alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Dia Bukan Manusia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4b95062637720313712e03/dia-bukan-manusia

Dia Bukan Manusia

Dia Bukan Manusia

DIA BUKAN MANUSIA

Aku terjebak di halte busway, duduk termangun bak pria tolol. Pandaganku tertuju kedepan menatap butir demi butir si hujan beserta bangunan yang terlajur basah karnanya, jalanan sepi. Tak ada satupun kendaraan yang melintas meski telah satu jam berlalu semenjak kudaratkan bokongku disini. Entah perasaanku atau apa? Ini terasa aneh. Persetan dengan semua itu yang harus kulakukan hanyalah menunggu, demi kasur empuk yang kurindukan.

"Kenapa tak ada satu orangpun?" batinku penuh keheranan. "Apa aku tak memperhatikannya atau mereka memilih menerobos hujan?" Dan aku kembali memilih tak ambil pusing, kurogoh saku celana kerjaku, benda segi empat nan elegan sudah berada digenggamanku. (Iphone7)

"Sialan! Sudah tiga jam lebih aku disini?" Aku Cumiik tak percaya, "dan sendirian seperti idiot?" Tak tahan dengan fakta kebodohan ini aku bangun berjalan menelusuri lorong halte yang dihiasi dengan cahaya redupnya lampu-lampu.

"Bodoh sekali kau, Rey." Aku benar-benar merasa tak berguna, tetap melangkah dengan tergesa gesa meski tak tahu mau melangkah kemana, hanya mengikuti kaki. Dan tiba-tiba aku berhenti, merasa melewati seseorang, saat kubalikkan badaku. tepat sekali! Ternyata ada orang. Untuk pertama kalinya aku merasa seberuntung ini menemukan manusia.Dari tubuhnya aku tahu dia seorang wanita.

“Permisi Mbak." tegurku dari jauh dan dia tidak menoleh sama sekali, mungkin dia tidak mendengarnya, akupun akhirnya mendekat kepadanya, kepalanya tertunduk serta wajah yang tertutup rambut panjang.

Aku terkejut bukan main saat kulihat dari kedua belah matanya keluar darah segar nan kental mengalir ke pipi pucatnya, dia tersenyum lebar menampakan deretan gigi yang runcing.

"baik!" teriakku. "Siapa kau?" Aku masih sempat menanyakan hal bodoh ini.
"Nghhh haaaaa…" Kini dia mengerang kasar.

***

Amis,lembab, menyesakkan paru-paru, hidungku dapat menangkap semua itu, mataku terpejam. ah kepalaku terasa sangat sakit dan berat, kenapa ini? Perlahan kubuka kelopak mataku, awalnya semua terlihat samar hingga bisa kulihat dengan jelas hal mengerikan sedang memperhatikanku.

"Argghh.." Aku berteriak dengan sangat keras melampiaskan sakitku. Jari-jariku? Kenapa sangat sakit dan aku tak dapat menggerakkannya? Dan sesuatu yang terasa cair nan kental melumuri tanganku. "Haa.." Aku menjerit sejadi-jadinya menahan rasa sakit yang teramat menyiksa. Bahkan ia menjalar ke seluruh urat ditubuhku.

"Kau..kau apakan tanganku?" amarahku membuncah, air mataku keluar."sialan! kau apakan aku Hah? Apa maumu? Kumohon! Lepaskan aku.” Nafasku memburu kencang, aku benar-benar tak menyangka hal ini akan menimpaku, andai saja aku tidak mampir di halte bus sialan itu.

Tidak akan!" Dia menyeringai membuatku semakin gemetar. "Aku menyukaimu."
Apa? Apa aku tak salah dengar? Dia bilang apa tadi?

"Maaf, aku memakan jari-jarimu. Aku tak tahan akan aroma tubuhmu. Kau sangat manis dan menggoda." Entah aku harus harus percaya atau tidak, tapi alasannya sangat konyol untuk mahluk sejenis dia. Tanganku masih saja terasa sangat perih, darah tak berhenti mengalir dari sana, bahkan, tubuhku mulai melemas kehilangan sebagian darahnya.

"Jika merasa bersalah dan meminta maaf, dan jika kau menyukaiku. Kumohon lepaskan aku!" Tiba-tiba dia bergerak berjalan pelan mendekat padaku, bola matanya yang hitam total menelanjangiku, lalu sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Kemudian tangan keringnya  membelai pipiku yang ranum.

"Sayangnya, aku tak bisa melepaskanmu Rey. Hanya ada dua pilihan. Ikutlah bersamaku, kita akan berburu manusia atau kau yang akan jadi mangsaku?” Tunggu! Dia tahu namaku? Dari mana?

"tak perlu bingung, aku tahu siapa yang akan menjadi mangsaku," dia menjawab pertanyaan batinku.
Bagaimana bisa? "Jadi apa pilihanmu?" Aku tak berani menatap wajahnya, sungguh menjijikkan.

