alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerpen: Cinta dan Nafsu (Hijrah)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cdcbf780577a971895d8b4f/cerpen-cinta-dan-nafsu-hijrah

Cerpen: Cinta dan Nafsu (Hijrah)

Cerpen: Cinta dan Nafsu (Hijrah)
Cinta bukan hanya sekedar pemenuhan hasrat, terlebih bila itu dilakukan tanpa ikatan halal. Cinta adalah melindungi, bersama meniti jalan ilahi.

“Ada apa? Ada apa?” Riuh orang-orang saling bertanya setelah suara kendaraan yang beradu keras dengan benda lain terdengar beriringan decitan rem yang diinjak paksa. Jalan kampung selebar lima meter yang tadinya lengang berubah ramai. Orang-orang yang sedang melakukan perbaikan jalan tak jauh dari situ segera mendekat. Meninggalkan segala kesibukan yang sedari tadi menguras peluh hingga bercucuran.

Tampak sebuah motor tampak ringsek di sisi laki-laki yang tak sadarkan diri. Pemuda berusia belasan tahun itu tergeletak lemas, tangan dan kakinya berlumuran darah. Seorang perempuan yang sebaya dengannya bernasib sama, tergeletak di sisi tumpukan batu dengan kepala berlumuran darah. Bau anyir menyeruak. Sebagian ibu-ibu yang melihat bergidik ngeri, menutup muka dan hidungnya.
 
“Kecelakaan tunggal!” Bisik orang-orang. Diantara yang berkerumun segera memanggil ambulans. Tak berapa lama, ambulans datang dan membawa korban kecelakaan. Sementara yang lain, menutup bekas darah yang bercecer di jalan dengan pasir yang digunakan untuk perbaikan jalan.
 
Aku yang sedang duduk di teras mengamati semua kejadian itu dengan nanar. Melihat kepala yang hampir pecah bermandikan darah  membuatku ingin muntah. Tangan dan kaki gemetar terkulai lemas, meski aku tak mengenal mereka.
Kabar beredar, mereka berdua adalah sepasang muda mudi yang sedang kasmaran. Terlibat pertengkaran kecil karena kecemburuan. Amarah membuat si laki-laki kehilangan kewarasan. Motor melaju kencang dan menabrak tumpukan batu yang digunakan untuk perbaikan jalan. Si laki-laki dirawat di ICU, sedang si perempuan tak terselamatkan.
 
“Kak, ini pembelajaran buat Kakak. Pacaran itu dosa!” seru Eza, adik laki-lakiku yang baru saja kembali dari kerumunan. Ia mulai berceramah, “Sudah jelas-jelas zina itu dilarang--“
 
“Ngomong apaan sih, loe? Siapa juga yang zina? Gue sama Aldi tu nggak pernah ngapa-ngapain.” Aku memotong bicara laki-laki berambut cepak itu sebelum ia selesai.
 
“Se-enggak ngapa-ngapainnya orang pacaran, tetep aja ngapa-ngapain! Dan itu pintu zina, tahu? Gimana kalau kakak bernasib sama kayak perempuan tadi sebelum sempat tobat?”
 
“Loe doain gue mati?”
 
“Bukan doain, cuma ngingetin, maut itu bisa datang kapan aja, nggak peduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, sakit atau nggak. Banyak hal bisa jadi sebab kematian.”
 
‘Deg!’
 
Ada denyut yang tak biasa di jantungku mendengar perkataan itu. Kembali terbayang perempuan yang berlumuran darah tadi. Membayangkan saat roh keluar dari jasad, saat diri berlumuran dosa menghadap pada Yang Kuasa. Aku bergidik ngeri, tapi ego masih menguasai diri.
 
“Alaah, sok banget sih, loe!” Aku berlalu, meninggalkan laki-laki berperawakan tinggi kurus itu.
 
***
 
“Vie, dicari Aldi tu ….” Suara ibu lembut terdengar dari balik pintu kamar. Nama itu membuat jantungku berdesir.
 
