alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cfcfa400577a962d35674f4/aliana

Aliana

PERHATIAN: Cerita ini bergenre teen fiction, bertema utama keluarga, dan hanyalah fiksi belaka.



SINOPSIS: Kehilangan keluarga bukanlah sesuatu yang Lian inginkan. Namun, semua itu sudah terjadi dan mengharuskan ia untuk tinggal bersama keempat kakak yang berbeda ibu dengannya. Sayangnya, tak ada satupun dari mereka yang menyukai kehadirannya. Bagaimanakah perjuangan Lian untuk mengambil hati keempat kakaknya?


Part 1

Ruangan itu begitu hening, tak ada yang mau buka suara diantara mereka berlima. Andra menghela napas, menatap sang Mama yang duduk di depannya dengan jengah. Padahal wanita itu yang mengumpulkan mereka di sini, tapi Karen tak punya inisiatif untuk memulai pembicaraan.

Entah apa yang akan disampaikan Mamanya itu, Elang, Kakak tertuanya yang biasanya jam segini masih di kantor, dipaksa untuk pulang. Andra harap ini bukan kabar buruk!

"Ini kenapa, sih, Ma, kita dikumpulin kayak gini?" tanya Andra mulai tak sabar.

Di luar dugaan Karen malah tersenyum, wanita itu kemudian menatap satu persatu wajah keempat anak lelakinya.

"Ma!!" kata Rama ikut tak sabar. Saudara kembar Andra itu sepertinya juga sudah mulai bosan dengan situasi ini.

Karen berdehem sebelum memulai pembicaraan. "Kalian tahu Lian, kan?"

"Enggak. Siapa dia?" ujar Niko, anak kedua di keluarga itu . Dia memang tak tahu menahu tentang orang yang dibicarakan mamanya.

"Tentangga baru, ya, Ma?" tanya Andra. Karen sukses melotot.

"Dia adik kalian!!" kata Karen tak sabar, bagaimana mungkin ke empat anaknya tak tahu nama adik mereka.

Andra manggut-manggut mengerti, "Anak Papa itu, ya?"

"Emang kenapa dia, Ma?" tanya Rama.

Tiba-tiba saja raut wajah Karen mendadak terlihat sedih, "Kalian, kan, tahu Papa kalian meninggal satu minggu yang lalu karena kecelakaan."

"Terus?" tanya Niko tak sabar, Mamanya ini ngomongnya suka berbelit belit!

"Kalian, kan juga tahu kalau ibu Lian juga ikut meninggal dalam kecelakaan itu."

Rama menghela napas, sampai kapan ia harus bertahan di tempat ini. "Langsung ke intinya saja, deh, Ma!"

Raut wajah Karen yang tadinya diliputi kesedihan, mendadak berbunga-bunga, perasaan Niko mendadak tak enak.

"Jadi, Mama mau ajak Lian tinggal di sini!!"

"Gak! Niko nggak setuju!" kata Niko cepat.

"Kenapa?" Karen kembali tampak sedih mendengar perkataan Niko.

"Kita semua nggak kenal sama dia."

"Kalian aja yang kenal. Itu juga salah kalian sendiri, setiap Papa kalian ajak kesini juga kalian cuekkin. Gimana caranya mau kenal?"

"Tapi Andra setuju dengan Kak Niko," kata Andra.

"Lagian ngapain juga dia harus tinggal di sini? Emangnya kita keluarganya apa?" tanya Rama.

Karen mengangguk, "Ya kita semua keluarga Lian. Ingat kalian seayah lho sama dia."

Niko memutar bola matanya. "Iya seayah tapi nggak seibu!"

"Kalian ngerti dong, Lian nggak punya siapa siapa lagi selain kita."

"Emangnya papi setuju?" Niko tersenyum miring.

"Kata siapa Papi nggak setuju?"

Semua kepala kini menoleh ke sumber suara. Randra berjalan menghampiri mereka.

"Papi setuju, kok."

"Denger sendiri, kan? Pokoknya Lian akan tetap tinggal di sini entah kalian setuju atau enggak." kata Karen final.

Randra mengalihkan pandangannya menatap Elang yang sedari tadi diam saja. "Kamu gimana Elang, setuju Lian tinggal di sini?"

"Terserah."

***

Andra melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Niatnya ia ingin meminum segelas air untuk meredekan rasa hausnya sepulang sekolah. Langkah Andra tiba-tiba terhenti. Raut keterkejutan terlihat jelas di wajahnya ketika melihat seorang gadis berambut panjang yang digerai lengkap dengan poni depan  sedang asyik makan, tanpa menyadari dia yang sudah mematung melihatnya.

"Mama!!" teriak Andra, berharap Karen segera menghampirinya. Namun, teriakannya itu justru membuat gadis itu menyadari kehadirannya.

Sebuah senyum lebar tercetak di bibir gadis itu. Lian berdiri dari duduknya lalu berlari kecil menghampiri Andra. Tangan gadis terulur hendak memeluk Andra, tapi sayangnya cowok itu berhasil menghindar.

"Jangan sentuh gue!" tolak Andra keras-keras.

"Kenapa?" tanya Lian tak mengerti.

"Ada apa, sih, Ndra, kok teriak-teriak?" tanya Karen yang baru datang.

"Ini kenapa dia ada di sini?"

Mendengar perkataan Andra, Lian jadi cemberut, sedangkan Karen memutar bola matanya. "Kan, Mama udah bilang Lian bakal tinggal di sini."

