alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Automotive / Otomotif /
Kisah Nelangsa Mazda MR90, Mobil Rakyat yang Gagal Total
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb3dc19f4d69547325e7fd0/kisah-nelangsa-mazda-mr90-mobil-rakyat-yang-gagal-total

Kisah Nelangsa Mazda MR90, Mobil Rakyat yang Gagal Total

Kisah Nelangsa Mazda MR90, Mobil Rakyat yang Gagal Total

Halo agan-agan yang budiman, selamat pagi di awal pekan yang cerah.

Kisah Nelangsa Mazda MR90, Mobil Rakyat yang Gagal Total

Jelang Pemilu serentak dan Pilpres 2019, yang sedang memasuki masa tenang, kita membahas yang tenang-tenang aja ya gan.. hehe. masih seputar otomotif nasional, kita flashback ke akhir 80-an dan awal 90-an, dimana pernah ada proyek mobil nasional yang dicetuskan bos besar Indomobil, Soebronto Laras.

Seperti dikutip Historia, Soebronto Laras, ingin mengubah imejmobil rakyat dari berbentuk Kijang dan Carry menjadi mobil penumpang sebenarnya. Kijang dan Suzuki Carry dirancang berdasarkan mobil niaga atau mobil barang yang dijadikan mobil penumpang.

"Obsesi saya adalah membuat mobil rakyat atau yang saya sebut Mobira,” kata Soebronto dalam memoarnya, Meretas Dunia Otomotif Indonesia.

Soebronto menggandeng Mazda agar mau menjadi pioner membuat mobil rakyak di Indonesia. Selama ini semua mobil yang masuk cuma dirakit dan terkena bea masuk yang sangat tinggi.

Sementara itu, Kijang dan Suzuki Carry dibebaskan dari pajak dan bea masuk. Untuk menghindari bea masuk, komponen-komponennya akan dibuat di Indonesia. Mazda setuju namun tidak bisa membuat model sedan baru. Sehingga dipilih model Mazda 323 Familia yang diproduksi pada 1978 sampai 1980.

Kisah Nelangsa Mazda MR90, Mobil Rakyat yang Gagal Total

Mazda Motor Corporation, Indomobil, dan Sumitomo Trading Corporation bermitra mendirikan PT Mazda Indonesia Manufacturing (MIM). Peralatan dan segala macam teknisnya disediakan Mazda, sementara lokasi manufaktur disediakan Indomobil di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi. Pada 1 Agustus 1989, peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT MIM dihadiri Dirjen Industri Mesin, Logam Dasar dan Elektronika Departemen Perindustrian Soeparno Prawiroadiredjo dan Bupati Bekasi Suko Martono.

Pembangunan pabrik direncanakan selesai pada April 1990 dengan investasi keseluruhan sebesar Rp60 miliar. Ditargetkan pada Juni atau Juli 1990, setelah trial run (pengujian), Mobira Mazda dapat diproduksi massal. Mantan pembalap nasional, Benny Hidayat, jadi instruktur trial run mobil rakyat itu.

“Ngetes mobil rakyat itu beberapa kali bolak-balik Jakarta-Bandung nonstop, tidak boleh berhenti. Berhenti sebentar hanya untuk ganti sopir. Tidak hanya membawa muatan orang, tapi juga bawa muatan karung dan timah supaya tidak oleng,” kata Benny kepada Historia.

Selesai pengujian yang terbilang sukses, Soebronto menamakan mobil rakyat itu MR 90. “Ketika mengambil nama itu, saya memikirkan bahwa mobil-mobil itu nantinya akan menjadi mobil rakyat tahun ‘90-an karena saat itu kita sudah masuk ‘90-an,” kata Soebronto.

Soebronto didampingi Menteri Muda Perindustrian, Tungky Ariwibowo, memperlihatkan prototipe MR 90 kepada Presiden Soeharto. “Wah, ini bagus untuk dikembangkan,” kata Soeharto.

