alexa-tracking
Kategori
Kategori
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4944f7b840885207768c76/selasa-kliwon

SELASA KLIWON

Selamat datang di Thread pertama saya. Silahkan di Nikmati cerita ber-genre horror yg saya suguhkan. Mohon maaf cerita akan saya post ulang dan di buat index demi kenyamanan para pembaca sekalian. Mudah-mudahan terhibur dengan cerita yg saya suguhkan. Silahkan di nantikan kelanjutan cerita yg saya buat. Terima kasih.

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
defriansah dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kaliankenalsaya
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

CHAPTER 1

Malam menjelang turun. Langit hitam perlahan-lahan menguasai langit. Nyanyian jangkrik terdengar berlomba-lomba dari tempat persembunyian untuk memecah sunyi nya malam. Semilir angin kecil yg berhembus membuat dingin tengkuk leher siapapun yg merasakan hembusan nya.

Di rumah ini, di balkon rumah lantai 3, seorang berjubah hitam besar, berbau anyir bermandikan darah. menadah tangan meminta langit. tetesan darah mengalir dari telapak tangannya. membasahi lengan dan mengalir hingga ke lehernya. Darah yg sejak tadi bersarang di rambut jua mengalir membasahi dahi, pipi, dan bibir seorang itu.

Mata terpejam, mulut komat-kamit membaca do'a, lebih tepatnya mantra, sesekali mengucap sumpah serapah yg terlontar kasar dari mulutnya. Tangan nya bergetar menunjukkan bagaimana rasa marah dan dendam telah menyelimuti hati dan pikiran nya.

Petir saling menyambar dan menggelegar, Angin besar semakin bergemuruh, memporak-porandakan apapun yg ada di muka tanah daerah tersebut. Sehingga hancur dan terserak berantakan.

Entah apa yg dia minta. Kepada siapa dia meminta. Entah Tuhan entah Setan.

PENGUASA KEGELAPAN! PENGUASA MALAM! IBLIS YANG DI AGUNG KAN, AKU PERSEMBAHKAN JAMUAN UNTUK MU! KEMARI DAN TURUN LAH! BALASKAN RASA DENDAM DAN SAKIT HATI KU! BUNUH MEREKA SEMUA! BUNUH! JADIKAN MEREKA BUDAK TANPA JIWA, JADIKAN MEREKA BUDAK MU! MEREKA PANTAS DAPAT BALASAN! YA IBLIS PENGUASA JAGAT, DATANGLAH! DATANG!



Petir menyambar semakin kuat, angin semakin kencang. Dendam sangat kuat yg mampu menghadirkan setan seperti ini. Perbuatan menyakitkan seperti apa yg dilakukan sesampai bisa mendatangkan musuh terbesar Tuhan.


MATI KAMU MATI ! BAHKAN SAMPAI KAMU MATI PUN KAMU TETAP JADI MILIK KU ! BAHKAN PENGECUT ITU TAKKAN MAMPU LAGI MEMILIKI MU ! DASAR BUSUK , TERKUTUK , DEMI DIA KAMU RELA TINGGALKAN AKU ! LEBIH BAIK KAMU MATI !
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi

CHAPTER 2

Bermandikan peluh sehabis berlarian membuat Emely kehausan, jalan beraspal yang di kelilingi pepohonan besar, terdapat bayang-bayang dedaunan dan rantingnya yang bergoyang kesana kemari tertiup angin menghiasi aspal hitam menambah kesan redup di suasana yang sedang terik, di pinggir jalan di atas kerikil-kerikil, Emely duduk berselonjor sambil menyeka keringat di dahi. Cuaca sangat terik pada siang ini, padahal sudah memasuki musim penghujan. tapi, tak ada tanda bahwa langit akan menurunkan butiran-butiran air ke bumi.

"Harusnya sekalian aku tonjok saja lelaki sialan tadi. Seenaknya! Belum puas aku lempar buah sukun ke mulutnya. Laki-laki bermulut karet! Sudah salah malah panggil pasukan buat mengejar ku, mungkin ini yg di sebut perempuan KW" keluh emely.

Emely, Gadis berusia 18 tahunan. Bertubuh molek, Berambut panjang pirang dengan sedikit cabang di ujungnya. Bermata bulat dan hidung kecil namun pesek. memiliki bibir kecil dan lancip dan kulit kuning langsat yg menunjang penampilan Ayu nya, Emely tinggal di sebuah desa, dekat dengan persawahan yg luas. Tinggal bersama kedua orang tua dan 1 adik laki-laki nya. Kegiatan Emely sehari-hari setelah lulus dari sekolah menengah, hanyalah membantu Ayahnya ke kebun menanam dan mengolah berbagai sayur-mayur yg nanti nya akan di jual kepada para penjual di pasar.

"Emely, mbo' kamu tu kerja di perindustrian. Lumayan kan banyak teman, banyak kenalan, punya gaji, bonusnya siapa tau bisa ketemu jodo"

Ealah pak'e , Aku gak mau, aku mau jadi bos, gak mau jadi babu orang, maju sedikit dong hidup tuh! ketus Emely

Jadi bos kok ngikut-ngikut ke kebon! bos nya siapa? Kebo? he? Ledek bapak emely

Wes to, Aku gak mau debat, pokok nya aku mau punya usaha! besok aku bisa sukses pak'e sama buk'e pasti tak buat bahagia. dan satu lagi! aku bukan bos'e Kebo! Huh, emange aku opo!

Emely mengumpulkan beberapa lusin kubis yg telah dipetik ke dalam keranjang. Hasil panen sore ini cukup banyak. Kubis akan di bawa pulang, dan siap di ambil oleh pemesan sebelumnya esok pagi. Dalam perjalanan pulang, suhu udaha semakin menurun beberapa derajat mampu membuat tangan dan telapak kaki sedingin es.