"Tapi Ma-"

"Apa? Kamu nggak setuju?" potong Karen cepat. "Mama nggak butuh persetujuan kamu, ya, Ndra."

"Nggak Andra aja yang nggak setuju dia tinggal di sini. Rama, Kak Niko, Kak Elang-"

"Terserah. Mama kan udah bilang kalian setuju atau enggak, Lian tetap tinggal di sini." Karen mengalihkan pandangannya pada Lian. "Yaudah, yuk, Lian lanjutin makanmu. Nggak usah peduli sama Kakakmu ini!" Karen merangkul Lian, menggiringnya gadis itu kembali ke meja makan.

Lian menoleh ke belakang, menatap Andra. Tapi Andra membalasnya dengan tatapan tajam. Entah mengapa Lian merasa kalau hidupnya tak akan tenang tinggal di sini.

----TBC----
profile-picture
profile-picture
kelayan00 dan doctorkelinci memberi reputasi
Diubah oleh ninik1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Alianaemoticon-Wowemoticon-Wowemoticon-Wow
profile-picture
ninik1 memberi reputasi
Dilanjutin, nggak?
Diubah oleh ninik1

Part 2

Pagi ini, Andra tak begitu semangat untuk sarapan seperti biasanya. Tentu saja alasannya karena kehadiran anggota keluarga baru. Parahnya lagi gadis itu duduk di sebelahnya.

"Nanti Lian berangkat sama kalian,ya!"

Mata Andra melirik Lian yang duduk di sampingnya dengan sinis. Sedangkan Lian malah mengangguk setuju pada Karen dengan mulut yang penuh dengan roti. Walaupun begitu gadis itu tak dapat menyembunyikan senyum bahagia di wajah cerianya.

"Siapa, Ma?" Rama bertanya pada Karen, berharap bukan dia salah satu dari 'kalian' yang disebutkan tadi, walaupun itu terdengar mustahil.

"Ya kamu sama Andra, masak Papi,kan beda arah."

"Kenapa nggak Kak Niko aja?"

Niko melotot mendengarnya. Dia tak akan rela mobilnya dikotori gadis itu.

"Sekolah kalian kan lebih dekat." Rendi ikut memberi suara.

Andra merengut. "Tapi kita beda sekolah. Dia kan masih SMP."

Karen geleng geleng kepala."Sekolah kalian,kan bersebelahan. Malah bisa dibilang satu gedung."

"Tapi...Ma-"

"Nggak ada tapi-tapian. Dengerin apa kata mama!"

***

"Kak, nama sekolah Lian apa?" tanya Lian dengan senyum merekah, tapi sayangnya ia tak memperoleh tanggapan dari kedua kakaknya yang duduk di depan.

"Kak, aku tanya," rengek Lian, berharap kakaknya mau menjawab.

Andra menghela napas, lalu menoleh ke kursi belakang. "Berisik! Lo bisa diem nggak?!"

Lian diam seketika, cewek itu cemberut. Namun, tak berapa lama dia tersenyum dan kembali mengutarakan pertanyaan yang tak akan dijawab oleh Andra ataupun Rama.

"Kalau Kakak sekolahnya namanya apa? Jauhan mana sekolahku sama sekolah Kakak?"

Tak mendapat respon dari kedua kakaknya, Lian tetap saja bicara ini itu. Yang penting mereka bisa mendengar suaranya. Lian hanya ingin diaggap ada.

Andra menghela napas. "Cerewet banget, tuh, cewek!" gerutunya.

"Persis kayak lo!" sahut Rama sambil terus menyetir.

"Enak aja! Gue nggak kay-" Andra tak melanjutkan perkataannya ketika tiba-tiba mobil yang mereka kendarai berhenti. "Kenapa?" tanya Andra.

Bukannya menjawab, Rama malah mengkode dengan memberi lirikan ke arah Lian yang terus bertanya kenapa mereka berhenti walaupun tak mendapat respon dari mereka. "Apa?" Andre bertanya tak mengerti.

Rama menghela napas. "Keluarin dia!"

"Lian?"

"Siapa lagi?!"

"Ide bagus!"

Andra keluar dari mobil dan membuka pintu kursi belakang. Lian melihat dengan kening berkerut. "Udah sampai, ya, Kak? Kok, aku nggak lihat sekolahnya."

"Emang udah sampai. Turun!"

Lian turun dari mobil kemudian celingukan. Yang dilihat Lian di pinggir jalan hanya pertokoan. Tak ada bangunan yang setidaknya bisa ia sebut sebagai 'sekolah' "Mana, Kak? Nggak ada, kok!"

Tak mendapat sahutan dari Andra, membuat Lian menoleh pada cowok itu. Namun, yang dia dapati justru Andra kembali masuk ke mobil.

"Kak, Kakak, kok, masuk lagi?" Lian mengetuk kaca mobil, tapi Andra juga tak mau keluar lagi, malahan Rama kembali melajukan mobilnya.

Lian mengejar mobil itu sambil terus memanggil kakaknya. Tapi bukannya berhenti laju mobil itu malah makin dipercepat. Lian berhenti ketika mobil itu berbelok dan tak terlihat lagi.

Sekarang apa yang harus Lian lakukan? Bahkan nama sekolahnya saja dia tak tahu. Yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah melihat ke arah mobil itu pergi, berharap kalau kedua kakaknya berubah pikiran dan kembali lagi, walaupun itu terkesan tidak mungkin.

"Heh, kamu ngapai di sini?!"

