alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
4.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd505a910d2955d3e387069/sfth-gadis-nakal

(SFTH) Gadis Nakal

(SFTH) Gadis Nakalcanva


Part 1


"Bapak Rendra mau di situ sampai kapan? Bel istirahat sudah berdering dari tadi."

Suara serak membuat wajah terangkat dari tumpukan buku folio. Pulpen hitam kuletakkan di tengah lembaran putih yang membuat pusing kepala. Sore ini aku harus merekap nilai anak-anak SMK Srikandi.

Aku hanya memandang Rea, ketua kelas Ill Akuntansi yang berdiri di depan mejaku sambil bersedekap. Mata bulatnya menantang. Gadis manis berpotongan sasak pendek itu memang terkenal kurang sopan.

"Saya sedang mengoreksi pekerjaan kalian."

"Setelah istirahat waktunya pelajaran olahraga, Pak."

"Lalu?"

"Kami mau ganti baju."

Ups! Aku lupa! Sekarang hari Kamis. Kuedarkan pandangan, hampir semua siswi masih berada di kelas. Seragam olah raga sudah tergeletak di atas meja. Biasanya mereka memang berganti baju di dalam kelas. Entah siapa yang memulai. Apa mereka nggak malu?

"Kalian ganti di kamar mandi saja." Aku mengerahkan semua kewibawaan.

"Baunya pesing, Pak. Bapak keluar saja, kerjakan itu di kantor." Tunjuk Rea. Bibirnya berdecap.

Aku bergeming. Semakin lama remaja ini semakin tak punya sopan santun. Pantas saja hampir tiap semester ada guru yang keluar. Hampir dua bulan aku mengajar, menggantikan saudara yang sedang sakit. Rasanya memang tak nyaman. Apalagi ini pengalaman pertama mengajar sejak aku lulus setengah tahun lalu.

"Terserah Bapak."

Rea kembali ke tempat duduknya di bangku urutan kedua dari depan. Sambil menatapku, ia mulai membuka kancing seragamnya. Diikuti siswi yang lain. Wah! Benar-benar gila. Wajahku terasa panas. Dalam dua detik, aku melesat pergi keluar kelas. Tanpa menoleh ke belakang.

Lupa membawa buku tugas anak-anak.

Kamvreto!

***

Para guru banyak mengeluh tentang kenakalan siswi angkatan pertama sekolah Srikandi. Kepala sekolah mendamaikan hati mereka. Beliau berkata bahwa wajar kalau anak pertama berbuat onar, mereka harus dirangkul dan dibimbing untuk mempersiapkan ujian negara. Nama baik sekolah dipertaruhkan. Bila lulusan pertama memuaskan, maka akan banyak orang tua yang berminat menitipkan anak-anaknya di sekolah ini.

Rea salah satu siswi unggulan. Meskipun agak berandal, nilainya selalu bagus. Di antara teman-temannya, ia yang paling bersinar. Gadis manis berdagu lancip dan bermata setajam pisau cukur.

Aku mengempaskan pantat di atas kursi. Memerhatikan halaman sekolah dari dalam ruang guru. Kebetulan mejaku dekat dengan dinding kaca bening. Bisa melihat kelakuan para murid Srikandi yang ajaib.

Sosok Rea berkelebat. Ia berlarian sambil memainkan bola basket sendirian. Wajahnya serius menatap ring. Dia mengambil ancang-ancang hendak melempar bola ke dalam keranjang. Matahari sore membuat rambutnya bersinar keunguan.

Bukannya memasukkan bola, dia menoleh. Mata kami bertemu. Netranya menembus jantung. Aku berlagak cuek, padahal detakan dalam rongga bertalu-talu. Rea menjulurkan lidahnya. Ia berlari menuju teman-temannya.

Hah. Apa itu tadi? Kenapa aku jadi panas dingin begini.

***

Di antara kabut tipis, Rea tersenyum, menunjukkan gingsul kecil di sudut bibir. Gadis itu mendekat sambil membuka satu persatu kancing bajunya. Aku meraih tubuhnya dan kami melayang ke angkasa.

Kabut itu perlahan memudar. Aku membuka kelopak mata. Plafon putih menyambut. Tanganku meraba ranjang. Tak ada Rea.

Ternyata hanya mimpi.

