alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cee5384e83c7211c5598ce7/cinta-si-buruk-rupa

CINTA SI BURUK RUPA

CINTA SI BURUK RUPA

PROLOG


Warning: cerita ini mengandung muatan dewasa. Be wise, Guys!

Genre: Thriller.

***

Aku tidak pernah memilih terlahir dengan rupa yang teramat buruk. Tidak sedap dipandang dan selalu menjadi bahan lelucon bagi mereka-mereka yang merasa sempurna.

Selain wajah yang tidak cantik, aku pun terlahir dari keluarga hina-dina, miskin dan tidak ada satu pun yang bisa kubanggakan.

Otakku pun standar, tidak terlalu bodoh, juga tidak terlalu pintar.

Yang aku punya hanya air mata, hanya luka yang kerap bernanah di palung jiwa, serta kesedihan yang kerap menelanku bulat-bulan di kesunyian malam.

Aku Nada, duniaku bukanlah do re mi fa sol la si do, yang menyenandungkan keindahan. Duniaku adalah luka di atas luka, dan derita di atas nestapa.

Kalian mau berteman denganku?

Tidak, sekali-kali, jangan pandang aku dengan sorot mata itu. Jijik dan mual setiap kali melihatku.

Hatiku, masih belum sekuat baja.

Tolong, biarkan aku masuk ke dalam kehidupan kalian.

Terimalah aku.

Sesungguhnya, di balik buruknya rupaku, ada cinta sebesar dunia di dalam hatiku.
Jangan biarkan cintaku berubah menjadi sejuta kebencian, dan membuatku menjelma menjadi monster.

Lalu menghantui kalian siang dan malam.

Tolong, jangan biarkan tanganku berlumuran darah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agungdar2494 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

DAFTAR ISI

Diubah oleh triyuki25

Part. 1. Tragedi Di Senja Nan Muram

CINTA SI BURUK RUPA

Senja di pinggiran kota yang kumuh, di sebuah rumah berdinding triplek, seorang gadis remaja, duduk di lesehan rumah, sambil membaca koran bekas. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding.

Pukul lima sore, kenapa Nadi belum pulang? Batinnya dengan hati yang terasa cemas.

Andai saja hujan tidak lebat, dia pasti sudah memutuskan untuk mencari adik satu-satunya itu. Ada firasat tidak enak yang menjalari hatinya, semacam rasa khawatir berlebihan.

'Nadi, di mana kamu, Dek? Sudah jam berapa ini, kenapa belum pulang?'

Gadis remaja itu beranjak, mendekati jendela. Beberapa rintik hujan memercik wajahnya. Buru-buru dia menjauh sambil menutup jendela. Tepat di kakinya, lantai terasa basah.

'Akh, rumah ini, betapa sudah tidak layak untuk dihuni. Semoga, Tuhan segera menjauhkan keluargaku dari kemiskinan. Aku sudah lelah menjadi orang tidak berpunya.'

Dari sudut matanya, merembes air mata. 13 tahun usianya kini, tidak sedikit pun dia menikmati hidup. Berada di keluarga pemulung yang papa, makan terkadang ada terkadang tidak, sekolah pun sering tidak masuk, belum lagi menjadi bahan bulian karena wajahnya yang bisa dikatakan tidak enak dipandang.

Makanya, remaja pemurung itu lebih sering menghabiskan waktu membantu ibu dan ayahnya memulung, atau menghabiskan waktu di rumah. Bermain dengan satu-satunya adik lelaki yang berusia sembilan tahun.

Sungguh, jauh di lubuk hatinya, dia begitu mengutuki nasib. Sudah miskin, pisik pun tidak sempurna. Matanya besar, hidung pesek, rambut seperti ijuk, kulit hitam dan banyak bekas cacar di tubuhnya. Bagaimana pun dia menghibur diri dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, tapi tidak segampang itu.

Manusia adalah makhluk yang suka mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain. Dia sering jadi taruhan teman-temannya, apakah dia akan datang ke sekolah atau tidak, apakah dia memakai baju yang itu ke itu saja atau tidak, apakah ia akan menangis atau tidak, bagi yang menjawab benar, maka akan mendapatkan hadiah.

Bukan saja bulian secara verbal, secara pisik pun tidak sekali dua kali ia terima. Kepala ditoyor air kotor, diludahi bahkan ditampar kalau dia melawan.

Nada, begitu namanya. Indah, tapi hidupnya hanyalah penderitaan.

Sering dia mengeluhkan nasib kepada bunda tercinta, meminta ke ibunya untuk berhenti sekolah dan fokus memulung saja. Namun, perempuan yang ia panggil ibu itu melarang.