Lian menoleh dengan kening berkerut. Seorang bapak-bapak gemuk yang mengendarai sepeda motor menunggu jawabannya, tapi Lian tak kunjung menjawab, membuat laki-laki itu kembali berbicara. "Kamu anak SMP Generasi Gemilang, kan?"

"Ha?"

"Seragam kamu."

Lian melihat seragamnya sendiri. Atasan berwarna putih dan bawahan rok bermotif kotak-kotak berwarna biru. Kakaknya tadi juga memakai corak seragam yang sama hanya saja berwarna merah.

Dalam hati, Lian bertanya apakah ada yang salah. Lian meraba dasinya. Ada, kok. Apa seragamnya kotor?

Lian tampak sibuk mencari kesalahan dari seragam yang dipakainya, sedangkan orang yang tadi diajak bicara geleng geleng kepala. "Kamu ngapai masih di sini? Nggak sekolah? Mau bolos, ya?"

Kepala Lian langsung menggeleng mendengarnya. "Nggak. Saya murid baru, tapi nggak tahu sekolah saya dimana."

"Ya udah sama saya saja. Kebetulan saya guru disana."

"Emangnya Bapak tahu sekolah saya?"

Laki-laki itu mengehela napas menghadapi Lian yang tak kunjung mengerti. "Seragam yang kamu pakai itu seragam SMP Generasi Gemilang."

Lian mengangguk angguk memgerti. "Ooh, gitu. Bapak mengajar di sana juga"

"Iya."

"Nama Bapak siapa?"

"Bimo."

"Oh, Pak Bimo."

Mulut Lian terbuka, hendak bertanya, tapi laki-laki Itu segera menyelanya."Kamu ini mau ikut saya atau tidak?!"

"Mau-mau, Pak!"

Dengan segera Lian naik ke motor butut guru itu. Dia tak mau menyiakan kesempatan ini. Setidaknya hari ini ia bisa pergi ke sekolah barunya.

----TBC----
profile-picture
doctorkelinci memberi reputasi
Quote:

Lanjutkan saja, jangan ciut hanya karena tidak ada/sedikit yang memberi komentar.

Biarkan dirimu berusaha, karena nanti pembaca pasti mengalir dengan sendirinya. emoticon-Angkat Beer











emoticon-Paw
profile-picture
ninik1 memberi reputasi
Lanjuuut... ane menunggumu..
profile-picture
ninik1 memberi reputasi

Part 3

Bel istirahat telah berbunyi, Lian memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Ia hendak mengajak Sera ke kantin, tapi ia urungkan ketika seorang gadis tiba-tiba duduk di kursi di depan bangkunya. Gadis itu tak sendiri, ia membawa kedua temannya. "Hai Aliana," sapa gadis itu.

Lian tersenyum. "Panggil aja Lian."

"Oh, Lian. Kenalin, nama gue Deline,"

"Kalau gue Fandra," kata gadis yang berdiri. "Dan ini Kintan," lanjut gadis itu, menunjuk gadis di sebelahnya. Kintan melambaikan tangannya. "Hai. Semoga lo betah sekolah di sini, ya."

"Kita ke kantin bareng, yuk, Li!"
ajak Deline.

"Boleh." Lian mengangguk dengan senyum bahagia. Ia senang karena ada yang mengajak kenalan. Gadis itu berdiri kemudian menoleh kepada teman sebangkunya. Ia menyentuh lengan Sera yang tengah asyik membaca buku, seolah tak terganggu akan obrolan Lian dengan Deline dan kedua temannya. "Yuk Ser!" ajak Lian.

Raut wajah Deline mendadak berubah, tanpa aba aba gadis itu berdiri dan menyentak tangan Lian yang menyentuh Sera. "Kok, lo ngajak dia?" protes Deline. Raut ketidaksukaan tercetak jelas di wajahnya.

"Kenapa?" lirih Lian. Sungguh ia tak mengerti.

Deline memutar bola matanya, kedua tangannya ia lipat di depan dada, "Oh iya lo murid baru, ya. Jadi gini Sera temen sebangku lo itu." Deline melangkah kemudian memutar badan Lian hingga menghadap Sera. "Cuma cewek miskin yang beruntung bisa sekolah di sini!" lanjut gadis itu.

Sejenak Lian terdiam, kemudian gadis itu berbalik menghadap Deline. "Emang kenapa kalau dia miskin?" tanya gadis itu.

"Dia gak pantes sekolah di sini."

"Kalau dia nggak pantes sekolah disini kenapa dia ada di sini?"

Mulut Deline terbuka hendak menjawab, Fandra buru-buru mendahuluinya. "Gini, gue jelasin, ya sama lo" Fandra menghela napas. "Dia. Si cewek kampung itu bisa sekolah di sini karena dia dapat beasiswa. Yah, gue akui dia emang agak pintar, sih."

"Kalian mikir kalo dia itu gak pantes sekolah di sini karena hal itu?"

Kintan menjentikan jarinya. "Bener banget," kata gadis itu membenarkan ucapan Lian.

Kening Lian berkerut. "Aneh," kata Lian, dan hal itu sukses membuat Deline dan genknya melotot. "Dia ada disini sekarang itu artinya dia berhak untuk sekolah di sini. Emang kalian yang bisa menentukan seseorang berhak atau tidak sekolah di sini?"

"Tapi dia itu cewek miskin!" teriak Deline tidak terima, sepertinya cewek itu sudah mulai emosi menghadapi Lian, terlihat dari wajahnya yang mulai memerah.