Mimpi yang membuat basah kuyup bagian depan celana kolor.

Asem!

***

Jomblo menahun membuatku setengah gila. Sejak putus dari Hannah tiga tahun lalu, belum ada satu gadispun yang bisa membuat hati berdebar.

Kecuali Rea. Remaja itu hanya kuanggap murid. Tidak lebih. Sepertinya aku harus segera mencari pacar lagi. Minggu depan ada pertemuan rutin guru SMK, siapa tahu bisa mendapatkan gebetan.

Haha!

Aku menyalakan motor, jam sekolah sudah berakhir lima belas menit yang lalu. Beberapa siswi masih terlihat bergerombol. Mereka berjalan menuju pagar. Rea terlihat paling bercahaya dengan tas ransel biru navy di punggungnya.

Sejak mimpi tak senonoh tempo hari, aku sebisa mungkin menghindari bertatap muka dengan Rea. Kami berinteraksi seperlunya.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Rea berlari mengelilingi halaman sekolah. Ia dikejar oleh teman-temanya. Setelah tertangkap, ada seorang yang memecahkan telur di atas kepalanya. Satu kantung tepung membuat rambut dan tubuh gadis itu menjadi putih.

"Selamat ulang tahun, Rea!"

"Hei kalian!" Aku berteriak  gahar.

Mereka tertawa, berlarian keluar pagar meninggalkan Rea yang membersihkan telur dari rambutnya.

"Titip Rea, Pak!" seloroh salah satunya.

Aku mematikan mesin. Mendekati Rea yang menjerit jijik.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Amis, Pak! Bau ..."

Rea melemparkan ranselnya padaku. Ia berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar. Rambutnya basah. Tetesan air membuat seragam putihnya melekat di kulit.

"Pakai ini. Ayo kuantar pulang." Aku membuka jaket, memberikan pada gadis yang menggigil di depanku. Dengan cepat ia memakai jaket yang sudah dua minggu nggak dicuci.

Semoga Rea betah dengan bau keringatku.

Motor matic kunyalakan, Rea duduk di belakang. Dia menyebut sebuah alamat yang tak jauh dari sekolah.

"Lewat jalan tikus saja, Pak. Takut ada polisi."

"Tunjukkan jalannya."

"Masuk gang itu, Pak."

Motor melaju pelan. Menerobos gang-gang sempit. Polisi tidur tak terhitung banyaknya. Setiap lima meter pasti ada jendulan. Setiap melewati jendulan, jemari Rea berpegangan pada pinggang.

Ah, cobaan! Alamat nanti malam bakalan ngompol lagi.

"Stop di sini, Pak. Itu rumahku." Rea menepuk pundak. Aku menghentikan laju kendaraan.

Ia turun, mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju rumah mungil bercat biru muda. Sempat-sempatnya gadis itu melambaikan tangan. Senyumnya membuat jantungku rontok.

Nggak boleh. Dia adalah muridku. Seorang guru pantang menyukai siswanya sendiri. Kalau guru sampai tak bisa mengendalikan napsu, apa yang akan terjadi dengan generasi penerus bangsa ini. Di luar sana, banyak oknum nakal. Mereka menggunakan jabatannya untuk memperdaya gadis muda. Iming-iming nilai bagus dan bocoran soal ujian sudah cukup membuat mereka melepas harga diri.

Aku beda. Tujuanku menjadi guru semata-mata karena ingin berbagi ilmu yang bermanfaat. Bukan untuk mencari mangsa.

***

"Rendra, ada yang mencari." Mama memanggil dari lantai satu. Suaranya kerasnya seolah mampu menembus dinding.

Aku menghentikan kegiatan bermain game Mobile Legend. Hari libur memang paling seru dipakai untuk santai di rumah. Dengan malas, aku turun ke ruang tamu.

Rea sudah duduk manis di atas sofa hitam.

"Pak Rendra ...." Mata Rea terbelalak, sedetik kemudian, tawanya terlepas. "Bapak kalau pakai kaus oblong kelihatan seperti anak kuliahan."

Itu pujian apa hinaan?

"Kenapa kamu kemari, Rea?"

"Aku mau mengembalikan jaket. Terima kasih, ya." Rea memberiku tas kertas. "Maaf, Pak, terlambat mengembalikan."

