alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Romantis [Sunset Bersamamu]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4bb87888b3cb181e26023e/cerita-romantis-sunset-bersamamu

Cerita Romantis [Sunset Bersamamu]

Cerita Romantis [Sunset Bersamamu]


SUNSET BERSAMAMU

(By : Kuntha)


Sebuah harapan yang membawaku ke sini, ke tempat ini, di mana dulu pernah kutinggalkan janji untuk orang yang pernah aku cintai. Adakah dia masih mengingatku, seorang perempuan yang telah mencintainya lima tahun yang lalu.

Kakiku menapak ditengah-tengah hamparan sawah yang luas, udara segar yang kian mulai kuhirup, dan kicau-kicau burung yang merdu terdengar di telingaku. Ya, desa yang aku rindukan. Dimana banyak kenangan manis di dalamnya. Aku masih ingat betul wajah pria itu, pria jangkung, dengan lesung pipit di kedua pipinya dan bola mata cokelat yang dulu pernah menatapku dengan tatapan teduh.

"Aku datang untuk menepati janjiku." bibirku mulai terbuka, saat seseorang di depanku menatapku lekat, yang hampir saja membuatku jatuh pada kenangan nostalgia. Tatapan yang masih sama, dan sikap manis yang juga masih sama, seperti saat aku bertemu dengan dia 5 tahun yang lalu.

Lelaki di depanku tersenyum. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan saat ini, tapi aku bisa lihat kalau sepertinya dia tersenyum bahagia

"Aku tau itu. Aku tau bila kamu akan kembali."

"Aku cinta sama kamu." Aku mulai berkata lagi, tak puas dengan apa yang barusan aku katakan, aku sangat mencintainya, aku tak ingin yang lain hanya dia, dia, dan dia.

"Iya, aku juga tau itu."

"Kamu nggak marah sama aku?"

"Marah untuk apa?"

"Kamu dulu kan pernah bilang, kalau aku pergi ninggalin kamu, kamu akan marah sama aku,"

"Ya aku sempat marah karna kamu pergi. Tapi aku nggak ingin egois, aku ingin kamu bisa mengejar cita-cita kamu."

Aku hanya bisa tersenyum. Entah kenapa semua kata-kata yang keluar dari mulutnya seakan tak ada satupun yang tidak membuatku bahagia.

"Nadia," Dia memanggilku dengan suara lirih

"Iya,"

"Apa kamu mau berjanji?" tanyanya.

Tanpa ragu aku langsung mengangguk. Dia pasti ingin aku berjanji untuk selalu mencintainya, ya tentu, tak kamu minta pun aku pasti akan melakukannya.

"Aku minta kamu berjanji, kamu akan melupakan aku." Dia tertunduk.

Bagai sambaran petir yang tiba-tiba menyambar tubuhku. Apa? Aku tidak percaya ini, kenapa dia bisa mengatakan itu. Apa dia sudah punya pacar baru, atau dia sudah tak mencintaiku?

Dengan segera kuhilangkan fikiran-fikiran buruk itu dari otakku. Aku tak boleh berfikiran negatif terhadapnya, dia adalah pria yang setia, tak mungkin dia mengkhianatiku.

"Kenapa?"

"Aku sudah tidak mencintaimu, Nad." Dia berkata lagi, masih dengan wajah yang tertunduk

Lidahku serasa kelu. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya diam dalam keheningan. Suara kicauan burung sudah tak lagi terdengar. Hanya ucapan dia yang masih terngiang-ngiang di dentuman telingaku. Dulu sikap manis dia membuatku jatuh cinta padanya, tapi kini dia membuat cinta itu seperti jarum bagiku

"Aku benci kamu!!!" Aku berteriak, saat tubuh pria jangkung itu sudah lagi tak terlihat.

Hatiku serasa hancur. Impian dan cinta itu yang selalu aku perjuangkan, tapi nyatanya, cinta memang tak berpihak padaku.

*****

Sudah tiga hari ini aku tak melihatnya, melihat pria itu, pria yang telah membuat hatiku seakan tak ingin mencintai lagi. Entah di mana dia sekarang, aku tak peduli, mungkin dia sudah bersama perempuan lain yang lebih segala-galanya dariku.

"Bila akhirnya kamu akan pergi, kenapa kamu harus hadir di hidupku? Kenapa Galang?"

Aku bangkit dari dudukku, saat kulihat buku berwarna pink yang sudah sedikit terlihat kusam. Aku mendekati buku itu, saat ketika kenangan kembali hadir dalam hidupku. Cinta dan benci itu seakan bertolak belakang tetapi bercampur menjadi sebuah hal yang tabu, ya tabu. Aku mencintai dia, dan aku juga kini membencinya.

Buku album berwarna pink yang kubawa saat ini, sebuah foto-foto yang tak asing lagi bagiku. Foto-foto saat lima tahun yang lalu di mana saat sebelum aku pergi ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahku, dan sebelum dia kini menjadi seseorang yang menurutku sangat egois.