Sera mengigit bibirnya, ia tak habis pikir dengan Lian yang begitu berani menentang Deline. Ia memang ingin memiliki teman, tapi ia tak ingin temannya susah karena dirinya. Lebih baik Lian menjauhi dirinya, daripada gadis itu harus ikut merasakan bullyan Deline dan teman temannya.

"Kekayaan dan kepintaran, bukankah dua hal itu yang bisa membuat orang sekolah di sini? Mungkin kalian bisa sekolah di sini karena kekayaan, tapi Sera sekolah di sini karena kepintarannya. Kalian nggak bisa menentukan seseorang layak sekolah di sini atau tidak, kalau kalian bisa seharusnya Sera nggak ada di sini, dong."

Muka Deline semakin memerah mendengar perkataan Lian, baru kali ini ada orang yang berani melawannya, menyadari situasi yang semakin memenas, Fandra segera menghampiri Deline.

"Udah, lah, Del kita pergi aja. Bel sebentar lagi berbunyi, lo yakin nggak mau ke kantin?"

Sepertinya perkataan Fandra berhasil mempengaruhi Deline, karen tak lama kemudian cewek itu mengibaskan rambutnya, lalu pergi dengan angkuh tanpa mengatakan apa apa lagi. Kintan menatap Lian tajam penuh peringatan sebelum pergi bersama Fandra untuk menyusul Deline.

***
 
Sudah waktunya pulang untuk anak SMP. Lian keluar dari gerbang sekolah bersama Sera. Sesampainya di pinggir jalan raya, Lian menengok ke kanan dan ke kiri, mencari mobil kakaknya. Tapi sayangnya, tak ada satupun mobil yang keluar dari gerbang SMA.

"Cari apa, Li?" tanya Sera.

Lian nyengir. "Nggak pa pa. Eemm .......Kalo anak SMA udah pulang belom?" tanya Lian. Kalau sampai anak SMA sudah pulang, bisa-bisa ia menginap di sekolah ini.

Tapi untungnya Sera mengatakan, "Belum. Anak SMP pulangnya lebih awal dari anak SMA.

"Bener?" Lian tak dapat menyembunyikan senyum sumringahnya. Masih ada harapan!

"Bener. Emang kenapa, sih?" Sera bertanya dengan kening berkerut, tapi Lian malah menggelengkan kepalanya, tak ingin memberi tahu.

"Eh. Angkotnya udah dateng, nih. Aku duluan,ya"

Lian mengangguk, membiarkan Sera pergi dengan angkot itu.

----TBC----

Part 4

Part 4


Lian berjalan menuju halte di depan sekolahnya. Ada beberapa anak di situ, mungkin menunggu jemputan. Lian duduk sambil memaikan handphonenya.

Tapi itu tak bertahan lama, gadis itu memang gampang bosan. Jadi Lian hanya bisa melamun dan memperhatikan anak-anak yang mulai dijemput satu persatu, meninggalkan dia duduk sendirian di halte itu.

Lian menghela napas, gadis itu mulai memikirkan apakah kedua kakaknya itu mau pulang bersamanya atau tidak? Bisa gawat kalau mereka menolaknya. Bisa-bisa Lian harus menginap di sini gara gara gak tahu alamat rumahnya.

Bodoh!

Bodohnya lagi, ia tak memiliki satupun nomor handphone dari anggota keluarga barunya itu.

Lian mengacak-acak rambutnya sendiri membuat rambutnya tak serapi tadi, namun kegiatan itu ia hentikan dan digantikan senyum merekah ketika dia melihat satu persatu kendaraan tampak keluar dari gerbang SMA. Lian segera turun dari halte dan berdiri di pinggir jalan.

Mobil warna biru mengkilap. Itulah yang Lian cari. Dan, ketika dia menemukannya gadis itu segera berteriak, "Kakak!" tapi mobil itu tak kunjung berhenti bahkan sampai melawati tubuh Lian.

Lian melihatnya dengan pandangan sedih, sampai akhirnya suara klakson yang Cumiakan telinga membuatnya tersadar.

Lian menoleh, sedetik kemudian dia langsung berlari menghampiri mobil itu.

"Kakak!" panggil Lian tanpa menyembunyikan raut wajah bahagianya ketika Andra membuka kaca mobil.

"Cepet masuk!"

Tanpa menunggu lagi, Lian segera masuk ke dalam mobil. Rama menjalankan mobilnya tanpa berbicara sepatah katapun.

"Denger, ya gue lakuin ini bukan demi lo, tapi demi diri gue sendiri sama Rama," kata Andra tanpa melihat Lian, sedangkan Lian tak terlalu memikirkannya, yang penting dia bisa pulang.

Andra menoleh ke belakang ketika dia tidak mendengar suara Lian. "Gue sama Rama cuma nggak mau uang jajan kita dipotong cuma gara-gara lo."

Lian tak tahu harus bilang apa, maka dia hanya bisa mengangguk. Setidaknya hal itu mampu membuat Andra berbalik dan tak bicara lagi.

Namun, Lian tentu saja tak bisa diam, dia ingin bisa mengobrol dengan kakak kakaknya.

"Kakak sekarang udah kelas berapa?"

Tak ada suara yang keluar dari mulut Andra maupun Rama, seolah olah mereka berdua memang tak mendengarnya.

Lian cemberut, padahal ia ingin tahu banyak hal tentang kakak kakaknya. "Kalau sekarang aku kelas 1 SMP, Kak." Setidaknya Andra dan Rama tahu Lian kelas berapa, walaupun itu kalau mereka dengar.