“Iya, Bu, sebentar.” Aku menatap diri ke cermin. Tampak wajah putih yang merona. Bibir tipis berwarna merah muda itu menyunggingkan senyum. Rambut hitam, lurus, panjang sepunggung sudah cukup rapi. Blazer hitam berpadu dengan celana hitam membuatku tampak feminism. Aku siap untuk wawancara kerja hari ini. Juga untuk berduaan dengan Aldi.
 
Ah, bahagianya. Terbayang laki-laki berperawakan gagah dengan model rambut the curtain haircut sedang menungguku di luar. Kuhela napas, meyakinkan diri sendiri dan segera menemuinya.
 
Benar, Aldi tengah menungguku di teras, tampak cool dengan gaya kasualnya. T-shirt  warna putih lengan pendek itu menampakkan otot-otot kekarnya. Jogger berwarna krem menjadi padu padan yang menarik di kulit putihnya. Aku mengamatinya sebentar. Tak bosan-bosan aku memandang hidung mancung pacarku itu. Kami resmi berpacaran sejak tiga tahun lalu, persis saat semester ketiga kuliah. Bagiku, ia seperti pangeran yang siap sedia kapan pun dibutuhkan. Mengantarkan kemana pun aku pergi, bahkan membantu mengerjakan tugas-tugas kuliah. Hingga lulus dan sama-sama berjuang mencari pekerjaan seperti sekarang ini.
 
***
 
Aldi mengenakan jaket hitamnya. Motor melaju setelah kami berpamitan pada ibu. Awan hitam menggumpal membuat siang ini tampak gelap. Tak berapa lama setelah berjalan, hujan rintik-ritik membasahi kami. Semakin lama semakin deras. Kami yang tak terlindungi jas hujan menjadi basah kuyup. Tak ada keinginan menepi. Aku merapatkan tubuh, melingkarkan tangan ke perut bidangnya yang terbungkus jaket. Kepalaku bersandar pada punggungnya yang sedikit membungkuk mengikuti lengan yang mengendalikan laju motor. Sesekali mata bulatku mengerjap, perih terkena tempias hujan. Jari-jari kakiku mulai mengkerut kedinginan.
 
Hujan semakin deras. Genangan air mulai terbentuk di sisi-sisi jalan. Kecipak air terbentuk dari roda-roda yang berputar cepat. Angin bertiup makin kencang, meliukkan pohon-pohon yang menjulang, menerbangkan dedaunan serta spanduk-spanduk iklan. Jalanan mulai lengang. Emperan toko dan kios dipenuhi kendaraan roda dua yang memilih berteduh.
 
Aldi mengelap kaca helmnya yang berembun. Tampaknya, ia mulai kepayahan menahan terpaan hujan yang bagai diguyurkan dari langit. Laju motor Honda CBR 250 itu melambat.
 
'Bruk!'
 
Sebuah pohon besar tumbang tepat di depan motor. Seketika rem diinjak, menimbulkan suara berdecit yang menyayat. Motor berhenti, aku mendongak dengan jantung berdebar kencang. Terkejut sekaligus lega. Beruntung, pohon itu tidak mengenai kami. Spontan Aldi membelokkan motornya ke salah satu emperan toko. Motor berhenti, kami turun.
 
"Maaf, Vie ...," kata Aldi sambil menyibakkan poni yang menutupi mataku. Aku tersenyum.
 
"Tidak apa-apa, aku senang bisa bersamamu ...." Kami berdiri di emperan toko, menunggu hujan reda. Melewatkan waktu dengan bercanda tawa bersama.
 