Soebronto menyampaikan karena MR 90 jenis sedan maka akan terkena pajak penjualan barang mewah 30 persen. Soeharto menyuruh Tungky untuk membicarakan dengan menteri keuangan agar pajak penjualan dapat dihapuskan supaya harganya bisa lebih murah lagi.

“Saya menyimpulkan bahwa Pak Harto senang dengan adanya prototipe itu,” kata Soebronto.

Akhirnya, PT MIM memproduksi massal sedan MR 90. Menjelang peluncuran, Soebronto didampingi Presiden Direktur Mazda yang datang khusus dari Jepang, menyerahkan lima mobil MR 90 produksi pertama kepada Soeharto dalam suatu upacara di Bina Graha.

Namun, Soebronto benar-benar kaget ketika permintaan bebas pajak penjualan yang diajukan ditolak menteri keuangan. Alasannya “mobil itu sedan dan tidak bisa membicarakan lokalisasi karena belum ada peraturan mobil nasional. Sehingga PPN BM-nya adalah 30%.”

“Saya seperti dihantam. Mati saya!” kata Soebronto.

Niat Soebronto menjadikan MR 90 sebagai mobil rakyat gagal. Terkena pajak PPN BM 30% membuat harga MR 90 lebih mahal dari Kijang.

“Saya pikir dapat dukungan orang nomor satu, tidak ada yang berani bagaimana-bagaimana. Tapi peraturan sudah baku. Obsesi kami menjual mobil murah tidak terwujud. Bayangkan waktu itu kami harus menjual Rp22 juta, sementara Kijang cuma Rp18 juta, jadi beda Rp4 juta sama Kijang. Gagallah kita,” kata Soebronto.

“Kalau tidak kena pajak, mungkin harga MR 90 cuma sekitar Rp12 juta,” kata Benny Hidayat.

Mazda MR 90 bermesin 1.300 cc tak laku di pasaran. Target 1.000 unit per bulan tidak tercapai, hanya 150-300 unit. Mobil banyak yang rusak karena menumpuk di gudang. Akibatnya, PT MIM bangkrut. Semua mesin dilelang dan lahan serta pabriknya dibeli Suzuki. Soebronto memindahkan sebagian karyawannya ke Suzuki.

“Peristiwa itu menjadi pengalaman yang sangat pahit buat saya, apalagi enam tahun kemudian lahir mobil nasional yang dilindungi SK (Surat Keputusan) Presiden Soeharto dan dihapuskan dari semua kewajiban pajak dan sebagainya,” kata Soebronto.

Mobil nasional itu adalah Timor milik Tommy Soeharto, putra Presiden Soeharto
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
oh MR nya = mobil rakyat
jaman sma dulu pernah naksir ama mobil ini, dulu temen malah ada yg pake mazda vantrend, versi estatenya mr90...
entah apa yang terjadi seandainya mobil ini bebas pajak waktu itu...mazda dimana2 kali ya...padahal keren lho
Saya termasuk orang yang mengikuti perkembangan otomotif tahun 90-an. Menurut saya Salah satu andil kegagalan MR90 itu karena modelnya kuno, teknologi ketinggalan dan fiturnya minim. Ibarat jaman sekarang, MR90 itu spt Datsun Go.

Bayangkan, tahun peralihan era 80-an ke 90-an, dimana mobil2 konvensional saat itu sdh menawarkan desain yang segar, seperti Toyota Starlet, Suzuki Forza, Daihatsu Charade, MR90 malah mengambil desain dari Mazda tahun 70-an. Pun tanpa adanya takometer (RPM) dan kaca panel instrumen dasbor model cungkup. Model tetek kalau orang bilang. Ini ciri mobil keluaran 70-an.

