alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Gangguang Yang Tak Terlihat
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4bec9ef0bdb265d269b57e/gangguang-yang-tak-terlihat

Gangguang Yang Tak Terlihat

Gangguang Yang Tak Terlihat
Part 1 



“ini kosannya ran?”

Tanya ku kepada Rani. Rani adalah teman kantor baru ku. Aku baru saja pindah pekerjaan hari ini.

“iya  vi, gw tinggal di sini udah mau satu tahun.”

 

Aku dan rani masih berdiri memandangi rumah yang terlihat tidak terlalu besar dari luar. Memandangi rumah itu berlama - lama membuat aku sedikit merinding.

 

“eh, ayo masuk. Ngapain sih di luar. Udah mulai gelap tau.”

 

Aku dan rani masuk ke rumah kosan itu, mulai hari ini aku numpang di kamar kosan rani, karena memang belum ada kamar yang kosong untuk saat ini. Aku melihat wanita setengah tua duduk di kamar paling depan dengan pintu terbuka, melihat pakaiannya seperti itu sedikit membuatku tidak nyaman.

 

“hy mi, kenali nih teman aku namanya vivi, mulai sekarang aku sekamar bareng dia ya. Nanti kalau ada kamar kosong cepet - cepet kasih tau.”

 

Wanita itu tersenyum memandangi ku, aku hanya membalas senyuman kecil karena aku tidak suka melihat wania itu.

 

“oh, minggu depan kamar 5c kosong kok.” sambil memengang sebatang rokok mami itu berbicara dengan santai.

 

Setelah percakapan yang singkat Aku dan rani meninggalkan wanita itu. Kamar rani Berada di lantai 1, dan di ujung dekat tangga. Aku melihat - lihat isi kamar rani yang memang ramai pernak - pernik.

 

“besar ya kamarnya. Murah juga dengan harga 700rb bisa dapat kamar sebesar ini di jakarta.” tanya ku yang masih mengelilingi kamar. Ada tiga ruangan, satu kamar mandi, satu ruang tidur dan satu ruang depan.

 

“makannya, di sini jarang banget kosong vi. Ada aja yang nugguin.”

 

Aku mulai mengeluarkan barang- barang ku dari tas ransel yang aku bawa. Hanya itu saja yang baru aku bawa dari rumah ku di bogor.

 

“gw tinggal ya vi, mau mandi nih lengket badan gw.” aku hanya mengangguk mengisyaratkan setuju.

 

 

Malam semakin larut, aku yang belum terbiasa di tempat baru sulit sekali memejamkan mata. Makin malam di kamar kos terasa semakin panas. Keringat sedikit muncul di dahi ku. aku melihat rani yang sudah terlelap. Rasa gelisah membuat ku tidak nyaman. Aku hanya yakin ini adalah fase di mana diri ku membiasakan diri di tempat baru.

 

“aaaahhh….”

 

 triaakan ku nampaknya memabangunkan rani.

 

“vi, lo kenapa?”

 

“gw mimpi.” sambil teruduk di kasur dan aku merasakan kepala ku sedikit pusing.

 

“ya ampun vi, bikin kaget aja.” rani mengambilkan botol minum untuk ku.

 

“panas ya ran…”

 

“iya nih… sorry ya. Gw kalo sendiri pake kipas angin cukup kok. Gw buka pintu ya sebentar biar ada angin”

 

Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Suara hening sangat membuat kuping terasa risih.

 

“laper gak vi?” tanya rani kepada ku yang sedng duduk di dekat pintu depan.

 

“lumayan sih ran.”

 

“gw bikin mie ya. Mau kan?”

 

“oh boleh… yuk.”

 

“udah gw aja yang bikin.”

 

 

Aku dan rani berbincang di ruang depan sambil menyantap mie instan.

 

Hihihihihiiii…..

 

Deg….

 

 Aku dan rani saling memandang. Aku mendengar tawaan mirip hantu saat itu, seperti yang aku dengar di film-film. Tapi aku tidak mendengar jelas, terasa sangat jauh. Aku rasa rani pun demikian. Aku dan rani tidak membicarakan hal itu sedikitpun. Tapi suasana kami sedikit canggung. Rani menyalakan music di HPnya karena memang tidak ada tv di kosannya. Sekitar jam 3 pagi, aku dan rani sudah pindah ke ruang tidur dengan keadaan pintu depan masih terbuka.

 

Tiba - tiba angin kencang terasa di kamar berukuran tidak terlalu besar.

“eh vi, kok gw merinding sih.” rani mengerutkan dahinya serta menunjukkan tanganya kepada ku. Bulu bulu halus di tangannya terlihat sedikit berdiri.

 

“oh. Lo kedinginan. Gw tutup ya pintunya.”

 

merasakan hal yang sama seperti rani, aku diam - diam tidak memberi tahunya. Perasaan ku saat itu gelisah. Rasa takut untuk menutup pintu pun ada.

