KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3937eafacb9524e85dc427/gara-gara-daster

Gara-Gara Daster

Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 5
Quote:


Belom dipanjangin lagi nih mak? emoticon-Cool
Quote:


Mau aye panjangin, Neng. Tinggal tulis sini pan, ya?
Quote:


Iyap mak ... tulis biasa ajah kayak buat komenan
Cinta Salah Alamat

Suranti Vulka


Gara-Gara Daster Sumber:Pixabay


"Sstt ... Bar! Sstt ... Akbar!"

Pria yang kupanggil Akbar itu menoleh. Beranjak dari duduk lalu menghampiriku yang berdiri di balik dinding.

"Ngapain lu ke sini?"

"Ini. Tolong kasih Elqi, ya."

"Apaan?"

"Ra-ha-si-a!"

"Pajak."

"Apa?"

"Ini. Pake bayaran." Akbar melambaikan surat berwarna merah jambu di depanku.

"Ck! Berapa?"

"Seminggu."

"Hah!"

"Pulang-pergi ama gue seminggu. Kalau nggak mau, ya udah, nih, ambil."

Akbar menjejalkan surat yang telah kuberi parfum beraroma melati itu ke tanganku. Badannya yang tegap berbalik, lalu melangkah pergi. Aku menimang sebentar. Sebelum pria itu semakin jauh, aku memanggilnya. Panggilan yang cukup kencang hingga membuat anak-anak IPA menoleh ke arahku. Tampak orang yang kupanggil melengkungkan bibir. Dia kembali menghampiri.

"Deal?"

Tangannya bersiap untuk menjabat. Penuh keraguan aku menerima uluran tangannya. Pria itu pergi setelah mengambil amplop yang kuberikan tadi.

Pulang sekolah, setelah mengendap-endap agar tak ketahuan Elqi, aku langsung menuju ke arah Akbar yang telah menunggu di depan gerbang sekolah.

"Ngapain lu? Kayak maling."

"Sembunyi dari Elqi."

"Jiahaha tadi aja nggak malu kasih surat, sekarang malu-malu. Dasar cewek!"

"Rese, lu. Tadi kan gue nitip ke elu. Bukan ke dia langsung."

Aku segera memakai helm dan naik ke atas motor besar Akbar. Kutoleh kanan-kiri mencari sesuatu untuk berpegangan.

"Bar, gue pegangan di mana?"

"Sini." Akbar menjawab sambil meraih kedua tanganku dan melingkarkan di perutnya.

Aku terkejut, tapi tetap diam karena pria itu sudah melajukan motornya dengan kencang. Baru beberapa meter berkendara, motor Akbar seolah memprotes. Jalannya tersendat-sendat sebelum akhirnya mati. Aku celingukan, bingung. Sementara Akbar dengan santai nyengir sambil menggaruk kepala.

"Kenapa mati?" tanyaku penasaran.

Peganganku di perutnya mengendur. Posisi badan kutegakkan.

"Bensin habis. Turun dulu."

Aku mengikuti perintahnya. Turun dan melepas helm.

"Dorong, Dit."

"Hah!"

"Bantu dorong, elah."

"Ck!"

Akhirnya aku membantunya mendorong, di bawah terik matahari yang sebenar lagi tergelincir. Selama perjalanan mendorong itu, kumonyongkan bibir, tanda marah dan kecewa dengan Akbar.

"Bar! Masih jauh, ya?"

"Kita coba di depan sana. Siapa tahu ada."

Aku kembali mendorong motor Akbar dengan terengah-engah. Matahari sore yang tak terlalu panas, tetap membuat keringatku bercucuran karena kelelahan.

"Lu tega, ya! Kenapa nggak ngisi bensin dulu, sih, tadi."

"Gue nggak tahu, Dit. Elah."

"Kan ada indikatornya, Bar."

"Iya iya, maaf. Tar gue jajanin permen."

"Ck!"

