alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sains & Teknologi /
Reorganisasi LIPI, agar ada Kreativitas dan Mobilitas, bukan cuma Ngumpul Teman Lama
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d006bd15cf6c40a8513a91a/reorganisasi-lipi-agar-ada-kreativitas-dan-mobilitas-bukan-cuma-ngumpul-teman-lama

Reorganisasi LIPI, agar ada Kreativitas dan Mobilitas, bukan cuma Ngumpul Teman Lama

Sekitar tanggal 30 Januari lalu,hampir selusin profesor riset LIPI mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyuarakan aspirasi mereka yang menolak reorganisasi di LIPI.

LIPI merupakan miniatur dari riset di Indonesia. Problem utama dunia riset Indonesia adalah critical mass yang terlalu rendah, baik dari sisi kuantitas apalagi kualitas SDM (sumber daya manusia). Kemudian dari infrastruktur atau peralatan riset. Dan terakhir dari sisi anggaran. Misalnya kita membuat baterai dengan periset dua orang di LIPI, tiga orang di Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional), empat orang di UNS (Universitas Sebelas Maret). Begitu juga dengan peralatan dan anggaran. Sehingga critical mass tidak tercapai. Sementara itu, riset adalah kompetisi secara global. Kompetitor Indonesia di luar negeri, dari sisi SDM, satu tim untuk riset baterai bisa 30-40 orang rata-rata penelitinya bergelar PhD.

Reorganisasi LIPI, agar ada Kreativitas dan Mobilitas, bukan cuma Ngumpul Teman Lama

Padahal, untuk riset di era saat ini, critical mass harus ada. Jika Indonesia tidak satu tim yang solid dan mumpuni di bidangnya, enggak bisa ke mana-mana. Kalau timnya cuma diisi satu orang doktor, dua magister, dan empat sarjana, ya tidak ke mana-mana. Itu problem utama riset Indonesia, jadi bukan soal anggarannya cukup atau tidak. Di LIPI juga demikian, level pusat-pusat penelitian semua bekerja sendiri-sendiri, bahkan seringkali tidak berinteraksi.

Waktu pertama kali Laksana Tri Handoko dilantik, Handoko memikirkan untuk menata ulang riset internal. Karena tidak bisa tidak, hal itu harus dilakukan karena merupakan fundamental paling basic untuk menata ulang manajemen internal. Bagaimana membuat pusat penelitian fokus pada urusan penelitian.

Kedua, melakukan pengumpulan individu yang kompetensi seienis agar critical mass bisa terjadi. Saat ini memang tenaga peneliti tersebar. Ujung-ujungnya, jika tenaga peneliti tersebar begitu, agak sulit untuk investasi peralatan. Di sana perlu, di sini perlu juga. Tidak bisa satu alat yang harganya Rp5 milyar dikasih ke semua tempat. Jadi harus digrouping.

Ada persoalan yang cukup besar di LIPI, utamanya soal reorganisasi. Di Malaysia, anggaran risetnya 25% dari pemerintah, sisanya dari eksternal. Di Indonesia terbalik. Indonesia harus belajar dari Malaysia. Tapi diskursus tentang itu tidak banyak, karena itu menyentuh otokritik. Bagaimana sih manajemen riset di Indonesia? Berarti kan ada masalah di situ. Otokritik memang lebih susah, tapi tidak boleh menipu masyarakat jadi harus disampaikan apa adanya.

Reorganisasi LIPI, agar ada Kreativitas dan Mobilitas, bukan cuma Ngumpul Teman Lama

Persoalan pertama adalah soal insentif fiskal dan yang kedua soal kapasitas peneliti. Memang tidak banyak orang yang memahami soal ini, tidak pernah didiskusikan. Tidak pernah ada yang sadar atau tidak mau menyadari, tapi itu problem yang sangat fundamental yang harus segera diselesaikan. Apa kata orang, kalau lembaga penelitian tapi isinya 60 persen adalah administrasi pendukung? Kan tidak bisa begitu. Masalah LIPI ini juga menjadi contoh representasi dari Iembaga litbang Indonesia secara umum. Kalau hanya melakukan business as Usual, buat apa? Bayaran gede tapi nggak berani ambil risiko.