"Kukira kamu sudah membuangnya."

"Nggak, Pak. Aku merawatnya, kok. Jaket Bapak sudah wangi."

"Oke, terima kasih."

"Pak Rendra ada acara?"

"Ada, main game."

"Mau nggak jalan-jalan sama aku?"

"Hei, nggak etis guru jalan sama murid."

Rea berdecap. Dia menatap mataku tajam. "Nggak ada larangan kalau murid suka sama guru."

"Rea, kamu itu cewek. Jangan terlalu agresif begitu."

"Jujur salah satu prinsipku."

"Jujur apa?"

"Aku suka sama Bapak."

" .... "

Apa! Aku ditembak?! Apa Rea waras? Mungkinkah aroma jaketku membuat dia jatuh cinta?

"Rea, sebentar lagi kamu ujian, setelah lulus harus kuliah. Konsentrasi saja pada pelajaranmu."

"Aku nggak kuliah, Pak. Tujuanku masuk SMK supaya lulus bisa kerja. Lalu menikah."

Uhuk! Dasar gadis ini.

"Jadi?"

"Aku mau menikah sama Pak Rendra."

Sekarang aku dilamar?! Gadis ini benar-benar gila. Entah dapat keberanian dari mana, telunjukku menyentuh ujung hidung mungilnya.

"Sana pulang dan belajar. Dapatkan nilai paling bagus. Buat orang tuamu bangga."

Rea terpaku. Dia mengayunkan tinju ke dadaku. Lidahnya menjulur. Gadis itu berbalik arah. Sosoknya hilang dibalik pintu.

"Dasar gadis nakal," sungutku.

Ah, sepertinya hatiku sudah terperangkap dalam kepolosannya. Ataukah kenakalannya?

"Ehem!" Mama berdehem sembari menyandarkan punggung ke tembok. Wanita berkulit kuning langsat itu senyum-senyum nggak jelas.

"Mama, ada apa cengingisan?"

"Akhirnya ada gadis yang mau sama putra Mama ini. Ken Rendra Bayu Agung, sepertinya sebentar lagi kamu akan menikah."

"Ish, omongan gadis kemarin sore digubris. Dia itu cuma main-main, Ma. Udah ah, aku mau balik ke kamar lagi."

"Tunggu, nama gadis itu siapa?"

"Dia Rea, Ma."

Aku berjalan melewati mama. Kudengar beliau berguman, "Rearen, cocok banget."

Rupanya jaman now, penyakit gila sudah menjangkiti para wanita.

Rearen? Kedengaran konyol, kan? Bagaimana menurutmu?

Next
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariefky dan 15 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
Enjoy
"jujur adalah prinsipku" wuuusshh prinsip yang sangat emejing dmn orng" mengatakan "jujur ajur"(jujur hancur).nice sistt teruskann
profile-picture
vloggunawan90 memberi reputasi
save page one.....
Quote:


Siyap gan
Quote:


Makasih telah mampir
Quote:


Teruskan sist kayaknya seru ceritanya..happy writing:v
Ditunggu cerita selanjutnya sis emoticon-Embarrassment

Jangan pakek lama yah nanti gosong emoticon-Embarrassment
lanjutkan ganemoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Rate 5 Star
Wiihhh ada yg anget nih emoticon-Stick Out Tongue

Ijin bangun hotel gan emoticon-Shakehand2
Diubah oleh auliakhair
wihh ada yang baru lagi nih 😁
numpang ngekost gan emoticon-Shakehand2
Diubah oleh thdp38
numpang gelar tikar gan. sambil nunggu update lagi. emoticon-Shakehand2

Gadis Nakal

(SFTH) Gadis NakalCanva


Part 2



"Re, menurut loe Pak Rendra ganteng gak tuh?" Nay, sohib karibku terlihat sangat terpesona sama guru akuntansi pengganti di sekolah kami yang baru saja bertugas beberapa minggu.

"Pak Rendra? Pasaran sih mukanya, masih ganteng Mang Jono, kang sampah komplek gue." Malas kutanggapi juga pertanyaan Nay.

"Bujug, gile bener loe, masa cowok mirip Vino G Bastian loe samain sama tukang sampah. Males ah. Ilfill gue." Nay bersungut.

Aku ngakak sampai kesedak siomay yang hampir tandas.