"Tidak, Nak. Kamu harus kuat. Ibu tidak ingin hidupmu berakhir seperti Ibu. Apa pun dan bagaimana pun caranya, Ibu dan ayahmu akan tetap berusaha lebih keras, agar kamu dan Nadi bisa menyelesaikan pendidikan. Ibu ingin kamu menjadi anak yang berguna, dipandang dan dihormati oleh orang lain."

Sesudahnya dia akan menggigit bibir menahan tangis. Apa yang disampaikan ibunya itu, hanya menambah beban yang kian berat di pundaknya.

"Nada ... hanya tidak sanggup lagi dibuli, Bu. Nada capek."

Hanya pelukan hangat yang membuatnya bisa sedikit tenang. Ibunya akan membelai lembut kepalanya dan menciumnya penuh kasih.

"Kamu pasti kuat, Nak. Buktikan ke mereka kalau kamu patut untuk dihargai."

Letupan semangat yang sering didendangkan ibunya itu, hanya bertahan sebentar. Sesampainya di sekolah, rasa takut dan rendah diri lagi-lagi datang mengambil alih.

Dia kembali terkapar dalam hinaan yang luar biasa dari teman-temannya. Tidak ada yang kasihan, dan tidak ada yang peduli. Ada atau tidak adanya dia di sekolah, tidaklah penting.

Di saat lamunan menyeretnya ke masa silam, petir menggelegar di angkasa. Nada terkejut bukan saja karena suara guntur, tapi gedoran di pintu tak kalah hebatnya.

Secepat kilat dia berlari dan bergegas membuka pintu,

"Kakak ... tolong ... Nadi ... tolong, Kak."

Mata Nada terbelalak. Terkejut, takut dan khawatir menari-nari di pikirannya.

"Nadiii! Kamu kenapa? Ya Tuhan, Nadiiii???"

Seorang bocah lelaki berseragam SD terkapar di depan pintu. Bajunya robek di sana sini dengan celana yang kedodoran. Bercak darah terlihat membasahi baju dan celananya. Wajahnya lebam seperti habis dipukuli.

Sang Kakak dengan kecemasan dan air mata menarik tubuh tak berdaya tersebut ke dalam rumah. Memeluknya sambil menangis.

"Nadiii ... kamu kenapa, Dek? Siapa yang melakukan ini? Katakan sama Kakak, Dek! Siapa yang menyakitimu?" Nada mengguncang-guncang tubuh adiknya yang lemah dan kesakitan.

"Sakit, Kak ... Tubuh Nadi sakit, Kak. Ibu ... Ayah .... Tolong Nadi ...!"

Suara itu semakin pelan. Nada kehilangan akal. Tidak percaya kalau adik yang ia tunggu-tunggu, pulang dengan kondisi mengenaskan.

Nada menjerit, berteriak melepaskan kekesalan di hati. Hujan semakin betubi-tubi menghantam atap rumah, seakan-akan berusaha meredam penderitaan Nada dan Nadi.

***

"Nadi telah dianiaya." Anja, ayah Nada mengucapkan kalimat itu dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca mendapati anak lelakinya terkapar di atas kasur dengan penuh kesakitan.

Sementara itu Arum, istrinya, hanya bisa mengelus dada. Merasakan rasa sakit yang tiba-tiba datang mencucuk. Kepulangan mereka dari memulung, disambut oleh jeritan dan tangisan anak gadisnya. Mendapati Nada yang berusaha membangunkan Nadi yang terkulai di pangkuan.

Arum dan Anja sangat terpukul, melihat buah hati yang mereka sayangi dianiaya oleh bedebah yang tidak tahu siapa orangnya. Nadi hanya menangis dan menangis setiap kali ditanya.

"Kenapa ini harus terjadi pada anak kita, Bang? Kenapa Nadi harus dilecehkan seperti ini? Aku benar-benar tidak bisa menerima. Aku akan cari pelakunya, Bang! Aku akan cari dan menuntut keadilan." Arum mengepalkan tangan dengan rahang menegang. Sejuta kebencian menyelinap ke dalam hatinya.

"Sudahlah, Rum. Ini takdir yang harus kita hadapi. Kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Siapa yang akan peduli dengan kita, Rum?" Anja menghembuskan asap rokok ke udara. Dia merasa lelaki lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa.

"Lalu kita diam saja? Begitu, Bang? Sampai kapan anak-anak kita akan dihina seperti ini? Besok aku akan pergi ke sekolah. Aku harus bisa mendapatkan penjelasan mengenai ini."

Arum sangat kesal dan juga marah. Anja sama sekali tidak bisa diandalkan.

"Bu ... sakit ...." Nadi terdengar merintih. Arum mendekatinya dan membelai kepala anaknya itu.

"Sabar, ya, Nak. Sabar. Anak Ibu pasti kuat." Tidak tahu lagi dia harus berucap apa-apa. Jutaan aksara seakan menghilang dari pikirannya. Air mata Arum kian deras. Dia sesenggukan. Nada memeluknya dari samping.

