alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pesan Prabowo ke Jokowi Soal Ketum PDIP Baru
3.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4bf9d4c9518b3de80c55a2/pesan-prabowo-ke-jokowi-soal-ketum-pdip-baru

Pesan Prabowo ke Jokowi Soal Ketum PDIP Baru


Spoiler for Jokowi di Kongres V PDIP:




Sumur:
1. Detik [Sapa Prabowo di Kongres PDIP, Megawati: Tempur Lagi di 2024] 

2. Republika [Politikus PDIP: Struktur Partai Ditentukan Bu Megawati]

3. Tirto [Melihat Peluang Trah Sukarno vs Kader PDIP Gantikan Jokowi di 2024]

4. Liputan 6 [Pesan Prananda Prabowo Cucu Proklamator Semangati Jokowi Jaga Persatuan]

5. CNN Indonesia [Surya Paloh Sebut Jokowi Kader NasDem]

6. Detik [PDIP Kecewa NasDem Capreskan Anies: Kasihan Pak Jokowi] 

Beberapa analisa penulis sebelumnya adalah mengenai masuknya Budi Gunawan (BG) dalam bursa pencalonan Ketum PDIP. Akan tetapi, setelah beberapa hari ini melihat perkembangan pemberitaan dan politik menyebabkan pandangan penulis berubah. Apalagi ditambah saat penulis berdialog dengan salah satu pihak yang berada di dalam internal PDIP. Ia menilai justru dalam internal PDIP, hal berikut yang kini sedang terjadi.

PDIP saat ini sedang menggelar kongres ke-V di Bali selama empat hari ke depan. Yakni pada 8-11 Agustus 2019. Sebagai partai yang dibesarkan oleh Megawati Soekarnoputri, masa depan posisi tertinggi partai termasuk struktur partai akan ditentukan oleh putri Soekarno itu. Sebagai partai yang memiliki pengaruh trah Soekarno yang kental, maka pucuk pimpinan PDIP di masa depan nanti kemungkinan besar akan diisi oleh trah Soekarno pula.

Megawati memiliki dua anak yang memiliki posisi politik di internal PDIP. Yakni Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Puan Maharani telah memberi sinyal akan keinginannya untuk melanjutkan perjuangan ibunya sebagai Ketum PDIP. Apalagi responnya terhadap pertanyaan media akan hadir atau tidaknya Prabowo di Kongres ke-V PDIP mengesankan bahwa ia ingin Ketum Gerindra itu merestuinya dalam mendapatkan posisi tertinggi di partai berlambang banteng tersebut. Telah hadirnya Prabowo di Kongres ke-V PDIP semakin mengokohkan posisi Puan.

Sedangkan Prananda Prabowo bisa dibilang sebagai politikus yang bekerja di balik layar. Hal tersebut pun diakui Presiden Jokowi. “Enggak pernah banyak bicara orangnya, tetapi selalu banyak bekerja di belakang layar,” ujar Jokowi di suatu kesempatan. Oleh karena itu apabila kita melihat personality Prananda, maka dia akan lebih memilih untuk mengalah dan bekerja di balik layar mendukung adiknya maju sebagai Ketum PDIP.

Harus kita akui bersama walaupun trah Soekarno akan maju menjadi Ketum PDIP, ada sosok Jokowi sangat populer karena telah memenangkan posisi orang nomor wahid di Indonesia selama dua periode. Ketua DPP PDIP Aria Bima tak memungkiri bahwa Jokowi adalah salah satu kader terbaik PDIP yang berkomitmen tinggi. Bahkan berkat coat-tail effect Jokowi, PDIP telah mencatat rekor dengan memenangkan pemilu legislatif pasca reformasi dua kali berturut-turut.

Kepopuleran Jokowi menyebabkan munculnya isu bahwa Jokowi akan menggantikan Megawati sebagai Ketum PDIP. Artinya, ada benak dari para pendukung PDIP yang inginkan Jokowi menjadi Ketua Umum. Hal ini menandakan pula ada keinginan dari pendukung maupun kader PDIP agar partai ini mengalami transisi menjadi partai non tradisional yang bisa membebaskan kader non trah Soekarno menjadi pucuk pimpinan. Hal ini bisa saja menyebabkan partai terpecah.

Lantas bagaimana agar posisi Ketum PDIP dapat diamankan oleh Puan Maharani?

Kemungkinan, Puan sedang berusaha mengamankannya lewat kedekatan Prananda Prabowo dengan Jokowi. Bagaimana caranya? Dalam HUT ke-45 PDIP 11 Januari lalu, sebuah lagu karya Prananda Prabowo berjudul One for All and All for One dipersembahkan di hadapan peserta acara termasuk Presiden Jokowi.

"Lagu ini menonjolkan pesan persatuan dan kebhinekaan. Saat ini Indonesia rawan akan perpecahan atau berita bohong," ujar Prananda. Putra Megawati tersebut berharap lagu ini akan menjadi penyemangat bagi Jokowi untuk menyatukan bangsa.

