alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
REKAYASA KASUS BMG AUSTRALIA PERTAMINA DAN ANAK PERUSAHAAN YANG "NAKAL"
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb2dbaceaab2513032d00b0/rekayasa-kasus-bmg-australia-pertamina-dan-anak-perusahaan-yang-quotnakalquot

REKAYASA KASUS BMG AUSTRALIA PERTAMINA DAN ANAK PERUSAHAAN YANG "NAKAL"


Mengikuti sidang pengadilan ex. Direktur Utama Pertamina dalam kasus akuisisi atau investasi Pertamina di Australia membuat masyarakat Indonesia semakin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun dirasakan berjalan sangat lambat, tetapi diyakini akan segera terungkap yang sebenarnya terjadi. Hal yang paling penting terjadi dalam kasus BMG, ternyata tidak lama setelah Pertamina Korporat "membeli" Hak Kelola atau Participating Interest 10% di Blok BMG, anak perusahaan PT. Pertamina Hulu Energy (PHE) merekayasa aset BMG tidak ada nilainya dan menghilangkan investasi Pertamina dalam pembukuan atau laporan keuangan mereka. Telah diberitakan melalui seluruh media cetak dan elektronik dengan waktu yang sangat lama sejak tahun 2017 terjadi masalah dalam akuisisi di Blok Migas Australia, tetapi akhirnya mulai terungkap bahwa terjadi kejadian dan keputusan yang sulit dipertanggung jawabkan dari anak perusahaan Pertamina yang mengelola investasi Pertamina di Australia.

Kejadian dalam sidang pengadilan juga terungkap adanya surat sakti Komisaris Pertamina Umar Said kepada ex. Dirut Karen Agustiawan yang menambah kecurigaan bahwa terjadi sesuatu yang "tidak beres" dalam penanganan kasus investasi Pertamina di Australia. Instruksi Umar Said diantaranya melakukan divestasi investasi Pertamina di Blok BMG, "menghilangkan" kepala legal Pertamina Genades Panjaitan dari "peredaran" dan terjadinya Jaksa uring-uringan pada saat pemeriksaan awal kasus BMG. Memang menarik bagi Majelis Hakim dan masyarakat Indonesia, Pertamina telah memberikan semua data ke Kejagung, tetapi "uring uringan" tetap terjadi.

Dalam pemeriksaan saksi di Pengadilan juga terungkap fakta Bahwa Blok BMG adalah Blok Migas yang sangat aktif dan beroperasi sejak Pertamina Akuisisi tahun 2009 hingga sekarang tahun 2019. Pemberitaan yang menyatakan bahwa Blok BMG adalah Blok Migas yang mati atau tidak aktif telah terbantahkan. Yang di suspend atau memasuki Non Production Phase (NPP) hanya lapangan minyak Basker, sedangkan komersial temuan gas Manta dan kegiatan eksplorasi tetap berjalan di Blok BMG hingga sekarang. Saat ini aset Migas Blok BMG bernilai 8 kali dibandingkan pada saat Pertamina Akuisisi. Tentu saja secara matematis Pertamina seharusnya untung besar dalam investasi di Blok BMG, tetapi ternyata Pertamina telah mengundurkan diri lebih dari 5 tahun dari Blok BMG (tahun 2013 atau sebelumnya?).

Diyakini bukan hanya Hakim yang mengamati fakta sidang pengadilan dengan seksama, tetapi para penegak hukum lain seperti KPK, Komite Yudisial para advocate dan lainnya diyakini mengamati dan mengikuti jalannya sidang BMG. Pemberitaan media yang sangat terbatas, menjadikan rekaman persidangan yang terbuka secara terbuka beredar luas bukan hanya di Indonesia tetapi hingga Luar negeri. Bagaimana tidak ? Akuisisi yang berhasil baik dengan harga pembelian oleh Pertamina yg kompetitif dan relatif murah telah masuk ke ranah hukum dengan tuduhan beberapa ex. Pimpinan Pertamina melakukan tindak korupsi.

