alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d175fbe09b5ca749c69509f/din-syamsuddin-saya-merasa-ada-rona-ketidakjujuran-dan-ketakadilan-di-mk

Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK

Sabtu, 29 Juni 2019 | 19:35 WIB
Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK
Nasional REDAKSI


Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK
Din Syamsuddin




POJOKSATU.id, JAKARTA – Tokoh nasional Prof Din Syamsuddin mengomentari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno seluruhnya.

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu mengatakan, warga negara yang taat konstitusi memiliki pilihan menerima keputusan MK sebagai produk hukum.

“Itu adalah sikap taat hukum,” kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, Sabtu (29/8).

Menurutnya, para hakim MK terikat amanat konstitusi dan nilai moral untuk menegakkan kejujuran dan keadilan, maka rakyat juga berhak untuk menilai mereka apakah telah mengemban amanat dengan benar, yakni menegakkan kejujuran, keadilan, dan kebenaran.

“Ini adalah sikap moral,” ujar Din Syamsuddin.

Jika rakyat meyakini ada pengabaian nilai moral bahwa para hakim MK itu patut diduga membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, seperti membenarkan kecurangan, maka rakyat mempunyai hak dan kewajiban melakukan koreksi moral.

Din mengaku merasakan apa yang dirasakan para pendukung Prabowo dan sebagian rakyat Indonesia bahwa rasa keadilan terusik.

“Saya tidak mampu dan tidak mau menyembunyikannya. Saya merasa ada rona ketidakjujuran dan ketakadilan dalam proses pengadilan di Mahkamah Konstitusi. Banyak fakta dan dalil hukum yang terkesan tidak didalami,” tuturnya.

“Maka bagi rakyat jadikan itu semua sebagai catatan bahwa ada cacat moral yang terwarisi dalam kehidupan bangsa, dan ada masalah dalam kepemimpinan negara. Selebihnya kita menyerahkan sepenuh urusan kepada Allah SWT, Ahkam al-Hakimin, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Adil,” lanjut Din.



Jalan yang terbaik, lanjut Din, disamping menghormati Keputusan MK sebagai produk hukum, demi literasi bangsa kaum intelektual melakukan eksaminasi terhadap keputusan MK.

Selain itu, rakyat juga dapat terus melakukan koreksi moral agar bangsa tidak terjatuh ke titik nadir dari moral banckrupty atau kebangkrutan moral.

Dan itu semua tetap dilakukan secara makruf dengan senantiasa memelihara persaudaraan kebangsaan.

“Perjuangan menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran tidak boleh ada titik berhenti. Hasbunallahu wa ni’mal wakil, wa ni’man nashir,” tandas Din Syamsuddin.

(rmol/pojoksatu)


https://pojoksatu.id/news/berita-nas...kadilan-di-mk/



Lama gak nongol nDin.... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak


Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK
profile-picture
profile-picture
profile-picture
twiratmoko dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Sobat.Gurun
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 6
apa din samsudin datang dari dunia lain yang tidak tahu bahwa apa pun putusan pengadilan,selalu dinilai positip dan negatip?
Mungkin aj pak,tp y udh lah,mngkin mskd mereka baik,agar indonesia g rbt,jd bpk mngkin bs jd lbh bijak,jngn buat indonesia terpecah hanya gara2 hal beginian
ini lagi si mulut dubur...nyinyirnya kek mencret sembelit...susah dibendung emoticon-Blue Guy Bata (L)
Quote:


kalau namanya 88 mending ganti aja deh jadi nama lain, ane kasih tahu saja ya nama 88 itu kalau di eropa atau amerika serikat identik dengan kode extremis kanan yaitu sebagai pengganti dari kode huruf "HH" kepanjangan dari "Heil Hitler" alias neo nazi alias white supreme, ada pun H itu adalah huruf ke 8..kalau dibubarkan jangan tapi kalau ganti nama dianjurkan untuk menghindari salah persepsi
Diubah oleh barulangit
Quote:


nah itu dia kalau tuduhannya masif seharusnya mudah dibuktikan karena jumlah rakyat Indonesia jumlahnya ratusan juta jiwa bukan seratus atau duaratus ribu jiwa, apa mereka yang menggugat perkara kecurangan pemilu nggak berpikir pakai hitungan dan logika??
Quote:


curang satu atau dua mungkin saja ada itu disebutnya oknum, tapi kalau tuduhannya masif itu berarti kecurangannya banyak kalau memang dianggap masif seharusnya dibuktikannya mudah, jumlah rakyat Indonesia itu banyak loh bahkan ada di posisi ke empat negara dengan populasi terbanyak di dunia setelah amerika serikat, jadi tuduhan masif di Indonesia hitungannya adalah bukan seribu atau dua ribu orang lagi melainkan puluhan juta orang karena populasi penduduk Indonesia sudah mencapai lebih dari 270juta jiwa lebih, jadi jika dianggap terjadi kecurangan mudah dong membuktikannya karena jumlahnya masif
maklum habis dipermalukan...

Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK

saat bom surabaya:

Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK


ngapain coba JKW meminta si din ikut ? kecuali buat dipermalukan emoticon-Shutup
Orang2 yang memang jadi pemain dalam politik (caleg, makelar, team sukses) sadar kecurangan pemilu itu seperti piramida, semakin tinggi tingkatanya kecurangan semakin rendah, kecurangan paling banyak ya di pileg tingkat kabupaten/kota, di tempatku aja timses bayangan caleg gerindra dan pks rata2 loyalis jokowi, dan semuanya main duit emoticon-Big Grin
ga bs liat kenyataan

kegoblokan yg terstruktur sistematis dan masif
sah sah aja, cm harusnya MK MENGEDUKASI MASYARAKAT juga dengan penjelasan dan penyebaran secara masif, misal kecurangan ini ada, tp memang gak mempengaruhi hasil karena blablabla
dua kubu pasti ada curang ecek2 macam model serangan fajar, tp ranah nya ke hukum lain dsb emoticon-Ngakak (S)
makin fekok si din ga jauh ma...
Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK
Quote:


Pak Din Syamsudin keknya harus baca ini sebelum berprasangka yang buruk terhadap hakim2 MK.

emoticon-Turut Berduka

Menghukumi Berdasarkan Yang Zhahir

Di catat oleh Al Bukhari (2680), Muslim (1713), An Nasa-i (5401), At Tirmidzi (1339) dan yang lainnya,

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ زَيْنَبَ ، عَنْ أُم سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَن رَسُولَ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ ، قَالَ : ” إِنكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَي وَلَعَل بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجتِهِ مِنْ بَعْضٍ ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَق أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النارِ ، فَلَا يَأْخُذْهَا “

dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Zainab dari Ummu Salamah radhiallahu’anha, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kalian menyerahkan persengketaan kalian kepadaku. Namun bisa jadi sebagian dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Maka barangsiapa yang karena kelihaian argumennya itu, lalu aku tetapkan baginya sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain. Maka pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka. Oleh karena itu hendaknya jangan mengambil hak orang lain”.

Derajat Hadits

Semua perawinya tsiqah tanpa keraguan. Baru dari Hisyam bin Urwah diriwayatkan oleh banyak imam dan huffadz. Hadits ini shahih tanpa keraguan, diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dalam Shahihain.

Diriwayatkan dari jalan lain oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya (3/261), sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anu dengan lafadz,

اختصم رجلان إلى النبي صلى اللهُ عليه وسلم, فقال رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم إنما أنا بشَرٌ وإنما أقضي بينكما بما أسمعُ منكما ، ولعل أحدَكم أن يكونَ ألحنَ بحُجتِه من بعضٍ ، فمن قطعتُ له من حق أخيه شيئًا, فإنما أقطع له قِطعةً من النارِ

“Ada dua orang yang membawa persengketaannya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Aku akan memutuskan perkara dari persengketaan ini berdasarkan apa yang aku dengar dari kalian. Dan bisa jadi salah seorang dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Maka barangsiapa yang aku tetapkan baginya sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain. Maka pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka‘”.

