alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / Movies /
Mengenal Suhu Besar Film Kelam, Hitchock VS Shyamalan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d16c5c588b3cb6bd9489af0/mengenal-suhu-besar-film-kelam-hitchock-vs-shyamalan

Mengenal Suhu Besar Film Kelam, Hitchock VS Shyamalan

“Selamat Sore”, itulah sapaan dari pria berbadan tambun dengan rambut tipis. Sapaan yang diucapkan tanpa emosi itu, meluncur dari mulut Alfred Hitchcock. Dengan tatapan dingin, Hitchcock memaparkan jalan cerita film yang akan ditayangkan. Gaya penyampaiannya ini benar benar tanpa emosi, lurus-lurus saja. Namun ketika menonton film hasil garapannya, penonton akan terseret dalam dunia Hitchcock yang penuh dengan misteri, kengerian, kegelapan, ketidak-pastian dan sedikit humor.

Hitchcock mengajak penonton untuk mengetahui sumber masalah dalam ceritanya sejak layar film dibuka. Dengan bekal itu, penonton disuguhkan pada kengerian tokoh-tokohnya yang tak mengerti sumber kengerian itu. Ketegangan kian dibangun oleh Hitchcock dari frame ke frame.

Mengenal Suhu Besar Film Kelam, Hitchock VS Shyamalan

Dalam film ‘In Rear Window’ (1954) dan ‘Psycho’ (1960), penonton diajak masuk ke dalam diri karakter utamanya. Dua film ini sama sama menggariskan seorang pengintip sebagai dasar dari ceritanya. Ketika penonton diajak melihat dari sudut lain, mereka akan langsung tegang. Karena penonton mengetahui bahwa karakter-karakter lainnya tengah diintip oleh orang lain.

Dalam menggarap filmnya, Hitchcock menggunakan metode yang yang ia temukan sendiri. Metode ini ia namakan McGuffin. Sebuah metode yang menggiring plot ceritanya dan membangun suasana mencekam, mengerikan dan menyeramkan. Contohnya adalah dalam film ‘Vertigo’, karakter Carlotta Valdes adalah McGuffin. Carlotta Valdes tak pernah berwujud di depan penonton. Bahkan sebab-musabab kematiannya tak penting bagi penontonnya. Tapi Carlotta Valdes sebagai hantu yang meneror Medeleine Elster merupakan alur cerita yang ada.

Metode McGuffin ini tampil dalam film ‘Notorious’ – uranium sebagai McGuffin-nya. Kemudian dalam ‘The Man Who Knew Too Much’, ‘The 39 Steps’ dan ‘The Lady Vanishes’ –McGuffin-nya adalah rahasia penting negara. Ciri khas lain film garapan Hitchcock ini, ia juga tampil meskipun hanya selintas, dalam frame-frame tertentu. Pada awal-awalnya Hitchcock dapat sangat mudah diketahui keberadaannya. Seperti melintas di depan kamera atau hanya sekedar berdiri. Namun dalam perkembangannya, Hitchcock seperti memberikan permainan baru pada penonton untuk mencari dirinya di dalam ceritanya itu.

Sebenarnya yang disuguhkan oleh Hitchcock adalah sebuah keseimbangan antara kengerian dengan humor yang baik. Baginya tanpa adanya keseimbangan itu, maka filmnya tak bisa dirasakan sebagai sebuah film misteri yang mencekam. Hitchcock tidak hanya menggarap film ketegangan saja, namun ia meramunya dengan rasa humor yang baik. Satu lagi ciri khas dari film garapan Hitchcock ini. Sutradara asal Inggris ini selalu menggunakan aktris perempuan berambut blonde.

Mengenal Suhu Besar Film Kelam, Hitchock VS Shyamalan

Dalam dunia film, sosok Alfred Hitchcock “menitis” dalam diri sutradara berdarah India, M. Night Shyamalan. Sutradara ini dianggap mampu menggantikan Hitchcock, bukan karena sama-sama membuat film thriller saja. Melainkan Shyamalan berhasil membangun ketegangan pada keseluruhan durasi film.