Aku dan rani berusaha memejamkan mata masing - masing, mungkin sekitar jam 4 pagi kami baru bisa tertidur.


profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan panjang.kaki memberi reputasi
Diubah oleh melmel02
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Part 2


2 minggu sudah aku menumpang di kamar rani, sekarang, aku sudah pindah ke kamar kos ku sendiri. Kamar 5C tepat berada di lantai 2 kini menjadi kamar ku. rumah ini memiliki 40 kamar kos. Di lantai 3 adalah ruangan untuk menjemur pakaian. Seringkali aku mendengar suara kucing yang mungkin berada di lantai 3. aku sengaja membeli TV karena aku tidak suka keheningan. Setiap malam tv selalu nyala hingga aku tertidur.

Tok… tok… tok….

Aku mendengar ada yang mengetuk puntu kamar ku. Jelas sekali. Aku melihat jam di HP sudah pukul 01 pagi dini hari.

“hah, siapa gini hari bertamu?” tanya ku dalam hati. Perasaan takut menyelimuti diri ku. Aku terdiam.
Tok tok tok tok tok tok…..
Ketukan semakin cepat seperti orang ketakutan. Dan aku pun semakin takut. Aku tak berkutik di atas kasur ku. Aku tak ingin membukakan pintu. Setelah lima menit kemudian suara ketukan pintu tak terdengar lagi.

Paginya aku menceritakan kejadian semalam kepada rani

“serius lo? Kok serem banget sih. Nanti coba liat CCTV di ibu kos.”

Benar saja nampak seorang laki - laki memakai topi dan jaket hitam ada di depan kamar kos ku tepat pukul 01 pagi. Namun sayang, wajahnya tidak terlihat sama sekali di kamera. Pria dengan bertubuh besar kira - kira tingginya 185cm dan jalannya yang tegap terlihat jelas di kamera.

“kira - kira siapa ya mi?” aku bertanya kepada ibu kos yang sedang menunjukkan video itu.

“yah… teman kamu kali.”

“loh, saya kan baru aja pindah di jakarta, saya gak punya teman laki- laki mi.”

“yah… mami mana tau.”

Malamnya aku meminta rani untuk tidur semalam di kamar ku, aku takut kejadian kemarin malam terjadi lagi hari ini. Untung saja rani adalah wanita yang baik dan periang tidak kecemasan selama berada di kamar kos ku.

Lagi - lagi aku terbangun pukul 02.00 pagi. Aku mendengar suara bising dari kamar sebelah ku. Terdengar seperti orang bertengkar hebat. Aku memang belum sempat berkenalan dengan tetangga kamar di sini. Aku melihat rani yang nampaknya tak merasa terganggu oleh suara pertengkaran itu.

Setiap malam aku merasakan kegelisahan yang membuat diriku terbangun dari tidur malam ku.

Suara pertengkaran itu semakin lama semakin menjadi - jadi, aku mendengar sang wanita mulai menangis. Jantungku berdebar, rasanya aku ingin melerai supaya tidak terjadi apa - ap. Aku berniat membangunkan rani, tapi sebelum niatku terlaksana rani membuka matanya dan melihat ku masih memegang HP.

“lo belum tidur vi?”

“gw kebangun ran, tetangga berisik banget loh.”

“oh ya??? berisik ngapain?”

“lo gak denger?? ssstttt nih, dengerin baik- baik ya.”

##

Rani sedikit shok mendengar pertengkaran itu, nampak sekali masalah yang serius. Sampai terdengar pukulan mendarat di kulit.

“vi, kasian ih. Coba keluar yuk.”

“yuk ran….”

Rani mengetuk pintu kamar tetangganya. Tak ada jawaban sama sekali. Dari depan pintu tak terdengar apapun. Rani memperjelas dan menempelkan sebelah telinganya ke pintu.

“ran, lo ngapain? Nanti kerekam cctv loh.”

“yah, emang knp. Gw kan mau mastiin. Tapi kok gak ada suara apa - apa ya vi.”

“bukan kamar yang ini kali.”

“ya gak mungkin lah ngaco. Tembok lo kan bersebelahannya sama yang ini. Kan tadi jelas bgt kedengeran di kamar lo. Eh, halu kali kita vi.”

“udah lah masuk aja yuk ran.”

Akhirnya kami berdua masuk kembali ke kamar dan aku hanya bisa tertidur di atas jam 4 pagi.
lanjutkan.....seremmm
Part 3


Hari sabtu ini berbeda dari biasanya, aku bisa bangun hingga siang hari karena hari ini hari libur. Teman ku dari bogor yang bernama resta berencana mengunjungi kos ku hari ini.

Biiiibb… biibb…..

Suara dering ringtone HP ku membangunkan ku dari tidur yang nyenyak.

“hallo…”

“vi……. share location ya. Gw udah sampe stasiun Tanah abang nih.”

“iya halo, ini siapa?” nampaknya aku belum sepenuhnya bangun dari tidur ku.

