alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
"Jangankan untuk Denda, Bayar Iuran BPJS Saja Kami Telat"
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4bbb19d4397263e467851f/quotjangankan-untuk-denda-bayar-iuran-bpjs-saja-kami-telatquot

"Jangankan untuk Denda, Bayar Iuran BPJS Saja Kami Telat"

Rabu, 7 Agustus 2019 | 14:19

"Jangankan untuk Denda, Bayar Iuran BPJS Saja Kami Telat"

MAGETAN , KOMPAS.com — Suparni (55), istri almarhum Sabbarudin, warga Desa Gondang Karang Rejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengaku tidak memiliki uang untuk membayar denda keterlambatan BPJS.

"Jangankan untuk membayar denda, untuk membayar iuran bulanan saja terlambat," ujar Suparni, Rabu (7/8/2019).

Lilik Puryani, anak Suparni, terpaksa menjaminkan sepeda motor untuk mengambil jenazah ayahnya yang dirawat dan meninggal dunia di RSI Madiun.

Lilik Puryani mengatakan, saat itu pihak rumah sakit tiba-tiba menyodorkan pembayaran sebesar Rp 6.800.000 ketika keluarga akan membawa pulang jenazah Sabbarudin. Keluarga yang tidak memiliki uang untuk membayar akhirnya menjaminkan sepeda motor kepada pihak rumah sakit.

Kepala Bagian Keuangan RSI Siti Aisyiah Kota Madiun Fitri Saptaningrum didampingi Humas dan Pemasaran Syarif Hafiat mengatakan, prosedur di rumah sakit, biaya pasien harus dibayar lunas sebelum keluar dari rumah sakit.

Menurut Fitri, saat itu pasien tidak dibiayai BPJS. Sebab, masih ada denda keterlambatan pembayaran premi BPJS yang belum dibayar.

Baca juga: Warga Magetan Ini Terpaksa Jaminkan Motor untuk Kuburkan Bapaknya

Sementara itu, Kepala Desa Gondang Sudaryanto menyayangkan langkah RSI Madiun yang menahan sepeda motor warga. Menurut dia, pihak rumah sakit seharusnya lebih bijaksana dengan membuat surat pernyataan yang ditembuskan kepada pemerintah desa.

“Sebaiknya membuat surat pernyataan yang tembusannya dikirim ke pemerintah desa,” ucap Sudaryanto.

Menurut Sudaryanto, keluarga Sabbarudin sebenarnya telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, meski telah diusulkan untuk mendapat bantuan PKH, nama keluarga Sabbarudin tidak masuk dalam daftar penerima PKH tahun 2019.

“Sudah kami usulkan. Siapa yang berhak menerima, itu kewenangan yang di atas,” kata Sudaryanto.

Suparni berharap pihak RSI Madiun membebasan biaya yang harus dibayarkan pihak keluarga. Dia mengaku kesulitan melunasi tunggakan biaya rumah sakit karena sekarang hidup sendirian setelah kepergian Sabbarudin.

Lilik Puryani sendiri saat ini tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama suami dan anak mereka di desa yang berbeda dengan Suparni.

“Kaki saya untuk jalan saja susah, setahun lalu ditabrak orang. Suami dulu hanya buruh tani,” kata Suparmi.

Baca juga: Sepeda Motor Jadi Jaminan Ambil Jenazah, Ini Penjelasan Rumah Sakit

Penulis: Kontributor Magetan, Sukoco
Editor: Abba Gabrillin

https://regional.kompas.com/read/201...aja-kami-telat
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
ya masalah kemiskinan, bayar bpjs berat kenapa gak usul masuk kis aja, tapi ya gitu orang miskin minim pengetahuan dan wawasan, trus pimpinan daerahnya cuek pula.... ya sudah lah
Lihat 2 balasan
rumah keramik tapi susah bayar bpjs
orang2 ginian emang kaga bisa ngurus duit

mestinya dikasih pendidikan perencanaan keuangan
bukan sekedar ilmu ekonomi
Ada salah sasaran kah Program Keluarga Harapan? emoticon-Bingung (S)
nganu brew nganu turut berduka
Badan gede...

Rumah full kramik.

Bpjs kelas tiga itu cman Rp.25.500/bulan, Yu.

Mbahnya atau anaknya ngerokok ga?

Suruh minta jatah 2 bungkus perbulan biar ada lebihan bayar BPJS.

Kesel gua mentalitas babu gini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kangteknik dan 2 lainnya memberi reputasi
yak kudu gitu, di sonoh klo udah beres bru keluar tagih agar ada pemasukan.
beda klo di sinih yak gan, bacok. soal nya ndak boleh dan haram kek gitu
emoticon-Leh Uga
Kan bs diusulkan buat PBI kalo emg merasa udah gak mampu bayar
Atau ya ambil kelas 3 aja
Jangan sampai telat bayar BPJS ya gan
Lihat 1 balasan
Miskiner Yg ginian yg bikin BPJS banyak utang.
Banyak makai tapi sudah bayar.
Banyak org suka dilihat tampilannya oleh org lain. Kebanyakan indon terlalu peduli dgn pandangan org lain.

Contoh yg pernah gue liat,

Si keluarga A ada mobil satu anak. Si keluarga b malu ngak punya mobil, jadinya dia kredit mobil pdhl anak ada 3.

Teman gue kredit rumah, eh malah keluarin uang lagi buat lantai rumah dibuat keramik.

Menurut gue itu tolol dan idiot, lunasi dulu tuh rumah, baru percantik.


Balasan post 54m5u4d183
Quote:


Katanya mau dinaekin 120 ribu juga gua jabanin.

Gile, ketolong abis pasien ama ni program. Kayak pasien yg mesti cuci darah misalnya.

Cuman orang berhati hitam atau orang goblok aja yg ga tau ni program membantunya kek apa.
Balasan post firaga
baca berita sampe abis dong, itu udah diusulin tapi keputusan dari atas.

inilah fraud yg gw sebut kejadian di BPJS, tim verifikasi dan validasi dukcapil, dinsos ga pernah ada data yang akur, akibatnya begini yang membutuhkan PBI ga masuk, yg udah mampu malah masuk PBI
Quote:


Ya BPJS sangat bermanfaat bagi masyarakat
Balasan post firaga
ya sudahlah


itu respon yg tepat untuk berbagai masalah yg mendera negara iniemoticon-Big Grin

kalau ditanya siapa yg salah, semuanya salah, kalau ditanya bagaimana harus diperbaiki, semuanya harus diperbaiki, kalau ditanya kapan diperbaiki, jawabannya au ah elap.

akhirnya ya sudahlah
keramiknya lebih bagus dari rumah gw euy, rumah gw msh pake keramik 90anemoticon-Sorry
daripada kasih duit ke act dan yayasan teroret, mending duitnya buat bpjs.
bpjs ini bagus, sayangnya pada nggak nyadar.
jangan nuntut hak melulu tapi kewajibannya nol.
Ini mau di-PBI-kan ya gimana?

Rumah nya aja cemerlang gitu.

Mau dikasi SKTM juga apa tembus...

Apa masuk kategori miskin kayak gini rumahnya.
harusnya pakai surat keterangan tidak mampu di bantu RT/RW
profile-picture
profile-picture
romeo.jakarta dan sherrif_pedro memberi reputasi
hmmmmm....
semoga ketemu solusinya
ini ketua rt/rw-nya pro aktif ngga sih soal ginian?

GOBLOG!
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di