Emely terlalut dalam lamunan nya sendiri, Sepeda motor butut milik Ayahnya sudah berjalan beberapa meter di depan. Dia termenung beberapa saat, sampai emely tersadar, Ada bebauan aneh yg mengganggu penciumannya.

"Kok bau menyan ya, sopo to maghrib-maghrib mbakar menyan?"

Emely melempar pandangan ke segala arah sambil mencocokan arah penciuman nya. Berada di jalan tengah hutan membuat emely sedikit kesulitan menetapkan asal bau menyan tersebut. Sampai ketika Emely dapat mencocokan penciuman nya, ia melempar pandang yg jauh ke dalam hutan. Di balik pohon besar itu, ia melihat suatu yg tersembul. Wadah yg terbuat dari sayatan bambu berwarna coklat dengan buah-buahan di atasnya.

"Apa itu? Kenapa aku baru lihat?"

Dua langkah emely memasuki bibir hutan, tanpa sengaja menginjak batang pohon berukuran sedang yg basah hampir membuat nya tergelincir ke belakang. Belum habis rasa terkejutnya, emely tersentak kaget, karena di samping nya sudah terdapat bapaknya yg menahan agar emely tak terjatuh.

"Di panggil-panggil malah masuk kesini. ngapain kamu! bahaya! gak boleh dekat-dekat sajen itu!"

"Engga pak'e tadi aku nyium bau menyan maka nya aku kemari, pak'e emang kenapa benda sajen itu ga boleh di deketin, aku mau tau, lagian cuma lihat-lihat saja kok pak'e"

"Wes, gak usah penasaran sama benda itu. Gak boleh lama-lama dalam hutan menjelang malam begini. Gak baik. Ayo pulang, nak!"

***

Ke esokan pagi nya, Emely seorang diri berangkat menuju pasar mengantar kubis pesanan pelanggan. Dalam perjalanan, mengendarai sepesa motor butut memang butuh kesabaran, terlebih jika jalanan menanjak dengan curam. Jika tidak berjalan menggunakan teknik Zig-zag membawa beban berat di belakang, dapat dipastikan, motor yg di kendarai Emely akan merosot lagi kebawah.

"Aduh, Ampun. Kalau bukan demi bantu Bapak ibuk, aku malas pergi ke pasar, apalagi sudah 2 kali motor ku terjun mundur karena kubis ini terlalu banyak, dan motor butut ini kekurangan tenaga. Masa' sama kuda, hebatan kuda. Tau gitu, Aku pinjam kuda tetangga. Ya ampun, Kapan aku jadi orang kaya!"

Sesampai nya di pasar, Emely memarkir motor nya dan mengambil keranjang yg sengaja di tumpuk di pinggir jalan, keranjang yg terbuat dari anyaman bambu khusus di sediakan untuk pedagang oleh warga setempat. Emely mengambil beberapa kubis dan mengangkut nya ke lapak langganan nya. Dalam perjalanan menuju lapak langganan nya, Emely berjumpa dengan beberapa orang yg dia kenal dengan baik. Sebagian dari mereka juga langganan sayuran dengan Emely.

"Wah, ada yg habis terjun mundur ni di tikungan tadi, hahaha" celoteh salah satu pelanggan Emely, Mas Irman.

"Kalau tau aku terjun mundur, kenapa gak di tolong, Mas Irman. kan capek nahan-nahan motor! huh!"

"Biarin aja, Mau liat, Cewe tukang ribut kaya kamu, Setangguh apa! hehehe"

---

Setelah bolak-balik sampai 4 kali menyelesaikan pekerjaannya. Emely kembali ke parkiran. Dalam Perjalanan menuju parkiran, Emely di kejutkan dengan kehadiran seorang pria. Pria berwajah bulat, hidung mancung dan pipi tembam. Serta tubuh yg tegap.

"Ada apa?"

Yg ditanya hanya diam. Emely, Berkali-kali mengulang pertanyaan nya. Tapi tetap, pria ini hanya diam, dengan senyuman menawan di bibirnya.

"Kalau gak ada perlu, saya pergi ya" Emely segera berlalu dan pergi.

Pria itu melihat emely berlalu, dengan senyuman lebar. Mata yg berbinar. Seperti memiliki ketertarikan sendiri, Pria itu mengejar Emely, dan menghampiri nya lagi.

"Emely!"

Yang di panggil, hanya bengong.

Saya, Girwanda. Salam kenal. Lain waktu, Saya mau berkunjung ke rumah mu. Sampai jumpa lagi.

Yang di ajak bicara, Hanya Bingung.

"Sejak kapan aku kenalan? kenapa dia bisa tau nama ku? Laki-laki aneh!"


***


Malam semakin sepi dan larut, Langit gelap tanpa bulan, suara lolongan anjing bersahut-sahutan, di atas jalanan berbatu, terlihat seorang wanita tanpa alas kaki, berjubah hitam, berjalan di jalan gelap dan sepi. Tanpa arah, tanpa tujuan. Mengikuti arah suara panggilan yg lirih namun jelas..

"Kemari.. Kemari.. Pengantin ku.."
"Kemari.. Malam akan jadi saksi.. kamu jadi milikku.."
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Diubah oleh kaliankenalsaya
Perkenalkan para reader, Newbie dari pulau jawa. Yg Membuat thread di kaskus ini sebagai bahan sharing dan bercerita. Sebagai newbie tolong di berikan reputasi yg baik dan bagus emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan sehari update 2 chapter. Jangan segan2 untuk share dan memberi rating kepada thread saya. Terima kasih emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)
profile-picture
profile-picture
comrade.frias dan darmawati040 memberi reputasi

CHAPTER 3

"Emely!!! Bangun, Ada orang cari kamu!"

