alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Romantis [ Lamaran Cinta Untuk Laila]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4bb6097e3a724d4b7e01d0/cerita-romantis--lamaran-cinta-untuk-laila

Cerita Romantis [ Lamaran Cinta Untuk Laila]

Cerita Romantis [ Lamaran Cinta Untuk Laila]


Lamaran Cinta Untuk Laila

By : Kuntha

Embusan angin di sore hari, menerbangkan dedaunan kering yang sudah mulai menguning. Tampak, sesosok gadis berjilbab biru tengah terduduk sambil membaca buku di taman Sekolah. Dari arah lain, seorang pemuda dengan kemeja kotak-kotak tengah memperhatikan gadis itu dengan tatapan mata yang tersirat kekaguman. Tatapannya hanya satu arah, bahkan ia tak memperdulikan wajah-wajah di sekelilingnya.

Singkapan jilbab pashmina yang terbawa angin, membuat semakin indah pemandangan yang ada di depan matanya. Dalam hati, ia terus melafalkan kata subhanallah untuk mewakili betapa kagumnya dia pada makhluk ciptaan-Nya itu.

Laila Azizah, nama gadis berjilbab biru yang selama ini ia kagumi. Nama yang selalu ia semogakan dalam doa, nama yang berharap bisa ia sebut dalam ijab qobul nanti.

Niatnya yang tulus, memaksa kakinya untuk melangkah, menghampiri Laila. Dia tak mau menunda lagi, dia takut akan menyesal apabila terlambat. Dengan rasa gugup bercampur malu, dia duduk di samping Laila, tepatnya lima puluh sentimeter di samping gadis itu.

"Assalamualaikum." Dia menyapa dengan salam.

Laila menoleh, ia sedikit terkejut karena pemuda itu sudah duduk di sampingnya.

"Walaikumsalam."

"Boleh saya bicara sebentar?"

Gadis itu tertegun, ia belum mengenal pemuda itu, lalu dengan enteng pemuda itu meminta izin untuk mengobrol.

"Oh, saya lupa, saya belum memperkenalkan nama saya, nama saya Ridwan Maulana, saya mahasiswa di Universitas sebelah sekolah, Dik Laila."

"Laila." Gadis itu menyahut ucapan Ridwan, dengan senyum yang sedikit mengembang di kedua pipinya.

"Iya, saya sudah tahu, adik ini siswi perempuan yang bersekolah di SMA ini, adik bernama Laila Azizah, kelas XII IPA 3, dan umur adik sekarang 18 tahun lebih dua bulan."

Laila kembali tertegun, ia tak mengerti kenapa pemuda yang memperkenalkan namanya sebagai Ridwan itu bisa mengetahui tentang identitasnya, bahkan semua yang pemuda itu katakan adalah benar. Apa pemuda itu diam-diam menguntit dirinya? Ah, mungkin pemuda itu hanya sekedar tahu. Tidak baik, menuduh orang sembarangan, itu namanya su'uzhon.

"Mas Ridwan, tahu dari mana?" tanya Laila heran.

Kali ini dia memanggil pemuda itu dengan embel-embel mas karena perbedaan usia mengharuskan dia menghormati yang lebih tua, begitulah yang kedua orang tuanya ajarkan.

"Rinda."

"Rinda? Teman satu kelasku?"

"Iya, dia adikku, maaf ya, apabila saya lancang mencari tahu tentang Dik Laila. Itu saya lakukan karena saya ingin mengenal lebih tentang Dik Laila."

"Apa maksud Mas Ridwan?"

"Maksud saya, jujur di dalam hati saya yang paling dalam, saya menyukai Dik Laila sejak kali pertama saya melihat adik. Mungkin ini bisa di bilang cinta pada pandangan pertama apabila dilafalkan dengan bahasa gaul. Saat pertama kali melihat adik, entah kenapa ada rasa kagum tersendiri dan rasa itu berlanjut hingga saat ini."

"Mas Ridwan, suka kepada saya?" Tanya gadis itu memastikan, sementara yang ditanya hanya mengangguk dan mengulum senyum manis.

