alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Gan! KASKUS dan HBO bagi-bagi merchandise resmi Game of Thrones nih! Ikutan kuisnya di sini!
Home / FORUM / All / News / Education /
Benarkah Sekolah Adalah Bisnis?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5caff452c0cad767a17fdcbc/benarkah-sekolah-adalah-bisnis

Benarkah Sekolah Adalah Bisnis?

Benarkah Sekolah Adalah Bisnis?


Setiap orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka bahkan mengenai pendidikan. Begitu juga saya sebagai orang tua menginginkan yang terbaik untuk pendidikan anak-anak saya. Sebagai ibu dari sulung yang hendak menempuh pendidikan di taman kanak-kanak otomatis jauh-jauh hari sudah memikirkan sekolah seperti apa yang cocok untuk anak.

Pertengahan tahun 2019 ini merupakan tahun pelajaran baru untuk anak saya yang baru saya masukan ke salah satu Taman Kanak-kanak di kota tempat saya tinggal. Sengaja saya dan pasangan memilihkan sebuah sekolah berbasis religi dengan harapan anak bisa mempelajari agama sejak usia dini. Tidak bisa dipungkiri total biaya yang harus kami bayarkan mencapai angka tiga juta rupiah. Meski harga yang harus kami bayarkan lumayan menguras seluruh tabungan, kami sebagai orabgtua yakin bisa memberikan yang terbaik untuk anak kami. Biaya sebesar itu adalah sebuah kewajaran dalam dunia pendidikan. Konon harga menunjukkan kualitas suatu produk, dalam hal ini produk pendidikan. Terlebih sadar atau tidak pendidikan sekarang lebih menuju ke arah bisnis. Tengok saja bagaimana beberapa lembaga bimbel berani berjanji meloloskan peserta mereka lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan biaya yang mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan beberapa peserta mengaku merogoh kocek hampir seratus juta demi ikut bimbel yang menjamin masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan.

Kenyataan diatas mengingatkan saya akan masa lalu saya ketika dibangku sekolah. Kenyataan pahit yang menampar hati saya dan menunjukkan betapa kejamnya beberapa aparatur pendidikan jika mengenai materi. Sebuah realita tentang dunia pendidikan yang mengiris hati saya sebagai pelajar kala itu.

Kejadian ini saya alami ketika duduk di bangku SMA, saya sadar dalam hal ini saya turut andil berbuat salah. Tapi tindakan pengajar sekaligus kepala sekolah dimana saya menempuh pendidikan kala itu juga tidak bisa dibenarkan. Kejadian yang sangat memalukan dan menyakiti hati saya itu bermula ketika saya menunggak iuran sekolah selama dua bulan dan sudah mendekati ujian semester. Waktu itu saya kebingungan bagaimana membayar iuran sebesar Rp.120.000,- itu sementara ayah tidak pernah pulang. Saat pembagian kartu ujian, saya tidak mendapatkan kartu ujian sebagaimana teman-teman yang lunas iuran sekolahnya. Khawatir tidak bisa ikut ujian, saya memutuskan tetap ikut ujian esok hari meski tanpa kartu ujian. Kesalahan saya adalah saya tidak mengikuti regulasi sekolah dan tidak menemui pihak sekolah terkait pendanaan. Maklum, saya benar-benar khawatir tidak bisa ujian dan diberhentikan sekolah. Pemikiran polos, naif dan super bodoh seorang anak belasan tahun.

Saya ingat betul, hari itu hari Senin hari pertama ujian diadakan. Sekolah sedang melakukan beberapa perbaikan gedung kelas sehingga untuk efesiensi tempat kelas 10 dan 11 dijadikan satu. Otomatis saya yang siswa kelas sebelas harus duduk sebangku dengan adik kelas. Dalam sehari ada dua mata pelajaran yang diujikan dan saya merasa lega karena bisa mengikuti ujian meski ada rasa was-was dan tidak tenang menyelimuti hati ini. Rupanya apa yang hati saya rasakan adalah sebuah pertanda buruk bagi saya. Selang beberapa menit saya mengerjakan soal matematika di depan saya, sosok kepala sekolah berinisial P itu sudah berada di depan kelas. Dengan nada emosi tetiba beliau datang dan memamaki saya yang masih sibuk dengan kertas soal dan pensil di tangan saya. Waktu itu saya yang psangat syok, hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam sambil menahan air mata agar tidak keluar. Saya ingat betul bagaimana Mr. P mengatai saya sebagai pencuri yang tidak punya etika dan tata krama. Sebuah kata yang tidak seharusnya diucapkan seorang pendidik di depan puluhan pasang mata.

Saya malu dan hanya mampu menundukkan kepala. Jika hari itu Mr. P hanya memarahi saya di depan teman-teman sekelas saja mungkin saya tak akan semalu itu, tapi marah di depan adik-adik kelas benar-benar mencoreng muka saya. Untungnya mengetahui saya yang tertunduk malu, Mr. P yang terhormat dengan emosinya yang sudah mereda mulai berkata dengan nada pelan "sepulang sekolah ke kantor saya".

Saya hanya mampu mengangguk dan Mr.P pun berlalu tanpa kata. Sesaat setelah Kepergian Mr.P dari kelas, saya butuh waktu beberapa menit untuk menenangkan diri kembali. saya ingat betul bagaimana rasanya mengerjakan soal matematika yang susah itu dengan ribuan perasaan trenyuh. Tuhan, rupanya itu buah yang harus saya terima karena nekat mengikuti ujian tanpa kartu ujian di tangan. Jika tahu hal itu akan terjadi, mungkin saya akan berhutang pada kawan saya yang notabene anak juragan atau merengek pada sekolah untuk meminta dispensasi waktu. Nasi sudah menjadi bubur, ketidaktahuan dan kenekatan saya telah menjadi boomerang bagi saya sendiri.