“astaga, lo belom bangun ya vi. Ini gw resta. Gw udah di jakarta.”

“aahh, sorry ta, gw lupa. Yaudah gw share location ya.”

Hampir satu setengah jam, resta baru bisa sampai di kosan. Resta ini bisa di bilang anak spesial, dia bisa merasakan dan melihat keberadaan makhluk yang tak terlihat. Aku sedikit kasihan melihat dia sepertinya kepanasan siang-siang seperti ini naik ojek online dari Tanah abang ke kosan ku. Di dalam kosan ku yang tidak terlalu besar, aku menghidangkan minuman dingin dan cemilan yang ku beli di warung.

“ jadi nginep kan ta?”

“jadi dong vi, kan udah lama juga kita gak gibah. Haha…”

Sore menjelang malam, aku mengajak rani untuk jalan bersama. Berhubung aku juga baru di jakarta aku belum hafal tempat yang asik.

Aku, resta dan rani pergi ke sebuah cafe yang lumayan jauh dari kos. Kita pulang terlalu larut malam. Tepatnya jam 12.30 kita sampai di kosan. Rani balik ke kamar lalu aku dan resta balik ke kamar ku.
Semalaman kita meminum banyak Coffe, bisa hampir 3 gelas seorang. Aku dan resta nampak sekali tak bisa tidur. Akhirnya kita memutuskan untuk bermain game di hp.

Dug… dug… dug….

Terdengar suara pintu seperti ingin di dobrak.

Aku dan resta saling menatap. Saat itu kamar kosan ku sudah hanya memakai lampu tidur.
Resta melihat kecemasan di wajah ku.
“jangan takut vi, nanti dia malah senang.”

Aku terkejut mendengar perkataan resta barusan.

“maksudnya gimana?”

Resta menyalakan seluruh lampu di kamar kos ku. Termasuk toilet.

“ta, jangan boros. Lagian gw gak bisa tidur kalo terang begini.”

“ lo mending di gangguin apa mending bayar listrik lebihan?”

“maksudnya di gangguin sama siapa sih ta?? gw gak paham.”

“sssttt.. udah ah bawel. Ayo main lagi.”

“tapi ta….. itu tadi siapa yang yang gedor gedor pintu.”

“gak tau. Mantan lo kali.”

Aku berusaha melupakan kejadian barusan, yang jelas sekali terdengar bahwa ada yang ingin masuk kamar kos ku. Keadaan kos ku kini sangat terang dan resta tidak hanya menyalakan lampu, tapi juga tv. Aku dan resta berhenti bermain game pukul 03.00, kita saling menatap langit-lamar kamar kosan ku.
Aku melihat resta dalam keadaan tidak nyaman decakan di mulutnya sering sekali aku dengar.

“ta, kenapa sih lu, cak.. cek.. cak.. cek ajaa..”

“gpp. Besok pagi lu anterin gw ke stasiun ya.”

“oh, lu udah mau pulang. Udah rindu emak apa rindu pacar si? Baru nginep sehari di sini.”

Resta hanya tertawa kecil, tingkahnya sangat dingin saat setelah kejadian kosan pintu ku berisik.


Paginya, aku mengantar resta ke stasun Tanah abang menggunakan taxi online.

“vi, lu nyaman di kosan?”

“kadang gw merasa nyaman ta, tapi kadang gw merasa takut kalo di kosan.”

“jagan sampe deh lu nyaman di sana. Pindah aja.”

“tapi di sana kan murce ta. Murah cekali.”

“iya murah, tapi berhantu.”

Mata ku langsung saja melebar saat mendengar ucapan resta barusan.

“apa lu bilang? Berhantu. Haha..yang bener ta???”

“iya, jadi semalem gw ngerasain energi negatif tuh kayak kumpul di area dekat kamar lu. Tapi gw yakin, mereka gak berkumpul di kamar lu.”

“terus di mana?”

“ntah, gw kan baru aja main ke kosan lu, gak berani gw cari - cari tau. Kemarin malem gw gak mau ngomongin ini sedikit pun. Soalnya gw takut mereka denger terus malah makin jail.”


“thnx ya ta.”

Aku tersenyum kepada resta dan memandanginya hingga memasuki stasiun.
Diubah oleh melmel02
lanjut
PART 4


