alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Kuis ini Cuma Buat Fans Game of Thrones Sejati. Hadiahnya Mangstab Gan!
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
[CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cdc2855c820847dce51eab5/cerpen-an-kesalahan-masa-lalu

[CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu

[CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu

Aku menatap buku tulis dengan malas, mataku terasa sangat berat untuk tetap terbuka. Rasanya ingin sekali pulang lalu tidur di kamar, daripada duduk sendirian di ruang kelas yang sepi ini. Sebenarnya tidak sepi, ruang kelas ini sangatlah ramai. Namun, seramai apapun tempat ini, bagiku tetaplah sepi.

Kelas ini didominasi oleh suara dari gerombolan anak-anak terkenal di sekolah. Mereka adalah Cika, Resti, Dona, dan Ceri. Anak-anak lain tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan Cika dan antek-anteknya. Karena mereka sering menggunakan kata "girls" sebagai kata ganti nama, mari sebut mereka dengan sebutan The Girls.

Di sekolah kalian pasti ada yang suka menindas, bukan? Sama. Di sini The Girls suka sekali memindas murid lain. Murid-murid yang mereka tindas tentu saja murid dengan tingkat kepopuleran yang rendah, agar tak bisa membantah. Boro-boro membantah, dibentak sedikit saja—yang ditindas—langsung bergemetar seperti melihat setan. Selain dibentak, The Girls beberapa kali pernah menarik rambut target. Namun, hal itu tak pernah sampai ke telinga para guru.

The Girls tak pernah dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling atau guru BK lantaran memang tidak ada yang melaporkan kelakuan mereka. Sebenarnya jika kelakuan mereka dilaporkan, sudah pasti The Girls akan kena hukuman mengingat saksi mata yang sangat banyak. Bagaimana tidak banyak jika mereka menindas targetnya di kelas. Namun, anak-anak kelas di sini sangat individualis. Jika bukan diri mereka yang bermasalah, maka mereka tidak akan peduli. Tak peduli yang ditindas adalah teman sebangku, teman satu kelompok belajar, jika bukan dirinya maka selesaikan masalah itu sendiri.

Karena hal itu, aku merasa telah salah memilih sekolah ini menjadi sekolah baruku. Mungkin akan lebih baik jika ia tetap di sekolah lama, yang sudah jelas berada di kota metropolitan.

"Nessa!" Aku menoleh ke belakang, aku melihat Cika sedang menatapku.

"Ada apa?" tanyaku baik-baik.

"Belikan aku minum dong, haus nih," suruh Cika sambil menebalkan bedak di wajahnya.

"Tapi ini bukan waktu istirahat," tolakku. Lagi pula aku sangat malas.

"Wah berani juga," komentar teman Cika yang bernama Dona.

Cika menutup bedaknya, lalu menatapku garang. "Kau menolak perintahku, hah?"

"Kau kan bis—"

"Lihat saja nanti apa yang akan terjadi," kata Cika lirih. Namun, aku masih bisa mendengarnya.

"Kau mau minum apa?" tanyaku pada Tuan Putri Cika.

Mau tidak mau aku harus mengiyakan perintah Cika, daripada nanti akan terjadi apa-apa pada diriku.

"Jus mangga."

Setelah mendengar jawaban dari Cika, aku langsung keluar kelas. Aku memerlukan waktu sekitar lima menit untuk sampai di kantin. Untung saja sekarang bukan waktu istirahat, jadi keadaan kantin pasti sepi. Aku juga harus cepat-cepat jus itu sebelum guru pelajaran selanjutnya memasuki ruang kelas.

Setelah membeli, aku menuju ke kelas dengan setengah berlari, sambil berdoa semoga saja tidak telat.

Aku membuka pintu lalu melihat Bu Irma sedang menoleh ke arah pintu seraya memasang tatapan tajam.

"Nessa! Kau habis dari kantin? Jam segini ke kantin? Apa kau tak tahu aturan?"