LIPI juga satu-satunya instansi yang melakukan diaspora secara besar-besaran. Anak-anak yang sudah PhD yang berkeliaran di luar negeri ditarik lagi untuk mempercepat peningkatan critical mass dari sisi SDM yang berkualitas. Sampai saat ini, sudah sekitar 25 orang PhD yang ditarik lagi ke Indonesia. Itu pun masih angka kecil. LIPI maunya satu tahun ada 100 orang PhD yang ditarik kalau bisa.

Jika bicara anggaran riset, peneliti harus mencari sendiri, bukan dikasih. Yang LIPI beri adalah infrastruktur riset, meja kerja yang baik, peralatan riset yang berfungsi dengan baik. Nah, untuk risetnya, peneliti harus cari sendiri. Di semua negara pun seperti itu. Banyak memang yang belum paham soal ini. Anggaran riset, menurut standar UNESCO, adalah 1:3. Artinya satu dari pemerintah, tiga dari eksternal. Malaysia sudah mencapai angka itu. Tapi kalau Indonesia masih terbalik, tiga dari pemerintah, satu dari eksternal.

Saat ini total anggaran untuk LIPI di angka Rp 1,5 Triliun dari APBN. Kalau ikut standar UNESCO, harusnya punya anggaran Rp 6 triliun. Artinya Rp1,5 triliun dari APBN dan Rp 4,5 triliun dari eksternal. Peneliti LIPI harus punya kompetensi untuk merebut Rp 4,5 triliun dari eksternal. Karena itu bukan belas kasihan atau corporate social responsibility. ltu harus direbut.

Reorganisasi LIPI, agar ada Kreativitas dan Mobilitas, bukan cuma Ngumpul Teman Lama

Pihak eksternal belum berminat berinvestasi di bidang riset karena dua sisi. Belum cukup insentif fiskal bagi eksternal untuk mengalokasikan belanja riset atau Indonesia memang belum punya kapasitas dan kompetensi untuk menjawab kebutuhan pihak eksternal. Karena itulah dibuat Open research infrastructure, agar orang eksternal mau datang dan terjadi kolaborasi. Proses alamiah ini yang belum banyak terjadi di Indonesia.

Padahal periset itu barus begitu. Artinya anggaran riset itu bukan anggaran yang cost center, tidak selalu. Jika pernerintah mengeluarkan uang satu rupiah, seharusnya bisa menghasiikan output yang senillai empat rupiah. Pelaku risetnya harus mencari tiga rupiah yang lain itu. Uang dari pemerintah harusnya ya buat infrastruktur itu. Dengan infrastruktur dan isi kepala periset, dia bisa cari uang yang lain. Dan itu yang menghasilkan devisa untuk negara, meski risetnya belum tentu berhasil ya. Di lndia yang riset IT, luar biasa penghasilan devisanya. BeIum tentu berhasil risetnya, Karena dia dianggap mumpuni dan mampu berkompetisi membuat proposal yang hagus, dia bisa menggaet research grant dari luar negeri.

Saat ini, hampir semua kementerian dan lembaga memiliki badan riset atau penelitian dan pengembangan (Litbang) sendiri. Hal itu dikritik oleh Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan Sri Mulyani). Risetnya seperti diecer-ecer. LIPI juga menjadi salah satu lembaga litbang yang jadi target penataan.

Memang apa sih yang membedakan 3.0 atau 4.0? Yang berbeda adalah proses bisnis. Dulu yang bisa melakukan product development, research and development, proses kreatif adalah universitas hesar atau perusahaan besar. Sekarang siapa pun bisa melakukan itu. Dulu harus punya modal besar untuk bisa menyaingi Blue Bird, tapi orang kayak Nadiem Makarim (pendiri Gojek) enggak perIu uang triliunan. Cukup ide dan kreativitas saja, Dan itu satu orang, enggak perlu banyak orang.