"Emely!!!"

di Ruang Tengah Rumah Sederhana bertembok bambu, tertidur seorang gadis manis yg terbungkus selimut dari kain jarik. Gadis itu ialah Emely. Pukul 05:00 . Siapa tamu tak tau diri yg datang menyambangi rumah, di pagi buta begini, pikir emely.

Mendengar panggilan ibu nya, Emely hanya mengulat mengendurkan otot-otot yg tegang. Tanpa berniat bangun dari dipan. Emely kembali menutup mata.

"Emely!!! Cepat orangnya nungguin kamu! Anak ini betul-betul ya. Tidur lagi ya kamu? Bangun Emely!"

Suara ibu emely yg baginya bagaikan terompet tahun baru tak dapat lagi di bendung di gendang telinga. Segera emely beranjak bangkit dari dipan. Mata penuh Belek Dan wajah kucel, dengan langkah lunglai menahan kantuk, emely berjalan ke teras depan. Disana terlihat ibu nya sedang menyapu halaman, membersihkan dedaunan kering yg berjatuhan di teras rumah, Dan terlihat juga bapak nya, yg sedang mengikat kayu bakar ke belakang jok sepeda motor nya untuk di jual ke pasar.

"Bocah sama kaya kebo. Tapi masih rajin kebo!"

"Siapa yg cari aku buk? Aduhh subuh-subuh begini apa ga bisa di tunda beberapa jam sebelum bertamu kerumah?"

Emely melihat ke sekitar terasnya, tak menemukan sesiapa lagi selain bapak dan ibu nya. Angin subuh yg semilir dan kokokan ayam saling beradu menambah suasana ramai di subuh yg dingin itu. Terlihat di rumah tengah, Ada Mbah Ersam yg sedang membasuh ontel tua nya untuk di pakai ke ladang di sebelah selatan. dan Mbah Muji, yg sedang mengaduk pakan ternak untuk di berikan ke bebek peliharaan nya.

Suasana subuh yg begitu riuh dengan suara binatang yg bersahutan, tak membuat emely kehilangan rasa kantuk nya. Sambil bersandar pada papan kayu di teras depan, Emely kembali memejamkan mata. Kejadian semalam masih belum bisa terhapus dari pikiran nya. Apa yg dia alami. apakah mimpi atau memang betul-betul terjadi. Jika mimpi kenapa begitu nyata dan seram. jika bukan mimpi, kenapa emely betul-betul merasakan.

BRUKK!!!

"Kurang asem iki bocah! Bangun heh! Ada tamu bukan di sambut, malah kamu ngorok lagi, sambil berdiri lagi, basuh itu wajahmu, cepet melek, tamu nungguin kok malah ngorok!"

Belum hilang rasa kantui yg emely tanggung, kini harus ia terima lagi dampratan dari ibu nya di pagi buta, hanya karena tamu tak tau di untung yg bertamu di waktu yg salah. Emely segera memulihkan kesadaran nya, melihat lagi sekelilingnya dengan seksama. Mencari sosok tamu yg di maksud ibu nya. Melayangkan pandang ke segala sudut sekitaran rumah, akhirnya emely menemukan sosok yg dia cari-cari.

"Ohh. sejak tadi, kau di belakang ku? pantas ku cari-cari baru ketemu! Sebentar ya!"

Seorang pria yg diajak bicara, Hanya tersenyum simpul. Manis dan rupawan.

Emely berjalan cepat menuju sumur yg terletak di belakang rumah untuk membasuh wajahnya. lamat-lamat dia tersadar tentang pria yg di jumpai tadi. Pria yg baru di kenalnya kemarin, walau pria tersebut telah tau indetitas dirinya lebih dulu. Emely, menciduk air di ember yg telah di sediakan ibunya setiap pagi menggunakan gayung yg telah retak pinggirnya. Rasa kantuk emely mendadak sirna di tempa air dingin dari sumur, walau masih menyisakan raut wajah yg mengantuk.

Emely berjalan dengan terburu-buru, karena ia merasa penasaran juga dengan sosok pria yg ia temui kemarin. hal yg masih menjadi pertanyaan di benak emely, kenapa ia bisa kenal dan tau emely lebih dulu. sedangkan mereka merasa tidak pernah berjumpa sebelumnya.

"Hei? Kau yg kemarin bukan?" tanya Emely sambil beranjak duduk di tumpukan bambu, tepat di seberang pria tersebut.

"Iya, benar. Rupanya masih hafal rupa ku ya. hehe. Maaf kalau aku menganggu tidurmu"

Emely memperhatikan pria ini dengan betul. Atas kebawah. dan dari bawah ke atas. Tampan nan rupawan. Pikir Emely.

"ya, harusnya kau sadar, bertamu jam segini bukan hal yg sopan. lagi pula, betul juga omonganmu yg akan mengunjungi rumahku? sepertinya kau sudah kenal betul denganku?"

Pria yang di cecar dengan berbagai ucapan hanya tertawa kecil sesekali menggelengkan kepala nya. Melihat emely yg di liputi rasa bingung menjadikan pria tersebut melepas tawanya lebih keras.

"ah masalah itu, kau kan sering bolak-balik pasar dan kebun, lagi pula, aku juga sering berada di sekitar pasar. mana mungkin aku tak kenal dengan mu, banyak sekali yg kenal dengan mu, emely!"

Dalam batinnya, emely membenarkan pernyataan pria tersebut, bisa saja dia salah seorang yg belum menjadi pelanggan sayuran yg dia jual, bahkan mungkin dia orang baru yg belum pernah emely lihat, atau mungkin emely yg terlalu cuek dengan orang-orang di sekitar. Tapi yg pasti, bagi emely, bukan suatu masalah jika ada lelaki yg tiba-tiba kenal dengan nya tanpa proses perkenalan terlebih dahulu. Yang jadi masalah baginya, kenapa pria ini sampai mendatangi rumahnya, kalau bukan tanpa tujuan yg jelas.