Aku menundukkan kepala, lalu terdengar tawa kecil dari tempat duduk Cika and the genk. Sudah pasti mereka menertawakanku yang dimarahi bu Irma.

"Maaf, Bu. Lain kali saya tidak akan mengulanginya."

"Sudah! Sekarang kamu keluar sekarang!"

Daripada kena marah bu Irma lagi, lebih baik aku keluar kelas dan meminum jus mangga yang tadi kubeli untuk Cika. Semua ini pasti ulah Cika, gadis itu sengaja menyuruhku pergi ke kantin agar nanti telat masuk kelas di jam bu Irma. Pikiran itu tidak terlintas di otakku sama sekali. Aku kira Cika benar-benar sedang kehausan. Kadang, aku merasa diriku benar-benar bodoh.

Ini bukan kali pertama disuruh-suruh. Beberapa hari setelah pindah, The Girls satu per satu mulai menyuruhku dari meminjam buku, pergi ke kantin, sampai memanggil adik kelas yang menjadi target mereka untuk ke kelas. Ingin sekali aku mengadu pada guru, tapi salah satu teman sekelasku yaitu Ema melarang. Dia bilang aku akan lebih menderita jika mengadu. Ema, memang satu-satunya murid yang agak baik pada orang lain. Ema sendiri pernah beberapa kali disuruh-suruh oleh The Girls.

Bel istirahat berbunyi beberapa waktu lalu, kali ini aku melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat duduk menuju ke kelas. Semoga saja Cika tidak bertanya di mana jus mangga pesanannya.

"Ada pencuri, bedak aku hilang!" teriak Ceri ketika aku baru saja sampai di kelas. Diriku cuek saja, tidak berniat bersimpati pada bedak Ceri yang hilang. Aku masih berdoa, semoga Cika lupa dengan pesanannya.

"Kok bisa? Kau taruh di mana?" tanya Resti sambil menggeledah laci mejanya.

"Di tas, tapi kenapa sekarang tidak ada?" Ceri tampak panik.

"Geledah semua tas!" ucap Cika dengan lantang.

Cika, Ceri, Dona, dan Resti mulai menggeladah semua tas yang ada di kelas, tak lupa juga dengan laci meja. Aku santai saja, tak mungkin ada bedak atau make up apapun di tasku, aku tak pernah membawa barang-barang itu ke kelas.

The Girls menggeladah tas seperti tidak memiliki perasaan, semua barang yang ada di tas dikeluarkan semua, begitu pula dengan tasku. Resti membuka resleting kecil di tas depan, lalu ia menemukan sebuah benda berwarna hitam. Bedak Ceri.

"Nah! Apa ini?!" tanya Dona dengan nada tinggi padaku.

Mataku terbuka lebar, kaget kurasa. Sumpah demi apapun juga aku tak pernah mengambil bedak itu.

"Aku ... aku tid—"

"Iya, benar! Ini milikku, ada stiker Mini Mouse tertempel!" pekik Cika girang.

Aku lihat di sana memang ada stiker Mini Mouse, kurasa hal itu sangat kekanak-kanakan.

Cika mendekatiku, mendadak perasaanku menjadi tidak enak. Pandangan Cika juga menyeramkan, membuat nyaliku menciut. Aku hanya bisa berdoa dalam hati.

"Apa kau tak memiliki uang untuk membeli satu buah bedak, hah?"

Hah? Aku bisa membeli satu lusin bedak.

"Apakah bedak milik Ceri terlalu mahal untukmu, Sayang?"

Aku bisa membeli bedak dari luar negeri, jika kau tak tahu.

"Makannya, jadi orang kaya!"

Apa? Bahkan rumahku dua kali lipat lebih besar dari rumahmu.

Kenapa? Kenapa aku hanya bisa membalas pertanyaan-pertanyaan Cika di dalam hati? Lidahku seperti tak bisa digerakkan, bibirku pun terasa berat untuk dibuka. Aku takut ... aku takut dirisak.