Rupanya, penghinaan verbal yang dilakukan Mr. P tidak berhenti sampai di ruang ujian. Di kantor kepala sekolah pun sang kepala sekolah terhormat masih menyimpan amarah terhadap saya.
"Kalau kamu tidak mampu bayar sekolah, kenapa harus sekolah disini kamu khan bisa sekolah di SMK?!" Ucap Mr.P dengan nada menghina
Pernyataan yang keluar dari seorang guru dan pimpinan tertinggi di sekolah kala itu benar-benar membuat saya geram hingga entah dari mana asalnya keberanian itu muncul hingga saya dengan mudah membalas perkataan beliau.

"Memang tidak boleh pak jika saya ingin sekolah disini?!"

Bingo, skak matt. Entah karena kasihan, sadar atau menyesal dengan perkataan yang menghina, Mr. P mulai bicara dengan lembut. Kesimpulan akhir dari pertemuan empat mata saya dengan kepala sekolah adalah orangtua diharuskan hadir menemui pihak kepala sekolah guna membahas kelanjutan sekolah saya. Inilah pengalaman terburuk saya dalam dunia pendidikan. Bagaimana dengan agan? Adakah pengalaman nyesek dimasa sekolah yang berhubungan dengan uang?

Pengalaman diatas mengajarkan begitu banyak hal kepada saya. Hal terpenting yang bisa saya petik dari kejadian memilukan itu adalah agar lebih mematuhi aturan sekolah mengenai pendanaan. Uang bisa lebih kejam dari sebilah pedang. Itulah kenyataan.

Saya juga menyadari betapa penting komunikasi yang baik ketika berhadapan dengan pihak sekolah mengenai pendanaan. Sehingga ketika saya menemui masalah serupa saat menempuh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi saya pun mampu mengatasinya dengan baik.

Kejadian ini membuat saya bertekad agar anak-anak saya kelak tak mengalami hal serupa dengan saya. Jadi, meskipun sekolah adalah bisnis saya sebagai orang tua yakin mampu memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak. Pendidikan terbaik tak harus mahal. Deretan angka pada kwitansi hanyalah sebuah angka yang dibayarkan wali murid kepada pihak sekolah sebagai teken alias tanda jadi sang anak diterima sebagai murid. Jumlah angka yang tertera seberapa besarpun akan bisa dibayarkan dengan kerja keras yang dibarengi niat dan kesungguhan hati.

Bukankah jumlah sekian sudah menjadi tolak ukur kemapuan masyarakat akan biaya pendidikan?

Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang terkendala keuangan di sekolah mereka.

Setujukah agan bahwa pendidikan di Indonesia ini memang bisnis?

Apakah agan juga pernah mengalami apa yang saya alami atau lebih buruk mungkin?

Sekolah negeri baik tingkat dasar, menengah dan atas memang lebih terjangkau dibanding sekolah swasta. Namun, tetap saja ada beberapa biaya yang dibebankan kepada wali murid semisal buku dan uang kegiatan. Besar kecil uang yang harus dibayarkan itu semua bergantung pada tiap sekolah. Saya yakin, jumlah yang kami keluarkan memang harga sebuah pendidiakn terbaik untuk anak. Dengan biaya tersebut guru mampu mengajar dengan baik karena jerih payah mereka diharagi dan anak sebagai murid mendapatkan fasilitas dannpendidikan yang layak pula. Mungkin kedepannya pemerintah bisa lebih memprioritaskan kesejahteraan guru sebagai pendidik generasi bangsa. Tak melulu menaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dinaikan karena tak semua guru adalah PNS. Sehingga sinergi yang baik antara pemerintahan, pihak sekolah, guru dan orang tua dalam mendidik anak akan membentuk generasi bangsa yang ulung dan unggul.

Terima kasih. Mohon maaf jika ada kekurangan ataupun kata-kata yang mungkin kurang berkenan di hati agan.




Batu, 12 April 2019
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Pengalaman yang penuh pelajaran gan,, :-)
setuju gan...kalo ga dibisnisin gimana mau nggaji guru2 profesional / ekspat ? ya kebanyakan sudah jadi bisnis...

Quote:


Benar, pendidikan emang udah jadi bisnis di Indonesia. Semoga bisnis ini gak hanya menguntungkan beberapa pihak ya... Tapi semua diuntungkan sehingga dunia pendidikan Indonesia n
bisa lebih maju kedepannya.

Terima kasih gan sudah mampir emoticon-Cendol Gan
Quote:


Pengalaman adalah guru paling baik Agan,,
😊
Terima kasih sudah mampir
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Hemmm setuju ajalah gan
Balasan post l13ska
Terima kasih kembali gan :-)
Quote:


Terima kasih sudah mampir emoticon-Cendol Gan
memang sekolah termasuk salah satu bisnis, coz dia perlu uang untuk gaji guru dll tp terlepas dari itu, harus memakai hati nurani, miris pengalamannya mba, itu termasuk pembunuhan karakter n bullying ya mba😥
Quote:


Iya, sampai sekarang saya belum bs lupa sama pak kepsek itu, masih mangkel kalau ingat tp udah kumaafkan. Ancen itulah realita... Orang miskin selalu dipandang sebelah mata dan diperlakukan berbeda 😂


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di