alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
[Prabowo] cara seorang yang menyebut dirinya patriot maniac menghabisi satu desa
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb2bf1ab41d3018f16d08b1/prabowo-cara-seorang-yang-menyebut-dirinya-patriot-maniac-menghabisi-satu-desa

[Prabowo] cara seorang yang menyebut dirinya patriot maniac menghabisi satu desa

Situasi Jakarta 1998 memang buruk, tetapi tangan Prabowo sepertinya lebih berdarah di Timor Leste
Seperti semua orang tahu, satu dari kandidat kuat Presiden memiliki persoalan berkaitan dengan

hari-harinya dalam dunia militer. Tetapi menculik sejumlah aktivis mahasiswa pada 1998 bukanlah

persoalan terburuk HAM Prabowo, meskipun ia paling dikenal dalam peristiwa ini. Lima belas

tahun sebelumnya, ia berada di tengah operasi kontra perlawanan di Timor Leste, yang

mengorbankan ratusan nyawa. Dimulai pada 16 September 1983 dimana terjadi pembunuhan

besar-besaran terhadap puluhan orang, termasuk perempuan dan anak-anak.  Mereka telah

menyerah kepada tentara Indonesia setelah turun dari Gunung Bibileo dekat Viqueque. Seorang

korban menyampaikan pada Komisi Kebenaran Timor Leste CAVR:


“Tiga orang Hansip berjalan di depan dan anggota tentara mengelilingi kelompok orang sehingga

tidak satu orang pun bisa melarikan diri…Kami mulai berjalan sekitar pukul 3 sore dan tiba di satu

tempat di gunung sekitar pukul 4 sore…Kami duduk dan tentara mengelilingi kami supaya tidak

ada yang lari…Kemudian datang tentara Indonesia lagi…Setelah mereka tiba kami diperintahkan

berdiri. Saya bersama semua orang yang lain berdiri menghadap lembah. Kemudian kami disuruh

berjalan. Saya baru berjalan satu langkah, tentara Indonesia melepaskan tembakan ke arah kami.

Saya bersama saudara saya jatuh ke tanah. Orang-orang yang terkena tembakan jatuh di atas

badan saya. Tentara Indonesia menembak semua orang dari belakang. Kemudian tembakan

berhenti dan tentara beristirahat dan merokok. Satu orang tentara Indonesia menyuruh M303

[seorang komandan Hansip] berbicara dengan bahasa Tetun untuk menyuruh yang masih hidup…

berdiri…Tidak ada yang menjawab perintah ini. Kemudian tentara menembak lagi mayat-mayat

yang tergeletak di sana. Kemudian saya mendengar dua anak kecil. Ketika tentara menembak,

mereka tidak kena. Kemudian M303…mendekat dua bayi itu dan mengambil sebilah pisau

menikamkannya sampai mereka mati. Kemudian [tentara] Indonesia dan Hansip beristirahat

dan merokok lagi.”




Chega!, laporan CAVR (Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste)

menyebutkan nama 55 orang yang dibunuh pada hari itu. Pada hari berikutnya, pembunuhan

besar-besaran lainnya terjadi di dekat lokasi tersebut, juga saat orang Timor Leste menyerahkan

diri di Gunung Bibileo. Chega! mencatat 141 orang terbunuh pada peristiwa ini. Secara

keseluruhan, Chega! mencatat 530 nama orang yang dibunuh atau hilang selama operasi kontra

perlawanan yang berlangsung hingga tahun 1984 di seluruh Timor Leste. Sejumlah besar orang

yang selamat dari Gunung Bibileo juga meninggal dunia akibat kelaparan di kamp konsentrasi

yang dijaga ketat aparat militer.

Semua jurnalis mengetahui tentang penculikan di tahun 1998 yang mengakhiri karir militer

Prabowo. Sedikit tampaknya yang mengetahui operasi di Timor Leste pada awal karirnya tahun

1983. Ketika jurnalis Jakarta Post, Aboeprijadi Santoso, mengingatkan pada Desember lalu,

Prabowo mengirimkan surat pembaca yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan “tuduhan

yang tidak terbukti.” Lalu apa saja yang dapat kita ketahui dengan jelas tentang keterlibatannya

pada peristiwa-peristiwa tersebut, dan apa yang perlu lebih dipastikannya?



Lompatan karir

Pada tahun 1983 Prabowo Subianto, berusia 32 tahun, adalah seorang kapten di Pasukan Khusus,

Kopassandha. Pasukan yang kemudian berganti nama menjadi Kopassus adalah pasukan yang

paling dipercaya, paling memiliki kemampuan dan menjadi tangan besi Orde Baru. Adalah sebuah

keajaiban jika kita mengetahui kegiatannya – pasukan elit ini sebagian besar bekerja secara

rahasia.

bersambung.....sumbernya nanti setelah page akhir
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Karir Prabowo berada di ambang lompatan. Ia cerdas dan berasal dari keluarga elit. Tapi di bagian bawah dari militer Indonesia pada awal 1980-an itu saja tidaklah cukup. Untuk menuju kemajuan diperlukan koneksi dan kekerasan. Semuanya datang bersama-sama untuk Prabowo pada tahun 1983.