Hujan mereda. Motor Honda ZBR 250 kembali melaju pelan. Melewati jalan-jalan yang dipenuhi dedaunan yang berserakan. Spanduk-spanduk dan papan iklan tak beraturan. Pepohonan tampak tak lagi tegak. Beberapa diantaranya rubuh hingga menghalangi jalan. Terpaksa kami harus berhenti menunggu petugas dibantu warga dan beberapa pengguna jalan menyingkirkannya. Jalanan licin membuat motor melaju dengan kecepatan rendah. Sudah bisa dipastikan aku terlambat sampai tempat tujuan. Perjalanan ini seharusnya bisa ditempuh dalam waktu tiga puluh menit dari tempat terakhir kami berhenti. Namun, hampir empat puluh lima menit kami belum sampai.
 
“Kita mau kemana, Al?” tanyaku saat motor membelok ke arah yang tidak seharusnya. Aldi terdiam. Motor tetap melaju, melewati area perumahan, jelas bukan komplek perkantoran yang aku tuju. Hati semakin merasa tidak nyaman ketika motor berhenti di sebuah pelataran rumah, tepat di bawah sebuah pohon mangga. Rindang, semilir angin membelai ringan.
 
“Kita istirahat dulu sebentar, ya?”
 
“Tapi kan ini udah telat ….”
 
“Nggak pa-pa, sebentar aja. Aku yang nanggung kalau telat.” Senyum tersungging dari bibirnya. Mata lebar itu menatap teduh, membuatku enggan untuk menolak.
Kami turun dari motor kemudian memasuki rumah berarsitektur jawa kuno. Tampak klasik, tapi begitu bersih, menunjukkan tempat itu sangat terawat. Memasuki ruang utama berukuran 8x8 meter, disuguhkan hiasan-hiasan bernuansa wayang kulit. Aku hanya tahu salah satu tokoh wayang kulit yang terpajang di tembok, itu semar, selebihnya entah. Ruangan itu begitu sepi. Aldi menyuruhku duduk di salah satu kursi rotan. Tak lama ia kembali dengan baju yang sudah berganti.
 
“Ini rumah orang tuaku. Sesekali mereka ke sini kalau libur,” kata Aldi sambil menyerahkan sepotong pakaian, “Gantilah, dingin!” lanjutnya. Aku menerima pakaian itu.
Ia menunjuk sebuah kamar yang bisa kupakai untuk berganti pakaian. Tak ingin ia menunggu lama, aku bergegas ke kamar yang dimaksud. Kemudian keluar dengan blus warna hitam di atas lutut dengan lengan sebatas siku.
 
“Kau cantik sekali dengan pakaian itu, Vie ….” Aku tersipu malu. Dia mendekat dan membelai rambutku. Jantungku berdesir saat bibirnya semakin mendekat.
 
‘Allahu akbar, Allahu akbar ….’
 
Terdengar kumandang azan asar. Saat itu, kata-kata adikku tiba-tiba terngiang, membangkitkan memori tentang gadis yang berlumuran darah dan pohon yang tiba-tiba ambruk tepat di depan motor saat melintas tadi. Merasakan maut benar-benar dekat. Desir jantung berubah. Dari yang tadinya gejolak rasa yang membara menjadi ketakutan yang luar biasa.
 
“Tidak, Al. Jangan!” Aku menepis tangannya dan berpaling.
 
“Kenapa? Bukankah aku mencintaimu dan kaupun mencintaiku?”
 
“Maaf, tapi tidak seharusnya begini.”
 
“Ayolah, kita sudah terbiasa dengan ini. Lihat teman-teman kita yang lain, mereka juga melakukan hal yang sama. Tidak ada salahnya kan kalau kita juga demikian?” Aldi terlihat kesal
 
“Kamu cantik, Vie ….” Ia kembali merayu.
 
“Tidak. Itu salah. Kita sudah melanggar larangan Allah. Dosa, Al!”
 
“Alaaah, jangan munafik kamu!” Aldi bertindak agresif. Dia menarik tanganku paksa, berusaha mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin jauh, berusaha merampas kesucianku. Aku meronta sekuat tenaga, berteriak sekencang-kencangnya, melawan semampuku.
 
“Aldi!”
 