Hari - hari ku di kosan itu semakin terasa terusik, sebenarnya aku orang yang penakut, tapi aku berusaha utuk selalu cuek dengan hal - hal mistis. Sudah memasuki satu tahun aku berada di sini. Teman ku rani sudah tidak lagi di sini, karena dia pindah pekerjaan. Semenjak kepergian rani aku merasa kesepian. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berpacaran. Sekarang aku sudah memiliki pacar di jakarta. Namanya Fadil, kita berkenalan lewat sosial media tinder. Beberapa kali bertemu dan akhirnya kita memutuskan untuk berpacaran. Sudah hampir 6 bulan, tapi fadil tidak pernah berkunjung ke kosan ku. Malam itu, di hari sabtu. Aku dan fadil menghadiri acara ulangtahun teman fadil yang berada di daerah jakarta. Tepatnya di sebuah club malam. Jujur saja, aku tidak pernah menginjakkan kaki ku di sana, bahkan untuk berfikir pergi kesana aku pun takut. Acara selesai sekitar pukul 2 pagi, fadil mengantar ku pulang ke kosan. Hari itu aku di paksa minum beer, sedikit saja aku sudah muntah. Fadil memarkirkan mobilnya dan mengantarkan aku sampai ke kamar. Saat aku di letakkan di atas kasur, aku mendengar fadil mengunci pintu kamar ku, lalu dia kembali kehadapan ku. Dengan setengah mabuk, aku dan fadil berada di puncak keindahan dunia yang salah. Fadil mencoba menyentuh seluruh tubuhku, aku menikmati setiap sentuhan yang fadil berikan.

Dug dug dug dug ……………….

Suara pintu itu kembali terdengar. Seperti biasanya. Aku hanya santai mendengar suara pintu itu berdebug, tapi fadil. Alangkah kagetnya dia. Sampai dia tersadar dari mabuknya.

Dug dug dug du

“siapa??” fadil bertanya sambil memperlihatkan wajah paniknya.

“ntah..” jawab ku tidak beranjak dari posisi.

Ketika suara itu tiba - tiba lenyap aku dan fadil melanjutkan aksi, namun suara itu muncul lagi.

aku yang masih merasakan mabuk, kesal dengan suara - suara menyebalkan itu.

“aahhh… berisik… bisa diam gak kalian?” aku berteriak sambil menyalakan seluruh lampu. Dan Saat aku hendak menyalakan lampu di toilet. Aku melihat sesosok tubuh pria Berdiri di pojok toilet. Ntah karena halusinasi ku karena masih mabuk atau memang dia sudah berani mewujudkan wujudnya. Aku benar - benar membuka mata ku dengan lebar saat itu, melihat wajahnya yang samar namun aku melihat dia sedang tertawa karena melihat ku. Aku teriak sekuat tenaga ku, namun aku sendiri tak mendengar teriakan ku. Aku seperti bisu saat itu, aku tidak sanggup untuk menyalakan lampu, dan langsung jatuh lemas duduk di depan toilet. Fadil melihat kejadian itu dengan santai mengira aku masih mabuk. Anehnya, aku tidak bisa menangis saat aku melihat wujud itu.

“say, jgn duduk di sana dong. Sini temenin aku di kasur. Aku takut.” fadil masih merayuku, sedangkan keadaan aku sudah setengah mati ketakutan. Tubuhku berada di depan toilet yang masih belum menyala, mungkin fadil tidak melihat wajah ku.


Sekitar lima menit kemudian, sosok tubuh pria itu hilang dan aku menjerit. Saat itu, fadil baru bergegas menuju ku.

“kamu kenapa?”

“a… aa.. aaku tadi…..” hikss…. aku langsung saja menangis di pelukan fadil. Setengah jam kemudian aku baru berhasil menenangkan diri dan menceritakan kejadian yang aku alami.

“aku tadi liat cowok di kamar mandi, dia ngetawain aku yang…”

“aduh, kamu minum kebanyakan yah…. sudah.. sudah… gak ada apa - apa kok….” sambil mngelus rambut ku, kita berbaring di kasur yang sama dengan suasana yang aku rasa sangat aneh.

Aku dan fadil memejamkan mata sambil berpelukan. Saat Fadil mulai menciumi ku lagi, nampaknya dia masih sangat ingin melakukan sesuatu, saat kami hendak ingin berciuman tiba - tiba listrik padam, seluruh lampu mati. Aku dan fadil sangat kanget. Di tambah pintu kamar seperti ada yang mengetuk. Saat itu aku merasa sangat takut, dan aku merasakan hal yang sama menimpa fadil.

“kita ke hotel aja yuk, kamu bawa seddikit baju buat ganti.”

“aku gak keliatan apa-apa yang.”

“yaudah pake senter HP dong.”

“hp ku kan mati dari tadi.”

“yaudah nih pake HP aku” fadil memberikan HPnya kepadaku. Tapi sayang batrai HP dia tinggal 7% sehingga tidak sanggup menyalakan flash.

“ayang…. baterai kamu low. Gak biasa nyalain flash.”

“aaahhh….. yaudah gak usah bawa apa-apa. Cepetan kita keluar dari sini.” fadil menarik ku dengan nada panik. Namun hal aneh menimpa kita berdua. Pintu kosan terkunci.

“tadi kan kamu yang ngunci yang.”

“ah iya, iya….”

“kuncinya kamu taro di mana?”

“aahh.. aku gak tau vi, aku lupaaa….”

“ya kenapa kamu cabut - cabut kuncinya dari pintu.”

“vi, aku gak cabut kuncinya.”