"Apa yang membuat, Mas Ridwan suka kepada saya? Saya bukan gadis yang cantik, dan saya juga bukan seorang gadis yang populer di sekolah, saya hanya gadis biasa yang memiliki banyak kekurangan. Mungkin, Mas Ridwan salah orang?" Gadis itu menunduk, menahan tubuhnya yang mulai gemetar karena gugup.

"Saya menyukai adik, karena adik itu istimewa di mata saya, saya tidak peduli dengan gadis-gadis yang memiliki wajah cantik dan populer di sekolah, karena yang saya cari itu bukan dari fisik, melainkan dari ketulusan hatinya, saya tidak salah orang, Dik Laila lah itu orangnya."

Deg!

Laila bisa merasakan, ketulusan dari setiap kalimat yang pemuda itu ucapkan. Pemuda itu jujur, ia tak menemukan sedikitpun kebohongan dari mata dan ekspresi wajahnya.

Begitupun dengan Ridwan, ia bisa merasakan ketulusan hati gadis di sampingnya, ia merasa sangat nyaman begitu dekat dengan gadis itu, pantas saja dia menyukainya, hatinya memang tak salah pilih.

"Lalu? Apa yang Mas Ridwan sebenarnya mau? Saya menjadi pacar Mas Ridwan begitu?"

"Bukan Dik Laila, kalau itu jelas tidak mungkin. Saya tahu kedua orang tua adik pasti tidak akan mengizinkan, begitu juga adik pasti tidak akan setuju, benar toh? Maksud saya di sini, saya ingin melamar adik menjadi istri saya, setelah adik lulus sekolah nanti, jika adik mau menikah dengan saya, saya bersedia untuk menguliahkan adik sampai lulus, dan juga saya berjanji akan membahagiakan adik semampu yang saya bisa, saya akan menjamin semua keperluan dan kebutuhan adik, karena saat ini selain kuliah saya juga sudah memiliki pekerjaan yang Insya Allah mampu mencukupi biaya rumah tangga kita nanti." Dengan mantap dan penuh keyakinan Ridwan mengucapkan semua itu di depan Laila, sebuah penawaran dan janji, disaksikan cahaya matahari yang mulai tenggelam.

"Mas serius?" Dengan mata berkaca-kaca gadis itu mencoba kembali memastikan, jilbab birunya yang tersingkap angin membuat wajah putihnya terlihat bercahaya karena terkena samaran sinar matahari senja.

"Apakah yang membuat Dik Laila tidak percaya? Bagaimana caranya membuat adik percaya pada Mas?"

Namun bukannya menjawab Laila malah terisak, dengan tangan bersihnya ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya, tentu saja itu adalah air mata haru.

"Kenapa Dik Laila menangis? Apa Dik Laila tidak menyukai saya? Jika iya, Dik Laila bisa menolak lamaran saya ini, saya tidak akan memaksa, karena cinta itu tidak dapat dipaksakan."

"Tidak Mas! Bukan itu, Laila menangis bukan karena tidak suka kalau Mas Ridwan melamar saya. Saya menangis karena terharu, baru kali ini ada seorang pemuda pintar dan berpendidikan melamar seorang gadis biasa seperti saya."

"Lalu? Adik menerima saya atau tidak?"

"Kalau saya pribadi." Laila mengangguk malu, "namun, saya harus tanya dahulu ke bapak sama ibu, kalau mereka setuju, saya akan memberitahu Mas Ridwan untuk membawa kedua orang tua Mas Ridwan melamar saya."

"Alhamdulillah, ya itu memang harus, Dik! Kedua orang tua itu adalah yang utama. Semoga kedua orang tua adik menerima lamaran saya."

"Amin."

Keduanya kemudian saling tersenyum, ada rasa kagum tersendiri di hati Laila untuk Ridwan. Mungkinkah ini adalah cinta pada pandangan pertama, ada rasa aneh yang mulai tumbuh di hatinya untuk pemuda itu.


Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Laila oh Laila
profile-picture
Handikaweh memberi reputasi
Quote:


emoticon-Cendol Gan


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di