alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Kisah Musyiri, Keliling Jualan Buah agar Anak Bisa Sekolah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb37a53facb95355d1761d0/kisah-musyiri-keliling-jualan-buah-agar-anak-bisa-sekolah

Kisah Musyiri, Keliling Jualan Buah agar Anak Bisa Sekolah

Kisah Musyiri, Keliling Jualan Buah agar Anak Bisa Sekolah

jpnn.com - Musyiri sangat yakin bahwa Tuhan telah mengatur rezeki setiap umatnya. Hal itu yang membuat Musyiri bersemangat menjalani hari-harinya. Selain itu, ada satu penyemangat lain. Apa itu? berikut laporannya.


YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

Peluh keringat dipelipisnya terlihat mengucur deras. Sesekali, ia mengusapnya dengan sehelai kain yang setia menggantung di lehernya.


Setelah itu, Musyiri meneguk air dalam botol kemasan yang sedari tadi erat menempel di salah satu tangannya. Sejurus kemudian, ia merapikan beberapa jenis buah yang ia bawa dalam keranjang.


Warga Desa Bajur, Kecamatan Labuapi, Mataram, NTB ini sudah puluhan tahun menjadi penjual buah keliling di Kota Mataram. Mulai dari pisang, pepaya, rambutan, jambu biji, dan masih banyak jenis buah-buahan yang lain. “Alhamdulillah bisa ada pemasukan,” katanya.


Pria 60 tahun ini biasanya keliling untuk menjajakkan dagangannya sejak pukul 09.00 Wita sampai Pukul 17.00 Wita.



Sehari-hari, ia berjalan kaki dari rumahnya. Sekali waktu, ketika badannya kurang sehat, Musyiri memilih naik bemo atau naik ojek dan turun di sebelah Bank BTN di Jalan Pejanggik. Kemudian dilanjutkan berkeliling ke sekitar daerah itu. “Kadang pulangnya naik ojek lagi,” kata dia




Penghasilan yang ia dapatkan memang tidak seberapa, dibandingkan lelah yang menderanya. Dalam sehari, rata-rata ia bisa membawa pulang uang keuntungan Rp 50 ribu. Kalau ramai, bisa Rp 100 ribu. “Semuanya saya syukuri,” terangnya.


Buah yang dijualnya diambil dari Sesaot. “Sedihnya kalau buah itu busuk. Kan nggak bisa kita jual lagi, kadang-kadang saya makan yang bagian masih bagus, ada rugi sih karena nggak kejual, tetapi anggap saja belum rezeki,” jelasnya.


Mengais rezeki di Kota Mataram bermodalkan dua keranjang yang ia pikul setiap hari, memang tidak mudah. Terik matahari tidak bisa dianggap remeh. Maka tak jarang, karena usianya yang sudah kepala enam, ia sering dihinggapi rasa nyeri otot atau kelelahan.


Tetapi sebisa mungkin, Musyiri tidak ingin menyerah begitu saja. Ada istri dan enam orang anak yang harus ia nafkahi. “Ada tiga yang sudah nikah, tiganya lagi masih sekolah,” terangnya.



Meski penghasilannya tak seberapa, tapi Musyiri tetap ingin bertahan menjadi penjual buah keliling. Itu dilakukan agar anak-anaknya bisa sekolah. Minimal bisa menyelesaikan jenjang pendidikan SMA.



"Saya tidak mau mereka seperti saya, tidak pernah mengenyam pendidikan formal sejak kecil,” ungkapnya. (*/r3)



Sumber




Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di