“ya terus kemana kuncinya…..?” teriak ku di hadapanya.

pertengkaran aku dan fadil tidak tertahankan. Aku terus menyalahi fadil malam itu. Perasaan ku dan fadil seperti tidak dapat terkontrol. Teriakan dan kata - kata tidak pantas kita keluarkan.
Tiba - tiba fadil menangis seperti layaknya perempuan, dia membungkuk di pojokan ruang depan sambil menangis. Betapa takutnya aku saat melihat tingkah fadil seperti itu.

“maafin aku yang.” aku yang mencoba mendekati fadil dan berusaha menenangkannya.

Hihihihihii…..

Suara itu, suara seperti hantu yang aku dengar di film terdengar lagi. Tapi rasanya sama dan jauh sekali. Aku berusaha mengabaikannya.

“FADIL.. KAMU JANGAN SEPERTI ITU.!! KAMU BIKIN AKU TAKUT.!! BANGUN GAK.!!!” plak…..

Aku memukul kepala fadil dengan keras. Tapi dia tidak bergeming.

Plak…. sekali lagi aku memukul tubuhnya dengan jari - jari ku. Ntah apa yang aku fikirkan saat itu aku berani berbuat kasar terhadap laki - laki.

Tangisan fadil kini terasa lebih kencang setelah aku memukulnya. Tapi anehnya suaranya mirip seperti tangisan wanita.

“oh shit… apa kamu kerasaukan hantu yang suka menganggu ku setiap malam?”

Aku panik sekali. Aku mengherankan tidak ada tetangga ku yang bergeming atau keluar karena listrik padam.

Akku berusaha menenangkan diri ku sendiri setelah sekian lama Aku mencolek - colek tubuh fadil berharap dia tersadar. Fadil tidak melakukan aksi apapun. Dia hanya menangis dan terus menangis. aku kasihan kepadanya, aku ikut duduk di sebelah fadil saat itu dan menenagkannya.

Malam itu terasa sangat panjang. Aku yang hanya berdiam di sebelah tubuh fadil yang tidak berkutik sambil menangis dengan suara wanita tidak bisa berbuat apa - apa. Tepat pukul 4 lewat, aku mendengar suara azan dari kejauhan. Lampu masih tetap keadaan padam tapi setelah mendengar azan subuh, tangisan fadil berhenti. Dia menutup matanya. Ntah pingsan atau tertidur, aku tidak berani untuk mengganggunya.
profile-picture
iandeb memberi reputasi
Part 5


Setelah kejadian itu fadil pulang meninggalkan kosan ku dengan santai, aku meminta maaf tapi dia tidak ingat kejadian apapun tentang semalam. Padahal aku sudah takut fadil berubah setelah aku berani memukulnya. Saat aku mengantarkan fadil sampai ke mobilnya aku melihat mami kos sedang duduk di depan kamarnya.

“waah… kamu berantakan banget. Abis ngapain kamu vi?” tanya ibu kos sinis.

“kita ke kunci semalaman mi di kamar.listrik mati jadi aku kepanasan.”

“ooh…”

Respon ibu kos hanya sesingkat itu, nampak dari awal aku masuk sepertinya dia tidak suka terhadap ku.

“permisi ya mi, mau ke depan.”

Aku menggenggam tangan fadil sebelum ia masuk mobilnya.

“yang… kamu bener gak apa - apa? Gak perlu naik taxi online?” aku mencemaskannya

“gpp yang, tidur aku udah cukup kok. Jadi aku gak ngantuk. Kamu habis ini tidur ya. Mata kamu seperti orang yang gak tidur semalaman.”

“kamu yakin tidur kamu nyenyak semalam?”

“yakin…. sudah lah, aku mau kamu istirahat. Aku pamit yah.”

Setelah mencium keningku, fadil masuk ke mobilnya dan meninggalkan ku sendiri.
Aku kembali ke kamar dengan perasaan yang cemas. Fadil tidak ingat apapun dan aku mengingat semuanya, termasuk aku ingat sekali aku tega memukuli fadil malam itu.

Aku kembali ke kamar dan berusaha istirahat semampuku, aku berfikir keras mengenai kejadian semalam. Aku teringat resta yang memiliki kemampuan.

“hallo, ta…. main-main dong kesini. Pliss..”

“lo kenapa vi? Ada masalah?”

“mereka ngeganggu gw parah banget semalem.”

“waahh… lo masih betah aja di sana vi.”

“ini satu - satunya tempat murah yang bikin gw nyaman.”

“okey… nanti malam gw kesana ya.”

Bogor - jakarta tidaklah terlalu jauh, resta sampai jam 11 malam di kosan ku.

“taa… jadi semalam……”

“sssttt…. makan di depan yuk. Tadi gw liat masih ada tukang nasi goreng tuh di depan”

Aku meng iyakan ajakan resta. Aku paham maksudnya Resta tidak ingin aku menceritakannya di dalam kos.

“jadi lo di apain?”