"Aku rindu kamu yang dulu." Aku berkata sambil memeluk buku album berwarna pink itu, dan diiringi air mata yang mulai mengalir di pojok kedua bola mataku

Aku menangis sejadi-jadinya, mengingat apa yang tiga hari lalu dia katakan padaku

"Aku tidak mencintaimu, Nad." kata-kata itu terus bergema di telingaku, seakan ingin menyiksa hati dan batinku yang kini telah beku dengan penghianatan.

*****

Aku sudah tak bisa seperti ini terus menerus, aku butuh jawaban dari dia yang menyuruhku untuk melupakannya tanpa alasan yang jelas darinya. Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya dan menanyakan alasan yang sebenarnya kenapa dia bisa dengan segampang itu menyuruhku untuk melupakannya.

"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam, dan seorang perempuan setengah baya membuka pintu.

"Walaikumsalam," jawab perempuan itu

"Galang nya ada tante?"

Bukanya menjawab apa yang aku tanyakan, perempuan itu malah menangis sambil memelukku.

"Kenapa tante nangis?" Aku bertanya, aku merasa tidak tenang bila belum mendengar penjelasan dari tante Melia ibunya Galang.

"Galang ada di rumah sakit." Tante Melia menjawab air matanya terus mengalir bersama kata-kata yang ia lantunkan

Deg!

Perasaanku bercampur aduk, berbagai pertanyaan terus mendera tentang kenapa? Apa? Dan mengapa? Hingga aku sendiri bingung harus memikirkan hal ini, otakku terasa buntu.

"Ada dengan apa dengan Galang tante?"

"Galang menderita penyakit Leukimia," jawab tante Melia di sela-sela isakan tangisnya yang mulai mengeras.

Aku tertegun. Kenapa? Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku mulai membenci diriku yang sudah memiliki rasa benci pada pria itu, pada pria yang seharusnya aku sayangi, tapi pada kenyataannya aku tidak ada saat dia sedang berjuang untuk hidupnya.

"Le... leukimia?"

"Iya, Nak Nadia."

*****

Langkahku berhenti saat sebuah ruangan telah berada di depanku. Ruangan yang terdapat sesosok manusia yang sedang terbaring lemah dengan oksigen yang menempel di hidungnya dan selang infus di tangan kirinya. Dia menoleh ke arahku saat beberapa detik yang lalu mengetahui keberadaanku di sini, dengan tubuhnya yang seakan tak bisa untuk diajak berkompromi, hingga kembali terjatuh.

Aku masuk ke ruangan itu dengan langkah yang sangat susah dan air mata yang terus mengalir. Tak bisa kutahan lagi, aku tak tega melihatnya sedang terbaring lemah tak berdaya.

"Nadia?" Pria itu berseru lirih, aku mendekatinya dan duduk di samping tempat tidur.

"Apa ini? Kenapa kamu berbohong?"

"Kenapa kamu di sini?"

"Jawab aku, Lang!"

Galang langsung menangis sejadi-jadinya. Aku langsung menghambur memeluknya dengan penuh rasa khawatir, mataku mulai panas, hingga akhirnya air mata ini tak lagi bisa untuk dibendung.

"Nad, aku tak pantas untuk kamu, lihatlah tubuhku sekarang. Bahkan untuk bangkit saja tak bisa, lalu bagaiman aku bisa menjagamu?"

Air mataku mulai deras, menetes saat mendengar dia berkata. Suaranya lirih, dan mungkin sangat susah untuk berkata. Aku tak tega melihat tubuhnya saat ini, tak seperti sebelumnya kini dia terlihat kurus, lemah, dan tak berdaya.

"Aku tak perduli bagaimana pun keadaanmu sekarang, aku cinta sama kamu, Galang."

Bola mata pria itu berkaca-kaca, ada rasa cemas yang ada di hatinya, entah apa? Tapi bagiku itu tak penting, yang aku inginkan sekarang hanya Galang, sudah cukup sandiwara ini.

"Aku juga sayang sama kamu, Nad. Nggak ada gadis mana pun yang aku sayangi saat ini kecuali kamu, hanya kamu, dan kamu."

"Iya, bagaimana pun keadaanmu sekarang aku tak akan berubah, karna kamu adalah jantung hatiku."

*****

Udara kian mulai menusuk, saat senja telah hadir di bumi menampakkan sinar kemerah-merahan atau yang disebut dengan sunset. Aku tengah berada di taman bersama seorang pria yang selalu aku cintai, Galang Alvino. Kini dia menatapku lekat saat tiba-tiba matanya mulai meredup.

"Nadia, aku mencintaimu." Dia berkata berbisik di telingaku.

Aku mengangguk pelan. "Galang, aku juga, aku juga cinta sama kamu."

Dia juga mengangguk pelan, dengan tatapan memandang lurus ke depan. Hingga sang raja malam mulai menyapa, bersama bulan dan bintang yang berkedip ke arah kami. Aku hanya berharap semoga aku bisa bersama dengannya, hingga pada akhirnya nanti akan berpisah.



Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di