Reorganisasi LIPI, agar ada Kreativitas dan Mobilitas, bukan cuma Ngumpul Teman Lama

Lembaga litbang adaIah lembaga yang bertumpu pada kreativitas. Karena merupakan penghasil invensi. Itu menjadi tantangan besar buat lembaga litbang. Tidak bisa lagi lembaga litbang seperti yang dulu. Litbang harus selalu mawas diri. Jangan-jangan nanti ada anak SMK di Cianjur sana yang bisa mendistrupsi inovasi, yang tadinya dibikin susah-susah tiga tahun, tiba-tiba langsung tidak bermakna. Periset Indonesia dituntut untuk lebih cepat dan dinamis. Itu tidak bisa dilakukan kalau tidak membuka diri. Kalau hanya ngumpul dengan teman riset yang sudah 20 tahun bekerja sama, apa yang diharapkan? Tidak ada kreativitas, tidak ada mobiltas, tidak ada stimulan, tidak ada dinamika.


Spoiler for Referensi:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
idrusfachr17 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh babygani86
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
masalah pendanaan ya yg selalu jd masalah utama buat para peneliti
makanya banyak yg kerja ke asing
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nowbitool dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
pertamaxemoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
adolfsbasthian dan masmomon memberi reputasi
nitip sendal dlu...
bacanya nanti
kok kayak gak mau berkembang ya. jangan2 ada yg ditutup2i
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
inovasi dulu yg nyata, imho. coba pake yang dana terbatas itu bikin karya tanpa batas. kalo nuntut doang tapi gak ada kreativitas buat apa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
privasibaik dan 2 lainnya memberi reputasi
Tujuan utama riset di Indonesia adalah bagaimana menyenangkan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaiserwalzer dan 8 lainnya memberi reputasi
Ane juga ngerasain sih, dulu nyari judul skripsi di lipi gampang, ada bejibun judul dan proyek penelitian. Sekarang banyak yg kosong atau lagi gak buka judul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eggnostick dan 2 lainnya memberi reputasi
Susah banget masuk ke LIPI emoticon-DP
profile-picture
profile-picture
eggnostick dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Dana riset gak ada, peneliti males bikin riset. Udah gitu sistem pendidikan masih carut marut gini, kurikulum gonta-ganti gak jelas, yg pinter cuma anak-anak berduit yg sekolahnya elit doang. Lha gimana masyarakat melek sains, gak usah heran klo mereka demen berita hoax, cocoklogi & konspirasi, dunia klenik, sama hal2 berbau jualan agama. Baca buku atau literatur pengetahuan lainnya juga males, cukup modal nonton Yutub dan baca WA aja udh berasa yg paling pinter. Media massa juga gitu, gak mendidik blass, palingan isinya cuma informasi dangkal yg viral di internet sama sinetron azab. Kapan mau maju klo kayak gini terus...

NB: Sorry klo komennya gak nyambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mismiuna dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lyndonbaines
Mungkin harus bikin teknologi tepat guna yg emang diperlukan masyarakat indonesia. Bisa aja pengembangan atau modifikasi dari alat yg rumit jadi lebih sederhana dan compact jadi bisa dipakai di daerah pedalaman dan terpencil.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eggyeol dan 3 lainnya memberi reputasi
Ada alomni boedoet yg jadi prof di lipi kgak yak emoticon-Bingung (S)
profile-picture
zarszzz memberi reputasi
Diubah oleh krec
buset... RRT hampir 1/2 trilyun dana risetnya...

...pantesan produknya macem²...emoticon-Big Grin
profile-picture
zarszzz memberi reputasi
padahal banyak sekali orang yang berpendidikan di Indonesia
Quote:


Lebih tepatnya diintervensi, apa sih yg gak bisa dibikin anak bangsa ini ? Ada yg takut bersaing
masak gan? ane peneliti juga soalnya.. walau g di lipi
Quote:


gampang ah, tinggal masuk aja bawa ktp emoticon-Traveller
Quote:


Sekarang minim harus S2 coy emoticon-Big Grin
Quote:


dana riset ada tuh...anggaran LIPI 1,5 T
bedanya LIPI ama BPPT apasih?? emoticon-Bingung
profile-picture
jagotorpedo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
dana terbatas ya mempengaruhi semangat peneliti. tapi kalo gak ada terobosan, ya bakal dipangkas dananya. muter2
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di