“gw liat ada cowok yang ngetawain gw di toilet, terus lo tau. Parahnya cowok gw semaleman nagis tapi gw yakin itu bukan suara tangisan dia. Suaranya kayak cewek banget ta.” aku menceritakan semua kejadian yang aku alami kepada resta.

“sosok cowok??”

“iya cowok. Tinggi besar.”

“ganteng gak?”

“aahhh taa… jangan konyol laahh….”

“iya iya… jadi gini. Waktu gw nginep di kosan lo tuh, gw liat sosok perempuan muter-muter ngililingin kosan terus. Tapi gw gak merasakan energi negative ya saat dia muncul makannya gw santai.”

“yang suka gedor - gedor pintu gw siapa?”

“gw gak yakin ya vi, ntah si cewek ini iseng, atau memeang ada makhluk lain yang iseng. Seperti yang lu liat laki - laki ngetawain lu di toilet.”

“kemarin lu jam berapa di ganggu?”

“sekitar pukul 2 atau setengah 3 lah”

“okey, sekarang kita balik kosan. Istirahat dulu. Kita bangun jam 1 lewat. Gw coba komunikasi deh.”
“lo yakin? Lo gpp ta?”

“iya gw gpp.”

Setelah perut kenyang dan obrolan selesai kami kembali ke kosan. Ternyata sudah pukul setengah 12 malam.

“ta, udah sana lu langsung tidur. Nanti gw bangunin.”

“iya deh, gw istirahat dlu sebentar.”

Malam itu aku merasa seedikit lebih tenang karena ada resta di sini

Aku ikut tertidur bersamanya karena aku benar - benar merasa lelah juga saat itu.

“vi, bangun….”

“jam berapa ta?”

“jam 2 nih. Siap - siap temenin gw.”

Aku bergegas mencuci muka ku. Aku melihat resta mematikan semua lampu. Kau tidak bertanya apapun tentang aksinya.

Resta duduk di lantai ruang depan.

“kamu kenapa? Ada yang bisa aku bantu?”

Lampu berkedip.

“sst.. dia lagi iseng mainin saklar lampu” bisik resta. Ntah apa yang ada di pikirannya sampai membisikkan aku hal seperti itu.

“sini mendekat. Kita ngobrol.”
“vi, gw mau pinjemin badan gw, tolong lo rekam semua omongan gw di hp ya. Lo tanya apapun yang bikin kita tau siapa dia”

“hah, ta. Gw takut.”

“gpp, gw gak akan nyentuh lo.”


Beberapa saat kemuadian, resta pinda ke pojokan ruang depan, ia mengeluarkan suara tangisan yang sama seperti fadil kemarin.

“ha…. haaai… kamu kenapa? Ada yang bisa aku bantu?”

hiks… aku takut. Tolong aku.

“kamu takut sama siapa?”

Resta menunjuk - nunjuk lantai sambil menangis. Sepertinya apa yang membuatnya takut ada di bawah kamar ku. Aku menyebutkan no kamar yang ada di bagian bawah kamar ku.

kamar 2b? 3b? 4b? semuanya menggeleng. Aahh…. apa yang ada di bawah??? ibu kosa?? mami mawar???

Deg

Wajah resta tiba tiba mengangkat dan memandang wajah ku. Omg seram sekali , aku tidak pernah membayangkan akan melakukan ini di hidup ku.
Aku kembali menyebut nama mami kosan.

“mami mawar?”

Hiks… hiks.. hiks…

Suara tangisan menjadi lebih kencang. Keringatku keluar begitu banyak ketika mendengarnya menangis semakin kencang.


“kenapa kamu ganggu aku?”

kamu dan teman mu yang bisa tolong aku.

“enggak.. aku gak punya kemampuan apa pun.aku gak bisa tolong kamu.”

Tolong aku…

“gimana aku bisa tolongin kamu?”

Keluarkan aku dari sini.

“dari mana? Dari tubuh teman ku?”

Resta menunjuk - nunjuk ke atas.

“dari lantai 3?” ia mengangguk. Aku diam…

tolong aku.. tolong aku…. aku takut…… aku takut….

Rengekan itu membuat aku benar benar gila malam itu.

RESTAAAAA…… aku teriak ketika sudah muak mendengar rengekan minta tolong. Resta tersadar dari kesurupannya dan dia mendengarkan percakapan yang aku rekam semua di HP.

Jam 3 pagi aku dan resta berkeinginan naik ke lantai 3. namun saat menaiki tangga resta teriak dan jatuh.

“ta, lo gpp?”

“kita balik kamar. Dia liat kita.”

“kok lo bisa jatuh?”


“ada yang jaga di tangga. Tubuhnya besar. Energinya besar banget. Dia tau kita mau menuju kemana.” sebuah pesan text di kirimkan resta ke WA ku. Sepertinya dia benar - benar tidak ingin berkata sedikitpun mengenai hantu di kamar kos ku.