"Kau datang kerumahku hanya sekedar iseng rupanya, ya. Ya baiklah, gimana ehm, eh.. siapa nama mu kemarin? Aku lupa?"

"Girwanda"

Siang hari nya, Emely dan Girwanda berjalan kaki menyusuri jalanan Desa Bambu Mukti, desa tempat Emely tinggal. Menyusuri jalan menuju persawahan barat desa, bercengkrama di bawah cuaca terik membuat mereka saling menyipitkan mata satu sama lain. Sambil Bersenda gurau mereka melewati galengan sawah, hendak menuju gubuk kecil di tengah areal sawah yg sangat luas.

Belum genap 1 hari mereka kenal. Tetapi, jiwa kaku emely terhadap orang asing bisa di lenturkan oleh sikap girwanda yg supel dan luwes. Ibarat teman lama, Mereka bercengkrama tanpa rasa sungkan. Menceritakan pengalaman masing-masing tanpa canggung.

"Emely, Kau besok harus ikut aku, ke ujung bukit arah selatan desa, kau pasti suka tempat itu"

"Ehm, Selatan desa? Boleh. Aku pernah dengar ada tempat yg bagus disana untuk lihat pemandangan. Jam berapa kita kesana, nda?"

"subuh hari, bagaimana? menghemat waktu berjalan, mengingat jarak nya cukup jauh, kita habiskan hari esok di bukit saja. tempat nya sejuk dan tenang. kau tidak sibuk kan besok?"

Emely hanya menjawab dengan senyuman. Bagi Girwanda itu sudah cukup menjelaskan jawaban nya.

Ke esokan hari nya, Emely dan Girwanda berboncengan menaiki sepeda ontel yg di kendarai girwanda dari rumah. Sambil terus mengayuh, Emely mengeluh dan mencaci maki girwanda sepanjang jalan. Yg di caci hanya diam hanyut terbawa suasana angin segar pagi itu. Dalam ingatan nya, Girwanda sendiri merasa beruntung bisa memiliki teman perempuan. Bisa di ajak ngobrol, bisa di ajak bercerita, bahkan bisa di jaili.

"Betul-betul kau ya! lelaki apa kau mengizinkan perempuan mengayuh sepeda, kelelahan seorang diri sedangkan yg di bonceng asik senyam-senyum tanpa dosa! Lemah!"

"Emely, Lagi pula tadi aku kan sudah membonceng mu, Kau lihat sendiri, setiap ada tanjakan, sepeda kita mundur lagi??? tidak kah kau merasa kalau kau ini lebih gendut dari aku?"

"Memang itu alasan mu saja. kau ku lihat-lihat jenis manusia yg Ogah Capek! sialan!

Melewati terjal dan tinggi nya bukit membuat mereka berdua kelelahan dan istirahat sejenak di bibir hutan bukit tersebut. Desa Bambu Mukti sendiri memiliki cakupan wilayah yg cukup luas. Di Wilayah Desa Bambu Mukti sendiri setidaknya di kelilingi 3 Hutan Liar yaitu di Selatan, Utara, dan Barat Desa Bambu Mukti. Selain Hutan liar juga di kelilingi Bukit dan Pegunungan yg Asri dan Menarik mata siapapun yg melihat.

"Em, Perjalanan masih jauh. Ku harap kau yg masih membonceng ku nanti sampai di atas bukit, aku lelah sekali.." keluh girwanda sambil bersandar pada batang pohon pinus.

"Sontoloyo! Kau lelah? Bagaimana aku? Setelah ini kau yg bonceng aku!"

"Emely, begini saja deh, Kau yg bonceng aku sampai di puncak, nanti perjalanan pulang, aku yg bawa ontelnya? bagaimana? Lagi pula jaraknya sedikit lagi, kita lewat jalan pintas, deh!"

Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke puncak bukit, melewati jalan setapak yg di tumbuhi rerumputan roda ontel tua terus berputar memyusuro jalan sepi nan kering. pepohonan rindang menyebar bau sunyi, hanya terdengar suara bunyian dari kayuhan ontel tua yg besi tua nya sudah sedikit berkarat di sana sini.

"Sebentar lagi kita sampai Em, Disana ada jalan 2 cabang, kau ambilah sebelah kanan. kalau kau ambil yg kiri, ada sungai di bawah sana"

Emely sebenarnya sedikit khawatir dengan jalan dan arah yg di tunjuk Girwanda. Karena Hutan disini sangat luas dan lebat, tidak menutup kemungkinan kalau mereka bisa saja nyasar kalau mereka salah mengambil Arah.

Emely hanya menuruti komando dari Girwanda. Melewati jalan sebelah kanan, jalan nya tidak berbeda dengan sebelumnya, jalan setapak yg dipenuhi rumput, bedanya hanya, suhu di bukit ini sangatlah dingin. sekarang, di ujung jalan ini mereka lagi-lagi menemui Tanjakan terjal. Tanjakan yg sangat tinggi tidak memungkinkan jika ontel tua ini dipaksa terus menanjak, bisa-bisa, ontel ini rontok menanggung beban dua manusia yg menumpak nya.

"Kau kelihatan nya sudah hapal betul dengan daerah ini? Kau bilang, Kau baru pertama kali kemari?"

"Ah.. Kau ini, baru pertama kali bukan berati benar-benar buta arah, kita manusia di ciptakan memiliki insting, ya ku gunakan saja.. kenapa? kau takut aku mencelakai mu ya? Tenang, kita kan berteman baik, jangan berburuk sangka, Jangan-jangan nanti sebalik nya, kau yg memperkosa ku, hahaha"

Puncak Bukit yg berada dekat di Desa Bambu Mukti memang memiliki keunikan tersendiri. Benar kata orang, kalau bukit ini memiliki pemandangan yang indah menyejukkan mata. Terhampar lebar persawahan di bawah, Kebun bunga, dan rerimbunan dedaunan hijau hutan di sebelah utara dan barat. Serta jalan raya besar yg tergambar seperti garis berwarna abu-abu muda dari atas sana. Serta bayang gunung-gunung besar di seberang bukit, bahkan di sekeliling bukit.

