alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rindu Dalam Secangkir Matcha Latte
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb47d52018e0d54a931b0f4/rindu-dalam-secangkir-matcha-latte

Rindu Dalam Secangkir Matcha Latte

Part 1

"Tahukah kamu, siapa orang yang paling kubenci di dunia ini?" Tanyaku sambil membuang pandang ke luar jendela.

Lelaki di sebrang mejaku malah cengengesan. "Siapa?"

Kutatap matanya yang polos itu, "kamu! Kamulah yang paling kubenci, sekaligus juga paling kucintai." Dengusku sebal.

"Kamu kalau lagi marah makin terpancar aura cantikmu. Marah terus ya tiap hari, biar makin cantik." Ujarnya santai.

Aku memukul meja dengan telapak tangan kanan, "Aku serius, Yanuar! Kamu membuatku frustasi. Aku menunggu kamu beberapa hari lamanya dan kamu tidak pernah kelihatan. Di kosan, di kampus, di rumah temanmu nggak ada. Sebenarnya kamu pergi ke mana!?" Kataku nyaris meratap.

Yanuar masih senyum-senyum. "Belum saatnya kamu tahu." Ucapnya dengan masih amat santai.

"Sok misterius!" Umpatku.

"Raini, dengar! Aku memang sering menghilang, tapi bukan berarti aku meninggalkanmu. Percayalah, aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Suatu saat akan kuberitahu semuanya kepadamu."

"Aku mau kita putus!" Kataku cepat. "Putuskan saja pertunangan kita. Aku nggak mau menikah dengan lelaki yang penuh teka-teki." Pungkasku lalu berdiri dan dia tidak mencegah. Kuhampiri kasir dan mengeluarkan dompet.

"Dua cangkir matcha latte... Seratus ribu, Mbak." Kata kasir.

Aku tertegun, lalu berbalik ke meja tempat kami duduk tadi. Aku pasti akan merindukan minuman ini dan seluruh kenangan tentangnya, juga tentang lelaki itu. Tapi aku sudah memutuskan, bahwa hatiku bukan pelabuhan yang bisa dia singgahi sekehendak hati, lalu dia kembali berlayar tanpa memberi kabar akan ke mana dia.

"Raini, ke sini sebentar." Bujuk Yanuar dari mejanya.

Aku diam.

"Raini, kemarilah. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Terserah kamu mau terima atau tidak, tapi dengarkanlah dahulu."

Aku bimbang. Kuhampiri atau tidak, ini tentang kelanjutan masa depan hubungan kami. Aku memejamkan mata cukup lama dan sepertinya aku harus siap mendengar semua teka-teki tentang lelaki yang paling kubenci dan kucintai ini.
(*)
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Part 2

Yanuar adalah kawan dekatku di kampus. Hari demi hari kami lalui bersama, hingga kebiasaan itu berubah menjadi tak biasa. Sesuatu bernama 'cinta' itu hadir sebagaimana lazimnya jika perempuan dan laki-laki menghabiskan waktu bersama-sama. Aku mengajaknya menikah!

"Kita nikah aja kali Yan." Ujarku.

"Nikah? Kapan?" Tanyanya santai.

"Setelah lulus kuliah?" Tawarku.

"Oke." Dan benar-benar biasa tanpa sesuatu yang disebut romantis. Apakah memang begitu, cinta yang dimulai dari persahabatan?

Kami lulus kuliah, dia datang menghadap ayahku yang memandangnya penuh selidik. Yanuar dengan senyum santainya menjelaskan maksud itu.

"Pak, izinkan saya menikahi Raini..." Katanya. Ayah cemberut. Entah karena tidak menerima Yanuar, atau karena tidak rela putri tunggalnya ini menikah secepat ini.

"Punya apa kamu?" Tanya ayahku, standar sekali.

"Saya... Begini Pak, kalau soal harta saya belum punya. Saya baru lulus kuliah, dan sekarang sedang bekerja bersama teman merintis bisnis percetakan buku."

"Buku?" Potong ayah. "Apa masih ada orang Indonesia yang baca buku? Sekarang zamannya gadget, koran dan majalah apalagi buku sudah masuk era digital. Yakin bukumu bakalan laku?"

Yanuar menahan senyum, "Yaaah.... Pasti laku. Nggak semua orang Indonesia suka e-book kok Pak. Saya yakin masih banyak yang suka buku cetak."