"Haduh Rey, bagaimana bisa mahluk macam dia menyukaimu, sungguh sial kau Rey! Manusia saja bukan, apa lagi akan masuk tipe-mu." Keluhku dalam hati.

Author POV

"Aku tak memilih kedua-dua-nya." Tegas Rey, dia berusaha menahan sakit ditangan-nya demi memperlihatkan pada mahluk itu, bahwa dia tak takut, "kau tak bisa mengancamku seperti ini!" Dia berjalan menjauh dariku, samar-samar kulihat, sebab ruangan ini cukup gelap. Hanya ada satu lampu penerang disini, tak lama, dia kembali dengan sebuah balok kayu ditangan-nya. Ia berjalan dengan langkah mendekat, lalu menjatuhkan balok kayu tadi, tapi kemudian ia mendekat, membelainya pipi Rey dengan lembut awalnya namun kemudian dimenancapkan kelima kuku jari-jari dipipi kanan Rey.

"Aarrgghh!" teriak Rey mewakili sakit dipipinya. Lalu di gerakkan tangannya dengan kuku tertancap, mengakibatkan daging pipi Rey terkelupas mengikut pada kuku tajam itu, dan dengan perlahan muncrat banyak darah dari bekasnya.

"Haaaaaaaa." Jeritan Rey membana, siapa yang akan sanggup menahan diri  diperlakukan seperti ini, disiksa mati-matian terlebih dahulu, baru dibunuh. Alhasil, wajah kanannya terbentuk lima garis tanpa daging namun dipenuhi darah mengalir deras membasahi leher,kerah baju hingga dadanya.

Nyawanya terasa berada diujung jari-jari, perih itu bukan hanya perih lagi. Kau tidak bisa membayangkannya. "aarrgghh...... Sakiiiiit." Ia menjerit sejadi-jadinya, badannya mengamuk didalam ikatan tali. Mencoba melepaskan diri untuk mencari sesuatu atau melakukan sesuatu agar sakit dipipinya yang telah menjalar keseluruh tubuhnya bisa hilang.

Saat Rey sibuk bergelut dan menahan siksaan pada tubuhnya. Mahluk tak berperasaan itu mencondongkan tubuh, mendekatkan wajah menerikannya. "Akibat kau menolakku." Hardiknya berbisik. Rey menunduk tak memperdulikannya, sebab ia sudah pasrah pada hidupnya, melawanpun sia-sia saja, apalagi berdoa.

Semakin dekat dan semakin dekat, kemudian tangannya menjambak rambut belakan Rey menariknya kebawah, mengangkat wajah Rey. pria itu memejamkan mata, benar-benar pasrah pada apa yang ia lakukan selanjutnya. Ternyata ia berniat menjilat darah pipi Rey, Lidah panjang nan kasar itu membelai dan mengusap darah segar Rey.

Lalu mengorek ngorek lubang bekas kebejatan tangannya. "Darahmu sangat manis, berterimakasihlah karna darahmu lah yang terbaik dari semua darah mangsaku terdahulu."

"Ssttt... Rrrrhh aaagghhh" Rey mendesis  memejamkan mata dengan kuat, lalu menjerit panjang. Perih! Perih! Perih! ingin mengelakkan kepala tak bisa. Mahluk itu bukannya hanya menjambak rambut namun juga menahan lehernya agar tak ada gerakan melawan. "Bunuh aku!!" Rey memohon dalam teriakan pilu. Mahluk itu tak menghiraukannya, ia masih sibuk menikmati darah Reyhan.

"Bunuh aku, cepat!!" Sekali lagi Reyhan berteriak derai nafasnya memburu kencang. Mahluk itu berhenti dan perlahan menjauhkan diri."Ya Tuhan. Teganya kau membiarkanku seperti ini. Mati mengenaskan ditangan Mahluk Biadab." Merintih dalam hati, untuk menggerakan bibir saja ia tak sanggup lagi.

5 detik kemudian. "Aakhh..." Rey Cumiik dengan mulut menganga, matanya melotot, urat dilehernya membesar. sekujur tubuhnya menegang, nafasnya tertahan, dadanya berhenti bergerak seketika. Sesuatu telah menembus kulit perutnya, benda yang memaksan masuk, membelah daging, semakin ditekan dengan sesak me hingga menembus lambungnya.

Si Biadab tersenyum didepan Rey, menampakkan gigi-gigi runcing yang memenuhi mulutnya, Rey menunduk melihat apa yang telah terjadi pada perutnya. Pisau! dia ditusuk dengan pisau. Mahluk itu masih tersenyum lebar. "Rasakan ini." Dengan sekali gerakan, ia memutar 90° kekanan pisau yang tertancap di perut Rey.