Kecerdasannya membuat ia mendapatkan undangan berkali-kali untuk menjalani pelatihan di luar negeri – Fort Bragg di Amerika pada tahun 1980, dengan GSG-9 di Jerman barangkali pada tahun 1981, dan kemudian ke Fort Benning pada tahun 1985. Setiap kali ia mencapai “lulusan terbaik.” Pada tahun 1982, bersama dengan Mayor Luhut Pandjaitan, ia diundang untuk membentuk sebuah unit anti-teror baru yang disebut Detasemen 81 dalam Kopassandha, untuk menguji keahliannya. Dia memimpin langsung kelompok di dalamnya, yang disebut Chandraca 8. Kemungkinan besar ia membawa satuan ini ke Timor Leste pada bulan Maret atau April 1983. Indonesia menginvasi Timor Leste pada tahun 1975, dan ini adalah rangkaian tugas keduanya di sana. (Yang pertama adalah sebagai letnan pada tahun 1977-78. Ia terlibat dalam pembunuhan pahlawan perlawanan Timor Leste, Nicolau Lobato, yang kepalanya dilaporkan dikirim ke Jakarta sebagai sebuah trofi kemenangan, sehingga Presiden Suharto bisa memverifikasi sendiri kematiannya).

Koneksi? Prabowo menikahi putri presiden, Siti Hediati Harijadi (Titiek), pada bulan Mei 1983. Mereka bercerai pada tahun 2001. Tetapi selama masa Orde Baru, istrinya membuka akses kepada presiden yang membuat iri sesama rekan militernya. Dia mampu berperilaku melampaui pangkat dan jabatannya.

Dan kemudian kekerasan. Pada bulan April di tahun yang sama 1983, tentara gerilya Timor Leste, Falintil telah menandatangani gencatan senjata dengan angkatan bersenjata Indonesia. Untuk komando tinggi Indonesia, hal itu adalah permulaan awal untuk kemenangan yang lengkap. Tetapi untuk pejuang Timor Leste, hal tersebut adalah kesempatan untuk berkonsolidasi. Prabowo setuju dengan pandangan beberapa pejabat yang menentang gencatan senjata karena alasan itu. Selama bulan-bulan berikutnya, dia akan muncul di Timor Leste tanpa melaporkan kepada komandan yang bertanggung jawab untuk gencatan senjata, yang membuat perwira tersebut tidak nyaman. Apa yang ada dalam pikirannya?


bersambung ...lagi
Kebangkitan

Pada tanggal 8 Agustus 1983, komandan Falintil Xanana Gusmao mulai bergerak. Aparat militer Indonesia sebelumnya telah menangkap sejumlah gerilyawan Falintil dan mengharuskan mereka untuk bekerja sebagai pembantu mereka. Xanana kemudian meminta pemimpin perlawanan di timur pulau, Ular Rihik (Virgilio dos Anjos), untuk membujuk seluruh detasemen pembantu sejenis di dusun Kraras untuk membunuh atasan mereka yang tentara Indonesia, dan bergabung kembali dengan Falintil di perbukitan. Kraras terletak di sebuah dataran di barat kota Viqueque, dan selatan Gunung Bibileo. Orang-orang tersebut membunuh 14 tentara zeni Indonesia. Serangan tersebut secara definitif mengakhiri gencatan senjata – meskipun waktu tiga bulan yang disepakati telah habis pada bulan Juli dan Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani kemudian mulai menuntut penyerahan Falintil. Pemberontakan yang dimulai pada tanggal 8 Agustus 1983 dikenal di Timor Leste sebagai levantamento, atau bangkit, karena menandai kebangkitan gerakan perlawanan yang hampir dipukuli.

Mengetahui pembalasan akan mengikuti, warga sipil dan kombatan kemudian melarikan diri ke hutan yang meliputi Gunung Bibileo. Tindakan represi tentu saja mengikuti, dan tampaknya Prabowo memainkan peran sentral di dalamnya. Hanya sejauhmana peran sentral tesebut adalah kebutuhan medesak untuk diketahui.

Panglima TNI Benny Moerdani sangat marah ketika mengetahui serangan-serangan tersebut dan segera memerintahkan operasi kontra-perlawanan, yang berlangsung selama beberapa bulan. Operasi ini mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia, beberapa orang diantaranya adalah kombatan. Peningkatan pertempuran menyebabkan korban militer Indonesia yang meningkat dari 163 orang di tahun sebelumnya dilaporkan 269 orang pada tahun 1984 (masih jauh lebih rendah dari 600-700 kematian per tahun yang diderita Indonesia sesaat setelah invasi). Falintil juga menderita dalam peristiwa ini – pada Februari 1985, laporan internal menyebutkan 78 orang tewas dan terluka sejak Agustus 1983. Namun dari seluruhnya 530 tindakan pembunuhan dan penghilangan yang dilaporkan dalam Chega! untuk periode ini, tidak satu korbanpun berupa seorang kombatan. Mereka adalah warga sipil atau kombatan yang tidak lagi mengambil bagian dalam pertempuran. Hukum internasional menganggap pembunuhan seperti ini melanggar hukum.