"Lagian loe ada-ada aja. Udah yuk, bentar lagi masuk, pak Rendra bisa bertanduk kalo kita telat lagi." Aku bangkit.

"Emang loe pikir pak Rendra badak, bertanduk?"

"Nay, badak itu bercula, bukan bertanduk, yang bertanduk itu kucing," jawabku asal.

"Rea!"

Wajah polos Nay terlihat lucu kalau lagi marah, dia cantik, kaya, sayang otaknya sedikit kecetit, jadi mikirnya suka lemot, harus di-upgrade ke yang lebih baik.

Selama di SMA aku harus mau sebangku sama nih anak, kata maminya sih wajib bantuin dia belajar, imbalan yang aku dapet ya semua kebutuhan sekolah maminya Nay yang nanggung, gak rugi lah, biar ngomong sama dia harus diulang-ulang, mayan buat ringanin beban Ibuku.

"Nay, gue es teh manis satu, siomay porsi besar satu." Telunjukku mengarah pada gelas dan piring di atas meja kantin.

Nay mengangguk pasrah

Aku menepuk bahunya.

Kami berjalan beriringan menuju kelas.

Di depan kantor kami berpapasan dengan sosok yang tadi diperbincangkan, yaps Pak Rendra.

Aku membuang muka acuh. Sementara Nay terlihat salting.

Elah, nih bocah! Keselek jambu monyet kali, matanya melotot saat wajah guru honor sok ganteng itu tersenyum ke arah kami.

"Ayo masuk! Kebiasaan kalian telat." Kini wajah sok tampan itu mulai garang, atau digarang-garangkan, aku malas nyari tahu.

Kami pasrah digiringnya masuk kelas.
Sok banget kan nih gurhon, sok cakep, sok pinter lagi.

Seisi kelas bersorak melihat kedatangan kami, entah karena ada gue, Rea. Atau karena ada pak Rendra, otak gue juga emoh mikirin itu.

"Nay, gue mules." aku memegang perut.

Sementara pak Rendra sibuk menjelaskan materi.

"Kenapa kamu, Rea?"
Hah, nih guru punya Indra Bekti kali ya, eh indra ke enam kali, kok bisa denger bisikan gue ke Nay tadi, si Nay aja minta diulang.

"Jangan bilang kamu lagi nyari alasan biar gak ikut pelajaran saya lagi?"

Mata hitamnya menelisik wajahku.

"Saya sakit perut, Pak." Aku meringis.

"Alasan!" Pak Rendra mendengus kesal.

Aku tak berminat menjawabnya, perutku makin kacau. Mendadak aku ingin buang angin, sebagai pertanda sebentar lagi ingin buang hajat.

"Serius pak, tadi Rea makan siomay porsi besar, plus es teh manis." Nay menyela.

"Sepagi ini kamu makan siomay, plus es teh manis?" Pak Rendra menatapku.

"Iya pak, biasanya juga begitu, ntar aku yang bay ...."

"Nay!" Aku membentak Nay. Gadis itu terdiam menutup mulutnya,

"Oh, jadi kamu tukang palak?" Pak Rendra mendekat.

"Siapa yang malak, orang Nay ikhlas kok, iya kan, Nay?" Mataku mendelik kearah teman sebangkuku itu. Dia mengangguk.

Dunia aman.

"Iya lah, orang kamu ngancam dia. Lain kali awas kalau saya dengar kamu malakin teman-teman lagi," ujarnya tegas.

Aku mencibir, bodo amat!

"Bruttt!"

Aku menutup bokong, sayang suara kenalpot racingku sudah memasuki telinga para siswa tak terkecuali pak Rendra.

"Rea ...!" Para siswa mendadak jadi paduan suara.

Aku mesem manis, cuek, rasanya plong banget.

Apalagi saat melihat teman-teman menutup hidung, imbas dari knalpot racing dan polusi udara yang diakibatkannya.

Mereka ngedumel panjang pendek, Nay sampe mau muntah, tapi dia telan lagi karena rasa takutnya sama aku. Kasihan banget kamu, Nay!

Sekilas kulirik pak Rendra, pipinya bersemu merah.

Hmmm! Aku kentut aja dia suka gimana kalau tau ukuran dadaku 40+? Bisa kelojotan nih cowok!