Akhirnya aku bisa minum es cendol setelah berjalan beberapa meter. Bensin motor pun sudah terisi. Dahaga yang sejak tadi mencekik kerongkongan hilang sudah. Wajah Akbar juga mulai bercahaya yang tadinya tampak pucat.

"Udah belum? Yuk, pulang," ajaknya setelah menghabiskan segelas es cendol.

"Tar ini tinggal dikit."

Akbar beranjak menghampiri penjual, tak berapa lama dia kembali lagi.

"Apaan?"

"Bayarin, dong. Duit gue habis," katanya sambil meringis.

Aku menahan geram dengan menggenggam erat rok abu-abuku. Bangkit dari duduk, menghentakkan kaki lalu membayar.

"Buru!" teriakku setelah mengangsurkan uang.

"Makasih, ya."

Aku naik ke atas motonya penuh rasa dongkol. Melingkarkan tangan pada perutnya dengan kasar.

***

"Dita!"

Aku menoleh. Tampak Akbar berlari kecil ke arahku. Tangan kanannya membawa sebuah amplop berwarna putih. Jantungku langsung berdetak kencang. Aku berharap amplop itu balasan dari Elqi.

"Ini." Pria itu mengangsurkan amplop tadi, "Dari Elqi. Tambah seminggu."

"Hah? Maksudnya?"

Senyumku yang hampir terkembang hilang kembali. Berganti dengan tampang tak mengerti.

"Setiap gue anter ini surat ke elu ataupun ke Elqi, bayarannya satu minggu pulang pergi bersama."

"Ogah! Tar lu ngikut gue lagi."

"Yaelah, Dit. Kan gue kagak sengaja."

"Tar gue juga yang bayarin lu jajan."

"Ck! Uji gue ganti."

Akbar memberikan selembar uang 100 ribu. Aku terbelalak antara senang dan tak menyangka.

"Serius, lu?"

"Duarius."

"Makasih," ucapku. Bergegas masuk kelas. Menyembunyikan amplop dan uang.

.

Dari kejauhan tampak Akbar memasang tambang jutek. Duduk di atas motor, di bawah pohon akasia samping gerbang sekolah.

"Lama amat, sih!" sungutnya ketika aku sampai.

"Sorry. Bahas tugas dulu tadi."

Aku segera naik ke atas motor lalu melingjarkan lengan ke perutnya. Hari jdi tidak ada kendala apa pun. Akbar langsung mengantar hingga rumah.

"Gue cabut, ya."

"Oke. Hati-hati."

Setekah melepas Akbar hingga tikungan, aku segera masuk ke kamar. Membuang tas sembarangan dan segera membuka amplop. Sebelumnya, aku menghujani ciuman terlebih dahulu, lalu membuka dengan jantung dan tangan yang sama debarnya.

'Terima kasih atas puisinya. Bagus.'

"Kyaaa!!"

Aku melompat kegirangan sambil berteriak. Berhenti, mendekap surat itu, lalu melompat lagi. Begitu seterusnya hingga Mama menggedor pintu karena berisik.

.

Pagi hari ketika Akbar menjemput, aku sudah siap. Menghampirinya dengan tersenyum manis.

"Tumben gue nggak nunggu dulu."

"Enggaklah."

"Seneng bener dari tadi senyum mulu."

"Seneng, dong. Kan dapat surat balasan."

"Cieee."

"Yuk, berangkat."

Di sepanjang jalan, aku dan Akbar ngobrol santai. Seperti biasanya, lengan kulingkarkan, sesekali dagu kutekan pada bahunya suapaya bisa mendengar ucapan Akbar. Saking asyiknya, tidak sadar kami sudah sampai di sekolah. Menyapa satpam dan beberapa teman lain lalu parkir di halaman belakang sekolah.

"Duluan, ya."

Aku mendahului Akbar ke dalam kelas. Saat itu juga berpapasan dengan Elqi. Aku sempat grogi dan gugup. Namun, bisa menguasai keadaan saat Elqi tersenyum manis dan mengajak bicara.

"Besok lagi puisinya kasih langsung aja. Jangan lewat Akbar. Banyak modus dia."