Ayah menatapku, aku tersenyum. Ayah merestuinya! Ayahku memang predator buku, ada ruangan khusus yang diubah menjadi perpustakaan tempat menyimpan koleksi bukunya. Pasti karena kesukaan ayah berkaitan dengan pekerjaan yang Yanuar tekuni saat ini. Ah, aku senang sekali....

Namun saat ini, ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, ada rasa sangat sedih yang menjalari setiap urat dalam tubuhku. Yanuar mengatakan apa yang menjadi rahasianya, tentang mengapa dia sering menghilang tanpa kabar.

"Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat, dan kamu akan tahu apa yang kulakukan selama ini."
(*)
lanjut lagi dong sis...
Quote:


Siaaap
Taruh jangkar, trit star up kayak gini harus di bantu sundul emoticon-Malu (S)
Quote:


Thanks gan emoticon-Angel

Part 3

siapa yang kulihat di depan pagar rumahku? Yanuar? Dia mengejar saat matanya tertumbuk padaku. Aku melotot padanya.

"Mau apa kamu ke sini?"

"Rain. Aku minta maaf. Aku salah, nggak cerita sejak awal. Sekarang, aku mau cerita."

"Cerita apa lagi?"

"Ada yang terlewat, tentang..."

"Perempuan yang hamil tua dan anak kecil yang manggil kamu Bapak?"

"Ya.... Kamu harus dengar semuanya."

"Maaf aku nggak ada waktu buat denger ocehan kamu. Permisi!" Kataku sambil turun dari motor dan membuka pintu pagar. Memasukkan motorku, lalu mengunci kembali pintu pagar.

"Rain, dia bukan istriku!" Kata Yanuar tegas.

"Aku masih cukup paham atas apa yang terjadi. Anak itu manggil kamu 'Bapak'. Kamu mau mempermainkan aku?"

"Kamu ingat Reza?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Aku diam.

"Reza teman baikku sejak SD. Kawan yang sangat bengal, pembuat onar dan suka bikin masalah itu." Jelasnya karena aku diam saja.

"Mereka adalah anak istri Reza." Lanjut Yanuar. Aku terpaku. Tampak Yanuar menundukkan kepala, menceritakan kembali kisah Reza sahabat baiknya sejak kecil.

"Reza meninggal enam bulan lalu..." Ucap Yanuar. "Sejak itulah aku merasa bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya. Ya, aku memang sering datang ke rumahnya untuk membantu mereka. Tak lebih. Alasan kenapa aku sering menghilang, karena aku harus kerja ekstra untuk memberi mereka bantuan."

Aku terhenyak. Benarkah yang diceritakannya itu? (*)

Part 3.2

Aku diam menatap langit yang mulai murung, wajahnya kelabu. Di teras rumah Nesa aku duduk menanti si tuan rumah keluar lagi setelah tadi menyambutku hangat.

"Ada apa sih Rain?" Tanya Nesa.

"Aku putus sama Yanuar. Pernikahan itu batal." Jawabku pelan.

"Apa Rain? Kamu bercanda? Jangan gegabah, kenapa tiba-tiba gini Rain?" Sergahnya.

"Aku mantap. Dia udah punya istri dan anak!" Kataku sengit. "Istrinya bahkan sedang hamil tua."

Nesa mengusap punggungku. "Jadi, kamu akhirnya ketemu dengan perempuan itu?"

"Apa Nes? Kamu nanya apa aku akhirnya tahu? Maksudmu, kamu udah tahu lebih dulu?" Tak dapat kutahan emosi yang bersarang di dada.

"Aku hanya nggak mau merusak hubungan kalian..." Lirih kata Nesa.

"Tapi sekarang kamu lihat? Berantakan! Kalau aku tahu lebih dulu, aku nggak akan mau menerima lamarannya!" Kataku. "Ah, aku nggak sudi melihat wajahnya!"

Seketika tangisku pecah, bersamaan dengan tumpahnya air dari langit. Yanuar sudah menikah dan Nesa tahu itu tapi dia merahasiakannya dariku!

"Rain, Rain dengerin aku dulu Rain..." Teriak Nesa berusaha mencegahku. Bagaimana bisa aku menghentikan langkah, saat aku menyadari kebodohanku selama ini. Buat apa aku percaya pada seorang sahabat yang sudah diam-diam menyembunyikan hal sepenting ini?