Filmnya berjudul ‘Sign’ adalah contoh dari film terbaiknya –ada sebagian orang yang kecewa dengan film ini. Penonton sejak awal sudah diseret ke dalam alam berpikir Shyamalan yang sangat misterius. Penonton tak mengerti apa sebenarnya yang tengah dihadapi oleh Mel Gibson dan keluarganya. Ketika penonton diajak flashback kehidupan tokoh utamanya. Penonton dipaksa menerima bahwa Mel Gibson sebenarnya tidak waras.

Shyamalan dipuji karena bisa menghadirkan kengerian yang mencekam seperti yang dilakukan oleh Hitchcock. Namun Shyamalan mampu menghadirkan kekuatan gambar tanpa suara dan kata-kata Semua kengerian terfokus pada bayangan alien yang mondarmandir di depan pintu.

Ketegangan dan ending yang dipelintir hadir pula dalam besutan Shyamalan berjudul ‘The Sixth Senses’. Berkisah tentang seorang bocah lelaki yang bisa melihat bayangan-bayangan dari alam gaib. Mulai dari orang yang gantung diri hingga seorang pengendara sepeda yang tewas karena kecelakaan lalu lintas.

Mengenal Suhu Besar Film Kelam, Hitchock VS Shyamalan

Bocah ini kemudian berteman dengan seorang pria yang membantunya mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Lewat berbagai bentuk dukungan dan semangat, beberapa kasus bisa diselesaikan. Namun yang mengejutkan ternyata pria itu adalah hantu pula. Si bocah laki-laki itu tidak mengetahui bahwa pria itu hantu juga! Unsur kejutan seperti inilah yang menjadi ciri khas dirinya. Bisa dilihat pada film ‘Unbreakable’ dan ‘The Village’ serta ‘Lady in the Water’.

Unsur kejutan dalam film-film Shyamalan sangat tinggi. Cuma ramuan humornya sangat baik. Mengingatkan pada film-film garapan Hitchcock. Seperti juga Hitchcock, Shyamalan juga tampil dalam film-filmnya. Malahan terkadang ia bermain di dalamnya, tidak hanya sekedar sebagai sutradara. Memasuki dunia milik Tim Burton berarti memasuki sebuah keabstrakan dan kemisteriusan. Sebuah dunia yang dekat sekali dengan kekelaman dan aroma ‘dimensi’ lain sangat kental. Meskipun gambar yang dihasilkan oleh Burton berwarna, namun kesan hitam-putih atau sephia masih tertanam di dalam benak penonton. Karena kekuatan itulah ia dapat sangat kuat sekali menggarap film ‘Sleepy Hollow’. Warna kelabu dengan guratan sephia, membuat film itu memang berangkat dari sebuah mitos. Mitos yang hidup di dalam kehidupan masyarakat anglosaxon. Namun yang tak disadari oleh orang, bahwa Burton membuat film itu berdasarkan cerita yang baru sama sekali. Tak ada cerita seperti yang dibuat oleh Burton itu dalam kisah-kisah tutur tentang penunggang kuda tanpa kepala.

Bila lukisan maka Burton termasuk dalam aliran ekspresionis. Ia membuat film dengan image yang akan melekat terus dalam kepala penontonnya. Ini karena semasa kecil ia kerap menonton film yang dirilis oleh Hammer films. Studio Hammer memang akan memukul kepala agar mengingat image film-film yang ada.