AKUISISI

Kata-kata akuisisi menjadi terkenal di Indonesia, gara gara tuduhan tindak korupsi di salah satu investasi Pertamina di Australia. Akuisisi artinya adalah pembelian, tentu saja bukan sesuatu yang sulit untuk melakukan analisa, evaluasi hingga audit terhadap suatu pembelian atau Akuisisi. Apakah pembelian harganya wajar, kemahalan atau kemurahan, apakah aset yang dibeli adalah riil atau nyata, tidak palsu dan lain sebagainya. Internal Audit Pertamina telah memiliki sistem dan SOP untuk melakukan audit semua investasi yang dilakukan Pertamina, termasuk investasi di Blok BMG. Demikian pula BPK pun telah memiliki standar perhitungan kerugian keuangan negara untuk melakukan audit apabila terjadi kerugian keuangan bisnis atau kerugian keuangan negara. BPK dapat membedakan secara tegas dan jelas antara kerugian bisnis dan kerugian keuangan negara.

Pada tahun 2009 Pertamina berhasil melakukan Akuisisi Participating Interest (PI) atau pembelian Hak Kelola 10% ditiga Blok Migas di Australia yaitu Blok Basker, Manta dan Gummy (BMG). Tentunya Blok BMG adalah Blok Migas milik Pemerintah Australia, dikarenakan dibutuhkan biaya yang tinggi untuk investasi pencarian, pengembangan, produksi hingga penjualan minyak dan/atau gas bumi, maka Pemerintah Australia mengundang Investor untuk investasi di Blok atau lahan migas di Australia.

Sesuai dengan strategi pengembangan usaha yang umum terjadi di dunia, pada tahun 2009 Pertamina berhasil masuk pertama kali atau First Entry dalam Bisnis Hulu di Australia dengan melakukan Akuisisi "minority" PI di Blok BMG Australia. Tentu saja strategi first entry adalah strategi yang terbaik dipilih Pertamina, dibandingkan dengan Akuisisi majority PI sekaligus menjadi operator di suatu Blok Migas yang terletak di negara dan/atau area baru bagi Pertamina.

Tujuannya adalah meningkatkan cadangan minyak dan gas bumi, namun tentu saja tidak dapat diperoleh hanya dalam waktu yang pendek. Bisnis Hulu adalah bisnis jangka panjang, masa eksplorasi atau penemuan minyak dan/atau gas bumi dapat membutuhkan waktu hingga lebih dari 10 tahun, ditambah waktu yang diperlukan untuk pengembangan lapangan sekitar 3 hingga 10 tahun. Total waktu pengelolaan suatu lapangan migas yang telah berproduksi dapat mencapai waktu lebih dari 50 tahun, seperti Blok Mahakam di Kalimantan Timur. Pertamina melakukan pengembangan usaha hulu di Australia tentunya mempunyai target untuk dapat melakukan pengembangan usaha secara lengkap yaitu mulai eksplorasi, pengembangan lapangan, produksi hingga penjualan migas. Untuk melakukan bisnis Hulu secara lengkap.

Dalam kasus BMG masyarakat perminyakan dunia dikejutkan dengan pendapat komisaris Pertamina yang mengatakan akuisisi di Blok BMG harus langsung mendapatkan cadangan dan produksi migas yang besar. Dapat dipastikan Komisaris ini tidak mempunyai pengalaman dan gagal paham bisnis hulu migas, berapa biaya yang dibutuhkan untuk akuisisi atau pembelian Blok Migas atau lapangan Migas yang telah Produksi. Selanjutnya bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dari pembelian Blok Migas atau lapangan migas yang telah produksi ?. Diketahui pekerjaan atau investasi di lapangan migas yang telah berproduksi adalah merupakan bisnis hulu dengan tingkat relatif yang paling rendah, yaitu maintenance produksi, peningkatan produksi dengan secondary atau tertiary production? Sedangkan peringkat utama dalam bisnis hulu migas adalah kegiatan eksplorasi atau pencarian hingga ditemukan cadangan migas yang ekonomis untuk dikembangkan dan diproduksikan.