"Aaakkkhhh..." Si nahas Reyhan kembali Cumiik tertahan. Hingga sesuatu telah pergi dari tubuh Rey. Badannya melemas total, mata tertutup sepenuhnya dengan kepala menunduk terkulai, hingga dadanya berhenti bergerak.

REYHAN ARNOLD TELAH MATI!!!!

Ia membelai lembut dada bidang itu hingga kearah perut, diremas keras baju Reyhan dengan dengan sekali hentakan kearah samping kanan berhasil membuat jasad Rey bertelanjang dada. Pisau yang tadinya menancap dia genggam kembali namun kali ini dia menyobek dari dada hingga keperut bagian bawah, awalnya sedikit susah untuk membelahnya sebab pisau itu memotong sedikit bagian dari tulang rusuknya. Setelah selesai, dengan ganas ia memasukkan satu tangannya, meraup-meraup isi perut Reyhan mencari sesuatu yang sangat ia sukai.

Tak lama tangannya keluar, dengan segumpal daging berwarna merah kental yang masih tersambung oleh sesuatu berbentuk panjang, Ia memotongnya mejadi dua dengan dengan gerakan pelan dan pelan, darah memercik dari sana. Pelan, pelan, dan pelan hingga betul-betul putus terbagi dua. Senyuman puas tercetak dibibirnya, mulutnya membesar melahap potongan daging yang berada ditangannya, dikunyah dengan penuh kenikmatan tiada tara.

"Ini bagian kesukaanku." Gumamnya. Kembali memotong dan melahapnya, hingga habis dan rata. Setelah selesai dengan bagian favoritnya, ia berdiri dan pisau tadi masih pada genggamannya.

Tanpa babibu pisau yang telah berlumuran darah sepenuhnya tadi kembali ia layangkan kearah mulut menganga didepannya, ditancapkan kedalam mulut Rey, menghancurkan gigi-gigi yang dilewati hingga menembus tenggorokan, ditekan sedalam mungkin. Semburat darah keluar memenuhi mulut, mengalir keluar bercampur dengan darah dipipi. Posisi pisau itu dirubah, awalnya Vertikal menjadi Horizontal searah dengan bentuk bibir.

Disobek dari mulut, kepipi kanan , hingga berakhir di telinga. Badan itu telah basah oleh darah yang tiada hentinya mengalir. Ia lakukan hal yang sama ke wajah Rey sebelah kiri. "Ini sangat menyenangkan. " Serunya.

Sudah tidak layak lagi disebut jasad badan itu akibat ulah keji Mahluk ini, darah berceceran dimana-mana. Ada beberapa potongan daging jatuh ke lantai. dan mulut menganga selebar-lebarnya, yang seakan sebentar lagi lepas dari rahang dan leher.

Balok kayu tadi akhirnya dipungut, lalu ia berjalan pelan mendekat pada jasad Rey. Dengan gerakan cepat mahluk itu mengangkat kayu tersebut lalu dihempaskan dengan kasar ke kepala Rey.

*kraaaakkk                 
 
Ubun-ubun Rey pecah, Darah segar berwarna Merah kental meleleh dari puncuk kepalanya membasahi kening,hidung, mata hingga selurih wajahnha .  Tulang kepalanya retak mejadi beberapa bagian mengakibatkan kepala itu melembek jika ditekan, untung saja manusia diciptakan dengan daging yang kuat, kepala itu masih berbentuk.

Kepala yang hancur itu. dia emut darahnya dari tengkorak kepala secara langsung. ia begitu haus akan darah. Ia sangat menginginkan menikmati betapa lezatnya daging manusia. Dan kini semua itu terpenuhi oleh tubuh Reyhan. Dia terus melanjutkan siksaan yang ia berikan pada tubuh itu secara bertubi-tubi, memotong-motongnya menjadi beberapa bagian sesuka hatinya, lalu dagingnya diiris-iris untuk selanjutnya dinikmati langsung. Tidak ada yang tahu mahluk apa sebenarnya dia, dari mana datangnya atau bagaimana asal muasalnya. Bahkan si mahluk sendiri itidak tahu menahu perihal dirinya. Hanya ada satu hal yang ia tahu betul. Apa itu?

Dia akan keluar sekali dalam setahun untuk mencari mangsa, diakibatkan oleh rasa haus dan lapar. Mungkin bisa disamakan dengan ular Phyton atau Anaconda yang akan mencari mangsa besar dan melahapnya habis untuk kemudian dijadikan simpanan dalam perut menunjang hibernasi-nya. Begitulah persisnya mahluk itu. Dan hanya ada satu malam terpilih yang bisa ia terjang untuk mendapatkan satu mangsa dengan nasib buruk, Yaitu Malam Selasa Kliwon.
Diubah oleh sherlyana1820
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di