alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cdd27d5b8408861d70867de/kemunduran-pertanian-saatnya-ganti-mentan

Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?

Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?

Senin, 6 Mei 2019, tepat hari pertama bulan Ramadan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan I 2019 sebesar 5,07%.  Angka tersebut secara year on year (YoY) lebih bagus ketimbang catatan kuartal I 2018 sebesar 5,06%, termasuk pada periode yang sama tahun 2017 yang berada dia angka 5,01%.

Ditilik berdasarkan lapangan usaha, sektor industri, perdagangan, dan pertanian masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tiga bulan pertama tahun ini.

Sebagai negara agraris, sektor utama yang perlu kita cermati adalah pertumbuhan sektor pertanian yang memiliki jumlah angkatan kerja terbesar, berkisar 30% dari jumlah total angkatan kerja nasional. Data BPS menunjukkan ternyata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor pertanian hanya sebesar 1,81% YoY. Tentunya angka itu sangat jauh dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kontribusi sektor pertanian terhadap total PDB nasional tercatat sebesar 12,65%.

Padahal sektor pertanian pada kuartal I 2018 masih bisa tumbuh sebesar 3,34% YoY. Ironisnya, pertumbuhan tahun ini tercatat sebagai pertumbuhan PDB sektor pertanian terendah setidaknya sejak kuartal I 2017.

Bahkan pada tiga bulan pertama 2019, pertumbuhan PDB tanaman pangan bahkan terkoreksi hingga 5,94% YoY. Artinya produksi tanaman pangan, yang utamanya masih disumbang oleh beras, jauh lebih sedikit sepanjang triwulan pertama 2019 dibanding tahun sebelumnya.

Dalam penjelasannya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, perlambatan tersebut terjadi karena adanya pergeseran masa panen padi. Ia bilang pada tahun 2018 puncak masa panen padi terjadi di sekitar bulan Maret, sehingga masuk dalam perhitungan PDB triwulan I.

Sementara itu, tahun ini puncak masa panen padi jatuh di sekitar bulan April. Pergeseran tersebut membuat pertumbuhan PDB tanaman pangan kuartal I 2019 mengalami koreksi cukup dalam.

Namun, alasan tersebut bukanlah satu-satunya alasan mengapa terjadi koreksi pertumbuhan PDB tanaman pangan. Data BPS menunjukkan pada periode yang sama tahun sebelumnya PDB tanaman pangan Indonesia juga terkoreksi hingga 3,42% YoY.

Di sektor tanaman hortikultura, meskipun tumbuh hingga 6,18% YoY pada kuartal I 2019, sejatinya mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya. Karena pada kuartal yang sama tahun lalu, sektor ini bisa tumbuh 7,02% YoY. Demikian pula dengan tanaman perkebunan dimana hanya mampu tumbuh 3,33% YoY pada kuartal I 2019, melambat ketimbang kuartal I 2018 yang tumbuh hingga 7,19% YoY.

Hal ini berarti ada sebab lain menyebabkan pertumbuhan PDB di sektor pertanian jauh melambat dibanding tahun sebelumnya. Sayang Suhariyanto enggan menjelaskan lebih jauh perihal tersebut.

Ekspor Pertanian Ikut Loyo

Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?

Tidak hanya PDB pertanian yang mengalami koreksi, ekspor pertanian pada April 2019 juga loyo. Data BPS menunjukkan, pada April 2019 ekspor pertanian tercatat sebesar US$0,25 miliar atau US$250 juta. Pencapaian tersebut terkoreksi sebesar 6,74% secara Month on Month (MoM) atau berbanding Maret 2019 yang tercatat mencapai US$0,27 miliar alias US$270 juta.

Untuk perbandingan YoY, nilai ekspor sektor pertanian periode Januari-April 2019 terpantau menurun tajam sebesar 15,88% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menanggapi angka-angka tersebut, Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang Sugiharto tidak setuju jika sektor pertanian dijadikan kambing hitam atas melempemnya pertumbuhan PDB nasional triwulan I 2019. Ia berdalih, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi secara YoY jelas-jelas positif, yakni 1,81%.

Pihaknya menyayangkan melihat kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan PDB hanya dilihat dari PDB sub sektor tanaman pangan. Padahal, sektor lainnya tumbuh lebih besar salah satunya sektor peternakan mampu tumbuh 7,95% YoY atau lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 3,94% YoY.

Kementan boleh saja berdalih demikian. Tapi data juga berbicara. Sektor tanaman pangan setidaknya dalam dua tahun terakhir terkontraksi cukup dalam, 5,94% YoY pada kuartal I 2019 dan 3,42% YoY pada kuartal I 2018. Kepala BPS sendiri sudah menyatakan sebabnya ada faktor lain yang menyebakan kontraksi dalam tersebut, bukan sekedar pergeseran masa panen padi. 