Sepertinya apabila melihat situasi terkini di internal PDIP, lagu ini akan kembali muncul menjadi kode akan persatuan. Tapi kini, kodenya adalah persatuan PDIP. Dalam menjaga persatuan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tak tertutup pula kemungkinan menjaga persatuan dengan cara pindah dari satu tempat. Oleh karena itulah, lagu dari Prananda itu juga menjadi kode agar Jokowi pindah partai ke NasDem demi persatuan PDIP.

Kenapa NasDem? Karena Ketum partai NasDem Surya Paloh pernah menyatakan NasDem akan menempati posisi pertama jika ada perlombaan memperebutkan Jokowi. "Jadi kalau mau bilang ada perlombaan, Jokowi itu kader partai siapa? Saya katakan pasti nomor satu NasDem," kata Paloh. Sayangnya partai tersebut telah menyatakan siap mencalonkan Gubernur DKI Anies Baswedan di Pilpres 2024. Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan "Hmm... kasihan Pak Jokowi, ya, koalisinya tidak fokus membantu beliau…”.

Bagi kebanyakan orang mungkin pernyataan tersebut sebagai wujud kekecewaan PDIP akan NasDem yang dinilai tidak fokus membantu Jokowi. Akan tetapi, telah kita ketahui sejak awal bahwa PDIP adalah partai yang kental akan budaya Jawa yang penuh dengan kode dalam tiap perkataan. Oleh karena itu, pernyataan ‘kasihan Pak Jokowi’ bisa juga diartikan bahwa kasihan Pak Jokowi yang akan menjadi kader NasDem tapi partai tersebut memiliki niat mendukung Anies yang notabene adalah tokoh yang sangat berseberangan dengan Jokowi.

Kemungkinan besar Megawati telah mengetahui pergolakan ini. Di satu sisi ia telah mengetahui bahwa Jokowi adalah sosok yang sangat populer dan telah mengharumkan nama PDIP. Tetapi di sisi lain, Jokowi telah menjabat sebagai presiden selama dua kali dan konstitusi kita tidak memperbolehkan Jokowi mendapatkan posisi presiden untuk ketiga kalinya. Memasukkan nama Jokowi sebagai Ketum penerusnya bukanlah investasi jangka panjang yang baik. Oleh karena itu, Megawati akan lebih memilih anaknya sendiri untuk menempati kursi Ketum. Apalagi setelah posisi Ketum, jalan menuju Capres akan makin terbuka lebar.

Begitu pula dengan Jokowi. Kemungkinan besar Jokowi telah mengetahui bahwa akan pindahnya ia ke NasDem bukan berarti ia tidak disukai oleh Megawati. Pak Dhe mungkin menyadari bahwa preferensi PDIP terhadap Puan adalah demi masa depan partai. Lebih baik tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan pada sosok yang masih punya potensi. Oleh karena itu dia tidak berkomentar apa-apa dalam urusan calon pimpinan PDIP. Sehingga tidak ada masalah baginya ketika NasDem tertarik merekrutnya menjadi anggota partai.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 4 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Jokowi akan tetap di PDIP dan ngak akan pindah partai.
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
hmmmmm ...
kalau bikin parte sendiri bisa ndak?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Mending mamak dululah. Abism itu pas wiwik mau lengser baru ganti wiwik. Kalo kagak bakalan ga stabil dipegang orang yang kagak punya atau kagak pernah pegang power gede
profile-picture
rizaradri memberi reputasi
Quote:


Ya masalahnya walaupun PDIP tetap di sana. Bagaimana dengan keinginan pendukung Jokowi yg ingin dia menduduki kursi Ketum? Mereka dalam hatinya pengen Jokowi kali emoticon-Blue Guy Peace
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Proses penentuan Ketum itu ada mekanismenya, aspirasi dari struktural partai mulai dari anak ranting hingga DPP.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Bikin partai perlu modal besar masmomon. Sulit sih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Hehe ga bisa seperti itu gan
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Betuul, tapi kalau ga ada keinginan agar Jokowi jadi Ketum, gak akan mungkin ada isu itu. Bahkan sampai Aria Bima yg harus konfirmasi
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Memang Jokowi ambisi ingin jadi Ketum ?
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Jokowi ga pernah bilang. Budaya PDIP itu tradisional. Begitupun kadernya. Semuanya bilang mba Puan yg jadi Ketum. Tapi isu itu tetap muncul.
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Siapa yang memunculkan isu itu ? Dan sejak kapan isu itu muncul ?
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh 54m5u4d183
profile-picture
profile-picture
profile-picture
joidmce dan 2 lainnya memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Saya rasa gak, tapi isu sudah beredar. Kepopuleran Jokowi bisa jadi kan bikin dia lebih memilih mengalah daripada PDIP retak.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
joidmce dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Siapa yang bilang PDIP retak gara2 Kepopuleran Jokowi, kamu ya ?
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Hanya mengamati, ada beberapa kasus partai pecah karena kepopuleran salah satu kader. Contohnya ada PDI Soerjadi dan PDI Mega. Atau Gerindra, bukankah Prabowo dulunya di Golkar? Benih itu ada karena kepopuleran
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Faktanya PDIP retak ngak ?
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Semoga gak
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di