"Kak Andra nggak bisa nyetir mobil, ya?"

Pertanyaan Lian kali ini berhasil memamcing Andra untuk buka suara. "Apa?"

"Soalnya tadi pagi yang nyetir mobil Kak Rama, sekarang Kak Rama lagi, kan?"

Badan Andra berbalik menghadap Lian. "Denger, ya gue bukannya nggak bisa bawa mobil. Tapi, si jelek ini, nih." Andra menunjuk Rama. "Nggak pernah bolehin orang lain nyetir mobil dia."

"Kak Andra ngatain mukanya sendiri jelek, ya?"

"Ha?" kata Andra tak mengerti. Ia terlalu terkejut dengan pertanyaan Lian yang keluar jalur.

"Tadi, kan Kak Andra bilang Kak Rama jelek, muka kalian kan sama. Berarti kakak juga ngatain diri Kakak sendiri itu jelek."

Penjelasan Lian sukses membuat Andra mengacak-acak rambutnya sendiri, frustasi menghadapi Lian. "Gue itu jauh lebih ganteng dari Rama."

"Nggak, kok, kalian sama." Lian menggeleng dengan tampang polosnya.

"Nggak. Gue lebih ganteng," Andra tetap teguh pada keyakinannya. "Buktinya aja, mantan pacar gue banyak di mana mana, sedangkan dia, seumur hidup baru pacaran sekali."

"Itu artinya, Kak Rama setia."

Ingin rasanya Andra membentur, kan kepala Lian ke kaca mobil, tapi sayang itu bukan mobilnya, bisa-bisa ia ganti rugi ke Rama, dan mungkin saja sang Mama akan menjadikannya anak yang terbuang, bukan lagi si bungsu kesayangan.  "Lo, tuh, ya!" akhirnya hanya kalimat itu yang bisa Andra gunakan untuk mewakili rasa kesalnya.


----TBC----

Part 5

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Lian kembali menengok ke arah pintu depan. Tapi, sayangnya tak ada tanda-tanda orang akan membuka pintu itu.

"Udah jam sembilan, kok, Kak Elang belum pulang?" tanya Lian.

Rendi tersenyum lembut. "Mungkin dia harus lembur malam ini."

"Tapi, Pi. Kak Elang kemarin udah lembur." Lian tak mengerti. Apakah Kakaknya itu termasuk orang yang gila kerja.

"Kamu tidur, gih besok, kan harus sekolah. Kak Andra, Kak Rama, sama Kak Niko pasti juga udah tidur." Karen mengelus rambut Lian.

"Kayaknya mereka nggak suka sama Lian di sini makanya mereka dari tadi tadi di kamar terus, nggak mau nonton tv sama-sama di sini." Setidaknya itulah yang dipikirkan Lian dari tadi.

"Lian, nggak kayak gitu, mereka memang seperti dari dulu, bukan karena kamu." Memang benar hal itu, dari dulu mereka memang lebih suka di kamar daripada berkumpul bersama keluarga.

"Tapi tetap aja, yang nerima Lian di sini cuma Papi sama Mama."

"Kamu mungkin nggak tahu, dulu mereka juga jutek sama Papi. Tapi sekarang, nggak lagi, kan?"

"Papi yakin, nantin lama-lama juga mereka baik sama kamu."

"Bener?" tanya Lian.

"Iya. Nggak usah sedih. Lama-lama nanti mereka sayang sama kamu."

***

Lian terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang sudah dipenuhi keringat dingin. Mimpi itu lagi! Jujur saja Lian belum bisa melupakan kejadian di mana kedua orang tuanya meninggal. Bahkan hampir setiap malam Lian memimpikannya.

Lian menghembuskan napas, berharap dapat membuatnya lebih baik. Sayangnya hal itu tidak begitu berpengaruh untuknya. Kehilangan kedua orang tua di waktu yang bersamaan adalah hal yang sulit untuk dia lalui.

Tapi Lian bersyukur, setidaknya dia masih memiliki keluarga yang akan melindunginya. Walaupun mungkin kakak kakaknya belum bisa menerimanya, tapi suatu hari nanti Lian yakin kakak kakaknya akan berubah seperti apa yang dibilang Rendi dan Karen.

Rasa haus membuat Lian segera keluar kamar, menuruni tangga untuk menuju ruang makan. Sejenak Lian berhenti ketika dia melihat ada seseorang yang sedang minum di sana. Lian menghampirinya.

"Kak Andra!" panggil Lian setelah melihat wajah orang itu lebih jelas.

Tapi yang di panggil malah mengernyit tak suka. "Gue Rama, bukan Andra!"

Rama menghentakkan gelas dengan kasar sebelum pergi dari tempat itu. Lian hanya mampu memandang punggung cowok itu yang perlahan menjauh pergi dan kemudian menghilang.

***   
"Turun!" perintah Andra. Cowok itu membuka pintu mobil bagian belakang lebar-lebar. Mempersilahkan Lian turun dari mobil.

Tapi, sayangnya Lian tak juga keluar dari mobil, dia tak mau ditinggal sendirian lagi seperti kemarin.

"Nggak mau!" tolak Lian, dan itu berhasil membuat Andra kesal.

"Lo bisa nggak, sih ngeluarin dia!" kata Rama mulai tak sabar.

Sedangkan Andra tak mau juga diremehkan seperti itu. "Lo nggak denger. Nih, anak yang bandel!"