Girwanda merebahkan tubuh di bukit itu, di atas rumput yg subur dan hijau. menikmati siang hari yg cerah dan sejuk. Memandang awan yg berjejer di atas langit, membuat segala bayang-bayang kehidupan menyelimuti diri girwanda. Tanpa sadar, Emely sudah berbaring di sampingnya, entah sejak kapan. tapi yang pasti, kehadiran teman baru bagi girwanda, mampu menutup kesedihan dan beban hidup yg di miliki.

"Em, Bisa kita selamanya berteman baik? Jangan sampai musuhan ya. Apapun yg terjadi"

Girwanda menoleh ke samping kiri, melihat emely yg sibuk memandang langit yg sama. Namun, dengan isi pikiran yg berbeda. Tak lama, Emely menoleh dan berbalik menatap Girwanda, Raut wajah dan senyum emely, mengingatkan Girwanda akan seorang yg sangat berarti di hidupnya.

"Kau? Kenapa terkejut lihat aku?"

"Ah.. Tidak apa-apa. Aku hanya senang memiliki teman perempuan"

"Senang!?? Apa sebelum nya kau jarang berteman dengan perempuan?"

"Bukan begitu, hanya saja aku malas berteman dengan gadis di desa ku, mereka terlalu acuh"

Menatap mata Girwanda membuat emely Merasakan ada kegetiran yg Girwanda rasakan. Tapi, Emely bukan cenayang, yg bisa tau apa isi pemikiran orang, Mau menebak pun percuma, Mereka baru kenal 1 hari, hal apa yg bisa emely tau dari Girwanda. Selama mereka berbicara, hanya celotehan dan cerita-cerita pengalaman, tidak sampai ke lingkup pribadi.

Mereka benar-benar menghabiskan waktu yg cerah di atas bukit ini. Sampai kedua nya tidak sadar jika terlelap, termakan buaian mesra angin siang. Sampai keduanya di kejutkan dengan kehadiran sosok yg sejak tadi menyelinap.

"Hey! Sedang apa kalian di bukit ini! Aku sudah perhatikan kalian sejak tadi"
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
muantabbbbb Iki...lanjutno nggeh
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Diubah oleh ariefdias
Quote:


Siap gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
nenda dlu aah
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi

CHAPTER 4

Emely terkejut mendengar suara sosok itu. Segera ia tau bahwa sosok itu berada di balik rumput beberapa meter di belakang mereka. Emely memperhatikan orang itu. Terasa aneh baginya.

Pria muda dengan potongan rambut berponi, mata kecil dan hidung mancung, dan bibir tipis. sekilas tidak ada yg aneh, yang baginya aneh, sebelumnya dia tidak pernah melihat pria tampan di desa nya. apa mungkin pria ini berbeda desa dengan emely. emely masih menatap pria tersebut dengan tatapan terkejut juga tertarik. Namun, pria tersebut seperti nya sadar, jika emely terus menerus memperhatikan nya.

"Kalau kau tau apa yg kami lakukan disini, kenapa masih bertanya, goblok!" Ketus Girwanda

Emely kembali menoleh kepada Girwanda yg memberikan pernyataan seketus itu. Sambil menoleh kembali ke arah pria asing tersebut, Emely merasa ada kemiripan di antara girwanda dan pria asing itu.

"Kau kenal dia? cara bicara mu sekasar itu?"

"Menurut mu? haha coba pakai instingmu" Ledek Girwanda.

"Aku tau itu kau Sev, Kemari. Kau jadi tukang intip rupanya ya?"

Yang di sebut namanya melangkah menghampiri keduanya. Menghadapi Girwanda, sedikit tendangan di kepala secara telak ia berikan. Girwanda Cepat menghindar, sambil tangan kirinya menangkap kaki kanan pria tersebut. Pria itu tak mampu menopang tubuh nya akibat genggaman dan tekukan Girwanda pada pergelangan kaki kanan nya. Sehingga pria itu jatuh terjengkang ke belakang.

"Bahkan sampai kau jadi arwah nanti, kau tak kan mampu mengalahkan kemampuan ku dalam hal bela diri!"

Girwanda mengulurkan tangan, membantu pria itu untuk bangun dari posisi nya. Sambil membersihkan punggung nya yg kotor dengan tanah dan rumput, Pria itu melirik nakal ke arah Emely dan kembali melirik ke arah Girwanda dengan senyuman mewakili pertanyaan nakal apa yg telah mereka perbuat selama di bukit.

Emely merasa terganggu dengan tatapan pria tersebut dan segera beralih menatap Girwanda. Girwanda yg menjadi korban tatap-tatapan, Segera mencairkan suasana dengan cara memperkenalkan kedua nya.

"Em, ini adik ku, Sevanda, Dan, Ini Emely, teman baru ku dari Desa Bambu Mukti sebelah Utara"

Sevanda dan Emely saling berjabat tangan, Emely kaget merasakan tangan dingin Sevanda yg menyentak tangan nya. Sambil senyum penuh makna, Sevanda kembali menatap Girwanda.