Aku buru-buru mengendarai motor matic meninggalkan rumah Nesa. Perasaanku berkecamuk antara marah, kesal dan ingin memaki.

Entah kenapa aku ingin segera sampai di rumah. Namun, di tengah perjalanan aku malah melihat Yanuar dan perempuan itu sedang berdiri di tepi jalan, seperti sedang menunggu angkutan umum. Rasanya ingin kuhantamkan saja motorku ini ke arah mereka!

Bersambung ke Part 4

Part 4

Rindu dalam Secangkir Matcha Latte
(Part 4)

Lima tahun lalu....

Anggaplah hujan merupakan takdir yang tidak diduga, seperti pertemuanku dengan Yanuar. Seorang pemuda berkemeja biru berlari ke arahku, ah tidak, maksudku ke halte yang di situ ada aku. Bajunya basah kuyup kena hujan, dia melindungi kepalanya dengan ransel lusuh yang kemudian dikibaskannya sembarang.

Aku mengibaskan lengan bajuku yang terkana cipratan air dari rambut gondrong dan ransel lusuhnya itu.

"Oh, hey, maaf. Gak sengaja." Katanya dengan senyum lebar.

"Ya." Sahutku sekenanya.

"Gak sengaja, tapi niat. Niat biar bisa ngobrol sama kamu." Lanjutnya, disertai cengiran lebar.

"Apa sih?" Desisku.

"Nggak ada apa-apa. Di sini kan cuma ada aku, dan kamu." Katanya. Refleks aku tertawa kecil.

"Apaan kali."

"Kayaknya hujannya awet ya. Seakan-akan nggak mau berhenti biar kita bisa lebih lama berteduh di sini."

Makin lama pemuda aneh ini membuatku tidak nyaman. Maka aku menghindar beberapa langkah, sambil berharap bus tujuan Cilegon segera datang.

"Kamu pasti risi ya deket-deket sama aku?" Tanyanya. "Sudah kuduga, kamu pasti lupa sama aku."

Aku menoleh, "Hah? Emangnya kamu siapa?"

"Terima kasih udah nanya lebih dulu. Kenalin, aku Yanuar. Kamu?" Ujarnya sambil mengulurkan tangan. Aku menggeleng, dia menggunakan trik aneh untuk berkenalan.

Syukurlah bus berhenti tak lama kemudian, aku bergegas naik. Lumayan penuh, hanya ada satu jok kosong di bagian belakang. Aku menuju ke sana. Rupanya, Yanuar juga ikut naik. Dia tidak mendapat tempat duduk, maka Yanuar berdiri persis di sebelahku.

"Kamu ngikutin aku?" Tanyaku curiga.

"Heuh! Jangan GR kamu, mentang-mentang kamu cantik terus bisa nuduh aku sembarangan. Rumahku di Merak, ini bener kan busnya?"

Aku diam, terbuai oleh rintik hujan di luar jendela. Baru sebentar berjalan, penumpang di sebelahku turun. Aku pindah ke sisi jendela, otomatis Yanuar duduk di sebelahku.

Aku sudah hendak protes, dia segera berkata, "Apa? Kamu mau ngelarang aku duduk di sini? Emangnya ini bus punya bapak kamu? Hey, kamu nggak bisa ngelarang siapapun duduk di sini, sebagaimana kamu nggak bisa ngelarang siapapun buat suka sama kamu." Katanya lagi.

Keningku mengernyit.

"Namamu Raini Febriasari kan? Persis seperti hari ini, namamu seperti hujan di bulan Februari..." Ujar Yanuar mengejutkan.

"Siapa yang nggak kenal kamu. Mahasiswi cantik, berbakat, yang baru saja memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Juara debat antar fakultas, dan menjadi pembicara hebat di seminar mahasiswa. Apa aku salah?"

"Ka...kamu?" Aku tercekat.

"Ya, kenapa?" Dia balik tanya.

"Kenapa kamu tahu itu?"

Yanuar tertawa. "Cuma cowok culun yang nggak tahu kamu, Rain..."

Kurasa wajahku memerah, kualihkan pandang ke luar jendela. Hujan masih begitu deras.....


*Bersambung ke Part 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di