alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Western Comic /
Next chapter - daily life with spirits
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb2ae0b7414f5347b7cf76f/next-chapter---daily-life-with-spirits

Next chapter - daily life with spirits

Setelah pulang dari perkemahan, Acedia kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa, bersekolah, belajar dan hanya mengobrol dengan keempat teman spiritnya dalam hati. Bisa dibilang, Acedia yang tadi-nya pendiam menjadi lebih diam kali ini, dia merasa, keempat teman spirit-nya sudah cukup menjadi teman baiknya. Banyak teman-temannya mengajaknya main tetapi Acedia menolaknya.

Keseharian Acedia sebetulnya hanyalah membaca komik dan bermain game apapun genre-nya, Akame mempercayai kalau Acedia itu anak yang pintar dan cerdas sehingga dia membantu Acedia dalam pelajarannya, sementara yang lainnya membantu hal lain.

Pada suatu hari, ketika jam istirahat, Acedia sedang membaca komiknya di ayunan. Lalu tiba-tiba Naraku muncul di belakangnya, Acedia yang mengetahuinya, dia bertanya.

'ada apa Naraku?' tanyanya.

'mereka datang,' jawab Naraku.

Lalu anak-anak dari kelasnya mendatangi Acedia, ada sekitar 5 anak, 2 anak perempuan dan 3 anak laki-laki.

"Ada apa?" Tanya Acedia, menutup buku komiknya lalu melihat kearah temannya.

"Acedia, ayo main bersama kami," kata salah satu dari anak perempuan.

"Yoomi, sudah kubilang, aku tidak mau," jawab Acedia, menolak ajakan temannya bernama Yoomi itu.

Lalu Yoomi mendorong Acedia sehingga dia terjatuh kebelakang, seketika Sesshoumaru pun ikut muncul. Acedia berdiri lalu membersihkan punggungnya dengan tangannya, lalu dia mengambil buku komiknya dan berjalan pergi.

"Hey Acedia, kenapa kamu sombong begitu sih!" Kata salah satu dari anak lelaki, anak tersebut mengambil batu berukuran sedang dan hendak melempar ke Acedia.

'Acedia, jalanlah kearah perosotan,' kata Naraku.

Acedia menuruti apa kata Naraku dan belok kearah perosotan, sehingga lemparan batu temannya itu tidak mengenainya. Acedia menaiki perosotannya, duduk diatasnya lalu melanjutkan baca komiknya. Teman-temannya yang kesal akhirnya meninggalkannya sendirian hingga bel masuk, teman-temannya menaruh lem di kursinya Acedia, berniat untuk mengerjainya. Tentu saja teman-teman Spirit Acedia yang mengetahuinya tidak membiarkan Acedia terkena kursi lem itu. Shiro mempengaruhi guru yang akan mengajar di kelas Acedia untuk masuk lebih cepat, murid lainnya kaget, gurunya sudah masuk lalu segera mereka duduk.

"Kemana Acedia?" Tanya guru-nya.

"Tidak tau pak," jawab para murid lainnya.

Guru-nya mendatangi kursi Acedia lalu mendapati kursinya telah di olesi lem baru setelah itu Acedia memasuki kelasnya.

"Siapa yang mengoles lem di kursi Acedia?!" Tanya guru-nya, dengan nada sedikit tinggi.

Semua murid terdiam.

"Ada apa pak?" Tanya Acedia.

"Ada yang menaruh lem di meja kamu," jawab guru-nya.

Lalu Acedia mendatangi kursinya dan menariknya kearah belakang kelasnya lalu mengambil kursi kosong di bagian belakang dan menaruhnya kembali di mejanya.

"Selesai kan pak, tidak ada lem," kata Acedia dengan santai lalu dia duduk.

"Baik, jika seperti itu. Ayo kita belajar," kata guru-nya.

'Acedia, apa tidak apa-apa? Mereka sangat kesal padamu karena kamu selalu menolak ajakan main semenjak pulang dari perkemahan,' kata Shiro.

'aku tidak perduli. Aku tau mereka hanya ingin main tapi tidak berteman, percayalah, semua ini akan segera berakhir,' jawab Acedia.

Tahun demi tahun berlalu, Acedia lulus dengan nilai terbaik di PAUD dan TK nya, memasuki SD Swasta terbaik. Dan lagi-lagi, Acedia mengakatan bahwa teman-temannya bukanlah ingin berteman dengannya namun Acedia percaya, suatu saat, akan datang teman yang benar-benar teman untuknya.

Saat usia Acedia menginjak 8 tahun, Akame mengajarinya cara membuat prakarya, beberapa kerajinan tangan dari bekas botol aqua dan celengan dari kardus bekas. Ibu Acedia yang melihatnya mencoba membantu dengan memasari prakarya yang Acedia buat, walau tidak mahal akan tetapi bisa menghasilkan walau sedikit. Lalu Acedia mencoba untuk membuat yang lebih sulit yaitu lampu hias dari barang bekas plastik. Hal yang Acedia buat membuat ibu-nya bangga karena dari kecil sudah bisa menghasilkan uang. Namun ibu-nya menyuruhnya berhenti ketika sudah duduk di kelas 6 SD karena harus fokus belajar.

-- to be continuedemoticon-Traveller
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Mantap jaya emoticon-Blue Guy Cendol (L)


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di