"Lo aja yang gak bisa ngurus. Tarik aja dia!"

Andra melakukan apa yang Rama suruh. Cowok itu menarik tangan Lian kasar. Lian tetap tidak mau. Sampai akhirnya, Andra membentaknya, dan hal itu berhasil membuat Lian keluar dari mobil dengan wajah memberenggut.

Lian menghembuskan napas berat. Mobil itu sudah pergi. Sepertinya dia memang harus naik angkot. Toh, Lian sudah tahu sekolahnya di mana.

----TBC----

Part 6

Deline tampak turun dari mobil bersama Fandra dan Kintan. Cewek itu lantas merapikan rambutnya. Namun, kegiatannya itu harus terhenti lantaran Kintan menyenggolnya.

"Apaan, sih, Kin!"

"Ini gue salah lihat atau gimana, itu Lian, kan?" Kintan menunjuk Lian yang baru keluar dari angkot.

"Mana?" tanya Fandra. Dia memang tak melihat Lian. Banyak murid yang berlalu lalang memasuki gerbang sekolah.

"Itu. Turun dari angkot."

Setelah membayar ongkosnya, Lian segera berlari kecil memasuki gerbang sekolahnya tanpa tahu kalau ada yang kepanasan melihat kelakuannya itu.

"Jadi kita semua kena tipu dia?!" teriak Deline. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Baru kali ini dengan mudahnya Deline tertipu. Dalam hati, Deline berjanji untuk membuat Lian tak tenang bersekolah di sini.

Tanpa bicara lagi, Deline segera mengikuti jejak Lian menuju kelasnya.

Sesampainya di kelas, Deline memandang Lian dengan tatapan bencinya.

"Perhatian semuanya!!" teriak Deline keras keras, membuat semua murid kini menatapnya penuh tanda tanya.

"Denger ya semuanya,  kalian semua tahu nggak apa yang tadi gue lihat." Deline melirik sinis Lian yang duduk di bangkunya. "Lian. Lo tahu nggak, sih, sebenernya dia itu cewek miskin! Gayanya aja kayak anak orang kaya, tapi nyatanya enggak banget, deh." senyum jumawa tercetak jelas di wajahnya. " Iya, kan Li?" tanya Deline pada Lian yang juga sedang menatapnya.

Kini semua mata, sudah mengarah ke Lian, menunggu kira-kira apa respon dari gadis itu.

Tapi nyatanya Lian malah mengernyit bingung. "Emang kalian tahunya dari mana?"

Deline tertawa, "Lo bego banget, sih, lo ke sekolah naik angkot, sama aja lo nunjukin betapa miskinnya elo."

"Dari awal aku nggak bilang, kok kalau aku anak orang kaya. Kalau aku niat nyembunyiin itu semua, aku pasti nggak bakal naik angkot. Jadi siapa yang bego?"

"Lo ngatain gue?" tanya Deline tak terima.

Lian menggeleng, "Emangnya tadi aku ngatain kamu apa?"

"Lo!" muka Deline memerah sempurna, berani beraninya cewek itu mempermalukannya di depan banyak orang.

"Tenang Del, tenang." Fandra mencoba menenangkan Deline dengan mengelus bahu cewek itu.

"Kalian semua udah tahu, kan kalau Lian itu cewek miskin yang beruntung bisa sekolah di sini." Kintan menaikkan dagunya. "Siapa yang berani temenan sama Lian dan Sera akan berhadapan dengan kita. Kalian ingat itu!"

***

"Kantin, yuk Ser!" ajak Lian. Tapi yang diajak malah menggigit bibirnya.

Sera menghela napas, "Gini, Li. Aku nggak boleh ke kantin sama Deline."

Emang apa hebatnya Deline, sampai Sera benar benar menuruti apa yang Deline bilang. Lian jadi heran sendiri.

"Udahlah, itu kan cuma Deline."

"Ya, dia, dan kamu gak tahu siapa dia. Ayahnya itu ketua yayasan di sekolah ini. Dan aku nggak mau kehilangan beasiswa cuma gara-gara Deline."

Lian menghela napas, sebenarnya ia ingin ke kantin, toh ia bersekolah di sini bukan karena beasiswa. Tapi ia tak ingin meninggalkan Sera sendirian ke kelas. Kalau ia mengajak Sera, ia tak ingin gadis itu bermasalah dengan Deline.

"Tapi aku lapeer," Lian meletakkan kepalanya di meja. Sera tertawa, gadis Itu berpikir kalau Lian pasti belum terbiasa sekolah di sini. Melihat cantik dan baiknya Lian, pasti dulu gadis itu memiliki banyak teman.

"Kalau kamu laper, masih ada kantin lainnya, kok yang nggak didatengi Deline."

Kepala Lian terangkat begitu mendengarnya. "Oh, ya? Ayo kita kesana!" kata Lian semangat.

----TBC----

Quote:


Quote:


Quote:



Makasih atas dukungan kalian semua...
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Quote:


yesss.... sama-sama.

profile-picture
ninik1 memberi reputasi
Kemana sih ini TS, kok belum dilanjut-lanjut juga. emoticon-No Hope

Ah kudu disundul biar semangat update. emoticon-army









emoticon-Paw









emoticon-Paw

Part 7

Sudah lama Lian menyusuri koridor bersama Sera. Tapi tempat yang sekiranya dapat disebut sebagai kantin tak kunjung terlihat. Sera memang bilang kalau kantinnya agak jauh. Namun, Lian tak tahu deskribsi 'agak' bagi Sera berbeda dengannya.

