alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd8d56d10d29559071e603b/rs-bhayangkara-jadi-saksi-kepedihan-keluarga-yang-ditinggalkan

RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan

RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan

Bulan ini, tepat setahun lalu, lima bom mengguncang Surabaya dan Sidoarjo. Ada 28 orang meregang nyawa, puluhan terluka. Yang lebih miris, semua pelaku mengajak serta keluarga dalam aksinya. Melalui pengakuan saksi dan korban, kami mencoba menceritakannya kembali. Kesaksian mereka menunjukkan bahwa, apa pun dalihnya, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tak selayaknya mendapat tempat di mana pun.

 

Surabaya, IDN Times - Tiga buah peti jenazah bertengger di depan kamar mayat Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Minggu (13/5/2018). Saat itu sekitar pukul 10.00 WIB, masih belum diketahui siapa yang akan dimasukkan ke dalamnya. Apakah korban, atau pelaku ledakan bom bunuh diri?

Rosa Folia, salah satu jurnalis IDN Times telah berjaga di RS Bhayangkara sejak pagi. Ia mengamati hiruk-pikuk meja redaksi dan rekan jurnalis yang sedang berada di lokasi ledakan bom, Gereja Kristen Indonesia Diponegoro, Gereja Santa Maria Tak Bercela, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Arjuno. Dia pun tak mengetahui pasti peti-peti itu diperuntukkan kepada siapa.

"Saat itu masih belum terlalu ramai sama wartawan lainnya. Ada beberapa, tapi gak terlalu ramai," tutur Rosa.


1. Keluarga korban tampak cemas
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
Rosa dan wartawan lainnya tak sendiri menebak-nebak siapa yang akan dimasukkan ke dalam kotak-kotak putih itu. Beberapa wanita juga menunggu di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Mereka terlihat khawatir menanti apakah rekannya merupakan salah satu korban atas ledakan yang terjadi di GPPS Arjuno.

"Salah satunya kakaknya atau adiknya. Aku gak terlalu ingat. Mereka cari tahu apakah dia jadi korban atau tidak. Tapi, baru ketahuannya Senin, soalnya memang korban gak pulang," terang Rosa.

Belum ada korban luka-luka yang dilarikan ke RS Bhayangkara. Hingga akhirnya sekitar pukul 14.30 WIB, mobil ambulans Dokpol Polda Jatim tiba di RS Bhayangkara. Aparat kepolisian bersenjata lengkap pun menjaga dengan ketat kedatangan mobil tersebut. Rosa dan awak media lainnya berlarian mengejar mobil tersebut. Namun langkah mereka sempat ditahan.


2. Jenazah mulai dikenali
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
Satu tubuh yang kehilangan nyawa akibat bom tiba di kamar mayat. Saat itu, alih-alih sesosok jasad manusia yang digotong menggunakan tandu, melainkan dua buah kantong jenazah berwarna kuning yang belum pasti apakah itu milik seseorang atau beberapa orang.

"Aku sempat lihat potongan kakinya," kenang Rosa

Setelah beberapa saat, suasana RS Bhayangkara semakin ramai. Awak media dari stasiun TV nasional pun tiba. Kebanyakan menerjunkan personel tim lengkap yang dikirim dari Jakarta. Suasana semakin riuh saat rombongan Presiden Republik Indonesia tiba di RS Bhayangkara sekitar pukul 16.20 WIB.


3. Jokowi kutuk kejadian pemboman
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
Kala itu, Presiden RI Joko "Jokowi" Widodo datang didampingi Menko Polhukam, Wiranto, Kepala Badan Intelijen, Komjen (Pol) Budi Gunawan, dan Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian. Dia langsung memberikan pernyataan terhadap tragedi kemanusiaan tersebut.

"Terorisme tidak mengenal agama apa pun. Ini merupakan tindakan biadab dan pengecut karena menggunakan anak-anak sebagai pelaku pemboman," tegas Jokowi. Selang beberapa saat kemudian, Jokowi bersama rombongan meninggalkan RS Bhayangkara.


4. Seorang korban sempat mengeja nomor telepon temannya sebelum tewas
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
Semakin larut, RS Bhayangkara semakin ramai. Jenazah-jenazah mulai berdatangan. Bau obat yang menyengat berganti dengan bau anyir yang menusuk hidung. Peti mati yang awalnya hanya 3 ditambah hingga 11 buah.

