alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Romantis [Cinta di Tahun Baru]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4be014018e0d78682695fa/cerita-romantis-cinta-di-tahun-baru

Cerita Romantis [Cinta di Tahun Baru]

Cerita Romantis [Cinta di Tahun Baru]

Cinta di Tahun Baru

(By : Kuntha)


Jalanan kali ini sudah terlihat ramai, orang-orang berdatangan menyambut pergantian tahun ini. Kulihat jam di pergelangan tanganku telah menunjukkan pukul 21.55, kurang lima menit lagi, tahun 2018 akan berganti menjadi tahun 2019. Ini untuk pertama kalinya aku merayakan pergantian tahun di tengah-tengah keramaian, biasanya hanya di rumah dan menonton TV yang menyiarkan malam pergantian tahun. Aku menoleh ke samping, di sini aku bersama Bisma, cowok tampan yang diam-diam aku sukai, namun sayang hubungan kita hanya sebatas teman. Beberapa detik aku menatapnya dan dia tiba-tiba menoleh ke arahku hingga pandangan mata kita bertemu.

"Apa kamu ingin meminta sesuatu di tahun 2019 nanti?" Bibirnya mulai berkata, kali ini terdengar lembut dan penuh penghayatan.

Tentu saja aku punya dan itu adalah kamu Bisma, aku mau kamu.

"Iya," jawabku lirih, namun masih bisa didengar oleh dia.

"Apa?"

Mungkin dia mulai penasaran atau mungkin aku hanya kepedean, ah entahlah gelagat wajahnya susah untukku tebak.

"Rahasia."

Mana mungkin aku akan memberitahumu Bisma. Mungkin kamu akan menertawakanku, iya kan?

"Apapun yang kamu minta, semoga itu permintaan yang baik," ucapnya dengan senyum jahil.

Memang sudah menjadi kebiasaannya setiap bersamaku, dia memang orang yang aneh, walau dia manis namun selalu saja menyebalkan.

"Kamu pikir aku akan meminta hal yang buruk?" Aku mendengus kesal.

Kenapa dia selalu membuatku kesal? Apa tidak bisa untuk malam ini saja sikapnya sedikit manis padaku? Ah dasar cowok aneh.

Dia hanya terkekeh, lalu memfokuskan pandangannya ke depan, entah apa yang dilihatnya sekarang. Semoga saja bukan seorang cewek cantik, bisa-bisa dia akan jatuh hati dengan cewek itu.

PYAARRR....

Terdengar suara cukup keras di atas, hingga membuatku reflek menatap ke atas, dia pun juga sama sepertiku. Kembang api. Aku tersenyum lebar, akhirnya aku bisa menyaksikan kembang api di perayaan tahun baru secara langsung, aaaakkk, aku tidak bisa mengatakan seberapa bahagianya aku malam ini.

"Selamat tahun baru Zahra," ucapnya tiba-tiba dengan senyum yang merekah di wajahnya.

Aku tidak berbohong, senyuman Bisma kali ini sangat manis.

"Selamat tahun baru juga Bisma," jawabku sedikit canggung, ya mungkin efek karena aku terlalu gugup saat ini. Entah kenapa sikap dia berubah drastis, ucapnnya barusan terdengar lembut dan manis.

"Jadilah pribadi yang lebih baik di tahun ini! Jadi anak kebanggaan orang tua dan..." Dia menjeda ucapannya, padahal untuk beberapa detik ini dia baru saja menjadi dewasa.

"Dan?"

"Dan... Jangan suka marah-marah lagi! Kamu itu kelihatan tambah jelek kalau lagi marah."

Dia terkekeh dan langsung menarik lenganku menuju tempat penjual ice cream tanpa memperdulikan aku yang kembali kesal karena candaan garingnya itu.

Walau berdesak-desakan dan kadang menabrak orang, Bisma tetap menarik lenganku menuju tempat penjual ice cream itu padahal malam ini sangat dingin. Dasar Bisma, anehnya tidak pernah berubah.

"Pak ice cream rasa cokelatnya satu ya!" ucap Bisma kepada penjual ice cream itu.

"Kamu mau rasa apa, Zah?" Kini dia bertanya padaku.

"Enggak, aku nggak beli. Aku nggak tahan kalau makan ice cream dingin-dingin kayak gini."

"Oh, oke." Dia mengangguk mengerti, lalu mengambil ice cream yang di berikan penjualan itu.

"Ini uangnya, Pak," ucapnya sambil memberikan selembar uang kertas kepada si penjual ice cream.

Tanpa basa-basi dia langsung melahap ice cream yang dia beli tadi. Aku hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah laku manusia di sampingku ini, selain aneh dia itu seperti anak kecil, cemong-cemong kalau makan ice cream.

"Beneran kamu nggak mau makan ice cream, Zah?" Aku hanya menggeleng.

"Ini enak loh, beneran nggak mau?" Untuk kedua kalinya dia bertanya lagi.

"Kamu makan saja!"

"Ya sudah," jawabnya santai, lalu kembali menikmati ice cream.