“kemarin jam berapa keadaan normal?” tanya resta kepada ku

“jam 4 lewat saat azan subuh.”

Setelah jam terasa sangat lama, aku dan resta mendengar suara azan berkumandang. Resta menarikku untuk mencoba menaiki tangga.

“vi, gw gak bisa naik.”

“jadi maksud lo??”

“tunggu di sini.”

Resta pergi menuju kamar ku dan sesaat kemudian dia kembali.

“lo pegang ini.” resta memberi ku camera digital yang berukuran kecil.

“lo naik. Kita video call, lo rekam semuanya.”

“ta.. maksudnya gmn? Knp lo gak bisa naik? Gw takut ta….”

“gpp vi, lo akan baik - baik aja. Gw ada di sini gak kemana mana.”

Akhirnya dengan terpaksa aku mengikuti instruksi dari resta. Tangan kanan ku memegang HP sambil video call dengan resta dan tangan kiri ku memegang camera digital milik resta yang sudah mulai merekam dari aku baik tangga.

“ta….. gw harus ngapain?”

“gak perlu ngapa - ngapain vi, lo rekam aja semua sudut ruangan.”

Ruangan lantai 3 ini bisa di bilang berantakan. Karena hanya untuk menjemur pakaian.

“vi, di belakang lo ada pintu apa?”

Aku membalikkan badan ku dan melihat sebuah pintu seukuran dada ku.

“ini kan arah ke loteng ta.”

“coba lebih dekat lagi vi.”

Aku mencoba membuka pintu itu, tapi tidak berhasil.

“vi, turun sekarang.!!! ada yang mau naik!!!!”
Aku cemas dan sedikit ketakutan bug aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. (kayak lagu ya. hehe)

Bug

Aku melihat ke layar HP resta sudah berlari menuju kamar. Aku mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Semakin dekat.

Aku bersembunyi di balik jemuran sprei yang sedang di jemur.

Aku melihat ibu kos membuka pintu yang aku dekati tadi. Camera masih tetap menyala. HP ku masih ttp video call. Aku dan resta menyaksikan ibu kos memasukkan buah - buahan ke dalam pintu dengan wajah tersenyum. Lalu tanpa curiga dia menuruni anak tangga.

Setelah keaadaan aman, aku kembali ke kamar ku.

“ ada apa ta di sana?”
“kayaknya dia menyimpan sesuatu di sana. Gw tlp teman gw dulu ya.”
Resta mengundang temannya untuk datang ke kosan ku. Umurnya jauh lebih tua di banding aku dan resta, kira - kira umur 40 tahun. Wanita ini tinggal di daerah banten, namanya lisa. dia memiliki kekuatan yang lebih spesial di banding resta. Saat aku dan resta menunjukkan video yang aku rekam tadi pagi dia sedikit terkejut.

“dia di kurung di sana.” sambil menujuk ruangan yang pintunya hanya setinggi dada ku

“kasihan dia. Di kurung dan di jaga. Ada jin di depan ruangan itu. Kamu liat ta?”

“iya aku liat tante, makannya aku di halangi untuk masuk kesana.”

Aku tidak mengerti mereka membicarakan apa

“nanti tante ingin berkomunikasi dengan dia.”

Akhirnya tante lisa menginap di kosan ku malam ini, tapi mami kos tidak mengetahuinya, aku pun tidak memberi tahunya, karena menurut tante lisa dan resta ada yang mencurigakan di sana. Aku, resta dan tante lisa tidak tidur malam itu. Sekitar jam 12 malam, tante lisa melakukan aksinya. Kini aku hanya benar - benar jadi penonton.

“dia datang, ada di pojok ruangan. Dia cantik, wajahnya terlihat baik. Ta. Pinjamkan tubuh kamu.”

Resta duduk di pojok ruang depan, karena hantu itu katanya suka sekali di sana. Tante lisa mulai berinteraksi dengannya.

“kenapa kamu di sini?”

Lagi lagi resta menangis, hantu itu sepertinya setiap harinya menangis. Kini aku menjadi kasihan dengan hantu.

Tolong aku,

“apa yang bisa saya bantu?”

Keluarkan saya dari sini

“sepertinya kamu di jaga dengan yang lainnya. Saya tidak yakin bisa mengeluarkan kamu dari sini.”

Resta kembali menangis (ah bukan resta, tapi si hantu)

Tolong….

“siapa yang mengurung mu? Mawar?”

Hantu itu kembali marah setiap kali menyebut nama mawar. Dia keluar dari tubuh resta. Dan
Deg

Aku bisa melihatnya…. tibuh ku gemetar. Aku melihat wanita berdiri di pojok ruangan utama ku, aku perhatikan benar - benar bahwa ia adalah hantu.kakinya tidak menyentuh tanah. Dia melihat ke arah ku, langsung saja ku alihkan pandangan ku darinya.
Resta menyalakan seluruh lampu di kamar ku.