***

"Pak, udah beres nih, kapan Bapak mau keluar? Kami mau ganti baju olah raga, nih," ujarku kesal setelah pelajarannya berakhir, karena nih guru betah banget di kelas.

"Ganti aja di kamar mandi," jawabnya, tanpa melihat ke arahku.

"Ogah pesing, apa bapak mau liat kita-kita ganti baju juga?" tanyaku seraya membuka kancing baju seragam.

"Oke, Rea, oke!" Dia ngibrit ninggalin kelas, kami ngakak berjamaah.

Ratih, Sarah, dan Vina mendekat ke arahku.

"Re, mau gak taruhan?"

"Taruhan apa?"

"Taruhan, siapa yang bisa bikin pak Rendra jatuh cinta bakal kita jajanin selama satu bulan penuh." Ratih tertawa.

"Pak Rendra?" Aku tergelak.

"Yoi, pak Rendra, Re."

"Kecil dia mah, pak Feri aja kepsek bisa gue bikin jatuh cinta." Aku membusungkan dada.

"Sombong banget, itu dada gak usah dimaju-majuin Re, udah gede tau." Vina mendelik sebal.

Aku ngakak, sambil kembali membusungkan dadaku, kini lebih maju lagi. Alhasil buah dadaku yang ukurannya sering membuat mata para cowok di sekolah melotot itu terlihat semakin menggoda.

"Rea!" Anggota geng Kucrit tapi seksi itu semuanya berteriak.

Aku sih cuma senyum manis ala Rea, yang pasti bakal bikin pak Rendra kesemsem.

"Oke, gue terima tantangan kalian, tapi jangan ingkar janji ya, ingat satu bulan penuh. Plus gue minta smartphone kalau rencana ini sukses bikin pak Rendra nangis air mata darah saat gue putusin nanti."

"Eits! Ada syaratnya loh Re." Sarah menambahkan.

"Apalagi?" Bibirku manyun.

"Kalau loe jatuh cinta beneran sama pak Rendra traktiran batal, dan gantinya loe yang harus traktir kita semua selama satu bulan penuh." Ratih menatapku.

"Elah gitu doang, keciiiil!" Aku menjetikkan jari.

"Oke, kita deal ya."

"Oke, Deal!"

Akhirnya deal juga taruhan gila tapi menantang ini.

Jangan sebut aku Rea kalau cuma naklukin mahluk jelek kek pak Rendra aja nyerah.

***

Rencana satu, dua, dan tiga udah berhasil. Aku pura-pura ultah,  ditolongin,  ngembaliin jaket, plus nyatain cinta sama sosok paling menyebalkan di sekolah ini.

Dan kini Aku gelisah nunggu dia nerima cintaku!

Rea!  Istighfar Re, kok wajah pak Rendra sering muncul di benak, ya?

Hushhh!
Sana gih, Pak, jangan nongol di pikiranku, bapak bukan tipe aku. Ketuaan, gak level tau!

Aku mengusir sosok itu berkali-kali, namun pak Rendra malah tersenyum manis.

Nay, benar juga dia mirip Vino G Bastian ternyata.

Alamak, bukannya gak boleh jatuh cinta beneran, bisa gagal traktiran satu bulan penuh plus ponsel impian!

Bisa bangkrut juga kalau harus nraktir teman-teman geng Kucrit tapi seksi selama satu bulan, bisa-bisa nih dada kebanggaan bisa  kugadein. Ih Naudzubillah, Re!

Gila benar-benar gila!

Next
profile-picture
profile-picture
secretos dan ojan.aja memberi reputasi
Naroh sandal dsni ahh,,nunggu apdet'an.
Klo dah bnyk part di index dong sis..
emoticon-Angkat Beer
Quote:


Belum bisa cara indeks. Gmn caranya gan? Bisa ajarin?
Keep update sis emoticon-Big Grin
hahahaha. koplak juga ya Rea. masak kentut dalam kelas, pake segala polusi di bawa2 lagi. Lanjut lagi sis... emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Quote:


Siyap gan
profile-picture
gw.kenshin1601 memberi reputasi
Quote:


Oke besok ya updatenya
mak jlebb... jomblo menahun...
Quote:


Di tunggu deh update nya. Yg banyak dong sis, biar puas bacanya. Heheheheemoticon-Recommended Seller
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di