Kami terus berjalan menyusuri alun-alun. Jalanan sudah semakin ramai, semakin banyak orang berdatangan walau hanya untuk sekedar kencan bagi kekasih baru ataupun yang sudah lama berpacaran. Berjalan berdua, bergandengan tangan, dan ada yang duduk berdua sambil berfoto-foto.

"Kita kayak orang pacaran ya?"

Aku langsung menatapnya bingung, astaga apa yang barusan dia katakan?

Dia tersenyum padaku lalu dengan cepat dia tertawa, "Hahaha... mana mungkin kita kayak orang pacaran. Kita kan teman."

Aku mendengus kesal, baru saja aku merasa bahagia, lalu dengan seketika dia menjatuhkanku ke dalam lautan kekecewaan.

"Iya, mana mungkin juga kita pacaran. Aku nggak pantas, aku mah siapa? Cuma cewek jelek, hitam, dan suka bermimpi hal yang tidak bisa aku raih,"

Dia menghentikan tawanya lalu terdiam cukup lama. Raut wajahnya pun jadi berubah tidak seperti tadi, ada apa dengan dia? Apa dia menyesal telah berkata demikian? Ah mana mungkin. Kutepis pikiran-pikiran itu, aku tidak boleh terlalu berpikir dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, kalau jatuh baru tau rasa.

"Udahlah, aku lapar. Kita makan yuk!"

Aku meraih lengannya dan mengajaknya ke sebuah warung yang tidak jauh dari sini. Aku ingin mengalihkan perhatiannya agar suasana tidak lagi canggung. Dia hanya diam dan menurut saja aku ajak, entah kenapa rasanya jadi canggung, seharusnya aku tidak mengatakan itu tadi. Ah dasar bodoh.

Setelah sampai di warung aku langsung duduk dan dia pun juga. Aku memanggil ibu-ibu penjual makanan dan memesannya.

"Bu, saya pesan nasi goreng sama teh hangatnya satu ya," ucapku pada ibu penjual makanan itu.

"Kalau mas nya mau pesan apa?" Tanya penjual itu kepada Bisma yang dari tadi diam saja.

"Sama kayak dia, bu," jawab Bisma ramah, namun setelah itu kembali diam seperti tadi.

"Oh, iya. Silahkan ditunggu sebentar ya," ucap penjual itu lalu pergi meninggalkan kami.

Malam kian gelap, hawa dingin semakin terasa, rasa kantuk pun sepertinya sudah ingin menguasai diriku. Kulihat jam di pergelangan tanganku sudah menujukkan pukul 02.40 sudah pagi rupanya. Kulihat lagi ke arah Bisma, aku seperti tidak tahu lagi jalan pikirannya, sebentar-sebentar banyak bicara, lalu tiba-tiba diam.

BRUKKK...

Aku menggebrak meja cukup keras hingga membuat dia kaget dan melototiku.

"Kamu mau bikin aku kena serangan jantung ya?" ucapnya dengan kesal, namun sekesal apapun ekspresinya dia tidak akan terlihat menakutkan.

Aku terkekeh, dia terlihat lucu sekali kalau sedang kesal. Wajah pantonim seperti dia tidak pantas untuk marah menurutku.

"Habisnya kamu dari tadi diam aja, aku kan jadi bingung, entar kalau kamu kesambet gimana? Kan nggak lucu," jawabku sambil terkekeh.

"Kesambet? Mana ada setan yang berani gangguin aku? Hah, palingan setannya cuma mau modus saja, aku kan ganteng."

Sial, sikap ke-pede-annya muncul lagi, rasanya ingin aku menimpuknya pakai sepatu yang aku pakai. Aku menyipitkan mata, lalu berpura-pura memandangnya dengan wajah tidak suka.

"Sok kagantengan banget sih kamu! Gantengan juga pak Egi guru bahasa Indonesia."

"Heh?" Dia menatapku dengan tatapan tidak terima, "mata kamu baik-baik saja kan? Aku sama pak Egi? Ya jelas gantengan aku lah!"

Aku tersenyum geli melihat dia kembali seperti semula, seperti anak kecil. Aku senang akhirnya dia sudah tidak lagi mediamkan aku seperti tadi. Jujur aku tidak suka kalau dia diam.

"Apa jangan-jangan kamu suka lagi sama pak Egi?" Matanya mendelik menatapku dengan penuh pertanyaan.

"Kalau iya kenapa?" jawabku bohong, aku penasaran dengan apa reaksi dia kalau aku menjawab itu.

Dia menatap sekali lagi, cukup lama. Lalu dia tertawa cukup keras, "Hahaha... cinta bersemi di SMA, guru dan murid, wah bagus juga kalau di buat cerita."

Aku mendengus kesal, padahal niat aku ingin tahu apakah dia juga mencintaiku atau tidak. Ternyata apa yang aku pikirkan tidak sama dengan kenyataannya. Kenyataan memang pahit. Dia hanya menganggapku sebagai teman, itu saja. Ternyata mencintai sepihak itu lebih menyakitkan.

Kini gantian aku yang diam, mendengarkan tawa kerasnya yang membuat hatiku rasanya sakit. Aku tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.

"Kenapa kamu jadi diam?"

