan di akhir2 si Arab bilang "tapi Arab tetap ras unggul" dan berdebatlah mereka.)
profile-picture
profile-picture
reid2 dan TheTrueMayhem memberi reputasi
Diubah oleh lupineprince
orang berpunya memang selalu memancing dengki dari kaum berkebutuhan khusus.emoticon-Big Grin
profile-picture
soljin7 memberi reputasi
berarti harus menghadapi kenyataan dimanapun kita berada kalau minoritas haruslah membaur kalau gak stigma negatif akan selalu ada
Balasan post sibuk.nyaleg
Quote:


jangan lupa doktrin untuk selalu memerangi kemungkaran emoticon-Maaf Agan

sayangnya dosis ajaran untuk ngacanya yang sangat kurang banget emoticon-Bingung
Balasan post lexarrio
pantesan oleh-oleh bali banyak bakpia-nya.emoticon-Big Grin
Balasan post sehau76
Quote:


Eh, sebenarnya masyarakat suku Ainu dan Okinawa bersuara soal itu. Tapi memang bedanya, Ainu sudah hampir bercampur seluruhnya dengan mainland-nya Jepang (bahkan keturunannya banyak yang nggak tahu asal-usul Ainu mereka), dan sejak tahun lalu ketika Jepang dan UNESCO (iirc) sadar bahasa asli Ainu mau punah seperti Latin kuno, mereka mati2an melestarikannya sekarang.

Lah di sini?
profile-picture
sehau76 memberi reputasi
Hanya onta idiot yg mikir seperti itu.
Balasan post bodico
Quote:


babi guling + sambal matah bre emoticon-Jempol
karena kampret kebencian akut
Padahal sesama WNI
Jangan bilang cina aja yang dibully, dasar padang bengkok pelit, dasar sunda senyum sambil nikung, dasar ambon tukang peras!
ras cengeng
Lihat 1 balasan
Sebenarnya masalah Cina dan pribumi di indo itu TDK sematamata ras ,tetapi lebih kepada yg satu makan babi dan satunya ya lagi tidak makan babi atau haram,coba anda ke Bali,Manado,Kalimantan pribumi disana tidak anti Cina spt di Jawa,karna pribumi di sana makan babi sedangkan dijawa pribuminya tidak makan babi,ini yg sering jadi persoalan dan kecemburuan oleh pribumi yg tidak makan babi,sedangkan mengenai ungkapan rasial bisa dari pihak mana saja ,kita sering dengar pribumi marahin cina spt dasar Cina lo,Cina pelit dsb,sedangkan orang Tionghoa juga sering marahin pribumi dengan kata2 dasar Fan kui lu.kira2 demikian bro
etnis tionghoa didiskriminasikan selama 32 thn lebih wkt zaman pemerintahan orde baru ..
Gus Dur menghapus diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan
Inpres No 6/2000 tanggal 17 Januari 2000, mencabut Inpres 14/1967
tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China
profile-picture
soljin7 memberi reputasi
abis pasal penistaan agama cuma buat minoritas doang sihemoticon-Cape deeehh, kalau yang seiman ga bakal dijerat
profile-picture
basmi.kompret memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di