Ditambah lagi teknologi mesin bukan multi valve sperti yang saat itu sedang hits. Kalau tidak salah, MR dengan berbasis mesin Mazda lawas, hanya memiliki 8 katup. Kalah jauh dengan Starlet, Forza, Charade yang 12 valve. Plus pengapian MR90 masih menggunakan platina. Baru setelah manjadi Baby Boomer pengapian menjadi CDi (kalau salah mohon koreksi) dan fitur2 ditambah. Namun secara keseluruhan masih tetap sama.

Segmentasi MR90 dan Baby Boomer pun tdk jelas. Menyasar pasar kelas bawah jelas gak mungkin. Krn harga di atas Kijang. Sedangkan kelas bawah bermain di low minibus macam Zebra, Carry, Jet Star dan mentok di Kijang. Sedangkan kalangan menengah emoh pilih MR/BB. Krn segmen itu sudah bicara gengsi. Butuh yang tampilannya stylish dan kekinian. Sedangkan MR/BB, tidak bisa mengakomodir itu.

Di sinilah terlihat kalau suatu produk jika dibuat tanpa perencanaan dan survei yang matang akan menjadi sia-sia. Pun sampai sekarang masih ada produsen mobil yang membuat produk yang sebenarnya sdh tidak akomodatif. Namun mereka masih merasa "pintar" dengan pasar Indonesia.

Pasar Indonesia itu memang unik. Harga menjadi pertimbangan. Namun bukan berarti murah pasti laku. Apalagi yang murahan.

Diubah oleh antik_unik
Balasan post antik_unik
wuih agan expert sama mobil 90-an.. sepakat gaan, akhirnya nasib MR90 jadi mobil dinas TNI
Balasan post saldyaja
pelicin Subronto Laras waktu itu kayanya kurang gan hehe
Balasan post ocp yosep
hehe thx gan udah mampir
Balasan post diemasp
pasti agan diemas anak 90-an.. viva 90's hahaha
Balasan post papaganteng212
Duh saya jauh dr expert om.. hanya kebetulan hidup di jaman yang sama. Hehehe..

Ya proyek MR90 itu gagal bukan krn faktor dukungan pemerintah yang utamanya. Tapi karena perencanaan yang kurang matang. Ya (mungkin) karena tidak adanya survey terlebih dahulu ke pasar, ya karena kurang aware thd perkembangan jaman, ya karena tidak konfirmasi dahulu tentang perpajakan.

Pun seandainya MR90 dulu bisa dijual seperti pak SL bilang, 12jt, hasilnya juga gak yakin akan booming. Penjualannya akan mendingan iya tapi gak akan jadi primadona. Karena sama saja beli mobil Mazda 323 tahun 70'an tapi facelift yang kluar tahun 90.

Harus diakui, "Mobil Nasional" yang sukses itu hanya 2 di Indonesia, Kijang dan Avanza. Meski dengan embel2 merek Jepang, tapi kedua produk itu sejak awal di desain berdasarkan pasar Indonesia. Bukan melihat kesamaan pasar dengan negara lain. Jadi dirancang murni untuk Indonesia.
Quote:


Sepakat gan.. indonesia indentik dng 7-seater.

Hehe salam hormat buat agan..
Balasan post papaganteng212
Haduh.. salam hormat itu buat eyang, orang tua dan guru gan.. jangan ke saya.. kalau ke saya salam disko aja..

hmm gagal dia
jadi kalo punya obsesi yang nasionalis sifatnya mending ngegandeng anak presiden, jangan jalan sendiri
nice info
Padahal Enak nih mobil...
AC nya dingin..
awalnya tulisannya ringan, ujungnya ngebahas dinasti lagi haahha
wokh tetangga ane ada nyang pernah punya tuh warna merah, cuman dah dijual, ternyata lika-liku mr90 lumayan bersejarah yak
lebih keren dari kijang desain nya...

kijang = Kerja sama Indonesia & JepANG
Diubah oleh rahadianachmad
Quote:


Hormat juga ke sesama petrolhead 90an
Pertamaaaaaaa
Dan langsung gatot emoticon-Berduka (S)
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di