"Eh, i-iya," jawabku kikuk. Kepala menunduk, tangan kiri menyediakan sebagian rambut ke belakang telinga.

"Yaudah, masuk kelas, gih. Tar pulang sekolah bareng, ya."

"Hah? Serius!"

"Iyalah, masa bohong."

Hari itu aku pulang bersama Elqi. Sama sekali tidak ingat dengan janji yang sudah kusepakati dengan Akbar. Saking bahagianya aku tak ingat apa-apa. Hingga saat sore menjelang, tiba-tiba Akbar datang.

"Bar, ada apa?" tanyaku. Setelah melihat wajah Akbar yang tampak khawatir.

Pria itu diam. Menatap lama ke arahku. Bahkan tanpa berkedip. Rambutnya acak-acakan, seragam sekolahnya juga sudah tak beraturan lagi. Tunggu, seragam?

"Lu dari mana? udah sore begini masih pake seragam."

"Gue nungguin lu."

"Hah! Nungguin gue?"

"Kita kan punya janji."

Aku menepuk kening. Baru sadar. Sedangkan Akbar membuat muka, kesal.

"Sorry, gue lupa. Tadi gue pulang sama Elqi."

"Ooo udah jadian sekarang?"

"Belum, sih. Cuma hampir," kataku malu-malu.

"Yaudah. Kita batalin janji kita. Lu kan sekarang udah ada yang antar jemput. Gue pulang."

Akbar pulang dengan wajah tertekuk. Sebenarnya ada rasa tak enak di hati, tetapi aku senang saat Elqi mengajakku.

Seminggu aku pulang bersama Elqi. Namun, rasanya berbeda. Tak seperti dengan Akbar. Rasanya hambar. Elqi kaku. Mudah tersinggung dan suka mengatur. Bahkan saat aku hendak berpegangan saja, dia menolak.

Kadar sukaku padanya mulai berkurang. Tepat saat dia menyatakan cintanya aku bimbang, entah kenapa pesonanya yang dulu begitu memukau menguap begitu saja. Hilang tak berbekas. Akhirnya aku menolak.

Siang itu, setelah selesai mata pelajaran terakhir, aku langsung melesat keluar. Sengaja, karena ingin segera menemui Akbar. Setelah beberapa kali kepala celingukan, akhirnya aku menemukan pria yang sudah beberapa hari ini tak kusapa.

"Akbar!" teriakku.

Dia menoleh dengan enggan. Matanya menatap tajam, bagai pedang yang menghunus tepat di jantung. Aku berlari menghampiri, tapi tiba-tiba ....

Bruk!

"Aduh!"

Akbar tertawa saat melihatku jatuh terpeleset lantai yang licin. Pria itu segera membantuku berdiri lalu memastikan kakiku tidak terluka.

"Sakit? Lain kali hati-hati." Dia tersenyum.

"Gue menolak Elqi," kataku, meringis menahan sakit.

"Terus?"

"Gue maunya sama elu."

Dia diam. Terus memerhatikan aku. Namun, sorot matanya sudah tak setajam tadi.

"Pajak." Akhirnya dia bicara.

"Berapa?"

"Seumur hidup."

"Mauuu!"

Akbar menarik tanganku hingga badanku jatuh ke dalam pelukannya.

"Terima kasih," pungkasnya. Tangan kokohnya membelai rambutku lembut.

End


Yogyakarta, 1 Agustus 2019
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
hahaha....lagi.....lagi..

ringan tapi menyentuh,....tsnya pinter mainin hati nih....hahahaha
Balasan post surantisura
Keren ceritanya 🤗🤗
Balasan post surantisura
Udeh mak ninggalin cendol
Quote:


Ini ini ini indahnya duh
Quote:


Aduh, masa newbi krisan senior, emak krisan cerbungku dong
Quote:


Ahay, jangan sampai hatinya teralihkan yak emoticon-Malu
Quote:


Terima kasih, Mbak Ana, sudah mau mampir 😊😊
Quote:


Terima kasih, Nyak, lope lope, masih ada beberapa typo ternyata
Quote:


Indahnya di sebelah mana, to? 😁
Quote:


Emak baca lagi tadi, masih ada beberapa typo. Elah, emak bukan senior 😢
cerpen yg bagus...
Quote:


Terima kasih atas apresiasinya, Gan 😊
Rapuh

Suranti Vulka


Gara-Gara Daster Sumber : Pixabay



Aku mengerjap pelan, silau dengan lampu kamar yang menyala. Refleks, tangan meraba sebelahku. Sudah menjadi kebiasaan memang, setiap membuka mata, selalu meraba. Memastikan seseorang masih berada di sana atau tidak. Kali ini, dingin dan kosong.

Kepala kuangkat, di sudut kamar tampak Mas Radit sibuk dengan ponsel dan rokoknya. Tangan kirinya menekan benda pipih selebar lima inci itu, sedangkan tangan kanan yang mengapit rokok terulur ke luar jendela. Dia tampak santai. Sesekali tersenyum. Seolah sedang chat dengan orang lain.

Wajah Mas Radit yang terkena sorot lampu ponsel tampak begitu rupawan. Rahang kokoh, hidung mancung dan cambang yang mulai tumbuh di sekitar pipi, membuatnya semakin gagah dan tampan.

"Mas," panggilku. Cepat, Mas Radit menoleh. Lelaki itu tersenyum, manaruh ponsel dan menghampiriku.

"Maaf aku membangunkanmu," ucapnya sambil mengecup keningku.

Tubuhnya berbaring di sampingku. Tangannya yang kokoh memeluk pinggang kecilku.

"Kenapa bangun? Ada masalah?" tanyaku khawatir.

"Tidak. Hanya ... aku tidak bisa tidur." Mas Radit membawa kepalaku ke dalam dadanya, "tidurlah."

Mataku terpejam.

Memang sejak empat tahun lalu, ia mulai susah tidur. Kadang terbangun di malam hari, kadang sama sekali tak tidur. Aku yakin, dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin ... anak.

***

Minggu ini, ada pertemuan rutin keluarga besar Mas Radit. Sudah menjadi kebiasaan keluarga itu, setiap bulan selalu mengadakan pertemuan yang dikemas dalam bentuk arisan. Aku salut dengan kekompakan mereka. Setiap acara itu terselenggara, jarang sekali ada yang absen. Semuanya selalu hadir meski terlambat atau pulang terlebih dahulu karena alasan anak atau ada acara lain. Seperti siang ini, semua anggota keluarga hadir.

Mas Radit anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertama Mas Erwin, kakak kedua Mbak Novi, dan si bungsu Letha. Mereka semua sudah berkeluarga juga sudah memiliki anak, kecuali kami.

"Ini mau sampai kapan bulan madu terus?" tanya Mbak Cinthia--istri Mas Erwin.

Aku hanya tersenyum. Pun begitu juga dengan Mas Radit.

"Tar juga dikasih, Mbak," jawabnya santai.

"Memang kamu nggak kepengen punya anak kayak kita-kita?" imbuh Mbak Novi.

"Ya pengen, Mbak. Kita juga udah berusaha. Bahkan kata dokter kami sehat."

"Berarti usaha kalian kurang maksimal. Kalau bisa tiap dua hari sekali dikerjain. Jangan terlalu capek, jangan begadang, ja ...."

"Iya iya, Mbak. Tahuuu," sergah Mas Radit. Sebelum Mbak Novi melebar ke mana-mana.

"Jangan cuma iya iya aja, Dit. Dengerin Mbak kamu." Ibu menyela pembicaraan kami.

"Iya, Bu, Radit dengar, kok."

"Kami sudah rutin melakukannya, Mbak Nov, mungkin memang belum rejeki kali, ya," imbuhku.