Pertanian Salah Satu Sektor Paling Mundur

Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai pada periode rezim Kabinet Kerja 2014-2019 sektor produktif di Indonesia dapat dikatakan menurun terus. Ketersediaan pangan menjadi terus menerus dilanda masalah.

Sebagai negara agraris seharusnya Indonesia mampu mengatasi masalah pangan dengan baik. Namun, yang terjadi justru kemunduran. Ia menilai Kabinet Kerja sangat lemah di titik koordinasi.

"Pangan dalam arti luas mengalami kemunduran, baik dari efektivitas dan efisiensi. Jangan hanya bicara besaran importasi pangan, tetapi kesejahteraan petani ini sangat menjauh. Pertanian menjadi salah satu sektor yang paling mundur," ujar Enny.

Enny mengatakan, Menteri Pertanian ke depan harus memberikan insentif ekonomi kepada petani. Sehingga, petani bisa tumbuh dan sejahtera. "Jelas saja, masyarakat semakin enggan jadi petani. Jangankan masalah prestise, insentif ekonomi saja tidak ada. Kalau sektor pertanian ditingggalkan, lalu masyarakat Indonesia mau makan apa?”


Acuan:

Pertumbuhan Ekonomi Loyo Gara-gara Pertanian Pangan Negatif


BPS: Pertanian Dongkrak Pertumbuhan PDB Kuartal I 2019

Petani Curhat, Tak Diperhatikan Menteri Pertanian soal SDM 
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
tolong dikondisikan mentri satu ini emoticon-DP
Salah satu menteri terkuat nih
kinerja biasa tapi tetep di pertahanni, paling gedek waktu kasus pt ibu yg belagak sok pahlawan .
kalo soal pertanian saya anggap udah maju sih dibidang teknologi yg dipakai, udah pake trakter, nyiram aja sedot pake disel n masy banyak yg mampu beli, buat perontok padi n jagung udak pake motor juga. soal pupuk, udah ada merk pupuk nusantara, katanya lagi uji cb pada tanaman jagung bikin jonggol ny lumayan banyak. mungkin masalah klasik kaya cuaca yg g menentu sama urusan dengan tengkulak
ini mentri kudu nyungsep bareng menkominfo
Mentan, mendag, kominfo GOBLOK SEMUA GANTI PLISSSS emoticon-Om Telolet Om!

Cuma mentri Susi yg bener kerjanya emoticon-Traveller
Kuat banget nih orang ya, dari 2015 udah kena terpa isu reshuffle masih aja aman
Apa ya prestasi menteri yang satu ini? Aku gagal paham 😥😥😥
Quote:


Betul gan, faktor lain yg membuat petani tidak sejahtera ya karena lahan yg mereka garap itu sempit, jadi penghasilan juga berbanding dgn jumlah lahan, ya gw ambil contoh dari kampung gw sendiri, petani yg lahannya luas ya rata2 sejahtera, rumahnya bagus, punya mobil, anak bisa kuliah.
Yang disalahin mentri

emoticon-Ngakak

institut pertanian terkenal di sini saja malah mahasiswanya ikrar kilafah

Harusnya otak mahasiswa pertanian mikir gimana caranya panen bisa berkali-kali dan terus mengembangkan inovasi pertanian!!!

Nggak perlu bikin inovasi sih, cukup nyontek aja cara-cara negara maju mengembangkan pertanian. Lalu setelah lulus terjun ke dunia pertanian dan kembangkan pertanian di sini!!!

Eh malah otaknya diisi kilafah, kilafah, dan kilafah emoticon-Ngakak (S)

Pemerintah di manapun cuma ngikutin apa yang rakyat mau. Karena di sini masih tradisional maka bantuan masih berupa pupuk dan subsidi

Liat noh keadaan negara maju!
Setiap ketemu tempat pertanian pasti ketemu profesor & mahasiswa yang sedang melakukan riset.

Beda di sini tiap ketemu sawah atau ladang pasti ketemunya petani dengan raut wajah was-was karena mikir 'Apakah bisa panen atau tidak' 'Apakah setelah panen harganya memuaskan atau tidak' 'Apakah sebidang tanah ini harus dijual atau tidak'
Betul gan! Liat tuh IPB sarangnya khilafah.. Bukannya bangun pertanian malah mau ganti haluan negara.

Tp banyak salahnya juga tuh si mentan. Kebijakan impor dia dll bikin bulog kena getahnya.. Padahal gak sepenuhnya salah bulog.. Bukan belain ya. Cuma coba melihat secara obyektif
Quote:


ya karena kl dikampung sawah dr warisan, celakany kalo sodarany banyak alhasil dipecah tu, bisa2 jd dapat berapa petak. kl soal teknologi gua akuin udah maju soalny gua juga garap sawah bpk gua. paling apes musim ini, cuaca beda sama musim sebelumny, banyak padi yg belum umur udah rontok. alhasil penghasilan taun ini kecil. sekarang lagi panen kedua, sayangny udah g ujan lagi, tp.untung air ny masih melimpah


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di