Aku tidak ingin menjawab, aku ingin diam seperti apa yang dia lakukan tadi. Cukup! Aku tidak bisa lama-lama seperti ini, aku bisa mati karena mencintainya yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku.

Tiba-tiba ibu penjual makanan itu datang dengan nampan yang berisikan dua piring nasi goreng dan dua gelas teh hangat.

"Ini mas, mbak, makanannya. Silahkan dinikmati." ucap ibu penjual makanan itu sambil meletakkan nampan itu di atas meja.

"Iya bu," jawabnya ramah.

"Terima kasih bu," jawabku tidak kalah ramah dari dia.

Setalah ibu itu pergi aku langsung menyantap nasi goreng itu dengan lahap begitu juga dia mungkin saja sama. Namun sayangnya aku tidak melihat ke arahnya, hanya membuat hatiku semakin sakit saja.

"Zahra," dia memanggilku lirih.

Aku menoleh kearahnya, "Apa?"

"Aku mau bilang sesuatu sama kamu,"

"Yaudah, bila saja!" jawabku canggung.

"Aku ingin..."

Dreddd... Dreddd... Dreddd...

Tiba-tiba ponselku bergetar, aku menyuruh Bisma menjeda dahulu, segera kuambil ponsel dari dalam tas kecilku.

"Cika Calling..."

Kugeser tanda hijau lalu ketempelkan ponsel itu ke telinga kiriku.

"Selamat tahun baru Zahra," ucap suara di seberang sana dengan nada girang.

Dia adalah sahabatku yang kini tinggal di Kalimantan, namanya Cika Diantara. Kami sudah bersahabat sejak kecil namun saat kelas X SMA kami berpisah, karena Cika dan keluarganya pindah ke Kalimantan.

"Selamat tahun baru juga Cika," jawabku tidak kalah girang, "gimana kabar kamu di sana?"

"Alhamdulilah baik, kamu sendiri gimana?"

"Alhamdulilah aku juga baik,"

"Yaudah kalau gitu, cuma itu saja yang mau aku bilang. Daaa Zahra," ucap Cika lalu panggilan terputus.

Aku kembali melihat ke arah Bisma. Katanya dia tadi ingin mengatakan sesuatu, jadi aku ingin dengar apa yang mau dia katakan. Pasti tidak penting, aku sudah bisa menebak itu.

"Kamu tadi mau bilang apa?"

Dia terdiam sebentar, lalu terlihat dia sedang mengatur napas.

"Aku... Cinta sama kamu, Zahra," ucap Bisma lirih.

Apa? Dia cinta sama aku? Dia pasti bercanda. Kebiasaan dia itu.

Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya, "Bercanda kamu itu nggak lucu Bisma,"

"Zahra, aku nggak bercanda, aku serius cinta sama kamu." Bisma menatapku serius, ada tatapan sendiri dari bola matanya.

Apa mungkin dia jujur?

"Kamu serius?" Aku memastikan.

Bisma menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, dia menatapku lekat. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin dan bola matanya yang teduh.

"Mungkin aku bukanlah orang yang romantis dan puitis. Aku hanyalah Bisma, seorang manusia yang bertingkah konyol dan kadang membuat kamu kesal. Namun percayalah Zahra! Aku melakukannya karena aku ingin membuatmu selalu tertawa, walau kadang malah membuatmu kesal dan marah. Kadang aku bertingkah laku seperti anak kecil, karena aku ingin jadi yang berbeda, yang bisa kamu ingat."

Deg!

Jantungku serasa berhenti seketika, apa ini mimpi? Bisma menyatakan cinta? Aku mencoba menenangkan pikiranku. Kuhela napas panjang lalu menghembuskannya begitu seterusnya hingga pikiranku sedikit lebih tenang.

Tiba-tiba air mataku mengalir, aku terharu dengan apa yang Bisma katakan. Oh Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengabulkan doaku. Aku mau Bisma dan Engkau mengabulkannya Tuhan.

Aku mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang kini membasahi pipiku, "Kalau boleh jujur, aku juga mencintaimu Bisma. Aku sudah mencintaimu sejak kita masih SMA dulu, aku merasa nyaman berada di sampingmu, tertawa dengan kekonyolan-kekonyolan yang kamu ciptakan, namun aku tau kita hanya teman dan nggak seharusnya aku mencintai kamu, aku takut kamu akan menjauhi aku bila tau aku mencintaimu. Sungguh sampai saat ini perasaan itu belum sedikitpun berkurang. Aku mencintaimu Bisma." Aku memeluk Bisma dengan erat, aku tidak mau melepaskan dia. Tidak dan tidak akan, "Bisma, jangan tinggalin aku ya! Saat hati ini sudah merasa nyaman."

"Zahra, kita akan selalu bersama, hanya maut yang bisa memisahkan kita."

Aku masih memeluk tubuh Bisma dengan erat, aku tidak peduli dengan orang-orang yang melihat kami. Sungguh aku tidak peduli. Toh Bisma kini milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Ini sudah final.


SELESAI


Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
P E R T A M A X

Landjoetken genks !
profile-picture
eghy memberi reputasi
Ashiapppp


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di