"Ikut!" Ceri menarik rambutku, lalu menarikku sampai ke pintu. Setelahnya, aku disuruh berjalan seperti biasa karena mereka takut jika ada guru.

"Tunggu! Bisakah kalian tidak merisaknya?"

Aku rasa itu adalah suara Ema. Benar saja, Ema sedang berada di belakangku dan The Girls sekarang. Dia memang cari mati. Namun, kemudian Ema masuk kelas, sepertinya ia diberi tatapan maut oleh salah satu anggota perisak ini. Aku pasrah, sudah tidak ada harapan untuk melepaskanku dari jeratan mereka. Kami sudah sampai di kamar mandi, dan perisakan pun terjadi.

***

Tak ada perisakan yang tidak menyakitkan. Baik secara verbal maupun non verbal. Keduanya sama-sama menyakitkan dan aku pernah merasakannya. The Girls benar-benar kejam.

Setelah membasuh mata yang dibasahi air mata dan menata penampilanku yang acak-acakan akibat perlakuan empat gadis gila itu, aku berjalan menuju ruang CCTV. Akan kucari siapa yang menaruh bedak Ceri di tasku. Semoga tidak ada yang berjaga di sana. Aku tak ingin ada korban lagi akibat The Girls.

Benar saja, di sana tak ada penjaganya. Aku mencari komputer yang terhubung dengan CCTV kelasku, lalu melihatnya dengan seksama. Setelah lama mencari detik yang menunjukkan adegan pencurian, akhirnya ketemu. Aku membuka mataku lebar-lebar, pencuri itu adalah ... Ema. Demi Tuhan, itu wajah Ema, sungguh.

Rasanya dunia ini sandiwara semua, Ema yang terlihat sangat baik ternyata tidak sebaik itu. Aku tidak mengerti kenapa ia melakukan semua itu.

"Nessa ...," ucap seseorang.

"Bu Irma, Cika, Ceri, Em—"

Kenapa orang-orang yang tadi menyakitiku, sekarang berkumpul di ruang CCTV ini?

"Kami sudah tahu semuanya, Nessa," kata Bu Irma.

"Aku ... ekhem ... maksudku kami meminta maaf padamu, Nes. Kami tahu apa yang telah kami perbuat bukanlah hal baik, dan kami sangat menyesal. Kami harap kau mau memaafkan kami," ucap Cika mewakili The Girls padaku.

"Aku juga minta maaf, Nes. Iya, aku yang mengambil bedak Ceri, maaf." Kali ini Ema yang berbicara. Berarti mataku tidak salah lihat, yang di CCTV memang Ema. Air mataku langsung jatuh saat itu juga.

"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu?"

"Aku masih sakit hati padamu, Nes. Ingatkah kau dulu yang merisakku saat di Jakarta?"

Aku mengerutkan dahi, kuputar memori ke masa lalu saat masih di Jakarta.

Aku? Merisak orang? Ya, aku memang suka merisak orang bersama teman-temanku. Aku memang tidak berbeda jauh dengan The Girls, bahkan aku lebih hits daripada The Girls saat masih di Jakarta.

Aku melirik The Girls dan Ema dengan tatapan sendu. "Maaf," ucap kami bersama lalu Bu Irma memeluk kami semua.

Karma memang ada. Siapa yang berbuat baik maka ia akan mendapat kebaikan di kemudian hari. Siapa yang berbuat kejahatan, maka ia akan mendapat kejahatan di kemudian hari. Mulai sekarang aku akan berbuat kebaikan, takkan kuulang kesalahan di masa lalu.

***

Banjarnegara, 01 Mei 2019


Sumber : https://www.idntimes.com/fiction/sto...mpaign=network

---

Baca Juga :

- [CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu [CERPEN-AN] Kapan Aku Dijemput?

- [CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu [CERPEN-AN] Kisah Anomali di Warung Kopi

- [CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu [CERPEN-AN] Rahasia Raha-Sia

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di