"Aku sevanda, Adik dari Girwanda. Oh ya, kak, Kalau begitu, Aku pergi dulu, aku masih ada kesibukan. Aku hanya membuntuti mu sebentar, Tadi aku lihat kau di pertigaan jalan bersama Emely, ku fikir dia adalah pasangan barumu... Ah sudah lah kak, Oh ya Em, kapan-kapan main lah ke rumah ku, di desa Alas Bumi sebelah timur desa mu. Sampai jumpa lagi"

Selepas pergi nya Sevanda, Emely menatap Girwanda. Membandingkan wajah Girwanda dan Sevanda. Ada kemiripan, Banyak perbedaan. Sama tampan sama rupawan. Perbedaan, perilaku lah yg paling mencolok di antara kedua nya.

"Dia adikmu? Kau tak cerita kau punya Adik!

"Kenapa kau bingung? Iya aku lupa cerita. Aku dan dia tak tinggal serumah. Aku jarang sekali bertemu dia, hanya hari-hari tertentu saja"

"Oh baiklah, Tapi kalian berdua berbeda ya, kau pendiam, bahkan bagiku kau terkesan menjaga sikapmu, sedang adikmu, seperti nya lebih aktif dan konyol di banding kau! Hanya firasatku saja sih,"

"Ah, bukan apa-apa, hal seperti itu kan sering terjadi, perbedaan kakak dan adik bukan masalah besar, setiap individu memang punya cara masing-masing. Aku lebih suka diam, dan bermain dengan fikiran ku sendiri, sedangkan adik ku, dia memang aktif dan bisa bermain sepanjang hari karena menyukai pengalaman baru, Unik nya, kami berdua sebagai laki-laki, Suka menelusuri hal-hal yg membuat kami tertarik,"

"Dalam hal apa?"

"Banyak Em, apa saja. Banyak hal yg menarik di bukit ini, di desa ini, bahkan di satu tanah wilayah ini yg melingkupi beberapa desa. Setiap makhluk hidup punya ketertarikan sendiri, Seperti kau, kau tertarik bukan padaku?"

Mendengar penuturan Girwanda emely merasa sedikit gatal telinga nya, Sedikit terusik dengan segala ucapan Girwanda, Bagaimana tidak, bagaimana Girwanda tau kalau Emely memang tertarik dengan Girwanda sejak awal pertemuan, Wajah tampan Girwanda telah membius jiwa Emely seketika, di tambah nada bicara nya yang lemah lembut, membuat Emely semakin nyaman berada di dekat Girwanda. Sesegera mungkin Emely memulihkan semua perasaan nya. Ini baru waktu yg singkat, tapi kenapa Girwanda seperti memiliki sejuta magnet di tubuhnya yang dengan mudah menarik perhatian emely.

"Pikiran ngawur, mana mungkin aku tertarik hanya dalam waktu singkat. Mengenalmu saja baru sebiji jagung, kau terlalu percaya diri!"

"Em, Tak baik menyangkal perasaan, aku berani bertaruh, kau memang betul tertarik padaku"

"Apa taruhan nya?" Tantang Emely

"Nyawaku, Em!

"Ah kau, ucapan mu seperti pujangga, seperti nya kau pandai merayu wanita"

"Benar Em, Aku dapat membaca fikiranmu, Mata mu menyiratkan satu hal tentang aku, Kau benar tertarik bukan?" Girwanda tersenyum nakal pada emely,

"Tidak!"

"Ya sudah, besok juga kau yg merasakan sakit nya menahan rasa cinta hahaha

Hari beranjak sore, Kabut-kabut tipis mulai berterbaran mengelilingi bukit, Suhu yg tadi nya hangat karena matahari, harus kembali dingin, karna matahari akan segera beranjak pergi. Namun udara yg dingin itu, tak membuat kedua insan ini berniat untuk berpaling, mereka terlanjur aman dan mereka terlanjur nyaman dalam dekapan semesta yg penuh keindahan.

"Girwanda, baru menginjak sore, tapi kenapa bukit ini sudah begitu gelap, apa tidak sebaiknya kita pulang sekarang? Aku khawatir kita tersesat"

"Jangan Takut, Aku masih hapal jalan pulangnya, Tapi.. Yasudah kalau kau takut, satu jam lagi kita pulang, menurutku sebaiknya, kita jalan kaki saja, jalanan malam disini sangat gelap, saat turun nanti, jalanan sangat terjal, aku malah khawatir dengan ontel ku, aku takut dia jebol rem nya, Hahaha"

"Baiklah, baiklah, kita betul-betul menghabiskan waktu berdua"

"Kenapa? Kau senang ya, besok kita habiskan waktu berdua lagi

Satu jam berlalu, Mereka memutuskan untuk pulang, Berjalan menuruni bukit, Sambil menuntun Ontel nya Girwanda mencabuti bunga-bunga yg tumbuh liar di sepanjang jalan. Dan menaruh nya di kantung mantel hitam yg ia gunakan. Perjalanan masih panjang, udara semakin dingin, perbukitan semakin gelap tertutup kabut yg semakin menebal. Jalanan sepi tiada seorang lagi yg melewati selain mereka berdua. Emely melamun sambil menikmati jalan yang ia lalui, Ia teringat tentang sajen yg ia lihat beberapa hari yg lalu saat perjalanan pulang melewati hutan barat bersama bapaknya. Emely masih saja penasaran siapa yg menaruh sesaji disana, dan untuk apa. Girwanda memperhatikan Emely dari belakang, Dia tau apa yg emely pikirkan. Sangat jelas tergambar,

"Kau memikirkan apa? Kau sedih ya setelah ini berpisah dengan aku?

"Bukan, aku hanya bingung, kenapa ada sesaji di hutan sebelah barat, aku hanya penasaran, Nda"

Dalam batin girwanda, Emely sebenarnya anak yg jujur, hanya saja dia tipe perempuan yg menutupi perasaannya, bukan rasa penasaran nya. Bagi girwanda, keberadaan sajen itu bukan hal baru lagi, sebagai pria yg senang bermain, dia paham betul seluk beluk perhutanan dan wilayah besar tanah ini. Girwanda juga paham, apa-apa saja yg dapat membahayakan diri emely jika dia bertindak terlalu jauh demi rasa penasaran nya.