Sudah berapa kali kami mendengar pernyataan seperti ini. Bukan hanya capek menjawab, tetapi juga sudah capek mendengar. Bahkan, kadang aku sempat jengkel dengan mereka. Seolah kami sengaja menunda memiliki momongan. Namun, hal itu selalu aku tahan. Paling setelah tiba di rumah, Mas Radit yang terkena imbasnya. Aku ngomel tak jelas di hadapannya.

Lelaki itu hanya diam melihat kemarahanku. Namun, setelah amarahku mulai mereda, dia akan menghampiri lalu memelukku. Mengusap punggung dan membisikkan kata-kata yang menenangkan.

Sikap itulah yang membuatku begitu mencintainya. Dia tak pernah tersulut emosi saat aku menyalahkannya. Dia begitu tenang dan lembut.

Untuk itu, aku sangat kehilangan jika sehari saja tak bertemu dengannya. Tak merasakan sentuhan dan sikap lembutnya.

Seperti saat dia tugas ke luar kota kali ini. Minimal satu minggu kami tidak bertemu. Rindu sudah mendera bahkan saat dia baru beberapa menit meninggalkan rumah. Sedikit lebay memang, tapi begitulah perasaanku terhadapnya.

Sudah dua hari mas Radit pergi. Sejak menikah tujuh tahun yang lalu, baru empat tahun ini mas Radit sering bertugas ke luar kota. Saat kami berpisah seperti ini, sering kuhabiskan waktu bersama teman-temanku. Sengaja, selain supaya tidak terus ingat padanya, juga agar waktu berlalu tanpa terasa.

Hari ini, Rika mengajak ketemuan di salah satu mall yang berada jauh di dekat perbatasan kota. Aku sempat memprotes, tapi dia berdalih tak bisa pergi jauh dari rumahnya. Ia tak begitu tega meninggalkan anaknya terlalu lama di rumah bersama pengasuh. Akhirnya, aku mengalah. Berjalan sedikit lebih jauh demi sang sahabat karib.

Tiba di mall itu, hari sudah menjelang sore. Gegas kaki kuayun menuju restoran yang telah disebutkan. Sesekali aku melirik jam di tangan, sudah terlambat sepuluh menit. Aku berlari, tak ingin mendengar ceramah darinya. Kebiasaan buruk wanita itu memang marah saat sahabatnya menganut jam karet.

Bruk!

Aku menabrak seorang anak berumur sekitar dua sampai tiga tahun. Anak itu menangis, mungkin karena sakit atau kaget. Refleks aku memeluk dan menggendongnya.

"Cup cup cup. Maafin tante, ya. Mana yang sakit?"

Anak kecil itu masih menangis. Bibirnya kini berteriak memanggil mamanya. Aku menoleh ke kanan-kiri mencari sosok yang mungkin ibu dari anak yang kugendong. Dari arah kiri, sebelah elevator, tampak wanita muda yang sangat cantik datang tergopoh-gopoh.

Begitu sampai di hadapan, ia langsung mengambil anak itu.

"Terima kasih, Mbak."

"Maaf saya tadi yang menabrak. Coba dicek siapa tahu ada yang luka."

Wanita muda itu menurunkan anaknya. Melihat ke seluruh tubuh, memastikan anak itu tak terluka.

"Lintang!"

Aku dan wanita tadi menoleh.

"Papa!" teriak anak kecil itu.

Dia langsung menghambur ke pelukan lelaki yang ia panggil papa. Disusul ibunya. Mereka berpelukan.

Aku diam mematung melihat adegan itu. Syok dan juga terkejut. Menatap tak percaya ke arah pemandangan di hadapan.

"Mas Radit," bisikku.

Hatiku seolah tercabik-cabik. Air mata sudah meleleh deras. Kakiku sangat sulit digerakkan. Bahkan seolah tubuh ini tiada bertulang. Lemas dan tak berdaya. Aku masih menatap mereka saat mengurai pelukan. Anak kecil tadi menunjuk ke arahku yang diikuti pandangan papanya. Mata hitam kelam yang selama ini kupuja menatap tak percaya ke arahku.