Kopassus

Siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan di luar proses hukum dan penghilangan paksa? Dari semua pelaku pelanggaran di Timor Leste selama periode 1974-1999 dilaporkan dalam Chega!, Kopassandha/Kopassus adalah satu unit yang terkait dengan jumlah tertinggi dari pelanggaran-pelanggaran tersebut. Dan jumlah tertinggi pelanggaran terkait dengan peran Kopassandha yang terjadi selama 1983-1984 dalam penindasan levantamentotersebut. (Kopassus secara tidak langsung bahkan menyebabkan penderitaan yang lebih. Sepanjang perang tersebut, Kopasus memainkan peran sentral dalam pembentukan milisi yang melakukan begitu banyak pekerjaan keji militer Indonesia untuk mereka, termasuk pada tahun 1999. Pembentukan milisi adalah bagian besar dari pekerjaan Prabowo dengan Kopassus. Prabowo pernah mengatakan kepada wartawan asing “Aku punya filosofi ini: tentara rakyat. Kita harus memegang orang-orang di pihak kita.”) .
Apa keterlibatan Prabowo dalam kejahatan tahun 1983? Jurnal Universitas Cornell Indonesia (Oktober 2003) mengutip laporan bahwa

Prabowo tiba di Timor Leste dalam rangkaian ketiga tugasnya pada tanggal 28 Agustus 1983, bersama-sama dengan Unit Chandraca 8 dari Kopassandha yang dipimpinnya. Jill Jolliffe, dalam bukunya Cover-up: the inside story of the Balibo Five (2001), mengutip seorang saksi mata yang melihat Prabowo menjelajahi Gunung Bibileo dengan pasukannya pada awal September, sebelum pembantaian besar pertama. Levantamento terjadi kurang dari satu bulan sebelumnya. Dia tetap di wilayah timur di sekitar Gunung Bibileo sampai awal tahun 1984.
Sub distrik Ossu terletak kurang dari 20 km sebelah utara dari Viqueque, di jalan yang melintasi Timor Leste. Kapten Prabowo memiliki basis di sini selama operasi kontra-perlawanan. João Caetano, orang Timor Leste yang kemudian bekerja untuk intelijen Indonesia, mengatakan pada Jolliffe bahwa Prabowo mengarahkan operasi kontra-perlawanan di daerah di mana pemberontakan pertama kali terjadi dari tempat ini. Biarawati Katolik mengatakan mereka harus mengevakuasi sekolah anak perempuan mereka di Ossu agar Prabowo dan anak buah dapat menempatinya. Tak satu pun dari pasukan tersebut mengenakan lencana.

Begitu operasi Indonesia mulai berjalan, laporan kematian dan penyiksaan secara cepat berlipat-lipat. Chega!mencatat insiden-insiden berikut:


bersambung lagi.....dan lagi
Semangat kerja nyebokin Petruk bong cebong.

emoticon-Ngakak
Seorang psikopat yang sedang didukung oleh kampret yg merasa telah beragama dengan benar
astajim, nitip Sendal dulu gan emoticon-Kagets
saya nasionalis dan patriot

emoticon-DP
Th.97 mertua ente dan tim ente menghabisi ulama dan guru2 ngaji di tapal kuda banyuwangi, situbondo, bondowoso, jember dan sekitarnya utk membendung konferensi megabintang dg mengatasnamakan isu dukun santet ..jgn pura2 lupa tangan ente penuh darah wok!
Quote:


Ah mertuanye sih dulu juga pernah menghalangi naiknya Alm Gus Dur jadi Ketua Umum PBNU.

Belom lagi menghabisi beberapa pendemo yg beragama Islam di insiden Priok.

Sayang sekarang bajer2 bau kencur jadi ga masuk itu sejarah.
Balasan post uray24
Quote:


Sampe tangan istri gusdur, siti nuriyah cacat ya gan?
Maniac
nyawa satu desa
kolateral ama bijinya dia
worthed kah?

emoticon-Wow
Quote:


Iya peristiwa itu masih belum terlupakan sampai saat ini,gue inget isu2 itu sempet nyampe jateng bagian timur mencekam breh tiap malem pada berjaga.isu2nya sih pemerintah pinjem tangan napi2 buat bikin onar didaerah.tp gak tau jg sih sebrnernya gmna yg jelas pasti ada keterlibatan pemerintah pada saat itu.
Rezim orba busuk sudah tentu pasti busuk.
Kaum milenial yang buta sejarah aja yang ga tau busuknya orderbaru.


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di