"Oh itu, Dalam budaya kita, sesaji bukan hal aneh kan, jangan di buat pusing, berpikir positif saja, itu hanya sebagai bentuk untuk menghormati"

"Menghormati siapa?"

"Entah, bisa siapapun, sesuai kepercayaan setiap orang, bisa menghormati alam, atau bahkan menghormati leluhur, atau sebagai sedekah, mana tau ada seorang pengemis yang nyasar ke bukit ini, dan kelaparan, jadilah sajen itu dia makan, hahaha"

"Kau ini, Malah di jadikan candaan, aku serius tau, aku betul-betul penasaran"

"Sudah Lupakan, Hal seremeh itu jangan dibuat pusing, bukan urusanmu juga kan, masing-masing saja lah

Menuruni separuh badan bukit, udara perlahan kembali hangat, di bandingkan tadi. Girwanda masih saja menuntun ontel tua nya sambil bersenandung merdu. Memecah kesunyian di antara keduanya. Entah kidung apa yg di lantunkan, yg jelas emely merasa hati nya semakin tabah saat mendengar nya.

Mereka terus berjalan, menuruni terjalnya bukit. Menuju desa Bambu Mukti. Tanpa di sadari, ada salah satu sosok yg sejak di atas tadi mengintai perjalanan mereka dari awal hingga akhir. Emely memang tidak akan sadar, tapi tidak dengan Girwanda, Sejak awal ia tau siapa yg sejak tadi mengintai segala kegiatan nya. Dia tau, bahwa sosok ini bukan orang biasa, ada kekuatan besar yg menyelimuti sosok ini. Sesegera mungkin Girwanda membawa emely pergi bukan tanpa alasan, girwanda sendiri khawatir jika gadis polos ini di sakiti,

"Percepat perjalanan kita, aku sudah lelah hari ini. Kau naik lah ke belakang, ku bonceng, aku ingin segera tiba dirumah."

"Iya nda, aku juga lelah sekali hari ini, hati-hati kau, jalanan sangat gelap sekali ketika memasuki malam, aku saja tidak dapat membedakan mana saluran air dan mana jalan

"Tapi kau harus janji, setelah ini kau bebenah diri dan masuk rumah, Jangan keluar sampai subuh tiba"

"Kenapa memang? Kau terlihat serius? Ada apa?"

"Bukan apa-apa, dasar gadis bodoh! Nanti kau masuk angin, paham?"

Girwanda segera mengayuh sepedanya dengan cepat, padahal jalanan sangat menurun tanpa dikayuh pun roda sepeda nya dapat berputar sendiri. Tapi tetap saja, Girwanda tak mau ambil resiko sekecil apapun. Baginya kali ini, Sepeda tua nya bukan lah prioritas utama. melainkan penumpang di belakangnya, yg bisa kapan saja di lukai tanpa pandang waktu.
profile-picture
profile-picture
dupa.fair dan ariefdias memberi reputasi
Quote:


Silahkan gan emoticon-Cendol Gan
Quote:


Jossss..dopost donk.. he-he-he
profile-picture
profile-picture
dupa.fair dan kaliankenalsaya memberi reputasi
Lihat 1 balasan

CHAPTER 5

Malam telah larut di tengah sunyi, tiada suara manusia maupun binatang di kegelapan malam. hanya terdengar desisan angin yg merebak bulu kuduk di balik leher. Di jalan setapak itu, yg dipenuhi rumput, sepasang kaki yg kering kulitnya melangkah dengan cepat. di balik bayang-bayang pohon, telah berdiri sosok berjubah merah yg menunggu kedatangan nya sejak tadi, si jubah hitam.

Sang empu jubah hitam, berjalan menapaki tanah perhutanan selatan dengan mudah, tanpa penerangan apapun. Tanpa menyadari kehadiran si jubah merah, si jubah hitam tampak menaruh sesaji baru dan secawan darah yg saking kentalnya hampir terlihat hitam. Bersimpuh sambil komat-kamit membaca mantra, Si jubah hitam menyiramkan darah di cawan ke atas kembang yg telah di persiapkan. Setelah ritual membaca mantra selesai, dia genggam sebagian bunga yang telah di siram darah kemudian menelan nya. di akhiri dengan bersujud nya si jubah hitam di depan sesaji.

Jubah Hitam menoleh tajam ke arah persembunyian Jubah Merah, Dengan cepat Jubah Merah terbang ke atas pohon untuk menutupi persembunyian nya. Merasa tidak ada yg memperhatikan, jubah hitam berlalu pergi. Si jubah merah memperhatikan kepergian Jubah hitam, tak berapa lama, ia keluat dari tempat persembunyian. Mendekati sesaji itu, dan menendang nya hingga hancur berantakan. Bunga berdarah bertebaran di sekitar tanah hutan. Menjadikan bau anyir yg semakin kuat.

"Bisa apa Keparat itu kalau seserahan nya ini ku hancurkan!!!"

---

Gadis muda berjalan dengan kaku, pandangan kosong, dengan bibir robek sebelah. Mengenakan gaun putih penuh noda merah, Tangan dan Kaki di belengu rantai, Nyaris seperti mayat hidup yg berjalan. Menuruti perintah ghaib yg terngiang dalam telinga. Gadis muda itu terus berjalan mengikuti kegelapan, menuju suatu rumah dilembah gunung.