Bukan sesuatu yang mudah sebuah Oil Company berhasil menemukan lapangan Migas Baru di daerah atau negara baru, dibutuhkan pemelajaran dan pengalaman yang sangat cukup untuk berhasil melakukan bisnis hulu secara Lengkap (mulai dari kegiatan eksplorasi dan seterusnya).

Akuisisi minority Participating interest dan bertindak sebagai non operator yang dilakukan di Blok Migas yang telah terbukti ditemukan dan diproduksikan lapangan minyak, telah terbukti ditemukan lapangan gas dan sedang dalam tahap komersial pencarian pembeli gas terdapat potensi eksplorasi atau upside potential yang banyak seperti di Blok BMG adalah langkah paling strategis yang dilakukan Pertamina untuk first entry ke Australia pada tahun 2009.

Transaksi Akuisisi atau pembelian Participating Interest di Blok BMG dituangkan dalam dokumen SPA (Sale Purchase Agreement) dan perjanjian kesepakatan JOA (Joint Operating Agreement) dengan para Pemegang PI dan Operator di Blok BMG. Kesepakatan utama dalam SPA adalah pembelian Participating Interest 10% di Blok BMG dengan harga 30 juta USD dengan transaction date yang disepakati seperti tertuang dalam dokumen SPA.

Lembaga lembaga investasi international seperti JPMORGAN dan lainnya telah melakukan analisa, evaluasi dan komentar terhadap Akuisisi yang dilakukan Pertamina di Blok BMG. Bukan sesuatu yang sulit untuk melakukan analisa dan evaluasi Akuisisi, dikarenakan penjual PI adalah perusahaan yang tercatat atau listed di Bursa Australia dan cadangan di Blok BMG telah disertifikasi serta perhitungan aset Migas di Blok BMG mengikuti ketentuan SPE PRMS (Society petroleum Engineers Petroleum Resources Manage System).

Sebagai perusahaan BUMN, akuisisi Pertamina pada tahun 2009 di Australia telah dilakukan audit oleh internal auditor Pertamina dan BPK RI dengan hasil wajar dan tidak terjadi atau mengakibatkan kerugian keuangan negara.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa akuisisi Pertamina di Blok BMG Australia pada tahun 2009 adalah sangat stratejik dan sempurna sesuai dengan misi dan tugas Pertamina untuk meningkatkan ketahanan energi bagi Indonesia, besar transaksi akuisisi adalah kompetitif dan cenderung murah serta auditor negara BPK RI telah melakukan audit dengan hasil wajar dan tidak terdapat kerugian keuangan negara.

Namun Apa yang terjadi ? Ternyata penegak hukum di Indonesia mengatakan Pertamina salah, merugikan keuangan negara dan kemudian menuduh beberapa Pejabat Pertamina melakukan tindak pidana Korupsi, sungguh tragis dan konyol.

Pertanyaannya adalah dengan dasar serta alasan apa penegak hukum melakukan tuduhan yang keji dan tidak Manusiawi?

B. IMPAIRMENT

Ternyata terjadi GAGAL PAHAM dengan yang dimaksud akuisisi, mereka tidak mengerti perbedaan antara akuisisi dan kegiatan serta keputusan setelah Di Blok Migas setelah akuisisi. Mungkin mengerti kegiatan investasi dan operasi setelah Pertamina farm in dan sebagai Pemegang PI di Blok BMG mereka gagal paham, tidak mengerti dan/atau pura-pura tidak tahu.