Terdengar pintu didobrak. Suara laki-laki yang tidak asing berseru keras kepada Aldi. Dengan segera laki-laki berperawakan ideal itu menghampiri Aldi, dan menjauhkannya dariku.
 
“Jangan ikut campur!” kata Aldi kesal lalu melayangkan pukulan ke wajah laki-laki muda berjenggot itu. Beruntung bisa ditepisnya. Perkelahian tak terelakkan lagi. Pukulan demi pukulan saling mereka layangkan. Darah menetes dari wajah keduanya. Aku histeris melihat semua itu. Berlari keluar, mencoba mencari bantuan, tapi sia-sia. Di luar sangat sepi. Aku kembali masuk, mencoba melerai mereka berdua. Hingga sebuah pukulan mendarat di bahuku. Entah dari siapa. Aku terhuyung, jatuh.
 
“Viena!” Seketika mereka berhenti. Perhatian mereka beralih padaku. Aku memegang bahu yang terasa sakit akibat pukulan itu sambil terisak. Namun juga lega. Tidak mengapa aku merasakan sakit, bila itu bisa membuat mereka berhenti saling menyakiti. Aldi mencoba menolong, tapi aku menepisnya.
 
Tofa, laki-laki bercelana cingkrang yang menolongku itu mengajak keluar dan mengantar dengan mobilnya yang terparkir di luar. Tidak ada rasa curiga sedikitpun padanya. Ia adalah sahabat Eza, karenanya, adik laki-lakiku itu memperoleh hidayah.
 
“Kebetulan aku melihat kalian tadi, sengaja aku mengikuti karena melihat gelagat yang tidak baik.” Tofa mengambil jaket di bangku belakang mobil kemudian menyerahkan padaku,
 
“Tutupi auratmu!” lanjutnya.
 
Aku menerima jaket itu dengan wajah yang masih tertunduk. Entah mengapa aku merasa begitu hina dihadapannya.
Senja memerah, tak tampak lagi awan gelap yang sedari pagi menutupi kilau mentari. Jalanan yang tadinya basah mulai mongering. Mobil melaju menerobos hiruk pikuk kota pelajar. Lalu lintas begitu padat. Terlebih menjelang buka puasa seperti ini.
 
Tepat ketika azan magrib berkumandang kami tiba di rumah. Aku meminta Tofa untuk berbuka puasa bersama di rumah. Tidak ada perasaan canggung, karena ia terbiasa di rumah ini, bersama adikku. Sesekali aku meliriknya, jika diperhatikan, ternyata ia tak kalah tampan dengan Aldi. Kulit kuning langsat, hidung mancung, alis tebal, serta rambut yang selalu tertutup kopiah. Laki-laki yang sangat sopan, selalu menundukkan pandangan. Buka puasa kali ini terasa begitu spesial. Aku dengan cahaya di hatiku. Duduk di meja makan dengan pakaian yang menutup aurat. Ayah dan ibu menyambut gembira.
 
Ramadhan ini adalah ramadhan pertamaku dengan hijab yang menutup aurat. Awal hijrahku, awal mula cahaya menerangi hatiku. Awal mula aku mengenal ta’aruf. Dua minggu setelah kejadian itu, Tofa mengajakku ta’aruf melalui Eza. Dengan senang hati aku menerima niat baik itu. Namun, sepertinya ia memang bukan jodohku. Mungkin juga Allah ingin agar aku menggali dan mempelajari ilmu Islam lebih dalam lagi. Allah mengerakkan hatiku untuk menolak dikhitbah. Terutama saat tahu bahwa ia telah beristri. Meski aku tahu poligami itu diperbolehkan, tapi aku merasa belum cukup siap untuk melakukannya.
 
--End--
 
Diubah oleh YumnaAzalea
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
link cerpen selanjutnya
keren say
Quote:


Makasih emoticon-Big Kiss
Quote:


Sama² emoticon-Big Kiss


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di