Menonton film garapan Burton, seperti berada dalam dunia yang lain. Bukan karena aroma misteri dan kekelamannya saja. Melainkan berada dalam dunia antah berantah. Dunia antara animasi dan kenyataan. Dimana pemain-pemainnya terkadang diperlakukan agak ‘aneh’. Aktor animasi bisa dianggap nyata, sedangkan aktor nyata bisa dianggap hanya karikatur. Ciri film yang dibuat oleh Burton pada umumnya memasang Johnny Depp dan Helena Bonham Carter sebagai pemainnya. Depp bermain dalam ‘Edward Scissorhands’, ‘Ed Wood’, ‘Sleepy Hollow’, ‘Charlie and the Chocolate factory’, ‘Corpse Bride’ dan ‘Sweeney Tood: The Demon Barber of Fleet Street’. Sedangkan Helena yang juga tunangannya Burton, bermain dalam ‘Planet of the Apes’, ‘Big Fish’, Charlie and the Chocolate Factory’, ‘Corpse Bride’ dan ‘Sweeney Tood: The Demon Barber of Fleet Street’.

Mengenal Suhu Besar Film Kelam, Hitchock VS Shyamalan

Entah mengapa Burton sangat menyukai warna hitam dan putih. Dua warna ini selalu muncul entah dalam bentuk garis atau kotak kotak. Juga dengan anjing mati, badut, salju, ular belang dan orang dengan rambut merah. Kekhasannya yang lain adalah pemeran utama prianya selalu berambut gelap seperti dirinya. Kemudian memiliki masa kecil yang suram, tidak ada limpahan kasih sayang ayahnya. Selalu dianggap sebagai orang buangan dan biasanya pemalu.

Bila dalam filmnya berdekatan dengan natal, maka ada adegan pemberian kado. Seperti dalam film ‘Batman Returns’, ‘The Night Before Christmas’, ‘Corpse Bride’ dan ‘Edward Scissorhands’. Lalu pasti ada adegan makan pada meja makan yang besar, seperti dalam film ‘Beetlejuice’, ‘Batman’, ‘Edward Scissorhands’, ‘Sleepy Hollow’, ‘Sweeney Tood: The Demon Barber of Fleet Street’ dan ‘Corpse Bride’. Perbedaannya antara Burton dan dua sutradara lainnya itu, ia tak tampil sebagai cameo dalam film filmnya.


Spoiler for Referensi:


profile-picture
sendhaljepit memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!



Unsur kejutan dalam film-film Shyamalan sangat tinggi. Cuma ramuan humornya sangat baik. Mengingatkan pada film-film garapan Hitchcock. Seperti juga Hitchcock, Shyamalan juga tampil dalam film-filmnya. Malahan terkadang ia bermain di dalamnya, tidak hanya sekedar sebagai sutradara. Memasuki dunia milik Tim Burton berarti memasuki sebuah keabstrakan dan kemisteriusan. Sebuah dunia yang dekat sekali dengan kekelaman dan aroma ‘dimensi’ lain sangat kental. Meskipun gambar yang dihasilkan oleh Burton berwarna, namun kesan hitam-putih atau sephia masih tertanam di dalam benak penonton. Karena kekuatan itulah ia dapat sangat kuat sekali menggarap film ‘Sleepy Hollow’. Warna kelabu dengan guratan sephia, membuat film itu memang berangkat dari sebuah mitos. Mitos yang hidup di dalam kehidupan masyarakat anglosaxon. Namun yang tak disadari oleh orang, bahwa Burton membuat film itu berdasarkan cerita yang baru sama sekali. Tak ada cerita seperti yang dibuat oleh Burton itu dalam kisah-kisah tutur tentang penunggang kuda tanpa kepala. 


Kenapa dari shyamalan jadi ke tim burton bre??? Ini yang buat artikelnya sambil mabok kali bre emoticon-Leh Uga
profile-picture
anjayysseh memberi reputasi
ditengah jalan ga nyambung ts.... emoticon-Ngakak
Shyamalam??? Yg bener aje lo emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
kagak ade film india apa ?
Kyak Kabhie Kushie Kabhie Gham emoticon-Cool


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di