Keesokan harinya, jenazah pertama tiba di kamar mayat RS Bhayangkara pukul 05.00 WIB. Dia adalah korban ledakan bom di GPPS Arjuno, Sri Puji Astuti (67). Tuti meninggal dunia pukul 23.30 WIB setelah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Jenazah Tuti dijemput oleh kerabat sekitar pukul 10.00 WIB. Eli, sahabat Tuti yang juga tinggal serumah dengannya menanti jenazah Tuti dengan muka murung. Kantung matanya yang sudah keriput nampak bengkak dan memerah.

"Betapa ajaibnya dia sempat mengeja nomor telepon saya. Padahal keadaannya sudah sangat mengenaskan. Sungguh mukjizat Tuhan," tutur Eli lirih menceritakan bagaimana Tuti mengeja nomornya ke salah satu dokter sebelum meninggal. Meski dengan kondisi tubuh yang dipenuhi luka bakar hingga ke wajah, Tuti masih berharap Eli dapat mengenalinya.


5. Tukang parkir cilik menjadi korban
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
Lain halnya dengan Agus Tri Subekti (50). Agus dengan linglung duduk di sebuah kursi samping ruang jenazah. Dia tengah mencari keberadaan keponakannya, Daniel Agung Putra Kusuma (16) yang entah ada di mana.

"Semalam saya dapat kabar kalau ada di sini (RS Bhayangkara). Tapi, kok gak ada" ucap Agus.

Daniel merupakan seorang juru parkir di GPPS Jalan Arjuno. Saat bom meledak, Daniel diketahui sedang bertugas di bagian depan gereja, lokasi minibus pelaku bom menabrak gerbang gereja hingga meledak. Namun hingga keesokan harinya, sosok Daniel masih belum ditemukan.

Akhirnya, sosok Daniel teridentifikasi sekitar pukul 15.00 WIB sore itu. Agus yang telah menanti sejak pukul 07.00 WIB langsung menghubungi anggota keluarga yang lain untuk menjemput bocah SMP tersebut. Ketika mereka datang, tangis pecah tak tertahankan. Kakak Daniel sampai tak kuasa menahan diri. Dia nampak hampir jatuh beberapa kali.


6. RS Bhayangkara dipenuhi tangis dan kepanikan
RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan
Kesedihan yang dialami Eli dan Agus juga dialami oleh puluhan orang lain yang ditinggalkan keluarga dan sahabatnya. Puncaknya pada Senin (14/5/2018), puluhan orang hilir mudik di RS Bhayangkara untuk menjemput kerabat mereka. RS Bhayangkara tak sepi dari tangisan kerabat yang ditinggalkan.

Namun, tak hanya kerabat korban yang berlalu-lalang di RS Bhayangkara. Relawan juga terlihat membantu meringankan beban para kerabat yang ditinggalkan. Salah satunya dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia. Mengenakan seragam berwarna ungu, mereka mendampingi para kerabat dan memberikan trauma healing.

Salah satu relawan tersebut bernama Pia. Pia, yang juga mendampingi kerabat Tuti, mengatakan bahwa IPK akan siap sedia di RS Bhayangkara hingga sepekan setelah kejadian bom meledak. Tak hanya dari IPK, proses trauma healing juga dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Sosial Pemerintah Kota Surabaya.

Selain IPK Indonesia, millennials pun nampak sibuk membagikan makanan kepada keluarga yang sedang menunggu, polisi, maupun awak media. Mereka merupakan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala. Makanan dan minuman yang dibagikan merupakan wujud empati dan upaya membantu para petugas di sana.

"Ya, kami tujuannya ingin membagikan ke keluarga korban. Kan, kasihan. Tapi kalau kondisinya seperti ini kan ada bantuan dari polisi, lalu mungkin teman-teman wartawan," ujar Vincentius, salah satu mahasiswa.

RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan

Sumber : https://www.idntimes.com/news/indone...mpaign=network

---

Baca Juga :

- RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan Raut Gusar Kapolda Saat Istighosah

- RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan Aloysius Bayu, Relawan yang Merelakan Nyawanya Direnggut Teroris

- RS Bhayangkara Jadi Saksi Kepedihan Keluarga yang Ditinggalkan Mapolrestabes Surabaya Kedatangan Tamu Tak Diundang

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di