"Apakah masih jauh kantinnya?" tanya Lian pada Sera untuk kesekian kalinya.

Kata Sera, kantin itu terletak di antara gedung SMP dan SMA. Katanya tempat itu biasa di manfaatkan untuk pacaran antara anak SMP dan SMA. Terkadang juga untuk membeli air minum setelah upacara karena di depan kantin itu terdapat lapangan yang digunakan untuk upacara anak SMP maupun SMA.

Sera tertawa melihat wajah cemberut Lian. "Bentar lagi juga sampai Li."

Tapi, Lian terlanjur tak percaya dengan perkataan Sera, dari tadi cewek itu selalu berkata sebentar lagi, tapi mereka juga tak sampai sampai ke kantin.

***

"Andra!!" teriakan Cindy membuat jantung Andra terasa berhenti berdetak. Detik selanjutnya jantungnya malah berdetak luar biasa cepatnya.

Mampus! Mampus! Kenapa cewek itu kesini, sih! batin Andra.

Cepat-cepat Andra menutup wajahnya dengan buku. Bisa gawat kalau Andra ketahuan.

"Andra...!!" Cindy berlari menghampiri Andra dan merebut buku yang menutupi wajah cowok itu.

Andra hanya bisa melongo ketika bukunya kini berpindah tangan. Oh, percuma saja cowok itu bersembunyi di balik buku, toh, Cindy sudah hapal di mana tempat duduknya.

Menyadari kalau dirinya sudah ketahuan, Andra segera berdiri. Namun, Cindy dengan sigap menangkap lengannya.
Tanpa aba aba cowok itu menghempaskan tangan Cindy. Setelah itu, cowok itu segera keluar kelas.

"Andra!" Cindy mengejarnya.

Buru-buru Andra bersembunyi di balik tembok. Andra memejamkan mata, harap harap cemas semoga saja cewek itu tak menemukannya di sini.

"Andra!" napas Andra tersendat. Suara Cindy terdengar begitu dekat dengannya. Apa dia ketahuan?

"Apaan, sih. Gue Rama bukan Andra!"

Eh, tunggu dulu, Andra membuka matanya, dia nggak ketahuan. Tanpa sadar cowok itu mengelus dadanya merasa lega. Kepala Andra melongok dari balik tembok.

"Andra mana?!"

"Ngapain lo cari dia, bukannya lo udah putus?"

"Dia aja yang mikirnya begitu, gue, kan, belum setuju." Cindy mengibaskan rambutnya. "Jadi lo tahu di mana Andra?"

"Tauk! di kantin kali."

"Oke di kantin. Gue mau ke sana. Daah Kakak ipar."

Cindy berlari kecil sambil bernyanyi. "My baby Andra...My baby Andra."

Kepala Rama menoleh, saat itu Cindy juga melakukannya. Menyadari Rama menatapnya, Cindy memberikan lambaian tangan, tak lupa cewek itu juga mengedipkan salah satu matanya.

Rama bergidik ngeri. Ternyata ada cewek seperti itu di dunia ini. Rama tak habis pikir dengan saudara kembarnya itu bagaimana mungkin Andra sempat berpacaran dengan cewek itu.

Dibalik tembok, Andra menghela napas lega. Setidaknya dia terbebas dari Cindy, walaupun dia harus memilih untuk pergi ke kantin yang lebih jauh. Yang penting di sana ia aman dan bisa menuntaskan rasa laparnya.

----TBC----

Part 8

"Eem....baksonya enak banget," kata Lian memuji makanan itu. Sera jadi tertawa. Menurutnya, Lian itu gadis yang ekspresif dan lumayan cerewet, beda sekali dengannya yang pendiam.

"Oh, iya, Ser. Berarti nanti aku nggak ke sini lagi. Soalnya jauh banget! Apa lebih baik aku bungkus aja, ya?"

Sera menggedikan bahu. "Kalau kamu kira kamu akan laper, ya di bungkus aja. Dari pada ke sini lagi, kan?

"Huuh .... Emangnya nggak ada tempat makan lain apa?"

"Sebernya ada?"

"Oh, ya. Jauh juga enggak?" tanya Lian antusias.

"Nggak, sih."

"Di mana?"

"Koprasi, tapi adanya jajanan sama minuman. Lagian di sana mahal-mahal, nggak bikin kenyang juga, kok!"

Lian mengangguk angguk. Tanpa sadar ia melihat Andra yang juga tengah makan di kantin itu.

Lian berdiri dan menghampiri Andra. Sera melihatnya dengan bingung.

"Kak Andra!" panggilan Lian membuat Andra tersedak, buru-buru Lian mengambil gelas Andra. Andra merebut gelasnya kasar.

Setelah air dalam gelas itu habis, Andra menatap Lian tajam. "Ngapain lo ada di sini?!" bentak cowok itu.

"Makan."

Iya makan! Andra juga tahu kalau kantin itu tempatnya makan, tapi yang dia pikirkan, kenapa Lian bisa berada di kantin ini. Andra jadi geregetan sendiri. "Ya udah sana, lo jauh jauh dari gue!"

"Tapi aku mau makan sama Kakak, boleh, ya, Kak?"

"Apaan, sih, lo! Sana pergi!" usir Andra, tapi nyatanya Lian tak bergerak sedikit pun. "Udah sana pergi!" bentak Andra lagi.