"Bu, apa tidak sebaiknya Nadi kita bawa ke rumah sakit?" tanya Nada hati-hati. Walau ia sudah tahu jawabannya, tapi melihat Nadi yang merintih, membuat Nada kasihan.

"Dia akan baik-baik saja, Nada. Percayalah sama Ayah. Dia lelaki dan kuat dengan rasa sakit. Kita tidak punya uang untuk berobat." Sambil mematikan rokok, Anja berdiri dan berlalu dari kamar yang pengap itu. Lampu neon lima watt di dalam kamar, membuat hati penghuninya kian suram.

"Bu, sakit."

"Sabar, ya, Nak? Sabar."

Arum kian mengeratkan pelukannya di tubuh Nada. Hatinya yang sudah rapuh kian tercabik-cabik melihat kondisi Nadi yang mengenaskan. Tidak habis pikir, bagaimana ada manusia yang tega menyakiti bocah kecil usia sembilan tahun?

Sementara Nada, kian merasakan tumbuhnya kebencian terhadap orang-orang. Dia tidak masalah jika dirinya yang disakiti, tapi kalau adiknya yang disiksa seperti ini, rasanya hanya kematian yang pantas diterima orang-orang itu.

Lalu, apa yang bisa ia lakukan?

Pikiran Nada menerawang. Mencoba mencari jalan atas konflik ini.

Tenanglah, Dek. Kakak akan membalaskan sakit hatimu.


Bersambung ....
profile-picture
profile-picture
lebahmaduid dan rriandi memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25

Part. 2. Tidak Ada Keadilan Untuk Si Miskin

Spoiler for Tidak Ada Keadilan Untuk Si Miskin:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dodolgarut134 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25

Part. 3. Misteri Di Ladang Tebu

Spoiler for Misteri Di Ladang Tebu:
profile-picture
profile-picture
samslek dan lebahmaduid memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25

4. Kutukan di Hari Yang Berhujan

Spoiler for Kutukan di Hari Yang Berhujan:
profile-picture
lebahmaduid memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25
Tidak ada keadilan untuk orang miskin.

Ini adalah lanjutan kisah ini. Stay tune.
profile-picture
lebahmaduid memberi reputasi
Ke Korsel oplas, beres!












asal ada donatur emoticon-Takut
recerved dulu gan sambil minumemoticon-Cendol Gan
Meninggalkan jejak dulu, sambil lanjutin baca.
Cinta si miskin emoticon-Turut Berduka
Ini bakalan ampe part brapa gan?
Msh lama gak update an nyah?
Tetap bersyukur
Ikut bacaa emoticon-Smilie
nitip sandal gan
Muka lu jelek, miskin, udah itu goblok pulak...??

Lu tau ga gimana caranya supaya elu tetep bisa dapet cinta..??

Kuncinya cuman satu..

lu harus buang jauh2 semua standar dan kriteria pasangan yg lu inginkan berdasarkan fisiknya..

Kesalahan terbesar org jelek dan miskin selama ini itu, dia itu terlalu berharap mendapatkan cinta dari orang2 yg elok rupanya.. Udah tau jelek dan kismin, masih aja ngarep dapet pasangan yg cakep.. Kan bego namanya?

Sudah lupakan semua itu.. Ini bukan kisah dongeng beauty and the beast, abis di cipok putri atau pangeran.. Mendadak muka burik lu luntur dan jadi cakep..

cinta itu bukan sekedar perkara mata, apalagi bagi seorang elu...

Buka semua peluang yg ada untuk mencintai dan di cintai... Kalo mmg prluang itu adanya di orang buta, ya ambil..

Kalo peluang itu adanya di bandot tua, ya ambil peluang itu..

Kalo peluang itu adanya di orang lain yg sama jelek dan gobloknya kaya elu.. Udah gitu miskin pulak.. Ya ambil...

Intinya jangan pilih2 berdasarkan fisiknya begok... emoticon-Cape deeehh

Ntr masalah lu bukannya kurang, malah nambah lagi gara2 terlalu pilih2..

Udah jelek, miskin, goblok udah gitu tuak lagi.. emoticon-Cape deeehh
Diubah oleh filusufkacang
wah sastra yaaa
Quote:


Loe ngomong apa sih?
gak jelas emoticon-Ngacir
profile-picture
dodolgarut134 memberi reputasi

Quote:


Gue lagi nyeramahin TS.. Berhenti membuat roman picisan...

Dunia nyata itu tak selebar sempak emak lu....

Di dunia ini ga ada org buruk rupa, yg ada itu orang yg ga ngerti cara merawat diri... emoticon-Cape deeehh
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
hmmmm apalah dayaku
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di