“jadi… dia ini adalah jin yang di simpan di atas loteng. Jin ini mengeluarkan energi positif, sehingga kosan ini selalu ramai peminat.”

“jadi semacam jin penglaris?” timpa resta.

“iya betul.”
“tante mau coba menolong dia?” timpa ku penasaran.

“tante akan coba.”

“tapi bahaya sekali tante, aku liat penjaga nya kuat sekali.”

“tante tau. Tante sudah lihat jin pria itu de depan saat masuk kosan ini. Tante akan coba semampu tante. Kasihan wanita itu.”

Tepat pukul 2 dini hari, tante lisa dan resta menuju ke lantai 3. aku di suru hanya duduk di kosan, tapi aku takut. Akhirnya aku membuntuti mereka.

Tante lisa berada di depan pintu loteng dan sambil membaca mantra,

“heeii”

Kami bertiga kaget luar biasa.

“sedang apa kalian di sini?”

Ibu kos, tiba - tiba ada di belakang kami, mukanya terlihat sangat marah.

“kalian mau saya teriakkan maling?” ancam nya.

“ibu kalau ingin usaha jangan berbuat curang!” timpa resta.

“apa urusannya sama kamu? Ini usaha saya, biarkan dengan cara saya.”

“makhluk yang ibu kurung itu tersiksa.!! dia tersiksa demi ibu mendapatkan rupiah.”

“ itu sudah tugas dia!!!”
Ibu kos itu terlihat tidak merasa bersalah atas perbuatannya.

“sekarang kalian pergi dari lantai ini. Kalau ada apa - apa dengan yang ada di dalam sana (menunjuk ke arah loteng) saya tidak akan membiarkan kalian bertiga tenang di dunia.”

Kami hanya saling menatap, tante lisa tidak berbicara apapun. Akhirnya kami kembali ke kamar ku.

“ibu itu, energinya negativ sekali.” ucap tante lisa.
“sepertinya banyak jin jahat yang suka dengan dia.” timpa resta.

Kreekk….. pintu di buka, ibu kos berdiri di depan kamar ku
“vivi, saya tidak ingin lihat kamu lagi di sini besok pagi. Saya memperhatikan kamu dari cctv, kamu selalu membuat onar.”

“sa… saya…. bukan membuat onar bu, tapi saya di ganggu oleh makhluk yang ibu kurung di atas sana.”

“ itulah akibatnya kamu berbuat semaumu di tempat ini, kamu selalu di ganggu. Saya tidak pernah suka ada pasangan yang tidak sah menginap di sini..”

Aku terdiam, sepertinya dia membicarakan fadil.

“kemasi barang - barang kamu. Dan pergi besok pagi.”

Oh shit.. aku kena masalah sekarang. Aku di usir dari kosan dengan alasan yang mencoreng diri ku.

“udah gw bilang vi, lo pindah. Kok masih ngeyel.”

“gw gak tau harus pindah kemana ta.”

“yaudah besok gw bantu caari kosan baru.”


Setelah ibu kos itu pergi gangguan itu muncul lagi.

“tante, kenapa dia ganggu aku?”

“karena di sini lembab.… yang suka ganggu kamu bukan wanita itu, itu jin yang menjaga. Karena wanita itu sering sekali berada di sini. Jadi penjaga itu sering kali menggedor pintu agar dia takut.”

“tapi aku pernah liat di cctv ada orang sungguhan memakai topi”

“itu mungkin trik ibu kos yang sudah paham sama kejadian di sini.” timpa resta.

Aahh benar jugaa pikiran resta.

“saya minta maaf karena saya tidak bisa bisa mebebaskan kamu dari sini.”

Lampu mulai berkedip lagi, aku berharap cepat pagi saat ini.

Tante lisa mengucapkan maaf terus dan memperlihatkan wajah sedihnya. Menunggu pagi tante lisa hanya duduk di ruang depan, sedangkan aku dan resta berada di kamar tidur.

Paginya tante lisa pamit pulang, dan aku pun membereskan barang-barang ku.

Aku mendatangi kamar mami kos.
Tok.. tok.. tok..
“mami, saya ingin mengembalikan kunci.”

Di bukanya pintu, dan aku melihat hantu wanita itu berdiri di belakang mami dengan muka murung,

Wajah sinis masih terlihat di wajah mami kos saat melihat ku.

Tanpa pamit dengan basa basi aku hanya bertemu untuk mengembalikan kunci.

Aku hendak pulang ke bogor menggunakan mobil box untuk membawa barang - barang ku.



-Selesai-
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
mantab
seram nanti pas ada waktu luang baca ah
ini keren.. hebat TS.. 😎
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
mantap, keren ceritanya, meninggalkan perasaan iba ke hantu jadinya emoticon-Hammer2
Quote:


Haha.. Kan gak semua hantu jahat emoticon-Ngakak
Quote:


emoticon-Cendol Gan
Quote:


Silahkan di nikmati gan... emoticon-Cendol Gan


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di