Dari tempatku berdiri, aku bisa membaca gerak bibirnya yang mengeja namaku. Ingin berpaling saja dan pergi dari hadapan mereka. Namun, tak bisa. Perlahan lelaki itu memberikan anak kecil tadi pada ibunya. Lalu menghampiriku.

Kami saling berpandangan dalam jarak yang sangat dekat.

"Apa ini seminggu ke luar kota? Siapa mereka?"

Mas Radit menunduk. Matanya memerah. Tanganku terkenal, lalu memukul badannya.

"Siapa mereka?!" teriakku. Sudah habis kesabaran ini melihatnya hanya tertunduk dan menangis.

"Maaf, Sayang."

"Sejak kapan?" tanyaku getir.

Aku menengadah menatap Mas Radit, tapi tak begitu jelas karena terhalang oleh air mata.

"Kita pulang dulu," ajaknya.

Saat kami melangkah hendak pergi. Tiba-tiba gadis kecil tadi memeluk Mas Radit dari belakang.

"Papa! Aku ikut!"

Aku menatap nanar, bergantian antara anak kecil itu dan Mas Radit. Melihat begitu intimnya ayah dan anak itu, air mataku kembali luruh.

"Aku pulang sendiri, Mas. Urus saja keluargamu."

"Rey! Rey!"

Aku tetap melangkah. Tak memedulikan panggilannya. Aneh, padahal tubuh ini sejak tadi lemas tak bertenaga. Namun kini, seolah ada kekuatan untuk melesat sejauh mungkin meninggalkan pemandangan yang menyiksa mata dan batinku.

Aku masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas secepat yang aku bisa. Tidak peduli lagi dengan kendaraan lain yang berlalu lalang, meneriakkan sumpah serapah karena kengawuranku mengemudi. Satu hal yang pasti, aku ingin segera tiba di rumah.

***

Pria itu bersimpuh di kakiku. Bibirnya berulang kali mengucap maaf. Air matanya menganak sungai, membasahi kaki. Namun, aku tetap bergeming.

Hatiku masih menahan perih. Begitu tega dia mengkhianati pernikahan kami. Menjalin cinta selama itu tanpa perasaan bersalah sedikit pun.

"Apa maumu, Mas?"

"Aku nggak bisa ninggalkan kalian berdua. Kalian begitu penting bagiku."

"Kenapa nggak cerita saja sejak awal? Aku bisa melepasmu dengan suka rela." Ucapanku begitu yakinnya, padahal dalam hati tetap saja tak rela, jika dia meminta izin menikah lagi.

"Aku nggak mau kehilanganmu, Sayang."

"Cih! Kemarin atau sekarang, kamu tetap harus memilih, Mas. Karena aku nggak mau dimadu."

"Rey."

"Ceraikan aku," kataku mantap.

Mataku menatap lurus ke arah manik Mas Radit. Lelaki itu menggeleng. Kembali merengek tidak mau berpisah. Namun hatiku sudah yakin. Keputusanku sudah bulat.

"Atau ceraikan dia."

Mas Radit kembali menggeleng. Aku mengangkat sudut bibir. Ternyata lelaki yang selama ini kupuja karena wibawanya, pengecut juga. Tak mampu menentukan pilihan.

"Aku sangat menginginkan anak. Dan Salwa begitu berarti untukku. Aku tak mungkin menceraikan Lintang."

"Kalau begitu sudah jelas, Mas. Kutunggu surat ceraimu."

Aku bangkit dan meninggalkan lelaki itu. Untuk kedua kalinya, tak kuhiraukan panggilan juga teriakannya. Melangkah mantap keluar dari rumah yang memiliki beribu kenangan indah. Sesekali tanganku mengelus perutku yang masih rata. Padahal, penantian kami selama ini hampir terwujud.

End

Yogyakarta, 1 Agustus 2019
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan Cahayahalimah memberi reputasi
Quote:


Ngg punya daster🙈
aku penggemar daster
profile-picture
surantisura memberi reputasi
tega bener tuh Radit.
Halaman 4 dari 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di