Menyadari temannya dalam bahaya, Sera segera menghampiri Lian. "Udah, yuk, Li!" Sera menarik tangan Lian untuk kembali ke tempat duduk mereka, tapi sayangnya Lian tak mau dan malah mengenalkan Andra pada Sera. "Ser, kenalin ini kakak aku."

"Kakak?" tanya Sera bingung.

"Apaan, sih lo ngaku ngaku jadi adik gue. Denger, ya gue itu nggak punya adik gue cuma punya kakak."

"Tapi, kan, Kak, aku, kan adik Kakak." Lian cemberut. Padahal ia, kan, mau memamerkan ke Sera kalau ia punya Kakak yang tampan seperti Andra.

Hilang sudah selera makan Andra, padahal ia tadi lapar sekali. "Serah lah, lo ngomong apa! Yang penting gue bukan kakak lo. Minggir gue mau lewat!"

Lian hanya dapat memandang punggung Andra dengan sedih.

"Emangnya, kak Andra itu kakak kamu, ya, Li?" Lian mengangguk.

Sera jadi benar-benar bingung. Semua orang di sekolah ini, baik SMP dan SMA pasti tahu Andra. Andra cowok populer! Setahu Sera, semua saudara Andra itu laki-laki. Bagaimana mungkin Lian mengakui Andra sebagai kakaknya. Lagipula Andra berasal dari keluarga kaya raya. Sedangkan Lian? Sera hendak bertanya pada Lian tapi ia urungkan, khawatir kalau Lian nanti malah tersinggung.

***

Lian mengetuk pintu kamar Andra. Tak ada sahutan dari dalam, tapi Lian yakin Andra ada di dalam.

"Kak Andra." Lian kembali mengetuk pintu itu sambil terus memanggil nama Andra. Tapi Andra benar benar tak ingin merespon. Akhirnya Lian masuk saja ke kamar Andra, toh juga nggak dikunci.

Dilihatnya Andra, tampak asyik dengan handphonenya. Lian duduk di ranjang Andra.

"Kak," panggil Lian.

"Ngapain lo ke sini. Sana keluar! Masuk kamar nggak pakai izin," protes Andra tanpa melihat Lian, cowok itu hanya terfokus pada handphonenya.

"Aku, kan, udah ketuk pintu dari tadi, tapi Kakak nggak nyahut-nyahut jadi aku, ya masuk aja."
Lian melongok untuk melihat apa yang Andra lihat di handphonenya. Ternyata game. "Kakak lagi main game, ya? pinjem, dong. Aku juga mau."

Andra diam saja, Lian menghela napas. Otaknya berputar mencoba mencari bahan pembicaraan.

"Tadi aku denger Deline cerita tentang kakak, loh."

Kening Andra berkerut, seingatnya dia tidak mengenal orang bernama Deline. "Siapa Deline?"

"Teman sekelas aku."

Andra memutar bola matanya, pantesan aja nggak kenal. Orang masih SMP juga.

"Tadi aku denger dia bilang kalau Kakak putus sama Kak Cindy."

Wow, Andra baru tahu kalau kisah percintaannya dengan Cindy jadi konsumsi anak anak SMP.

"Deline itu sepupunya Kak Cindy." Andra juga gak tahu hal ini. "Terus kata Deline Kak Cindy itu cantik. Benar nggak, Kak?"

Oke, kalau ini benar adanya. Di antara banyak sekali kekurangannya, Cindy memang cantik. Tak dapat dipungkiri, itulah hal utama yang dipertimbangkannya untuk menembak Cindy. Siapa, sih, yang nggak mau punya pacar cantik?

"Tapi, sayangnya Kak Cindy cuma cinta sama Kakak, dan pingin buat Kakak balikan lagi sama dia. Kakak juga mau balikan sama Kak Cindy?"

Mendapat pertanyaan seperti itu, Andra jadi bergidik ngeri.

"Enak aja gue udah move on dari dia. Udah sana lo pergi!"

"Nggak mau!"

Lian berdiri dari duduknya, dan beralih ke meja belajar Andra.

"Wah, laptop Kak Andra bagus!" Lian membuka laptop Andra. "Tapi banyak debunya." Lian berpikir kalau Andra lebih suka menggunakan handphone dari pada laptop, terbukti cowok itu betah sekali main handphone sekarang.

"Nanti aku boleh pinjam, ya, Kak kalau ada tugas.'

Lian membuka-buka buku paket Andra, walaupun dia tidak mengerti tentang apa yang diajarkan. Dia hanya ingin melihat gambarnya saja. Namun, kegiatannya itu terhenti ketika ia melihat selembar kertas terselip di halaman itu. Lian mengambilnya.

"Wah... Kak Andra dapat nilai 26!"

What? Tunggu dulu. 26? Nilai matematika! Gawat! Gawat!

Andra mematikan handphonenya dan segera turun dari ranjang kemudian secepat kilat ia mengambil kertas itu.

"Lian! Lo, tuh apa apaan, sih! Udah masuk kamar tanpa izin. Ini lagi pegang pegang barang orang tanpa izin. Mending lo keluar, gih!"

Andra menarik tangan Lian, membawa gadis itu keluar dari kamarnya.

"Dan satu lagi, jangan lo laporin nilai gue ke Papi dan Mama."

Blam!

Lian berjengit kaget, Andra menutup pintu nya dengan kasar. Lian berpikir Andra pasti marah sama dia. Kalau gini caranya, bukannya memperbaiki hubungan mereka, Lian malah memperburuknya.

----TBC----


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di