Faidah Hadits

Imam An Nawawi menjelaskan: “dalam riwayat lain terdapat lafadz ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa‘, maksudnya, ketika sebuah persengketaan didatangkan kepadaku, bisa jadi satu pihak lebih pandai dalam menyampaikan argumen. Lalu aku menyangka bahwa ia yang benar. Dan barangsiapa yang aku menangkan perkaranya untuk mengambil hak muslim yang lain, maka sesungguhnya itu potongan api neraka baginya”.Beliau juga menjelaskan, “makna sabda Nabi ‘sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa‘, maksudnya adalah penekanan tentang sifat manusiawinya, yaitu bahwa seorang manusia tidak bisa mengetahui hal gaib dan perkara-perkara yang tersembunyi, kecuali Allah menunjukkan hal itu. Ini juga penegasan bahwa semua perkara hukum yang dibolehkan bagi manusia juga dibolehkan bagi Nabi. Dan Nabi hanya menghukumi sesuatu sesuai apa yang zhahir (nampak), karena hanya Allah yang mengetahui perkara batin (yang tersembunyi). Sehingga keputusan hukum didasari atas bukti, sumpah atau metode lainnya yang semuanya merupakan perkara-perkara zhahir. Tentunya dengan adanya kemungkinan yang diputuskan itu menyelisihi hakekat sebenarnya. Karena yang dibebani hanyalah menghukumi secara zhahir”(Syarh Muslim, 12/5).Jika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengetahui perkara gaib ketika beliau masih hidup, terlebih lagi setelah beliau wafat. Sehingga hadits ini adalah bantahan bagi sebagian orang yang berkeyakinan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tahu perkara-perkara gaib secara mutlak sejak masih hidup bahkan hingga hari ini.Al Khathabi menjelaskan, “maksud dari أَلْحَنُ بِحُجتِهِ yaitu ia lebih pandai dalam berargumen”. Kemudian beliau juga menjelaskan, “fiqih dalam hadits ini yaitu wajib bagi hakim untuk memutuskan berdasarkan apa yang zhahir (nampak).Fiqih lainnya, keputusan hakim tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Karena ketika hakim salah dalam memutuskan maka keputusan itu bisa diabaikan, dan keputusan itu dihasilkan dari apa yang nampak saja. Adapun hakekat kebenarannya dan juga hukum akhirat tidak diabaikan (masih tetap berlaku).Dalam hadits ini juga ada faidah bahwa tidak halal di sisi Allah bagi orang yang memenangkan perkara untuk mengambil apa yang dimenangkan itu jika ia sebenarnya tahu dirinya salah. Lihatlah, Nabi bersabda: ‘hendaknya jangan mengambilnya. Karena pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka‘. Masalah ini mencakup harta, kehormatan, masalah seksual, jika semuanya itu terkait hak orang lain maka tidak halal merebutnya” (Ma’alimus Sunan, 4/163)Syaikh ‘Athiyyah Salim menjelaskan hadits ini: “Ada dua orang yang bersengketa datang kepada hakim. Dan hakim tentunya tidak mengetahui perkata gaib. Lalu salah seorang diantara dua orang tadi, bersumpah dengan sumpah palsu misalnya, atau ia mendatangkan bukti yang direkayasa. Hakim pun menghukumi sesuai dengan apa yang nampak, dan ia tidak boleh menghukumi kecuali berlandaskan ilmu. Kemudian hakim pun menetapkan putusan.Nah, sebenarnya dua orang yang bersengketa mereka lah yang sebenarnya mengetahui hakekat kebenarannya. Adapun sang hakim, baik apa yang ia putuskan pada hakekatnya benar ataupun ternyata salah, beliau diberi udzur. Karena ia hanya bisa memutuskan berdasarkan apa yang nampak baginya. Juga ia hanya menerapkan kaidah: ‘penuduh wajib mendatangkan bukti, dan sumpah itu bagi yang tertuduh‘.Ketika dua orang tadi keluar dari pengadilan dengan membawa putusan dari sang hakim. Sebenarnya orang yang memenangkan perkara mengetahui dengan pasti dalam hatinya bahwa putusan itu keliru, apakah lalu halal baginya untuk mengikuti putusan hakim? Tidak halal. Saat itu hendaknya ia meminta fatwa pada hatinya, apakah hatinya tenang dengan putusan yang salah itu? Demi Allah ia tidak akan tenang. Ia akan pulang ke rumah dengan hati yang gundah. Karena sebelum masuk pengadilan, ia statusnya zhalim. Namun sekarang ia zhalim kuadrat bahkan sangat zhalim. Ketika belum masuk pengadilan, ia hanya menzhalimi dirinya sendiri dan lawan sengketanya. Namun sekarang, ia sudah menzhalimi hakim dan menzhalimi sebuah persaksian. Oleh karena itu seluruh ulama kecuali madzhab Hanafi berkata:

حكم الحاكم لا يحل حراماً

‘Putusan hakim tidak menghalalkan yang haram’” (Syarh Arbain An Nawawiyyah, 60/8).



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/16478-menghukumi-berdasarkan-yang-zhahir.html

emoticon-cystg
pansos nih
Quote:


Ntaaf bre
emoticon-2 Jempol

Quote:


emoticon-Ngakak
Quote:


Kuwot enih aja, udah jelas mah
emoticon-Shakehand2

Heran sekelas Din aja baper, untungnya apa siy ngomong gitu? Kacau negri ini klo hukum dicampur perasaan subyektif, mosok sesimpel gitu aja gagal paham ¿
Hanya perasaan tanpa bisa dibuktikan.
satu kata buat si goblhok ini. " KHONTLO!"
profile-picture
profile-picture
liee dan 13460 memberi reputasi
ikutan mewek yah ndut emoticon-Big Grin
Pojoksatu news emoticon-Leh Uga


Din Syamsuddin: Saya Merasa Ada Rona Ketidakjujuran dan Ketakadilan di MK
Gak sesuai dg keinginan sampeyan, ya pak!emoticon-Hammer2
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di