Seperti yang telah diketahui masyarakat Indonesia secara luas bahwa dengan hanya terjadi penurunan produksi di salah satu aset migas di Blok BMG (lapangan minyak Basker) membuat Manajemen Anak Perusahaan PT. Pertamina Hulu Energy atau PT. PHE panik atau pura-pura panik, sehingga mereka menganggap dan memutuskan bahwa investasi atau PI PERTAMINA di Blok BMG tidak ada nilainya lagi atau bernilai 0 USD. Mereka mengatakan hanya melakukan impairment atau penurunan Nilai investasi di Blok BMG dengan tujuan pembuatan laporan keuangan tahun 2009. Namun ternyata PT. PHE telah membuat kebijakan dan membuat keputusan bahwa PI Pertamina di Blok BMG tidak mempunyai Nilai lagi dan "dihilangkan", terbukti tidak dilakukannya Pemulihan Nilai PI di BMG pada tahun 2010, 2011 dan 2012. PT. PHE dengan sengaja telah menghilangkan atau write off investasi Pertamina di Blok BMG. Secara kewenangan sebagai Anak Perusahaan dapat dipastikan SALAH, sangat tidak masuk akal hanya dengan di suspend nya salah satu aset Migas di Blok BMG, PT. PHE memutuskan investasi Pertamina di Blok BMG tidak bernilai lagi. Dapat disimpulkan bahwa PT. PHE telah menghilangkan harapan Pertamina mendapatkan produksi dan pendapatan atau revenue dari Blok BMG padahal diketahui kontrak Blok Migas di Australia berlaku seumur hidup dan tidak ada terminasinya. Perkerjaan dan investasi Pertamina korporat di Blok BMG dihilangkan begitu saja oleh PT. PHE, sumber informasi dari dalam Pertamina mengatakan tindakan atau kebijakan PT. PHE adalah menjalankan menjalankan perintah Komisaris ?. Menghilangkan investasi Pertamina di Blok BMG tentu saja merugikan bisnis atau menjadikan terjadi kerugian keuangan negara. Pengeluaran biaya Akuisisi dan cash call untuk dapat menikmati hak kelola di Blok BMG dihilangkan begitu saja oleh PT. PHE. Ex. Direktur Utama Pertamina mengatakan penghilangan atau write off investasi Pertamina di Blok BMG sepenuhnya dilakukan oleh PT. PHE kertika itu. Dalam persidangan ex. Direktur Keuangan Hemzairil mengatakan bahwa apabila PHE tidak melakukan write off PI di BMG, maka dipastikan Pertamina akan untung besar.

WITHDRAWAL

Kenakalan Anak Perusahaan PT. PHE berlanjut dengan dilakukannya withdrawal atau investasi Pertamina di Blok BMG dilepas dengan Pertamina tidak memperoleh kompensasi apapun, Infonya Pertamina melakukan withdrawal pada tahun 2013 atau pada saat harga minyak tinggi sekali sekitar 100 USD per barel, sungguh tidak masuk akal? Yang mengherankan kesaksian para saksi yang ingin menutupi impairment dan withdrawal di Blok BMG adalah mereka mengatakan usaha Divestasi yang telah dilakukan tidak berhasil ?Padahal diketahui perusahaan yang mempunyai strategi memenuhi kebutuhan gas di daratan East dan South East Australia hanya Cooper Energy, sehingga sulit sekali apabila terdapat perusahaan yang berminat beli PI milik Pertamina di Blok BMG selain Cooper Energy.

Aneh bin ajaib ternyata Cooper energy adalah partner Pertamina, pada tahun 2013 PT. PERTAMINA EP memberikan 3 lapangan minyaknya untuk dikelola Cooper Energy dalam kontrak KSO atau Kerjasama Operasi. Sungguh tidak masuk akal apabila Pertamina tidak mengerti strategi Cooper Energy di Australia, akhirnya membuat mata terbelalak PI Pertamina yang "katanya" di withdrawal dengan gratis sekarang dimiliki oleh Cooper Energy?

Perkembangan sidang BMG lanjutan pasti dinantikan dan bergeraknya perangkat hukum lain selain Kejagung dan Pengadilan dipastikan akan segera terjadi? Ataukah harus Pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia yang harus turun tangan?

Bogor, 14 April 2019

Pemerhati Perminyakan Indonesia

Abimanyoe S
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
ts coli emoticon-Leh Uga
daripada di Kaskus mending muat di Kompasiana aja gan

disana yang baca org org yang lebih serius
Balasan post anti.kritik.212
silahkan masukkan ke kompasiana dll...


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di