"Emely.. Emely..
Kemari sayang.. Kau dengar aku kan..
Emely, Pengantinku.. Kemari sayang, Berjalan lah dengan anggun mu..
Emely.. Emely.. sejak malam itu, jelas kau adalah punyaku.. Emely, Aku mencintaimu.. "


---

Pagi hari nya, Emely sudah buru-buru pergi ke rumah Girwanda, mereka cepat sekali dekat, seperti memiliki kecocokan sendiri. Rumah girwanda berada dekat perbatasan timur Desa bambu mukti, Mengendarai motor butut milik bapaknya, emely sudah kena semprot di subuh hari, bagaimana tidak, motor yg sudah dipersiapkan bapak nya untuk ke kebun di rebut begitu saja. tanpa pamit, tanpa salam.

" Anak Kampret! Kurang ajar! Wong tuo meh kerjo malah minggat! Pulang heh!!! Wedhus! "

seperti setan terbang emely memgendarai motor butut bapaknya dengan kencang, knalpot bagaikan kaleng rombeng memecah gendang telinga para pejalan kaki. sumpahan, kutukan terlontar dari mulut para pejalan kaki yg sakit telinga nya dan terkejut jantungnya.

" Sompret! Nyungsep kau nyungsep! kurang ajar!“

"harusnya monyet jangan di ajari naik motor!"

"Setan alas! Loncat jantung ku dengar knalpotmu!"


"Heh, cocot mu, aku cantik begini di bilang monyet! dasar simpanse!" Teriak Emely

Emely sampai di rumah girwanda, Rumah bertembok kayu, berlantai kayu, beratap bambu. Di sisi kanan terdapat tumpukan kayu, di sisi kiri terdapat tumpukan batu. di tengah-tengah terdapat tumpukan rumput. Rumah bagus yg tertutup tumpukan. Dan bagus nya, sebelum emely masuk, girwanda sudah menyambut di pintu rumah.

"Hay, kekasihku!"

"Kau baik-baik saja???"

"Ya, memang aku kenapa?"

"Aku bermimpi kau sakit?"

"Benar dugaan ku, perasaan mu sudah makin mendalam!"

Emely memperhatikan kulit pucat girwanda, kulit dan bibirnya putih pucat, sepertinya telah terjadi sesuatu terhadap girwanda. Emely ingin mendekati girwanda, tetapi segera di cegah. Girwanda melangkah ke arah tunpukan batu dan duduk di atas nya. Segera girwanda menoleh ke arah emely yg diam membeku menatap pucatnya girwanda.

"Kau kenapa? Duduklah kemari. menikmati udara pagi bisa membuat pikiran jernih"

Emely melangkah kaku ke arah girwanda. Menatap penuh ke dalam mata girwanda. Mencoba menelisik apa yg ada dalam pikiran girwanda, tapi tetap, emely tak mampu.

"Girwanda, kau yakin tak apa? kau pucat sekali pagi ini?"

"Aku tak apa-apa em, hanya saja seperti nya aku salah makan semalam. Sehingga aku mual dan muntah-muntah"

"Mau aku antar ke dokter dekat sini?"

"Tak perlu em, aku hanya ingin kau bantu basuh tubuhku memakai air rendaman dedaunan yg aku petik tadi pagi, supaya tubuhku kembali segar, Kau keberatan?"

"Oh baiklah, kemari aku bantu"

Mereka berdua melangkah kembali masuk kedalam rumah. menuju ruang belakang rumah girwanda, disana terdapat mangkuk kecil berisi dedaunan yg di rendam. Sehingga menghasilkan air yg sedikit kehijauan. Emely mengambil kain kecil di meja kecil milik girwanda, girwanda membuka kaus atas nya dan berbalik memunggungi emely.

"Kau basuh punggungku saja."

Emely membantu membersihkan pinggang bagian belakang girwanda yg panas. Emely berpikir apakah girwanda demam. Usapan demi usapan emely lakukan, dari bagian pinggang naik ke atas. ketika ia akan mengusap leher girwanda, emely menemukan beberapa garis seperti bekas cakaran. dan sebagiannya masih mengeluarkan darah. Emely menyentuh salah satu bekas cakaran itu.

"Apakah orang yg salah makan memiliki sisa cakaran ditubuhnya?"

"Kau bercanda. mana ada"

"Kau tak merasa sakitkah jika lukamu ini aku sentuh?"

"Luka apa?"

"Kau merasa betul tidak punya luka?"

"Kau bicara apa?"
Emely heran dengan pengakuan girwanda. Dia sedikit gemas dan semakin mengorek luka cakaran itu semakin dalam. Ia tau ada yg sedanh terjadi dalam diri girwanda. Ia tau bahwa telah terjadi sesuatu terhadap girwanda. Semakin ia korek luka tersebut, semakin banyak darah bercucuran di punggung girwanda.

"Kau tau, aku sekarang sedang merobek luka mu makin dalam. Apa kau tak merasa sakit???"

Sambil menyodorkan tangan penuh darah ke arah girwanda, girwanda hanya menoleh dan melihat darah itu dengan terkejut. Pikiran nya terlintas akan bayang-bayang kejadian semalam. Reaksi apa yg tubuhnya terima sampai ia kebal seperti itu.

"Wah.. Anu em, Apa luka keringku kau kelupas?"

"Luka kering? Jelas-jelas luka ini masih baru dan basah??? Girwanda ada apa sebenarnya?"
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Quote:


Pasti gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Selamat malam.. Wah ternyata naik Hot Thread.. Senangnya.. emoticon-Matabelo

Maaf baru update..
Saya Mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha kepada para reader yg menjalankan..

Malam ini, saya up sedikit dulu.. Besok saya up lagi.. Terima kasih..
Bagi yg gift cendol sangat saya hargai.. Terima kasih.. emoticon-Betty
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Diubah oleh kaliankenalsaya
nyimak gann
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Quote:


Monggo gan..
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
semoga sampai tamat. bagus.
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Dah tamat kah?
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Sudah Tamatkah ? emoticon-Bingung
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
mau baca kok takut ya, uda merinding duluan
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di